
"Huuhhhh, kita memang di takdirka bersama" kata Raffa sambil memandang koridor yang sepi.
"Ha?" kata mereka berdua sambil menatap Raffa.
"haissss sudahlah aku tak ingin mengingat hal itu. Karna itu akan membuatku gila." kata Raffa seraya memijat pelipisnya.
"Jadi, ayo latihan" kata nya lagi lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.
Kenzo dan Erza saling bertatapan. Kenzo menggerakkan kepalanya ke arah Raffa yang mulai menjauh. Dan Erza membalas dengan mengangkat bahunya keatas.
"Hey, kalian ingin bermalam di kampus ini?"
Kenzo dan Erza menoleh.
"Tentu saja tidak! Apakah kau tak melihat kamia anak konglomerat?" tanya Kenzo
"Maaf aku tak melihatnya" jawab Raffa sambil menoleh.
"Kalian tak ingin kalah lomba musik kan?" tanya nya sambil menggerakkan kepalanya ke kanan atas.
"Oh iya" kata Erza sambil menepuk dahi.
-
-
-
"Falery hari ini bagaimana kalau kita latihan distudio ku ibuku sudah menyewakan tutor untuk kita" ajak siska.
"Hei studio Falery lebih luas, dan ibunya juga bisa menyewa tutor lebih mahal dari pada ibumu. Dan kau memamerkannya pada Falery?" ujar Keisya.
Falery tak mendengarkan kedua temannya yang berdebat. Ia lebih memilih melamun dengan memandang daun yang berjatuhan dari dahannya.
Tiba tiba terlihat tiga orang yang tengah berjalan bersama. Matanya membulat seketika melihat wajah itu.
"Iya kan Falery?" tanya salah seorang temanya.
Falery tak menggubris ia terus memandang salah satu dari tiga orang tersebut.
"Falery?"
"Hey"
Tangan Keisya mencoba menghapus padangan Falery ke arah tepat di depannya.
Srett...
"Falery ada apa?" tanya Siska.
Keisya mencoba mengikuti arah pandang Falery.
"Hah?"
"Hah? Apa?" tanya Siska lalu ia ikut memandang hal yang sama.
"Bukannya dia pelakor itu ya?" kata Siska.
"Udah jelas gitu"
Tap.... tap.... tap.....
Langkah Falery mengahmpiri orang itu. Dan diikuti oleh temannya.
Tap....
Langkahnya berhenti tepat di depan orang tersebut. Falery memandang intens orang yang ada di depanya dengan tangan dikaitkan diatas perut.
Alfi melihat kaki seseorang yang mengahalangi jalannya, lalu menatap wajah pemilik kaki itu.
"Kau berani menatapku?"
"Kenapa aku tak berani menatapmu? Apakah ada yang salah dengan dirimu sehingga aku tak berani menatapmu? "
"Apa yang membuatmu berani menatapku? Apa kau kira ini hanya kebetulan kita bertemu? Jadi, kau berfikir ini hanya kebetulan ha?"
"Apakah kita telah janjian sebelumnya?" kata Alfi dengan malas. Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka.
"Al tadi siapa? " tanya Hilya.
"mana aku tahu?" jawab Alfi.
"Apa? Kalian nggak tahu siapa mereka? Is is is"
"Emang sia siapa sih?"
"Mereka itu anak dari pengusaha besar. Falery adalah ketua mereka. Apapun yang dia mau balakalan sesuai keinginan nya. Salah satu dari mereka adalah tunangan Kenzo kalo nggak salah sih Keisya namanya sebelah kanan Falery. Dan Siska itu tunangan Erza. Kedua nya sama sama mencintai tunangan mereka tapi tidak untuk Kenzo dan Erza.Kalo Falery dia juga punya tunangan tapi entah siapa. " Terang Nisa.
"Et, tapi itu cuma pilahan Falery. Jadi mereka belum tunangan. Tapi katanya si Falery itu cinta mati ama cowoknya" sambungnya lagi.
"Kalo gitu pasti ada yang salah sama kamu Al. Mungkin kamu nggak sengaja deket sama si cowok itu. Dan Falery melihatnya, tapi siapa" kata Hilya