
Su Bei yang mendengar ini, wajahnya langsung berubah menjadi pias. Ketakutan yang telah menghantui dirinya belakangan ini benar benar menjadi kenyataan, ini benar benar menakutkan.
Membayangkan betapa parahnya peperangan ini membuat bulu Su Qionglin bergidik dan kegelisahan menyelimuti dirinya.
Su Bei dan Su Yun pergi ke Istana untuk menghadap Kaisar, disana sudah ada Ling Yi ketika mereka datang.
"Yang mulia, mohon maafkan kami karena tidak menggunakan pakaian yang layak dan sopan. " Ucap Su Bei dengan buru buru berlutut.
"Berdiri, Jenderal Su. Tidak akan ada yang menyalahkanmu ketika sedang terjadi krisis seperti ini, kalian berempat adalah pilar bangsa ini dan Jenderal Su muda kamu adalah Jenderal baru yang harus memikul tanggung jawab ini, kamu harus terbiasa dengan ini. " Ucap Kaisar Ling.
"Aku akan berusaha untuk memunculkan segenap kekuatanku demi menjaga Kekaisaran ini. " Ucap Su Yun dengan tulus.
"Bagus, kalau begitu maka Jenderal Su , kamu harus pergi ke Utara seperti biasa dan Jenderal Ling kamu pergi ke Selatan. Jenderal You, kamu pergi ke Timur, dan Jenderal Su muda kamu pergi ke Barat Daya. "Ucap Kaisar Ling.
"Jenderal Su, kamu membawa 2 ribu pasukan kavaleri hitam dan 10 ribu pasukan kavaleri perak. Jenderal Ling, kamu membawa 2 ribu pasukan Kavaleri Hitam dan 10 ribu Pasukan Kavaleri perak. Jenderal You, kamu membawa 1,5 ribu Pasukan Kavaleri hitam dan 6 ribu pasukan Kavaleri perak. Jenderal Su muda, kamu membawa 1 ribu pasukan Kavaleri Hitam dan 4 ribu pasukan Kavaleri Perak. " Perintah Kaisar membagi kekuatan.
"Terima kasih, Yang Mulia !" Seru semuanya.
Orang dengan resiko terbesar adalah Jenderal Ling dan Jenderal Su yang pergi ke gerbang Utara dan Gerbang Selatan, mereka saling membelakangi tapi dengan Istana ditengah tengah membuat dua kekuatan besar ini menjadi stabil.
Lebih dari setengah kekuatan di kerahkan untuk peperangan ini menunjukkan betapa seriusnya peperangan ini.
Di Kekaisaran Ling, ada 10 ribu Kavaleri Hitam yang sudah sangat terlatih sementara selain itu ada 50 ribu Kavaleri Perak yang siap untuk membantu.
Situasi sudah menjadi seserius ini, siapa yang tidak merasa resah dengan hal ini ? Setelah mengumpulkan semua orang , mereka langsung berangkat.
Keluarga Su memandang dua orang pria di kediaman mereka yang pergi dengan perasaan sedih yang tak tertahankan.
Bahkan jika Nyonya Su adalah orang yang jahat, tapi dia masih Istri dan Ibu yang baik. Dia tidak bisa menahan tangis tanpa suaranya ketika melihat dua orang kesayangannya pergi dari rumah dan menuju medan perang yang penuh dengan ketidak pastian.
Suami atau putranya bisa saja meninggal dalam peperangan tanpa meninggalkan jasad yang utuh, semuanya penuh dengan resiko.
Banyak orang tua terutama ibu yang sudah ditinggal pergi oleh suaminya karena perang mulai menangis dengan keras.
"Ayahmu sudah meninggalkan ku, apakah kamu juga akan meninggalkan Ibu ?" Tanya seorang Ibu di belakang mereka sambil menangis dengan kencang.
"Ibu tenang saja, aku pasti akan kembali dengan kemuliaan dan kemenangan. Aku tidak akan membuat martabat keluarga kita turun. " Ucap pira yang diduga adalah putranya itu.
Su Qionglin mendengarkan banyak tatapan kesedihan, dia sendiri sangat sedih sampai sampai tidak bisa berkata kata lagi, terlalu sedih dan takut sampai sampai dia merasa bahwa nyawanya akan berakhir pada saat ini juga.
