
Alfi menggeleng tetapi masih tertawa ringan. Tiba tiba ada seorang anak kecil memandang ke arah mereka. Namun, mereka tak menuadarinya.
"Lalu kenapa kau masih tertawa ha?" tanya Raffa kesal.
"Tidak tidak" Alfi kembali menggeleng dan mengehentikan tawanya.
Raffa gemas lalu menunjuk hidung Alfi. "Kau masih tertawa terus!" serunya kesal. "Aku merasa tersinggung kau tahu?" sambungnya.
"Ante api" panggil bocah kecil itu. Ia berlari ke arah Alfi dan memeluk kakinya, karena ia hanya dapat menyampai itu.
Alfi terkejut akan kehadirannya. Begitupun Raffa.
"Nizam?" serunya terkejut.
"Ini om Izam?" tanyanya sambil menoleh ke arah Raffa tetapi masih memeluk lutut Alfi.
Saat bersamaan teman Alfi yang lain datang. Mereke terkejut melihat adegan disana. Berhenti sejenak sebelum mendekati mereka.
"Hey, ada skandal apa di antara kalian berdua?" tanya Erza mengintrogasi dengan tangan menunjuk mereka satu persatu. Lalu beralih menatap anak kecil yang memeluk lutut Alfi.
"Anakmu?" tanyanya
"Ngawur!" jawab Raffa yang memukul pundak Erza.
"Lalu siapa dia?" kata Kenzo ikut bertanya.
"Anaknya tanteku" jawab Alfi.
"Izam sama siapa ?" tanyanya kini berlutut menghadapnya.
"Bunda, tuu" jawab anak itu.
Alfi ikut nemandang arahan jari Nizam begitupun yang lain.
"Aku duluan" kata Alfi melambaikan tangan lalu menggandeng Niza menuju sang bunda.
Yang lain hanya diam dan menatap kepergian Alfi. Cukup lama sampai bayangan Alfi terhalang oleh seseorang. Mereka pun akhirnya kembali duduk.
"Hai, kak, om, tante" sapa Alfi
"Nizam?" kata seorang perempuan yang jelas ibu Nizam, dia agak terkejut.
Sedang kakaknya kini mengehela nafas lega.
"Bagaimana bisa Niza sama kamu?" tanya kemudian duduk.
"Tadi aku lagi makan ama temen terus dia tiba tiba ngerangkul aku" terang Alfi bercerita
Sang bunda memandang intens anaknya.
"Kakak, jadia yang buat kakak lama ambil airnya itu nyari Nizam?" tanyanya kini melipat tangan di dada.
"Mana sekarang nggak bawa airnya lagi" kata sang bunda menertawakan anaknya. (jahat sumpah😆)
"Tante jangan terusin te. Kasian kakak udah gemetaran takut Nizam ilang" kata Alfi ikut tertawa.
"iya juga. Ini aja belum ilang beneran aku dah gemetar ngadepin bunda. Apalagi ayah" sambungnya menambah nambah.
Gadis itu menghela nafas ngeri sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tak bisa banyangkan jika adiknya hilang karenanya. Akan jadi apa dia? Mungkin ikut di lenyapkan:v
"Mungkin aku akan ikut di hilangkan bahkan di lenyapkan oleh ayah" katanya berindik ngeri.
Sang empu yang dibicarakan itu awalnya sedang makan. Mamun kini melirik anak perempuannya dengan sinis.
"Oh ya Alfi pergi dulu, aku nggak mau lihat penyiksaan kakak disini" kata Alfi sambil mundur lalu pergi setelah menyelesaikan kata katanya.
Alfi sampai pada meja makan dan temannya. Ia menarik kursinya lalu duduk. Ia mendapat sorotan mata penasaran menerornya.
"Tadi anak mu Al?" tanya Erza, kini semua menoleh ke arahnya. Setelah ia menembak Hilya tanpa sadar. Ia berani bertanya hal mengejutkan pada Alfi.
Alfi segera melemparinya tutup botol namun ia dapat menghindar. Tetapi Erza tentu saja terkejut.
"Itu Alfi kerasukan apa? Bagaimana bisa ia yang lembut jadi garang macam kak ros" gunam Erza pelan, namun masih terdengar walau samar.