The Blind Maiden

The Blind Maiden
56. Xian Wenjun



Orang di sebelah juga ikut bergabung dengan mereka untuk membicarakan Nyonya Su yang bunuh diri di penjara , ini pastinya akan menjadi perjalanan yang baik bagi orang orang ini.


Jika perjalanan tanpa topik bahasan maka itu akan menjadi membosankan, tapi karena Nyonya Su ini tiba tiba datang dan menjadi sangat asik untuk membahasnya maka orang orang menjadi penuh semangat untuk membahas dirinya.


"Aku mendengar bahwa Jenderal Su melakukan korupsi semasa hidupnya, oleh karena itulah mungkin dia mendapatkan Istri seperti itu. Itu adalah karma, dia bahkan juga selingkuh dan mengambil selir secara diam diam, dia adalah pria yang hina. " Ucap pria itu membisikkan hal ini.


Tapi, tanpa diduga duga, Su Qionglin tidak berapi api lagi seperti sebelumnya dan hanya tersenyum tipis.


"Tampaknya Tuan ini mengetahui banyak tentang Ibukota, kami hidup di pinggir kota, tidak memahami banyak tentang intrik Ibukota. " Ucap Su Qionglin dengan tenang.


"Memang , aku mengetahuinya karena ada sepupuku yang tinggal disana, dia menceritakan tentang betapa kacaunya orang yang menjadi Anggota Keluarga Su, terutama Nona Kedua Su, Su Qionglin. Dia buta dan menikah dengan Jenderal Ling, tapi sayangnya semuanya direbut oleh Jenderal Ling, dia hanya di manfaatkan saja. Dia pastilah gadis yang bodoh dan ceroboh, dengan wajahnya dia pasti sangat jelek sampai sampai tidak bisa menahan suaminya sendiri. " Ejek orang itu dan merasa bahwa ceritanya terlalu meyakinkan.


"Ehm, aku memang pernah mendengar bahwa dia adalah orang yang bodoh. Walaupun aku juga buta, tapi aku Xian Wenjun tidak akan melakukan hal yang sama dengannya. " Ucap Su Qionglin dengan senyum manis dan menuangkan teh untuk pria itu.


"Bagaimana mungkin bisa dibandingkan ? Nona memiliki wajah yang cerah dan cantik layaknya Dewi Bulan, bagaimana orang jelek dan tidak berbudaya ini bisa dibandingkan ?" Tanya pria itu sambil mengambil teh yang dituangkan oleh Su Qionglin.


Setelah meminum itu , Su Qionglin dan Yi Lian pergi dari sana tanpa basa basi lagi, Yi Lian menatap Su Qionglin dengan heran.


"Kamu tidak biasanya karena kamu tidak marah." Ucap Yi Lian.


"Kenapa aku harus marah ? Mereka sudah mendapatkan balasannya. " Ucap Su Qionglin dengan tatapan dingin.


Dia menambahkan bubuk pencahar ke dalam minuman pria itu dan dia yakin bahwa pria itu akan kesulitan duduk tenang selama satu jam, Su Qionglin harus mengajarkan kepada orang orang ini, apa yang dimaksud dengan tidak berbudaya.


Berani beraninya mereka menghina Ayah dan Ibunya, dia akan membunuh orang itu jika dia bertemu lagi dengan orang semacam itu.


Sejak kepergiannya dari Ibukota membuat Su Qionglin lebih dewasa dan lebih tenang, tapi semakin tenang permukaan air maka semakin berbahaya.


Itu juga sama bagi Su Qionglin, dia layaknya permukaan air yang datar dan tenang tapi tiba tiba memiliki predator yang menunggu mangsanya di dalam permukaan air.


Mereka menaiki kuda dan terus pergi ke Selatan, perjalanan mereka telah dilakukan selama 3 bulan dan seharusnya sudah dekat dengan tempat yang mereka akan datangi.


"Di depan adalah padang pasir yang aku maksud, kita akan segera sampai. Persiapkan dirimu dengan baik-baik. " Peringat Yi Lian.


Lalu mereka memacu kuda untuk menerjang badai pasir yang ada di depan , untungnya mereka menggunakan cadar untuk menutupi wajah mereka dari pasir, mereka menggunakan topi bambu dengan tirai di sekelilingnya yang berfungsi untuk melindungi wajah mereka dari pasir.


