The Blind Maiden

The Blind Maiden
25. Penghormatan Terakhir



Keesokan harinya, Kediaman Su sudah di penuhi oleh orang orang dan di paling depan ada Kaisar dan Permaisuri serta Keluarga Su.


Di depan mereka ada peti yang ditaruh di atas tumpukan jerami, isak tangis tidak dapat tertahankan dan mereka memulai prosesi penghormatan terakhir untuk Jenderal Su.


Ada seorang biksu yang memimpin acara penghormatan ini, lalu keluarga dan Kaisar diberikan satu cangkir arak untuk dituangkan ke sekeliling peti.


Mereka berkeliling sambil menangis sebelum akhirnya Nyonya Su selaku istri dari Su Bei memegang obor dan menaruhnya di jerami.


Api mulai merambat dan menutupi peti, semua orang menangis dengan kencang karena sejak saat ini maka mereka tidak akan bisa melihat Su Bei lagi.


Su Qionglin menangis sekali lagi layaknya anak bayi yang baru lahir. Su Qionglin jatuh berlutut dan merasa bahwa seluruhnya sudah hilang, separuh jiwanya sudah melayang bersama dengan serpihan abu Su Bei.


Ada orang yang menyentuh pundaknya dan menepuk nya dengan pelan, Su Qionglin bisa menebak bahwa itu adalah Zhuang Qingyi.


"Nona, kamu harus kuat dengan semua ini. " Ucap Zhuang Qingyi menepuk bahunya dan mencoba untuk memberinya kekuatan.


"Maaf..... kamu sudah menghiburku dari kemarin. Maaf merepotkan mu dan saudaramu. " Ucap Su Qionglin membalas pelukan Zhuang Qingyi.


"Apa yang salah dengan semua ini ? Orang yang ditinggalkan tentu saja wajar untuk menangis, aku menghiburmu disini bukan karena paksaan. " Ucap Zhuang Qingyi dengan bijak.


Keluarga yang berkabung mengenakan pita putih di dahi mereka dan pakaian serba putih selama satu tahun penuh dan setelah itu maka mereka harus membakar seluruh pakaian putih mereka sebagai bentuk pelepasan terhadap orang yang pergi.


Su Qionglin mengganti pakaiannya menjadi serba putih dan mengikat dahinya dengan ikat putih yang tampak hampir sama dengan kulit di wajahnya yang pucat.


Bahkan dengan tambahan kain putih itu menambah kepucatan wajahnya yang sangat kontras, seolah olah dia bukan orang yang sama di antara kumpulan orang ini.


"Kami sangat berduka akan masalah ini, Nyonya Su. " Ucap Kaisar dan Permaisuri.


Terdengar penyesalan yang mendalam dari suara Kaisar, seolah olah sedih akan kepergian teman lamanya yang sudah menemaninya untuk waktu yang lama.


Nyonya Su bahkan tidak bisa menahan tangisnya lagi dan menangis dengan keras, bahkan jika Su Bei tidak pernah mencintainya dengan tulus.


Tapi, Su Bei adalah orang yang bertanggung jawab dan tidak pernah pilih kasih. Su Bei adalah suami yang baik serta ayah yang baik.


Pantas untuk menjadi panutan banyak orang, hanya saja kisah cintanya terlalu menyedihkan. Banyak orang memberi salam kepada Nyonya Su, Su Yun dan Su Lian.


Tapi, Su Qionglin yang berdiri disana juga, yang berada di paling pinggir merasa terpinggirkan. Dia merasa seolah dia tidak sama dengan keluarga ini.


Orang orang melewatinya seolah olah dia tidak ada, dia hanya bayangan di antara keramaian orang orang.


Di depan, ada banyak sekali warga yang menaruh bunga dan memberikan penyesalan mereka terhadap Kepergian Jenderal Su yang menjadi lambang kemenangan dan kejayaan selama ini, siapa yang menyangka bahwa kekalahan pertamanya harus dibayar dengan nyawa.


Ada beberapa orang yang mengutuk Su Qionglin dan Ibu Su Qionglin, Ru Ling. Mengutuk bahwa dia adalah anak yang membawa sial kepada Jenderal Su.


