
Berminggu minggu berlalu sejak kepergian para Jenderal dan Prajurit pemberani , Nyonya Su juga tidak berusaha untuk melakukan sesuatu padanya, hanya bersikap seperti biasa saat tidak ada Su Bei.
Hanya saja ada hal yang sedikit berubah, kediamannya berubah menjadi agak ramai setelah Su Lian menjadi agak sering untuk bermain dengannya diam diam.
Mereka tidak bisa ketahuan oleh Nyonya Su, jika tidak maka Su Lian akan ditarik untuk mempelajari segala macam tata krama Istana yang memuakkan.
Su Lian sendiri sudah muak karena dikekang seperti ini, menjadi calon putri Mahkota bukanlah sebuah anugerah baginya melainkan sebuah kutukan yang mengekang seluruh kebebasannya.
"Kakak, apakah kamu tahu berapa kali kaki ku dipukul kemarin saat latihan berjalan yang anggun ?" Tanya Su Lian dengan cemberut.
"Uh, kamu sangat menyedihkan. Bagian mana yang sakit ? Biarkan aku mengolesi kakimu dengan obat. " Jawab Su Qionglin meraba kaki Su Lian dan merasakan lebam Su Lian.
Dimana kaki Su Lian agak membengkak karena masalah ini. Dikatakan bahwa Anggota Kekaisaran tidak diperbolehkan untuk berjalan dengan sembrono.
Ketika berjalan, jarak antara kaki dengan kaki yang lainnya tidak boleh lebih dari 3 sentimeter, lalu ketika berjalan punggung tidak boleh membungkuk.
Kaki harus lurus, jari kaki yang menghadap ke luar, jalan selalu lurus tidak boleh bergeser ke jalur lain.
Kedua tangan harus ditaruh dan dikaitkan di bagian depan, sebagai bentuk kesopanan yang harus dipegang terus menerus.
Senyum tidak boleh hilang dari wajah, Su Lian yang cenderung berterus terang tentu saja kesulitan dengan semua ini.
Di Istana, apa yang seharusnya tidak di dengar maka tidak boleh di dengar. Su Lian akan mengalami perubahan besar karena masalah ini.
"Lian, ketika di Istana nanti maka kamu tidak boleh sembrono seperti ini. Cobalah untuk bertahan dan jangan pernah membicarakan orang lain terutama Kaisar , Permaisuri, Ibu Suri, dan Putra Mahkota. Karena, dinding memiliki telinga. " Ucap Su Qionglin menasehati dengan hati hati.
Tapi, Su Qionglin sendiri sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan semua itu karena dia hanya membaca kalimat tersebut di buku.
"Ya..... tapi, jika harus mengulang kembali waktu maka aku tidak ingin menikah dengan Keluarga Istana. Itu tidak lebih dari sangkar emas yang terlihat mewah tapi pada kenyataannya tidak berbeda dengan sangkar lain yang bersifat mengekang kebebasan. " Keluh Su Lian dengan menyedihkan.
Su Qionglin adalah gadis yang polos, jadi dia tidak terlalu mengerti dengan kata kata yang diucapkan oleh Su Lian.
"Kakak, kenapa kamu hanya diam ? Apakah kamu demam ? Wajahmu agak memerah. " Ucap Su Lian.
"Benarkah ? Sepertinya badanku agak panas tapi tidak apa apa. Aku hanya terlalu banyak bergerak. " Balas Su Qionglin sambil meraba wajahnya sendiri.
"Kalau begitu maka kamu harus memanggil tabib , kak. Aku akan memanggilnya untukmu. " Ucap Su Lian dengan khawatir dan menyentuh dahinya dengan penuh perhatian.
"Jangan menambah kekhawatiran kediaman ini, semuanya sudah murung sejak tidak ada kabar dari Ayah dari 2 minggu lalu. Biasanya, setiap minggu Ayah akan mengirimkan surat kepada kita. " Ucap Su Qionglin dengan helaan nafas.