Mereka terus berjalan maju, Su Qionglin berpegangan erat dengan tali kuda miliknya, takut bahwa dia akan jatuh oleh angin badai pasir ini jika dia tidak hati hati.


Akhirnya setelah satu jam perjalanan, mereka akhirnya berhasil melewati badai pasir kecil itu.


"Tempat itu sudah di depan mata, kamu harus bersiap siap dengan baik dan menyambut kakek nenek mu. " Ucap Yi Lian.


Su Qionglin sebenarnya bingung bagaimana dia harus bereaksi, kakek nenek ? Bahkan Ibunya sendiri pun tidak meninggalkan kesan apapun pada dirinya.


Kenangan selain itu, benar benar tidak ada karena mereka hampir tidak pernah berhubungan satu sama lain.


Sesaat setelah melahirkannya, Xian Ru Ling mengalami masalah dan pada akhirnya meninggal.


Yi Lian membantunya untuk turun dari kuda dan mereka maju ke depan, Yi Lian membaca mantra sebelum akhirnya mereka tersedot ke suatu tempat.


Mereka keluar ke tempat yang dingin dan sejuk, tapi bisa dicium bahwa disini ada banyak jenis bunga yang sedang mekar.


"Yi Lian, siapa yang kamu bawa ? Ru Ling ?!" Tanya seorang wanita dengan terkejut.


"Bibi, Ru Ling telah meninggal. " Ucap Yi Lian dengan sopan dan hati hati.


Dewi Gunung Yi tampak terpukul mendengar kata kata ini dan melihat Su Qionglin dengan hati hati.


"Lalu, siapa dia ? Kenapa dia sangat mirip dengan Ru Ling ?" Tanya Dewi Gunung Yi.


"Cepat, beri hormat kepada nenekmu !" Perintah Yi Lian.


"Qionglin memberi hormat kepada nenek. " Ucap Su Qionglin.


"Nenek ? Apakah mungkin dia adalah putri Ru Ling ?" Tanya Dewi Gunung Yi berjalan mendekat dan melihat wajah Su Qionglin dengan jelas.


"Dia adalah Putri Ru Ling, ketika melahirkan Ru Ling mengalami beberapa masalah dan meninggal. Anak ini telah tumbuh sendirian dengan penuh kesedihan. Harap bibi dan paman bisa merawatnya dengan baik. " Ucap Yi Lian dengan sungguh sungguh memohon.


"Dia telah benar benar meninggal ? Betapa cepat waktu berlalu, Ru Ling bahkan telah pergi. Kemarilah nak, biarkan nenek melihatmu lebih dekat. "Ucap Dewi Gunung Yi dengan penuh kasih.


Su Qionglin membuka kedua matanya dan berusaha untuk melihat Dewi Gunung Yi.


"Benar benar mirip, satu mata kanan berwarna ungu sementara yang lain berwarna biru, benar benar mirip. Kamu benar benar mirip dengan Ibumu, kasihan sekali kamu. Kamu pasti tidak pernah mendengar kisah tentang Ibumu atau memiliki kesan apapun dengan Ibumu. " Ucap Dewi Gunung Yi dengan sedih.


"Kalau begitu maka aku akan pamit terlebih dahulu, Bibi. " Ucap Yi Lian.


Tapi, sebelum pergi ada tangan yang menahan tangan Yi Lian, tangan yang halus dan rapuh itu mencoba untuk menahan kepergian Yi Lian dari sana.


"Tenang saja, nenekmu pasti akan merawatmu dengan baik, lebih baik dibandingkan aku merawat dirimu. Kamu tidak perlu khawatir, ini adalah keluarga barumu. " Ucap Yi Lian dengan sabar.


Mendengar ini, perlahan lahan Su Qionglin melepaskan tangan Yi Lian dan mengikuti Dewi Gunung Yi untuk bertemu dengan kakeknya, Dewa Api Xian yang dikenal sebagai pemilik api paling panas di dunia ini.


"Tenang saja, kamu akan aman ketika berada disini. Nenek akan melindungimu. " Ucap Dewi Gunung Yi.