
"Dan kamu mau? Nggak biasanya kamu mau ama laki laki" kata Hilya.
"Mau gimana lagi? Awalnya ku nolak. Tapi aku lihat jam udah siang banget. Nggak mungkin aku jalan toh naik sepedanya juga telat ujungnya"
"Apa kamu boncengan naik sepeda? Ckckckck" kata Nisa tak percaya dan menggeleng gelengkan kepala.
"Hmm, nah untung kakakku telpon aku katanya di undur. Aku seneng sih, aku udah mau jalan kan nah kakiku nggak kuat udah berdarah. Perih banget sumpah. Mana ransel putus lagi aaaarg. Mau nggak mau aku ya ngikut lah. Trus mampir di apotik dan dia obantin aku. Jadinya aku di sekolah udah enakan" akhir darinya dengan wajah mulai" merah.
Seluruh tawa hilang. Kini dari komedi berganti romanch. Walaupun kalo menurut yang ngalamin itu dari tragis menjadi bahagia.
"Ehem kenapa jadinya bucin gink sih? Aku baper anjirrrr " teriak Nisa sambil memegang pipinya.
"Jangan jangan akan ada cilok nih" goda Hilya
Alfi menatap Hilya dengan sinis
"Mana ada? Dia cuma bantuin aku toh juga mungkin dia terpaksa dan aku juga. Itu hanya jiwa sosial manusia bukan cinta" elaknya tegas.
"Eh?" Nisa terkejut dengan jawaban Alfi.
Dosen datang dan pelajaran di mulai.
"Yaudah ajakin ketiganya" Bisik Hilya agar tak terdengar dosen.
***
Saat pulang.
Raffa, Kenzo, dan Erza menunggu di parkiran.
"Mana sih? " kata Erza yang tak sabar menunggu. Dia duduk berdiri melihat kanan kiri. Duduk lagi dan berdiri lagi tengok sana sini lagi.
"Ngapain sih? Nggak capek begitu mulu apa?" tanya Raffa.
"Hahahha dia memang aneh Raf, kalo normalnya seperti kita lebih baik duduk untuk menunggu kan. Nah dia beda" terang Kenzo dengan senyum sindirnya.
"Oh, jadi dia nggak normal... " kata Raffa mengangguk angguk mengerti.
"Hey!!" teriak Erza namanya di jelekkan.
"Haaaah akhirnya Erza bisa normal kembali" kata Raffa lalu berdiri
sontak kata itu membuat semua tertawa menuju Erza. Hanya Erzq yang tidak tersihir oleh lelucon itu. Bagaimana mungkin dia akan tertawa, itu artinya dia menertawakan diri sindiri. Bahkan akan di bilang lebih tidak normal.
"Aa sudahlah kasian Erza bentar lagi nangis tuh" kata Hilya menambah nambah bumbu tawa.
"Kau bilang sudah tapi makna dari akhir perkataanmu itu berarti lanjutkan" kata Erza mulai risih dengan mereka semua.
"Oke oke kita berangkat sekarang" kata Raffa mengakhiri.
"Tunggu" potong Kenzo
"Kita ini sebenarnya di traktir siapa? Aku bingung atauuu bayar sendiri?" tebaknya.
"Aku yang traktir" kata Nisa mengangkat tangan
"Sebagai perayaan kemenangan dannn tanda terima kasih" sambungnya.
"Tidak tidak!! Aku yang punya hutang budi sama Raffa jadi aku yang traktir" potong Alfi
"Aku juga punya hutang sama Erza" elak Nisa
"Hey, Alfi kau traktir Raffa dan Nisa kau traktir Erza. Sudahkan " teriak Hilya.
"Sudah apanya? Aku? tak ada yang mentraktir aku!! " selak Kenzo
"Haiiis aku yang traktir kalian semua" kata Hilya lagi, ia melirik satu per satu orang di sana.
"Itu tidak adil" kata Erza
"Ihhhhh, bagaimana kalian bisa makan jika hanya berdebat disini. Harusnya kita senang kenapa malah debat? Dasar" bentak Alfi yang risih akan debat itu.
"Tinggu aku selesaikan masalah ini." sambungnya lalu meraih tas di punggungnya.
"tapi..." selak Erza