Ada yang disebut dengan pengiriman merpati, dimana seorang Jenderal membawa banyak merpati dan memberi merpati yang sudah dilatih itu untuk membawa surat ke tempat yang di inginkan olehnya.
Setelah mengantarkan surat maka merpati akan kembali lagi ke sisi Sang Jenderal, selalu seperti itu dan kecepatan merpati yang dilatih tentu saja tidak sama dengan merpati pada umumnya.
Wajah Su Lian berubah menjadi muram ketika mendengarkan kata kata Su Qionglin, walaupun Su Qionglin tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan bahwa Su Lian berubah menjadi murung.
"Bagaimana dengan kak Yun ? Apakah ada kabar darinya ?" Tanya Su Qionglin berusaha untuk mengalihkan pertanyaannya.
"Haruskah kita berdoa untuk Ayah dan Kakak ?" Tanya Su Lian.
"Tentu saja. " Ucap Su Qionglin.
Keduanya berjalan menuju altar kecil yang ada di dalam kediaman Su Qionglin, disana ada lukisan wajah Ru Ling.
Su Qionglin dan Su Lian mulai berdoa dan berharap bahwa semuanya akan baik baik saja, mungkin saja Ayah mereka sedang sibuk dan tidak bisa menyempatkan diri untuk menulis surat.
"Semoga, Ayah bisa kembali dengan selamat dan kemenangan di tangannya sehingga dia bisa mengangkat kepalanya dengan bangga. " Ucap Su Lian dengan penuh harapan.
"Semoga, Ayah menjaga dirinya sendiri dan makan dengan teratur, semoga kesehatan selalu melimpahi Ayah. " Ucap Su Qionglin.
Keduanya memanjatkan doa untuk Su Bei, sementara Su Bei sendiri tidak dalam keadaan baik.
Su Bei bertarung dengan sengit melawan musuh , tapi keadaannya tidak di untungkan karena jumlah pasukan yang lebih besar.
"Pada akhirnya, kami Kerajaan Wang akan bisa menundukkan Jenderal Su yang dikatakan paling hebat ini. " Ucap seorang pria yang lebih muda dari Su Bei.
"Jangan harap ! Selama aku masih hidup maka kalian tidak akan pernah bisa menyentuh gerbang Istana kami. " Ucap Su Bei dengan dingin.
Bahkan jika dia sudah hampir mencapai setengah abad, tapi di wajahnya masih menunjukkan kegagahan yang luar biasa layaknya seorang pejuang sejati.
Dia yang menghabiskan masa mudanya di dalam darah dan pembunuhan, sudah terbiasa dengan semua hal gila.
Di medan perang, maka jika tidak membunuh maka orang itu yang akan terbunuh. Hanya itulah yang menjadi pilihan di medan perang.
Su Bei memutar otaknya dan melihat bahwa tidak memungkinkan lagi untuk mundur , tapi mereka juga tidak bisa maju.
Sehingga, Su Bei melepaskan sebuah kembang api yang sangat terang dan mencapai Ibu kota sebagai bentuk permintaan bantuan.
Bahan yang digunakan untuk membuat kembang api ini sangat mahal, sehingga sangat jarang untuk digunakan.
Su Qionglin dan Su Lian yang sedang berdoa dikejutkan dengan suara ledakan dari kembang api yang berasal dari jarak 500 mil.
Keduanya saling berhadapan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, Su Qionglin memegang tangan Su Lian karena terlalu panik tapi disisi lain memegang tongkat kupu kupunya.
"Darimana itu berasal ?" Tanya Su Qionglin dengan gemetar.
"Dari utara. " Jawab Su Lian dengan terbata bata.
Su Qionglin melepaskan tangan Su Lian dan mulai berlari keluar sambil memanggil nama Zhuang Qingyi.
"Kakak ! Kakak ! Kemana kamu akan pergi ?!" Tanya Su Lian dengan panik ketika melihat Su Qionglin pergi.