The My Love Story In University

The My Love Story In University
Episode 35



Mereka berdua pun makan bersama. Tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka. Hanya ada suara piring dan sendok yang bersautan.


Rasa canggung mulai menyelimuti mereka. Tak ada salah satu dari mereka yang memulai topik pembicaraan.


Beginilah suasana saat orang tua mereka pulang larut. Tak ada yang berani bercanda. Jika berani, mungkin akan berakhir dengan baku hantam.


Kecuali jika bukan saat makan. Mereka akan selau bercanda bersama. Adu mulut, lempar lemparan bantal, siram air dan sebagainya.


Tetapi jika saat makan mereka akan diam, karena merupakan kebiasaan yang di budayakan oleh sang kakek mereka. Yang sangat tak menyukai keributan saat makan.


Selesai makan mereka langsung menuju kamar masing masing. Tak ada kegiatan apapun selain menuju alam mimpi.


____________________________________________


Keesokan pada suatu hari...


"Bun, kak Al mana?" kata Alfi menanyakan keberadaan sang kakak.


"Dia berangkat awal. Katanya ada tugas banyak jadi pergi lebih awal"


"Aneh, kenapa sekarang kak Al sering berangkat awal?" Gunam Alfi terheran.


"Adik cepetan, udah ada Nisa tuhh" kata Ayah memperingatkan. Namun, keberadaan putrinya tersebut telah hilang.


"Ampun ya tuhan. Kapan ia kedepan?"


Sesampainya di sekolah mereka menelusuri koridor kampus. Tibanya di depan kelas, mereka di buat keheranan dengan suara riuh para teman sekelas mereka.


"Woy, ada apa sih rame rame?" teriak Nisa kala memasuki ruang kelas.


"eh, Itu lho nis. Kita dapet tugas buat lomba musik. Satu grup ada tiga orang. Lombanya dua minggu lagi. " jelas salah seorang teman.


"Iya, yang musik modern kaya drum, gitar, dan lainnya. Trus yang cewek musik tradisional gitu. Seru sih kayaknya, tapi nggak adil" sahut salah seorang teman mereka juga.


"Ow, terus kalo menang?" tanya Nisa lagi sambil duduk di kursi miliknya.


"Kalo menang nanti duel cowok cewek di stadion"


"Dan ini hanya untuk setingkat kita kating nggak boleh iku. Mereka udah ada kegiatan kaya gini waktu setingkatan kita"


"Siapa lah kalo bukan Hilya. Kamu lupa biasanya kita ama siapa? Kita kan bertiga sama Hilya sekarang" Ucap Alfi geram.


"Hahahaha, aku cuma ngetes kamu aja"


"Hahahha aku lolos nih ya"


"Eh mana Hilya?"


"Aku disini Nisaaaaa. Buta kau ha?" bentak Hilya yang ada di samping Alfi.


"Eh tiba tiba ngingggg nih. Yuk buka puasa" canda Alfi sambil menutup telinganya.


"Hidih dikira aku radio, dasar Alfi. Aku ngambek huuuhh"


"Yaudah Nis, dia ngambek ajak yang lain aja yuk" kata Alfi sambil berdiri menggandeng Nisa.


"Okey lah, hahahhah"


"Heyy, jangan serius lah" kata Hilya sambil berdiri lalu membujuk mereka.


"Oke oke, salah situ pake acara ngmbek segala" cletus Nisa sambil mejitak Hilya


"Hahahha, dah nggak ngambek sekarang nih" ucao Alfi sambil mengusap usap ujung kepala Hilya.


Sontak Hilya yang merasa di perlakukan seperti anak kecil oleh sahabatnya membalas. Ia mengacak acak rambut kedua sahabatnya.


"Heyy, udah Hilll. Aku laporin ke BK kapau kau" acam Nisa. Hilya pun menghentika aktivitas balas dendamnya tersebut.


"Udah, gimana nih pake alat musik apa?" tanya Hilya mulai serius.


"Gimana kali kendhang?" ucal nisa berpendapat.


"kendhang kata kau? Emang kamu bisa" tanya Hilya yang terkejut dengan pendapat Nisa.


"Janganlah Nis, itu butuh waktu lama buat nguasainya. Lombanya kan bentar lagi" usul Alfi