
"Eh Hil, aku normal apa nggak sih?" tanya Alfi mengakhiri aktivitasnya beralih menatap sahabatnya.
Hilya mengedipkan matanya sambil menatap heran sahabat nya itu. Lalu tanganya beralih menyentuh dahi Alfi dan membolak baliknya.
"Kamu nggak panas, tapi ngapain kamu nanya begitu?"
"Aku kog jijik ya denger cewek cewek itu ngomong kek gitu. Rasanya itu kaya risih gimana gitu, intinya aku jijik. Kenapa ya?"
"Ahahahahaha nggak papa kamu normal kog. Cuma kamu nggak biasa aja"
"Oh"
"Udah yuk latihan"
"Nisa?"
"Oh iya dia kan masih gabung cewek itu"
"Tunggu di luar aja yuk agak jijik nih"
"Okey"
Mereka berdua pun memilih menunggu Nisa di luar kelas.
"hey hey deretan para cewek kalian bisa nggak sih jangan ganggu Raffa ? kasian tuh dia sampe pusing. Kalian nggak ngerti perasaannya apa? Dia itu risih di kerumunin kaya gini. Dia itu juga pengen bebas kaya cowok biasa. Dia juga dapat masalah gara gara kalian. Nggak bisa bareng temennya gara gara kalian ngejar dia terus, di labrak pacar kalian, nggak bebas kesana kemari. Harusnya kalian itu mikir, dan ngerti perasaannya" bentak salah seorang dari samping Raffa.
"Apa sih, dasar Erza nggak jelas" kata salah seorang cewek.
"Setuju!"
"Ngapain sih kamu za?"
"Hey, Erza jadi pergi nggak?" tanya salah seorang dari belakan cewek itu.
Semua cewek dan ke dua cowok itu beralih menghadapnya.
"Ha? Kenzo kamu ngapain masih disini?" tanya salah seorang cewek dengan genit.
"Ampun kelas ini emang surganya cokgan. Bahkan Kenzo juga datang, biasanya dia lamgsung pulang dan nggak mau di jadikan sorotan."
Kenzo tak memperdulikan kata kata cewek tersebut. Ia mengisyaratkan dengan mata dan kepala. Digerakka ke arah pintu.
Dibalas dengan jari telunjuk dan jempol Erza yang di kaitkan. Erza langsung menarik tangan Raffa menerobos dan melewati para cewek tersebut.
"Eh, Erza lo gila ya? Main tarik tarik dan bawa pergi Raffa." bentak seorang cewek.
"Hey, harusnya gw yang tanya sama kalian. Kalian udah gila apa, Raffa ada janji sama gw, dan kalian nyegah gw bawa dia?" tanya Erza lalu pergi meninggalkan mereka bersama Kenzo.
-
-
-
"Entahlah, tapi sepertinya ada kaya keributan deh"
"Cek yuk! "
"Males ah. Ngapain coba?"
"Ayolah Al"
"Hmmmm"
Mereka berdua pun berniat menuju kelas mereka kembali. Sampailah mereka di depan pintu.
"Kayaknya ribut beneran deh" kata Hilya.
Tangannya meraih gagang pintu dan bersiap untuk membukanya.
-
-
-
Tangan Kenzo meraih gagang pintu, di putarnya kebawah lalu di tarik.
Klek.. klek...
"Kok nggak bisa?" kata Kenzo bingunh
"Kamu bisa buka pintu nggak sih? " tanya Erza sambil melepas pegangan tangannya pada Raffa.
Lalu Erza mencoba membukanya.
Klek.... klek... klek....
"Kok nggak bisa sih?"
"Toh kan nggak bisa"
"Kayaknya pintunya di kunci" setelah Raffa selesai dengan kalimatnya.
Mereka bertiga beralih menatap para cewek di kelas itu. Tatapan membunuh dari mereka bertiga. Kelas menjadi hening.
Krincingg... krincing....krincing
Suara seseorang yang memainkan kunci. Dia pun maju ke hadapan ketiga cowok tersebut. Sambil tangan yang terus memainkan kunci.
Gadis itu beralih menatap kunci di tangannya dan berhenti memainkan nya. Kunci itu tepat berada di tangan yang menghadap lurus ke mata gadis itu.