
"Kita kemana nih?" tanya Kenzo mulai memasuki mobil.
Sementara Erza langsung mengatongkan tangan. Menatap Kenzo penuh harap. Kenzo yang baru menutup pintu terperanjat kaget dengan tingkah Erza.
"Apa?" tanya Kenzo
Erza berdecak kesal. Kenapa Kenzo tidak peka sama sekali. Pastinya soal makanan lah, tentu saja Erza merasa lapar.
""Nih" Hilya yang peka itu pun memberi Erza sebungkus makanan yang baru di beli.
"Nah gini dong, peka" kata Erza
"Lu nyetir dulu entar gantian" kata Kenzo yang melihat Erza bersemangat membuka makanannya.
"Oke" jawab Erza lalu melanjutkan perjalanan.
"Pergi ke mana?" tanya Erza menyadari bahwa ia tak tahu harus kemana. Sepeti gelandangan saja.
Alfi menyerahkan ponsel nya pada Erza. Lalu Erza mengambilnya, meletakannya di dashboard mobil dan mengikuti petunjuknya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Kenzo menoleh pada Alfi
"Aku melacak lokasi HP Raffa. Seseorang pasti membawa HPnya kemana mana kan? Kita bisa menemukan nya dengan itu" terang Alfi
"Bagaimana kika HPnya mati?" tanya Kenzo lagi.
"Maka itu adalah lokasi terakhir Raffa sebelum HPnya mati. Dan mungkin kita bisa menemukan petunjuk disana" terang Alfi lagi.
Setelah berjam jam berkendara mereka akhirnya sampai pada tempat menurut GPS. Hari sudah larut.
Di depan ada sebuah rumah, cukup luas namun agak sepi.
"Kita masuk? tanya Nisa
"Grebek aja langsung" kata Erza kini melipat lengan bajunya ke atas.
"Pura pura bertamu aja" kata Alfi yakin
"Aku setuju" timpal Hilya dam Nisa mengangguk.
"Erza kau di luar saja. Awasi luar. Jika ada sesuatu yang mencurigakan hubungi kita." kata Alfi. Sepertinya sudah merencanakan semua dari awal.
"Hei, kenapa aku?" tanya Erza
"Ya, lu ama pacarlu aja yang disini" kata Erza
"Jika di dalam lu di sekap atau ternyata ada bodyguard disana? Bisa jaga Hilya sama Alfi?" tanya Kenzo
"Gini aja lu bujuk Hilya" sambungnya melirik Hilya. Tentu saja ia mendapat tatapan sengit dari Hilya.
Namun Hilya mengerti situasinya. Ia mengendus kesal lalu menghampiri Erza.
"Oke" katanya sambil bersandar di mobil.
Yang lain pun berjalan memasuki rumah itu.
"Kau sudah rencanakan semua ini dari awal?" tanya Nisa
Alfi tersenyum dan mengangguk.
"Aisssh, pantas kau mencorat coret buku. Dan tak mendengarkan dosen" kata Nisa
"Pacar yang sempurna" kata Kenzo. Nisa langsung memelototinya.
"Bukan untukku tapi untuk Raffa" sambung Kenzo, tapi Nisa masih memelototinya karena telah mempermaikan dirinya.
Sedang Alfi mengabaikannya. Raffa adalah prioritas utama saat ini. Dia tahu temannya bercanda untuk meneangkan atau menghiburnya. Bukan berarti mereka tah tahu timeming yang tepat untuk bercanda.
"Sepi" kata Alfi menatap rumah itu. Sepertinya ini cukup menyeramkan, hingga buku kuduknya berdiri tegak.
"Kita harus tetap waspada" kata Raffa kini memasukka tangannya pada saku hoodienya.
Tiba tiba ada seseorang muncul dari balik pintu. Seorang laki laki sepertinya om om.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara serak khas orang brutal plus kepalanya yang gundul dan jaket kulit hitam di lengannya.
"Mau mertamu lah om" jawab Kenzo
"Pulang, om sibuk" katanya lalu memakai jaket kulit di tangannya.
"Ada orang didalam om?" tanya Kenzo
"Ada, yaudah kalo emang butuh banget samperin sonoh" kata nya ketus lalu pergi.