
"Jadi aku udah kenal kakak lama. Aku tahu dari dady ku Rayion Michel, dia rekan bisnis ayah mu kan?"
Dak..
Bryian menjatuhkan milk shake. Karena ternyata yang di ucapkan pacarnya itu sungguhan dan bukan settingan.
Alif menoleh kearah Briyan yang sedang frustasi. Ada rasa salah dalam hatinya pada teman dekatnya itu. Padahal ia tak melakukan apapun.
"Tapi kenala Vely, aku sayang sama kamu. Kenapa kamu mainin aku? Hisk hisk" mulai terdengar isakan Briyan. Sebuah air mata mulai menjalar di pipi nya.
Alif yang merasa membuatnya menangis, mulai menenangkan Briyan. Tapi di bentak oleh Briyan karena rasa emosinya telah memenuhi pikirannya.
"pergi lo" bentak Briyan pada Alif.
Alif pun memilih untuk pergi dari membiarkan mereka berdua untuk menyelesaikan masalah mereka. Tiba tiba tangan lembut memegang lengannya. Di hempaskan langan gadis tersebut karena dialah yang membuat hubungan pertemanannya retak. Ia tak mempedulikan gadis itu.
"Jangan pegang aku, kembali ke Briyan. Jangan buat hubungan pertemananku retak hanya karna sebuah percintaan. Lagian aku juga nggak kenal kamu"
Flashbakc off.
Huufff....
Hembusan nafasnya terlihat sangat tak teratur. Mengingat kejadian siang tadi yang membuat pikirannya melayang menerawang bagaimana caranya menyelesaikan masalah tersebut.
tok.. tok.. tok..
Seseorang telah mengetuk pintu kamarnya. Ia berjalan menuju pintu tersebut melihat siapa yang berada di balik pintu itu.
"Kak, turun gih kita dinner"
Terdengar suara yang sangat familiar di telinga. Yap, suara sang adik yang membuatnya ceria. Adik yang selalu perhatiab terhadapnya.
"Kakak ganti baju dulu"
"Buset dah, dari tadi belum ganti baju! Kamu ngapain aja kak? "
"Widih, makin puitis nih orang. Udahlah cepetab kalo ganti apa mau aku suruh bik Rahmah bawa pulang makanannya? "
"Hey jangan lah. Nanti aku mati kelaparan kamu di marahin bunda syukurin kan"
"Eh salah situ nggak cepet makan malah merenungi nasih, hahahha"
"Kurang apanya kamu sih kak. Jadi favorit cewek udah, pinter udah, disukai banyak orang udah. Apa lagi ya?" di saat Alfi mengomel tentang sang kakak tiba tiba sebuah tangan kekar menutup mata dan memegang kuat tangannya.
"Ummmm, aammamamam" omel Alfi oada orang yang mengerjainya.
"Hahahha, salah siapa situ besik. Komen orang terus bisanya, nggak ada kerjaan lain apa? " cletus sang kakak sang menceramahi nya.
Digigitnya tangan sang kakak dengan giginya yang kuat. Membuat Alif menyeringai kesakitan. Akhirnya ia melepaskan sang adik, karena jika tidak tangannya bisa saja berdarah.
"Gila kamu al, kakak sediri di makan. Kanibal nih orang, hihh" kata Alif sambil mengerutkan dahi dan sedikit mengangkat bibir atasnya.
"Hih, kakak juga gila tauk. Masak adik sendiri di sekap? Sudahlah turun yuk makan, laper nih"
"Ayok"
"Bik, manah ayah sama bunda?" Tanya Alfi pada pembantu rumah tangga mereka bik Rahmah.
"Itu non, nyonya sama tuan belum kembali. Mereka sepertinya akan pulang lebih larut karena pekerjaan"
"Hih, non? Jadi kayak orang terhormat aja aku, hahahha. Bik eh gimana kalo aku panggil buk aja ya? Biar tambah akrab?"
"Terserah non aja"
"oh ya lain kali nggak usah panggil non deh buk, panggil Alfi aja. Kan kita udah kaya keluarga"
"Yaudah Alfi"
"Udah? Makan gih, nanti kakak habisin lho" seru Alif sambil menyupakan makan malamnya ke mulutnya.