
"Karna menurutku namamu lebih susah di ucapkan perlu persiapan mental" kata Raffa. Yang membuat tercengang semua orang.
"Yaaah, karna wajahku yang setampan ini dan suaraku yang seeelembut ini. Itu seperti aku sedang menggodamu. Bukan hanya memanggil namamu. Dannn hal hal itu pasti akan membuat aku di pukul oleh nya" terang Raffa.
Semua tertawa kecuali Alfi yang kini mengerutkan dahi. Tak mengerti betapa narsisnya dia.
"Narsis! Hey kata katamu itu membuatku ingin memukulmu sungguhan" ancam Alfi dengan mata yang menyipit.
"Entahlah tapi menurutku kata katanya memang benar" sahut Nisa diiringi tawa.
Kenzo berdecak kesal sambil menunjukkan ekspresi tak senang. " Jadi, sekarang hanya Raffa saja yang mendapat pujian?" tanyanya kesal.
"Hey apa kalian ingin memujinya? " tanya balik Hilya.
"Tidak" jawab mereka kompak
"Yaa, tentu saja tidak. Mengapa harus memujinya sedang diriku tidak di puji?" sabung Erza yang ikut kesal karena iri.
"Aaa, sudahlah" kata Alfi frustasi
"Kalian semua TAMPAN!!!" kata Alfi kemudian
"Puas?" sambungnya dengan nada tanya.
"Tidak" jawab mereka yang di puji itu dengan kompak.
Alfi, Hilya dan Nisa berdecak kesal mendengar oceh para laki laki narsi itu
"Kalian memuji diri sendiri bisa kan? Tak perlu merepotkan orang lain." sebal Hilya
"Yaaa, itu bisa saja. Tapiii memuji diri sendiri itu kurang membanggakan" kata Erza sambil memegang dagunya. Yang si setujui dengan angguka yang lain.
"Haisss, menyebalkan memang berbicara dengan cowo narsis" kata Hilya
"hey!" bentak Erza menggebrakkan meja membuat semua tekejut.
"Kaget tau" selak Kenzo
"Iya ya" jawab nya
"kita bukan narsis" katanya menyambung kalimat sebelumnya.
"Kita hanya merasa tampa serta lebih saja dan ingin mendapata pengakuan dari orang lain" sahut Kenzo dengan bergaya. Jari jempol dan telunjuknya ia tempelkan tepat pada dagu dan jari lainnya di tekuk.
"Itu membuat kita bahagia" sambung Raffa dengan senyum sumringah.
"Dan ingat!" kata Erza sambil menyentuh pilingannya dengan jari telunjuk
"Membahagiakan orang lain itu berpahala" sambungnya.
Sontak saja mereka merasa jijik, geli, risih, ngeri dan berbagai rasa lainnya. Intinya infeel.
Sedang kaum laki hanya tertawa puas atas kemenangan berdebatnya.
Tak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman di meja mereka. Pelayan itu mendapat tatapan dan senyuman dari mereka semua. Sontak saja dirinya menjadi kiguk tak karuan.
"ini pe pesanan nya" katanya terbata bata.
Sang pelayan mencoba menghela nafas di sela sela menata pesanan di meja. Lalu bertanya untuk menghilangkan perasaan kiguk.
"Emm kalian ini triple date kan?" tanyanya membuat dirinya sendiri lega.
"Ya" jawab mereka kompak
"Tapi ini persetujuan dari dua pihak saja" lanjut Alfi tanpa mengalihkan pandangannya dari minuman begitu juga yang lain.
"Aa, bagaimana bisa?" tanyanya karena bingung.
Raffa menghentikan aktifitasnya lalu menghele nafas mengehadapi pelayan super kepo.
"Haaahh, dua dari kami menyukai drama korea. Dia ingin merasakan adegan drama yang ditontonnya." terang Raffa lalu kembali minum
"Apa? Jadi kalian tidak pacaran?" tanyanya ke sekian kali. Tetapi kali ini suaranya agak meninggi.
Mendengar kata pacar langsung saja semua kaget dan hampir tersedak tetapi ada juga yang tersedak Nisa contohnya.
Menyadari pertanyaanya membuat kekacauan sang pelayan itu meminta maaf.
"Maaf, saya membuat kalian tidak nyaman. Maaf karena saya pelayan baru, jadii..."
"Tidak apa apa" potong Alfi