
"Apa maksud Ayah untuk terakhir kalinya ?" Tanya Su Qionglin sambil menangis dan memeluk tangan Ayahnya.
"Kalian semua adalah putra putri Ayah yang paling Ayah cintai terutama Qionglin, walaupun kamu tidak terlahir sama seperti saudara saudarimu tapi kamu memiliki tekad yang kuat, kamu tidak kalah dari yang lain dan Ayah sangat menyayangimu. " Ucap Su Bei dengan penuh kasih sayang.
"Ayah..." Panggil Qionglin sambil menangis dengan deras.
"Yun , maaf karena memberikan tanggung jawab ini kepadaku di usia semuda ini. Kamu baru saja berusia 18 tahun sudah waktunya mencari pasangan hidup, kamu harus mewarisi Kediaman Su dan menjaga Ibu dan adik adikmu kelak. " Ucap Su Bei sambil menahan batuk.
Bahkan, Su Yun yang biasanya teguh pun tidak bisa menahan diri lagi dan mulai menangis dengan keras layaknya anak yang ditinggal induknya.
"Ayah..... aku pasti akan menjaga Kediaman Su dengan kedua tanganku, aku akan menjaganya dengan nyawaku. " Ucap Su Yun dengan gemetar.
"Di hadapan Ayahku dan adikku, sertal langit dan bumi. Aku, Su Yun bersumpah bahwa aku akan menjaga Kediaman Su dengan segala harga, bahkan jika aku harus mengorbankan diriku sendiri. " Sumpah Su Yun dan bersujud tiga kali.
"Senang mendengarnya, katakan pada Lian bahwa aku juga mencintainya. Dia adalah gadis yang ceria dan menyebabkan Kediaman Su yang hening menjadi hidup. " Ucap Su Bei sebelum akhirnya memejamkan mata dan nafasnya berhenti.
Su Qionglin menangis sejadi jadinya dan memeluk tubuh Ayahnya dengan erat, seolah olah tidak ingin melepas Ayahnya.
"Jangan pergi, Ayah ! Jangan pergi ! Aku benar benar tidak bisa hidup tanpamu, Ayah !" Teriak Su Qionglin dengan sedih.
Suaranya habis matanya membengkak, tapi air mata tidak kunjung berhenti bahkan ketika tubuh Su Bei telah membeku dan mengeras.
Su Yun memeluk adiknya dan menenangkannya walaupun dia sendiri menahan air mata sekuat tenaga.
"Jangan tinggalkan aku.... " Gumam Su Qionglin, dia menangis tanpa suara.
Su Yun sendiri tidak tahan melihat kondisi adiknya seperti ini, seperti kehilangan jiwanya sendiri.
"Qionglin, Ayah sudah tenang disana. Kamu harus melepaskannya. " Ucap Su Yun mengangkat tubuh Su Qionglin dan memeluknya.
Su Qionglin memeluk Su Yun dan menangis sejadi jadinya di bahu Su Yun, dia benar benar sedih. Satu satunya penyelamat dalam hidupnya telah pergi.
"Ayah, kenapa Ayah sangat tega dan meninggalkan kita dengan cepat ? Apakah karena Ayah membenciku ?" Tanya Su Qionglin.
"Tidak, tentu saja tidak. Ayah sangat menyayangimu, kamu mendengar sendiri kata katanya tadi. " Ucap Su Yun.
"Ayo berdiri dan biarkan semua rekan yang lain masuk untuk memberikan penghormatan kepada Ayah sebelum Ayah dibawa ke Ibukota. " Lanjut Su Yun.
Su Qionglin mengerti bahwa dia harus menyingkir dan dia berdiri ke sudut lalu menarik sapu tangannya dan menutupi wajahnya agar tidak ada yang melihat.
Orang perlahan lahan masuk, yang pertama adalah Wakil Jenderal Fang. Di wajah tuanya terlihat kesedihan yang mendalam, dia sudah bertarung dengan Su Bei selama 20 tahun, dari muda sampai tua, mereka sudah bersama.
Saling mengejek , saling menghina, keduanya sudah sering melakukannya. Mereka bahkan tahu aib masing masing.
Wakil Jenderal Fang yang gagah sekalipun tidak mampu menahan tangisnya di depan tubuh sahabatnya yang kaku.
