
"aww kakiku. Aku butuh bantuan tapi aku akan berhutang budi lagi" kata Alfi sambil meringis kesakitan.
"Dia kesakitan tetapi tak ingin membuat beban. Dan sekarang ia tak tahan" ujar Raffa
Srett....
Raffa mengambil tas Alfi
"Hahhh" spontan Alfi menoleh dan terkejut.
"Ikut aku" kata Raffa sambil menggerakkan kepalanya ke arah sepeda.
"Aku bisa sendiri aku bukan anak kecil"
"Seseorang yang terluka tetapi tak berani meminta bantuan. Apa ia seorang dewasa?"
"Lihat kakimu apa itu tak sakit?" tanya Raffa.
"(Bagaimana dia tahu? Persis seperti kakak)" batin Alfi.
"Baiklah aku ikut" katanya sambil mencoba tersenyum lalu mengikuti Raffa.
puk.. puk..
"Naik di fram ini" kata Raffa sambil memukul mukul fram nya.
"Hah, oke" kata Alfi agak terkejut. Lalu naik.
syuuut.... syuuuut..... syuuut... syuuut... syuut..
Raffa mengayuh sepeda dengan stabil padanganya tak lepas dari jalan yang ada di depannya.
Sedang Alfi kini mengepalkan tanganya di atas rok rempelnya. Dirinya diambang antara meleleh ataukah membeku. Di satu sisi ia meleleh dengan sikap lembut dan perhatian raffa. Di sisi lain ia membeku dengan sikap tak biasa ini. Tapi yang paling penting sekarang ia takut.
"(Bagaimana jika ada yang melihat. Pasti akan menyengkan jika mereka pacaran. Apa yang harus katakan katakan? Apa yang harus aku lakukan?)" dumalnya resah dalam hati.
Sesekali ia menyela rambutnya yang menutupi mata dengan tangan gemetar. Raffa yang melihatnya merasa ingin tertawa.
"Bhahaks. Kamu ngapain gemetaran gitu? Keringetan lagi anginnya kurang kenceng?" tanya Raffa sambil tetap fokus pada jalan.
"Hum?" katanya terkejut lalu menatap Raffa ke atas.
Sressttt....
Sepeda mereka kehilangan kendali dan hampir jatuh.
"Waaa" teriak Alfi.
"Aa, Maaf aku tadi..." kata Alfi yang ketakutan.
"Nggak papa aku cuma ngingetin aja"
"Oh ya kamu kelihatanya pernah di boncengin gini ya waktu kecil?"
"Ya, sama kakakku"
"Hmm itu waktu kecil kan kamu lebih ringan. Nah sekarang udah gede kan pegangan stir nya ntar jatuh" perintah Raffa.
Alfi terdiam ia masih tak berani berbuat apa apa. Tanganya semakin lama semankin mengepal kuat.
"Bandel banget sih." kata Raffa lalu mengembik tangan Alfi dan di taruhnya di stir sepeda satu per satu.
"Pegangan nanti jatuh kaya tadi kakimu kan udah sakit masa mau nambah?"
"Hemmm iya"
"Dan nggak usah takut ada yang liat. Sekarang kan hampir masuk mungkin semua sedang sibuk latihan. Jangan gemeteran juga aku nggak niat nakutin lho masa takut. hahaha" kata Raffa menenangkan Alfi.
"Iya," ujarnya dengan senyuman
Syuuut... syuuut... syuuut...
"(hmmm dia baik. Dan dia jahat)" gunam Alfi.
***
"Aku udah kasih tau Alfi. Aku pergi urus pengundurannya. Kalo Alfi udah datang kasih tau aku ya!!" kata Alif lalu pergi.
"Eh kak berapa menit mundurnya?" teriak Hilya
"Sepuluh" jawabnya.
puk..
"Heh" panggil Erza sambil menepuk pundak mereka berdua.
"Uwaaa" teriak mereka syog.
"Aduh waktunya buka puasa nih. Udah nging..... " kata Erza sambil menutup telinganya.
"Haisss. Siapa sih nggak kenal tapu sok kenal" kata Hilya.
"Ahahahaha, narsis deh. Yuk kesana aja" kata Nisa sambil menunjuk kursi dekat Pintu.