
"Oh, ahahaha aku kira kalian nggak bakal nuadar hahaha" kata Hilya diiringi tawa penutup malunya.
Mereka bertiga pun mengambil alat mereka yang tertinggal.
"Oke kita duluan" kata Erza pada mereka sambil melambaikan tangan.
Duk...
Karena tak fokus melihat depan Erza pun menabrak pintu yang masih tertutup.
"Aww" katanya lirih sambil mengusap usap dahinya yang terbentur pintu.
"Bhahahahahahaks" seketika tawa mereka pecah begitu saja melihat temannya terkena musibah.
"Ahahaha dahimu jadi tembem Za hahahaha" ejek Hilya.
"Ahahaha, santai Za nanti aku kempesin" sambung Kenzo
"Untung tu pintu nggak jebol wkwkwkwk" sahut Nisa.
"Ha? Jebol? Dahi mu made in mana Za sampai bikin pintu jebol" kata Alfi.
"Aduhh, dahi pintarku yang berharga. Ketampananku jadi berkurang nol koma nol nol nol satu persen.Huuuu" eluhnya sambil mengusap usap dahinya.
"Eh, dahi pintar katamu, ahahaha sadar Za e.... " kalimat Nisa belum selesai tetapi ia sudah di tarik kedua sahabatnya.
"Hey aku belum selesai!" teriaknya sambil meronta ronta.
Ia tak biasa apa apa selain menuruti sahabat nya itu. Karena kedua tanganya kini di tarik ke depan.
"Emmmhh dah lahhh kita teeelat nantii" jawab Hilya sambil berusaha menarik Nisa.
"Tic, iya iya" kata Nisa nyolot ambil menghempaskan tangannya.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di stadion tempat lomba itu diadakan.
"Selamat pagi siswa siswi sekalian. Hari ini adalah hari dimana perlombaan musik bagi siswa semester satu. Ini bukan hanya perlombaan biasa karena seluruh siswa semester satu harus mengikuti lomba ini. Dan ini juga sebagai nilai tugas kalian jadi mohon untuk di maksimalkan" kata pembawa acara dari atas panggung di tengah lapangan.
sambut antusias seluruh siswa.
"Oke selain sebagai penilaian bagi siswa semester satu ini juga bisa berfungsi sebagai hiburan kating kating lainnya, hahaha" kata nya lagi diiringi candaan.
***
Di tempat duduk dalam stadion.
"Fal, hari ini perlombaan bagi semester satu berarti si pelakor itu ikut kan? Kerjain yuk" ajak Siska.
"Emm menurutku jangan dulu. Karena ini ada beberapa sesi kan. Jika kita langsung bergerak sekarang, selanjutnya mereka pasti akan mempersiapkan sesuatu. Kita gerak sesi akhir aja" kata Keisya sambil menatap Alfi dan temannya dari atas.
"Itu juga kalo mereka berhasil, humph" sambungnya mengejek.
"Jangan" tolak Falery, membuat Siska dan Keisya terkejut lalu menoleh kearahnya
"Buat mereka menang saja" sambungnya
"Hah? Buat mereka menang? Untuk apa?" tanya Keisya.
"Aku ada rencana bagus setelah mereka menang lomba ini. Pemenang lomba ini nantinya akan berkolaborasi di acara wisuda." kata Falery serius.
"Hahaha kita tunggu saja acara itu" sambung Siska.
"Tunggu jadi kita sekarang harus buat dia menang?" tanya Keisya dengan mengangkat alisnya.
"Buat apa? Kita nggak perlu buat dia menang. Itu hanya rencanaku jika dia berhasil. Kita bisa lihat kemampuannya dan pertimbangkan kapan bergerak"
"Tapi jika kita bergerak sekarang orang mungkin akan memaklumi kesalahannya karena ini pertama kali. Namu jika sudah tahap lanjut orang pasti akan menghujatnya"
"Kita tak perlu turun tangan langsung" kata Fakery panjang lebar sambil mengotak atik ponsel miliknya
"Oke, aku akan sabar menunggu waktu itu" sahut Keisya yang tengah menyangga dagunya dengan kedua tangannya.
"Aku juga senag menunggu kehancurannya" sahut Siska juga.