The Blind Maiden

The Blind Maiden
79. Hukuman Langit II



Su Qionglin sungguh sungguh dibawa ke alam langit untuk menerima hukuman bersama dengan orang yang memiliki dendam dengan Gunung Yi, Jing Jun.


Dewi yang pada saat itu berselisih dengan Dewi Gunung Yi, nenek Su Qionglin dan pada akhirnya yang menjadi pemenang adalah Dewi Gunung Yi.


Jing Jun selalu menjadi nomor dua, bahkan pria yang menjadi paling populer yang dicintainya, Dewa Api Xian Shen sendiri memutuskan untuk menikah dengan Dewi Gunung Yi.


Ini membuat Jing Jun merasa tidak senang dan telah dikalahkan dalam segala aspek, pada saat ini dia mempunyai kesempatan untuk menindas keturunan Dewi Gunung Yi, tentu saja dia tidak akan menyia nyiakan nya.


Su Qionglin menolak untuk dipegang oleh orang lain dan melihat di sekitar bahwa ada banyak orang yang melihatnya dan bersedia untuk meluangkan waktu mereka menontonnya disiksa.


Su Qionglin diseret untuk naik ke atas altar dengan formasi aneh di bagian atasnya, ternyata ini adalah alam langit yang dipuja puja.


"Su Qionglin, di anggap berdosa dan memiliki banyak kejahatan di dunia manusia. Dia layak untuk mendapatkan 100 sambaran petir !" Seru Jing Jun.


Semua orang terkejut, nyawa manusia tidak terlalu penting biasanya, paling paling hanya mendapatkan 10 kali sambaran petir, itu saja sudah ditakuti.


Tapi, kali ini bahkan 100,bukankah Jing Jun menambah sepuluh kali lipat ?! Su Qionglin tidak akan mampu bertahan dengan serangan ini !


Semua orang berdiskusi dengan semangat, sementara Su Qionglin sendiri di rantai ditengah altar dan menunggu petir dari langit.


Duarrr !


Petir langit menghantam tubuh kecilnya dan membuatnya tersadar bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dia tanggung.


Su Qionglin terbatuk batuk dan hampir setengah mati, tidak lama kemudian petir kedua datang untuk menyambar.


Duarrr !


Petir terus menyambar sampai akhirnya petir ke sepuluh datang. Tubuh Su Qionglin mulai berdarah dengan tatapan yang berantakan.


Altar putih itu telah berubah menjadi penuh darah, Su Qionglin sudah tidak mampu berlutut dengan baik lagi dan hanya mengandalkan rantai.


Petir masih terus menyambar tanpa ampun, sampai akhirnya petir ke 25 datang. Su Qionglin sudah di penuhi oleh darah.


Pakaiannya telah basah oleh darah dan bisa diperas, orang orang bahkan telah merasa ngeri. Orang yang membunuh para dewa saja hanya dihukum 50 sambaran petir, sebenarnya 100 petir ini benar benar berlebihan.


100 petir ini benar benar cocok untuk pengkhianat yang telah mengkhianati alam langit, sementara untuk mengacau di dunia manusia belaka benar benar berlebihan.


Tapi, Jing Jun memiliki kemampuan yang hebat, bagaimana mungkin orang berani mengatakan keberatan mereka terhadap hukumannya ?


Semua orang hanya bisa memendam dalam diam, ketika sambaran petir ke 48 datang, Su Qionglin sudah tidak bisa menutup mulutnya lagi.


Tidak terhitung sudah berapa banyak dia memuntahkan darah, pakaian putihnya telah direndam oleh darah sepenuhnya.


Tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak dipenuhi dengan darah segar. Pada saat ini, tidak banyak lagi Dewa Dewi yang berani untuk menonton.


Mereka memilih untuk pergi daripada melihat pemandangan menyedihkan ini. Su Qionglin sudah tidak tahan lagi, dia bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi.


Dalam dua sambaran petir, Su Qionglin kehilangan kesadarannya sepenuhnya, kelopak matanya menutup dengan perlahan seperti sayap yang patah.