
Tap tap tap
Derap kaki seorang pria dengan tubuh tegapnya. Wajahnya yang rupawan menjadi ciri khas dari diri nya.
Terkadang ia merasa risih dengan kaum hawa di kampus yang selalu mengusik nya dimanapun dia berada. Membuatnya merasa capek dengan kehidupan di kampus yang amat melelahkan.
Brugg
Dijatuhkannya tas berisi matkul yang mengharuskan otaknya untuk mencangkup nya, di sofa.
Huufff, huuuhhhhh
Ia membuang nafas dengan kasar dan mengacak acak rambutnya yang tak besalah ke sekian kali nya.
Brugggg
Dijatuhkannya dirinya yang masih memakai jass yang identik dengan seragam kampus pada kasur bernuansa black dark itu. Dengan interior kamar yang berwarna gelap merupakan suasana yang sangat ia sukai.
Perlahan ia menutup mata mencoba melupakan hal hal melelahkan selama seharian itu.
-
-
-
Seorang gadis berwajah rupawan tengah mengotak atik handphone miliknya. Ia hampir tak berpaling dari layar itu.
Sekali kali ia mengendus kesal, karena tak kunjung ada jawaban dari orang di sebrang sana. Setelah mendapat jawaban dari sahabatnya itu, ia bisa bernafas lega.
Akhirnya ia mencoba meninggalkan kegiatan melelahkan itu, mencari kesibukan yang lain.
Sebab ia mulai bosan dengan benda mati berbentuk kotak yang mengasikkan.
"Ditutup?" Kata nya saat melihat pintu kamar sang kakak yang tertutup rapat. Tangannya mencoba keberuntungan dengan memegang gagang pintu. Ditariknya gagang tersebut kebawah selagi ia mendorong pintu itu.
Ceklek...
"Hah! Kebuka, aku punya kekuatan nich. Bagus dah aku bisa buka pintu apa aja. Mulai pintu kalo aku di kunci kakak, ampe pintu hati kakak yang kaya gunung merapi"
Dilihatnya sang kakak yang tertidur pulas. Ada rasa iba dalam hati nya saat melihat kakaknya yang lemas. Buka seperti biasa, kadang kadang ia merindukan kakaknya yang usil padanya.
"Humm, mungkin kakak sedang ada masalah. Kasian juga tiap hari ia dikejar fans nya." ucapnya sambil menyalakan AC agar tak kepanasan.
Melihat sang kakak yang tertidur pulas. Rasa kantuk mulai menyelimuti kelopak matanya. Ia tak bisa menahan rasa itu.
Matanya mulai terpejam mengikuti alunan udara yang menari di atsmosfer. Tak lama kemudian ia tertidur di karpet tempat ia dan sang kakak tidur bersama di dekat kasur.
Sore hari telah datang, sebuah sinar yang menempel di plafon menyala. Membuat dua manusia mulai meninggalkan alam mimpi.
Seorang pembatu rumah tangga menyalakan lampu. Ia tak berani membangunkan anak majikannya itu. Saat dalam situasi ini ia hanya bisa menyalakan lampu untuk membangunkan mereka.
Alif mulai bangun dan tersadar. Ia mengeliat menggerakkan tubuhnya yang kaku akibat tidur. Di jatuhkan kakinya ke bawah kasur. Tak sengaja ia menginjak kaki sang adik yang masih terjebak di dalam mimpi.
Alfi yang merasa ada sebuah benda yang menimpa kakinya pun mulai bangun. Kaki itu mulai menginjak dengan kuat membuatnya kesakita.
"Aaaaaaarggg, sakittttttt" ucapnya sambil spontan berdiri di tambah teriakannya yang agak keras membuat sang kakak yang baru tersadar kaget sejadi jadinya.
"Waaaaaa" teriaknya sambil membantik tubuhnya kembali kekasur dengan nafas yang naik turun.
Huhh huhhh huhh....
Derik nafas mereka bersautan. Mereka memcoba berfikir apa yang terjadi.