Dia seharusnya cukup tahu malu untuk tidak menampakkan dirinya, tapi Su Qionglin hanya menundukkan kepalanya seolah olah dia tuli.


Tapi, sebuah tangan telah menarik tubuh Su Qionglin ke samping terlebih dahulu dan menghindari lemparan itu.


"Nona Su, kamu baik baik saja ?" Tanya Zhuang Zhiqi.


"Aku..... baik baik saja. " Jawab Su Qionglin sambil memaksakan senyum.


"Nona Su, jangan dengarkan kata kata mereka. Kami keluarga Zhuang tahu kebenarannya. " Ucap suara pria lain dengan nada yang lebih berat.


Su Qionglin menebak bahwa ini adalah Menteri Peperangan Zhuang.


"Terima kasih, Tuan Zhuang. Aku tidak akan mendengarkan mereka. " Ucap Su Qionglin sambil menundukkan kepalanya dengan sopan.


"Sayang sekali bahwa Su Bei sudah tidak bisa melihatmu menikah, jika di masa depan kamu mendapatkan kesulitan maka kamu bisa bermain ke tempat kami. Pintu keluarga Zhuang akan selalu terbuka untuk kalian, bagaimanapun Su Bei sangat berjasa bagi Kekaisaran ini dan juga bagiku. " Ucap Menteri Zhuang.


"Tuan muda dan Nona Zhuang sudah sangat membantuku sebelumnya, aku bahkan belum mengucapkan terima kasih yang layak. " Ucap Su Qionglin dengan malu.


"Akhirnya gadis itu melakukan hal yang baik, aku khawatir bahwa dia akan menjadi berandalan di jalan. Tidak apa apa untuk bermain dan berlatih bersama Nona Su yang berbudi, mungkin dia akan menjadi lebih halus. Aku menitipkan dia padamu, Nona Su. " Ucap Menteri Zhuang.


"Tuan Zhuang sudah tahu dengan identitas samaran Nona Zhuang ?" Tanya Su Qionglin dengan terkejut.


"Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak tahu ? Aku yang merekomendasikan dia kepada Su Bei, hanya saja dia tidak tahu akan hal itu. Nona Su, tolong bantu aku menjaganya. Ada baiknya dia hidup dengan mandiri dan melihat dunia luar bahwa tidak semua hal dapat diraih dengan mudah. " Jawab Menteri Zhuang.


"Tenang saja, Tuan Zhuang. Nona Zhuang adalah seseorang yang ceria dan penuh semangat. " Ucap Su Qionglin.


Setelah bertukar beberapa kata lagi akhirnya mereka berpisah sementara Zhuang Qingyi sendiri agak sibuk karena mengurus bunga bunga bersama dengan pelayan lain.


Zhuang Qingyi beralasan kepada Ayah dan Kakaknya bahwa dia tidak enak badan dan ingin pulang terlebih dahulu tapi sebenarnya ingin kembali ke pekerjaan lamanya.


Su Qionglin merasa bahwa dia tidak bisa berlarut larut lebih lama dalam genangan kesedihan ini, dia harus berjalan dan mencari udara segar di tengah gelombang kesedihan ini.


"Lian, aku akan pergi mencari udara segar. " Ucap Su Qionglin.


"Ya, kakak. Jangan terlalu jauh. " Ucap Su Lian lalu kembali melayani tamu yang tak kunjung berhenti berdatangan.


Su Qionglin merasa bahwa dirinya tidak diperlukan lagi maka dia seharusnya pergi dari sana, untuk apa terus menerus memaksakan diri agar dipandang oleh orang lain ?


Su Qionglin hanya ingin mencari tempat yang akan dan nyaman, dia berjalan menuju lorong kecil yang ada di belakang kediaman Su.


Kenangan kenangan indah bersama Ayahnya terputar terus menerus di kepalanya, seolah olah enggak untuk meninggalkannya.


"Sebenarnya, aku iri dengan Jenderal Su. " Ucap suara di belakang Su Qionglin yang mengejutkannya setengah mati.


Su Qionglin menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ada orang lain disana.