
Lagi lagi membuat Hilya kesal. Dengan keras ia menendang lagi kaki Erza. Membuatnya memekik kesakitan.
"Sakit sialan" pekiknya kesalitan sambil sedikit mengangkat kakinya yang di tendang.
"Bangke" gunamnya pelan agar tak di dengar Hilya. Sayang perkiraannya salah.
"Apa lo bilang?" tanya Hilya ingin memastikan.
"Salanghae (aku mencintaimu dalam bahasa korea)" jawab Erza dengan senyuman. Hilya dan yang lainnya melongo.
Bagaimana bisa dia menyatakan perasaanya dengan alami seperti itu? Tanpa basa basi. Tanpa grogi. Sungguh bar bar dia. Heran, bagaimana ia bisa mempersiapkan diri untuk itu.
"Za, kau cari mati apa gimana sih?" tanya Nisa memecah jeda.
"Cari mati? Buat apa? Ntar juga datang sendiri" jawabnya santai saja.
"Aku cuma mau bersikap baik tanpa menyakiti perasaanya. Aku sadar dia memdengarku mengatainya 'bangke' setelah dia bertanya. Apa salahnya aku salanghae Hilya, ha?" tanyanya memandang satu persatu makhluk disana.
"Bukankah itu kata kata yang sering keluar dam drama? Ahh, jangan terkejut aku menhetahuinya! Aku tahu dari iklan di tv" sambungnya menyombongkan diri.
Semakin lama semakin ingin membunuh saja manusia satu ini. Ia bicara tanpa tahu artinya? Benar benar cari mati.
"Za!" panggil Nisa pasrah
"ya" jawabnya bersemangat.
Kenzo mengusap muka Erza dengan telapak tanganya. "Ingat dia pacarku, jangan kegenitan" katanya cemburu.
Erza tersenyum sinis menanggapinya.
"Kamu tahu arti salanghae?" tanya Nisa dengan sabar.
"Hey, jangan katakan itu padanya! Katakan itu padaku!" perintah Kenzo, ia mendapat tatapan sinis dari sang pacar.
"Bagaimana bisa kau katakan itu pada seseorang sebelum pacarmu sendiri"
"Nis, artinya apa? Jangan bilang yang aneh aneh. Aku merasakan aura tak enak di sini" kata Erza mulai khawatir ia salah bicara.
"Aku men.. mmm mmmm" belum selesai bicara, kenzo sudah berdiri dan membungkam mulutnya.
"Artinya aku mencintaimu. Paham?" kata Kenzo menggantikan Nisa.
Langsung saja Erza terkejut bukan main. Rasanya seperti tersengat listrik hingga tak bisa bergerak.
Yang lain tersenyum menanggapi ekspresi nya. Kecuali Hilya yang nasih kesal.
"Jadi gimana? Hilya terima apa nggak?" tanya Raffa membuka suasana sidang.
"Terima lah Hil!" goda Nisa menyenggol lengan Hilya.
Hilya diam saja. Melampiaskan kekesalannya pada kentang goreng didepannya. Menusuknya dengan garpu sekuat tenaga. Menggigitnya dengan kasar.
"Terima! Terima! Terima! " sorak Kenzo beberapa saat lalu diikuti Raffa Nisa dan Alfi juga.
Mereka menepuk nepukkan tangan dan terus bersorak "terima". Untung saja mereka tak bersorak terlalu keras dan keadaan kafe tak begitu ramai.
"Hei hei hei!" seru Erza namu mereka tetap setia bersorak.
"Kalian nggak mikir apa? Baru nembak dia tanpa sadar aja udah kaya ketemu reaper. Gimana jadinya kalo aku pacaran sama dia? " kata Erza berindik ngeri.
"Tau nggak sih? Ini aku udah gemetaran nunggu ajal!!" sambungnya lebih keras.
"Oke oke" sahut Kenzo masih terkekeh. Begitupun yang lain.
Hilya kesal sirinya di sebut reaper (dewa kematian) dia membanting garpu ke meja. Beranjak dari tempat duduk lalu pergi dengan cepat. Ia bukan pergi keluar depan kafe tetapi ke belakang cafe . Mungkin ke toilet untuk menenangkan diri.
Hilya lalu mengikutinya ke belakang, begitupun pacarnya karena tak ingin ditinggal sang pacar. Alfi hendak ikut serta namun tanganya di genggam kuat oleh Raffa.