Su Qionglin merasa bahwa telinganya berdengung spai dia merasakan sebuah pelukan yang hangat menghampiri dirinya.
"Kakak akan kembali dan menjaga kalian semua." Gumam Su Yun ketika memeluknya.
"Kakak...... kamu dan Ayah harus merawat diri baik baik dan kembali dengan nyaman. " Ucap Su Qionglin dengan sedih.
"Itu pasti, aku kuat dan berotot. Musuh pasti akan lari ketika melihatku. " Canda Su Yun lalu berjalan ke arah Su Lian yang sudah menangis sejak tadi.
Su Qionglin memeluk Ayahnya dengan erat, seolah olah ingin merasakan harum tubuh Ayahnya yang khas sebanyak mungkin, dia takut bahwa mimpi buruk berubah menjadi kenyataan.
"Ayah, kamu harus kembali. Aku akan memijat dan mencukur kumismu ketika kamu kembali, kita akan bermain dan berlatih bersama lagi. " Ucap Su Qiongoin menahan tangis nya.
"Ya, Ayah pasti akan kembali dan menemanimu bermain. " Ucap Su Bei.
Setelah mengucapkan salam perpisahan selama setengah jam, mereka akhirnya mengucapkan selamat tinggal dan para prajurit mulai memacu kuda mereka.
Isak tangis tidak dapat ditahan lagi, termasuk Su Qionglin yang mulai menutupi wajahnya dan menangis.
Ini adalah peperangan besar dimana hanya ada kemungkinan 50 : 50 untuk kembali dalam keadaan selamat, tentu saja semua orang menangis.
Wajah Su Bei tampak agak muram, selama ini di tidak terlalu khawatir tapi setelah melihat kondisi putrinya, Su Qionglin yang belum menikah membuatnya cemas.
"Kenapa Jenderal Su ? Merindukan rumah ?" Tanya Ling Yi dengan nada mengejek.
"Jenderal Ling, kamu terlalu mencampuri urusan orang lain. " Jawab Su Bei dengan dingin.
"Oh, kalau begitu maka aku harus memperingatkan bahwa semakin kamu ingin pulang maka semakin besar kemungkinan kamu mati di medan perang. " Balas Ling Yi dengan nada yang menyebalkan.
"Aku berpikir tidak perlu Jenderal Ling untuk mengajariku masalah sepele seperti ini. " Ucap Su Bei dengan kerutan di dahi.
"Aku menebak bahwa Jenderal Su mengkhawatirkan putri butamu itu, kenapa tidak menikahkannya dengan seorang Bangsawan kaya ? Dengan kelembutan dan wajahnya itu, ada banyak pria bangsawan yang memiliki penyimpangan dan tertarik pada hal yang aneh. " Ucap Ling Yi.
Tatapan Su Bei berubah menjadi tajam, setajam pedang seolah olah ingin mengoyak bibir Ling Yi yang terus menerus mengeluarkan kata kata sampah ini.
"Jenderal Ling, jangan bertingkah seolah kamu adalah penguasanya. Kita semua sama sama berjuang dengan nyawa dan darah kita, tidak ada yang lebih tinggi ketika sampai di Perbatasan. Lalu, karena kamu terbiasa untuk hidup sendiri maka kamu tidak akan pernah merasakan bagaimana hidup berkeluarga. " Ucap Su Bei lalu memacu kudanya lebih cepat dan meninggalkan Ling Yi.
Ling Yi tertawa ringan mendengarkan kata kata dari Su Bei, memang benar bahwa dia tidak terbiasa hidup berkeluarga.
Lagipula untuk apa itu semua ? Dia memiliki segalanya, untuk apa ada orang yang datang dan menangisi dirinya sebelum pergi ke medan perang ?
Ling Yi tidak pernah diantar oleh orang orang ketika akan pergi ke perbatasan dan juga tidak ada yang menangis memeluk dirinya ketika pulang, karena Ling Yi merasa bahwa semua itu tidak berguna.
Ling Yi melihat punggung Su Bei dengan tatapan mengejek seolah olah merendahkan Su Bei yang terlalu mudah terbawa perasaan.