"Kamu, bajingan sialan berjanji padaku bahwa kita akan mengambil banyak perluasan tanah lainnya tapi apakah kamu akan berhenti disini saja ? Kamu benar benar jahat karena meninggalkan ku sendirian. " Ucap Wakil Jenderal Fang dengan sedih.
"Beristirahatlah dengan tenang, kita akan bertemu lagi nanti. " Lanjut Wakil Jenderal Fang dan pergi dari sana.
"Nona, kamu harus kuat. " Ucap Zhuang Qingyi.
"Terima kasih kepada kalian berdua, jika tanpa kalian maka aku tidak akan bisa melihat Ayahku bahkan untuk terakhir kalinya. Sebagai bentuk rasa terima kasihku maka aku akan memberikan ini kepada kalian. " Ucap Su Qionglin dengan penuh rasa syukur dan bersiap untuk bersujud di depan keduanya.
Zhuang Zhiqi dan Zhuang Qingyi langsung menahan bahu Su Qionglin untuk menunduk.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya jika aku bisa membantu maka aku pasti akan membantu Nona Su, Nona Su tidak perlu sampai seperti ini untuk kami. "Ucap Zhuang Zhiqi.
"Aku benar benar tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikan hati kalian. " Ucap Su Qionglin dengan sedih.
"Yang penting, pada saat ini Nona fokus dulu pada pemulihan diri dan kita akan kembali ke Ibukota. Jenderal Su pasti akan dikenang sebagai seorang martir yang berkorban dalam peperangan, seluruh dunia pasti akan menangis untuknya. " Ucap Zhuang Qingyi.
Banyak sekali prajurit yang menangis melihat Jenderal yang baik hati dan konyol seperti Su Bei meninggal di peperangan.
Su Bei dibawa dengan kereta kuda dan Su Qionglin sudah seperti mayat hidup yang seluruh wajahnya bengkak dan pucat karena menangis tanpa henti.
Pada saat ini, bahkan jika dia ingin menangis, itu sudah tidak bisa lagi. Su Qionglin duduk di dalam kereta kuda bersama dengan Su Yun dan melihat Ayah mereka di dalam peti yang terbuka ini.
Perjalanan terasa lambat dan melelahkan, dia bahkan sudah kehabisan seluruh tenaganya untuk melakukan hal lain.
"Kakak, aku mungkin tidak sanggup untuk mengikuti acara pembakaran Ayah, aku mungkin tidak akan kuat. " Ucap Su Qionglin.
"Kamu harus kuat, kita akan melihat Ayah untuk terakhir kalinya sebelum mengantarkannya ke tempat yang paling baik untuknya. " Ucap Su Yun.
"Kak, aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi.... bagaimana dengan hidupku ?" Tanya Su Qionglin meratapi nasibnya.
"Kamu masih punya aku dan Lian, jangan sedih. " Jawab Su Yun dengan sabar.
Su Qionglin mengangguk dan berusaha untuk meyakinkan diri sendiri dengan pernyataan tersebut.
Betapa jahatnya takdir dunia ini yang memotong hubungan antara Ayah dan Anak ini dalam sekali peristiwa ? Tapi, inilah peperangan, semuanya dapat berakhir dengan mudah.
Yang menangis bukan hanya keluarga mereka saja, ada banyak Ibu atau istri yang kehilangan suami atau putra mereka.
Ada juga banyak anak yang kehilangan Ayah mereka, semuanya sedih dan tidak ada yang bahagia.
Pada akhirnya, peperangan tidak membawa kebahagiaan, karena selalu ada isak tangis yang menyertainya.
Perlu 7 jam perjalanan untuk mencapai Kediaman Su dan disana sudah ada Nyonya Su dan Su Lian yang menunggu dengan isak tangis di wajahnya.
Semua orang sudah tahu bahwa Jenderal Su telah gugur dalam pertempuran kali ini, Su Qionglin turun bersama dengan Su Yun yang langsung di hampiri oleh Su Lian.
"Dimana Ayah ?" Tanya Su Lian dengan histeris.
"Di dalam. " Jawab Su Qionglin dan memeluk Su Lian dengan erat.
Su Lian menangis dengan kencang tapi Su Qionglin merasa bahwa air matanya sudah kering, hanya menyisakan rasa sakit yang mendalam.