
Falery mulai tak tahan dengan kemarahan nya. Rahanya mengeras dengan tangan yang mengepal. Rasanya ingin sekali ia memukul Alfi.
Tap tap tap tap tap
Langkahnya cepat mengikuti gadis di depanya. Ingin sekali ia melampiaskan kemarahanya.
Sret...
Tanganya meraih pundak Alfi dan membantingnya ke belakang. Alfi mulai tak tahan dengan kelakuan Fakery pun menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Lo gila apa?" bantak Hilya
"Nggak usah tanya, jelas jelas dia cewek gila dan brengsek" sahut Nisa.
"Deim lo" bentak Fakery sambil melirik Nisa.
"Elo yang diem an***g" jawab Nisa
plak..
Hilya segera menampar mulut Nisa.
"Okeh, huuhhhh" jawab Nisa lalu memghela nafas dalam dalam.
"Dasar cewek ban***t" kata Falery sambil mengepalkan tangan dan siap meluncur di wajah Alfi.
Crab....
Belum menyentuh wajah mulus Alfi, tangan Fakery di genggam oleh seseorang dari samping.
Semua orang melihat ke arah orang yang memegang tangan Falery. Kecuali Falery dan Alfi yang terbawa oleh emosi.
"Heh, beraninya lo cegah gw tampar dia ha? Kau tak ingin mati kan? Kau tahu aku akan membuatmu menyesal telah mencegahku" kata Falery tanpa melihat nya.
"Aku akan menunggu penyesalan itu, Falery"
"Lepas" katanya sambil meronta
"Lepas"
"Apa kau tuli? Aku bilang lepas!"
Aldo masih tak melepas cengkraman nya. Membuatnya mendapat tatapan sadis dari Falery.
"Aku hanya ingin bilang padamu. Jangan buat masalah di kampus ini, dan jangan sangkutin Raya saat lo dapat masalah. !"
"Hah? apa urusanmu hingga membuatmu mengatakan itu padaku ha?"
"Jangan buat masalah di kampus karna aku seorang kajur di jurusanmu. Jangan sangkutin Raya karna dia pacarku! Ini. peringatan, bukan saran" jelas Aldo lalu melepaskan cengkraman nya, lalu pergi meninggalkan mereka.
Tatapanya beralih pada Alfi yang masih ada di posisinya.
"Aku melepaskanmu karna sekarang aku tak ingin bertengkar denga dua orang sekaligus dalam sehari" katanya sambil tersenyum sinis.
Plak...
Tangan Falery menampar Alfi tepada pipi mulusnya.
"Gila nih cewek, kalo mau war yang adil napa nj*ng" bentak Nisa.
"Lo kira gw peduli tentang keadilan ha?"
Srett...
Tangan Falery beralih mengambil rambut Alfi bagian bawah lalu menariknya.
"Ini hanya peringatan! Ingat itu" katanya sambil mendekatnya diri nya ke Alfi.
Srett...
Alfi membalas dengan menarik kerah baju Fakery dan mencekiknya.
"Hemmm kamu cukup berani ya, ini akan seru"
"Kenapa aku tak berani dengan gadis sepertimu? Apakah kau kaya hingga bisa membeli nyawa lagi untukmu?"
"Heh, kau akan menyesal mengatakan itu!"
"Oke, buat aku menyesal. Aku siap menghadapimu!"
"Hey kalian! Jangan bertengkar di kampus!" teriak seorang dosen dari belakang.
"Falery? Kenapa kamu bertengkar lagi?" tanya dosen itu.
Alfi, Hilya dan Nisa mengerutkan dahi setelah mendengar pertanyaan dosen itu.
"Aku tak akan bertengkar tanpa alasan, paman" jawabnya sambil memandang Alfi.
"Pantes belagak banget ternyata pamanya pak Irwan ,dosen kampus" bisik Hilya pada teman temannya.
"Dan kalian, kenapa kalian bertengkar dengan Falery? "
"Kami juga tak akan bertengkar tanpa perlawanan dari seseorang! Bapak tahu itu kan" jawab Alfi lalu pergi meninggalkan mereka, diikuti temanya yang selalu bersamanya.
"Heh, kabur! Pengecut" kata Falery
"Falery aku tahu kau sangat menyukai Alif. Dan asal kamu tahu, dia adalah adiknya" terang dosen tersebut.