
Alfi dan Raffa tengah duduk di halte bis.
Menunggu kendaraan yang lewat. Mereka ditinggalkan oleh temannya. Jadi mereka harus menunggu kendaraan agar bisa pulang.
"Al" panggil Raffa memandang Alfi, Alfi menoleh
"Aku menyukaimu, apakah kau juga menyukaiku?" tanya Raffa. Tenggorokan Alfi serasa tercekak mendengarnya.
"A-gg"Alfi tak dapat berkata
" Jangan jawab pertanyaan ini jika itu penolakan. Dan jawab pertanyaan ini jika itu persetujuan" kata Raffa, Alfi masih menatapnya
"Jangan pikirkan jika kau terbebani. Jika kau menyukaiku kau akan takut kehilanganku. Dan saat itu kau dapat katakan padaku. Kau menyukaiku" kata Raffa kini beralih menatap jalanan yang ramai.
"Tapi.... kau takkan berusaha menghilangkan?" tanya Alfi akhir bisa membuka cekakan di tenggorokannya.
Raffa menatap Alfi. Dia tahu, Alfi paling tidak bisa kehilangan seorang teman. Apalagi teman yang sudah menolongnya. Seperti dia, terserah kalian mau anggap kepedean tapi memang itu kenyataan.
"Nggak" jawab Raffa sambil menggelengkan kepala.
Sebuah taxi berhenti disana. Alfi bingung, naik atau tidak? Jika naik pasti akan canggung. Jika tidak... Argggg
"Kau duluan, aku menunggu taxi lain" kata Raffa sambil tersenyum.
Alfi mengangguk dan langsung masuk ke dalam taxi.
Raffa menghela nafas kasar. Menatap kepergian taxi yang di tumpangi Alfi.
"Ternyata kau tak memperdulikan aku. Setahuku solidaritasmu sangat tinggi. Lalu mengapa kau meninggalakanku? Sendiri?" kata Raffa sambil tersenyum nanar.
____________
Esok hari....
Alfi sedang duduk di depan kelas di sebuah taman.
"Al!" panggil Nisa lalu ikut duduk
"Apa?" tanya Alfi sambil menoleh
"Raffa nggak masuk" kata Nisa
"Terus?" tanya Alfi, walaupun dalam hatinya ada rasa kekhawatiran.
"Dia nggak ada dirumah kata Erza" sahut Hilya
"Iya Al" sambung Erza juga muncul entah dari mana bersama Kenzo.
"Kami bereempat bareng tadi. Sehabis denger kamu ke kampus sendiri" jawab Nisa
"Nyebelin, masa aku duduk di belakang ama Erza" sahut Hilya
"Raffa gimana ***, anjirrr" kata Kenzo
"ck, Jelek taukkk" bantah Nisa pada pacarnya
"Iya iya, aku hilaf" jawab Kenzo pada Nisa dengan senyum di bibirnya
"Katanya rencananya Erza mau ajak Kenzo Raffa, tapi kata orang disana Raffa nggak pulang semalem dan sampe sekarang. Terus ngajak aku dan aku minta ngajak Nisa lah" kata Hilya
"Nggak penting oneng" kata Erza. Dan setelahnya Erza mendapat tatapan mencengkam dari Hilya.
"Nah, kemarin kan kita tinggalin Raffa sama kamu. Nah kamu tahu nggak?" tanya Nisa
Alfi mengingat bahwa dirinya juga meninggalkan Raffa kemarin. Badannya serasa kaku, ketakutan dan kekhawatiran menelusuri tubuhnya. Apa yang harus kulakukan?
"A-aku jjjuga ninggalin dia" jawab Alfi
"Apa?" Kenzo tak percaya
"Dia kan anak baru, nggak begitu tahu wilayah ini." sambungnya
"Bukannya dia udah pernah tinggal disini ya?" tanya Nisa
"udah 3 tahun, waktu dia balik langsung di kirim ke luar lagi. Dia SMA di luar" terang Kenzo
"Kog lu tahu?" tanya Erza
"Waktu kita cerita tentang masalalu. Kita akhirnya tahu kalo kita dulu satu sd" terang Kenzo lagi
"Ha?" semua terkejut
Tettt tetttt
"Masuk nih" kata Hilya mengingatkan
"Kita cari Raffa pulang matkul, semoga nggak ada tambahan" Kata Alfi, disetujui dengan anggukan semua orang.
"Pake mobilku aja. Sekaliankan?" usul Erza
"Oke" semua setuju