The Blind Maiden

The Blind Maiden
38. Dipaksa Berlutut



"Paman ! Kamu akhirnya datang , istrimu ini benar benar tidak memiliki sopan santun. Dia bahkan berani untuk mengutukku, jadi aku mengajarkannya sebuah pembelajaran. Bagaimana menurutmu paman ?" Tanya Ling Yuwen.


"Itu semua tidak benar !" Seru Su Qionglin dengan marah.


"Kamu bisa melakukan apa yang kamu ingin lakukan, Yuwen. " Ucap Ling Yi sambil mengelus kepala Ling Yuwen.


"Paman adalah yang terbaik, tidak hanya itu. Wanita kurang ajar ini, juga memukul tanganku dan memuntahi wajah ku dengan air. Dia benar benar kurang ajar, bagaimana jika aku memukulnya beberapa kali ?" Tanya Ling Yuwen dengan nada manja dan memeluk tangan Ling Yi.


"Kamu terlebih dahulu yang menarik rambutku, kamu menghina orang tuaku, kamu mengejekku dengan kata kata kasar, atas dasar apa aku tidak boleh membela diri ?" Tanya Su Qionglin dengan dingin.


"Jadi kamu mengakui tindakan kurang ajar mu itu ? Tahukah kamu bahwa tindakanmu saat ini membawa nama baik Kediaman Lian Wang ? Siapa yang memberimu begitu banyak keberanian untuk melukai Putri Ketujuh ?" Tanya Ling Yi padanya dengan marah.


"Benar, Paman. Kamu harus membuatnya meminta maaf padaku, mengingat bahwa dia adalah istrimu saat ini. Aku akan memberinya sedikit keringanan. Selama dia mau berlutut di hadapanku dan meminta maaf, maka aku akan memaafkannya. " Ucap Ling Yuwen sambil tersenyum jahat.


Su Qionglin marah sekali dengan ini dan diam diam menyembunyikan sesuatu di balik pakaiannya.


"Tunggu apalagi ? Kenapa kamu tidak berlutut ?" Tanya Ling Yi.


Ling Yi mengambil pedangnya dan memukul kaki Su Qionglin, Su Qionglin jatuh berlutut dengan kedua lutut yang menghantam tanah dengan keras.


Kedua bahunya ditekan oleh kedua pelayan Ling Yuwen, Su Qionglin memaksakan dirinya untuk tersenyum dengan tenang.


"Maafkan aku, aku telah berbuat salah. " Ucap Su Qionglin.


"Baiklah, bibi harus berdiri pada saat ini. " Ucap Ling Yuwen sambil tertawa dengan bangga.


"Kembalilah ke Kediaman terlebih dahulu. " Ucap Ling Yi.


Su Qionglin tidak mengatakan apapun lagi dan menyeret kakinya yang sakit itu, lalu ketika berpapasan dengan Ling Yuwen.


Dia tidak akan melepaskan kejadian ini begitu saja, akan ada harinya dimana Ling Yuwen merangkak di depan makam Ayah dan Ibunya dan memohon permintaan maaf.


"Ingatlah, sumpah ku tadi. " Bisik Su Qionglin sebelum pergi dari sana.


Su Qionglin merasakan kemarahan yang menjalar dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, tubuhnya gemetar karena marah dan dingin.


Giginya saling gemertak satu sama lain, Su Qionglin di antar oleh asisten Ling Yi untuk masuk ke Kereta kuda dan langsung pulang tanpa menoleh ke belakang.


Su Qionglin mengeluarkan sesuatu dari pakaiannya dan memainkannya, itu adalah tanda pengenal milik Ling Yuwen yang telah dia ambil tadi ketika wanita itu menarik rambutnya.


Dengan ini, maka dia bisa membuat keributan kecil yang bisa mempermalukan Ling Yuwen. Kebenciannya pada Ling Yuwen dan Ling Yi telah mencapai puncak.


Hanya saja, ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Mungkin inilah yang disebut dengan sakit hati, perasaan tidak ada yang membela adalah perasaan paling sakit.


Bahkan jika kamu benar, kamu masih harus dipaksa untuk berlutut dan meminta maaf pada orang yang telah bersalah padamu.


Rasanya, benar benar sulit untuk dijelaskan dengan kata kata. Pikirannya kosong sepanjang perjalanan pulang, rasa sakit itu benar benar dahsyat.


Betapa mudahnya untuk menjadi Putri Kaisar, apa yang diinginkan maka dia akan mendapatkannya.


Sementara disisi lain, Ling Yi sendiri meminta maaf kepada Ling Yuwen dengan nada yang agak aneh.


"Paman tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengatakan hal ini kepada orang lain . Aku tahu bahwa Paman menikahinya karena terpaksa, seandainya Paman menikah denganku maka aku pasti bisa merawat Paman dengan baik. " Ucap Ling Yuwen dengan manja.


Ling Yi dengan ramah melepaskan Ling Yuwen dari tangannya seperti mengangkat sampah.


"Putri Ketujuh, di masa depan kamu harus lebih memandang kediaman ku. Bagaimanapun, aku memberi toleransi untuk kesatu atau kedua kalinya. Tapi, jika di masa depan hal yang sama terulang lagi maka aku tidak akan menunjukkan bela kasihan. " Ucap Ling Yi sambil tersenyum.


"Apa maksud Paman ? Aku telah ditindas olehnya !" Seru Ling Yuwen.


"Putri Ketujuh sebaiknya menjaga sikap di masa depan, jika tidak maka jangan salahkan aku jika aku bertindak kejam. Bagaimanapun, tidak perduli sesalah apa istriku, itu masih hak ku untuk mendisiplinkannya, bukan dirimu. Aku akan memberimu sedikit peringatan, Putri Ketujuh. Jika kamu masih melewati batas di masa depan, maka akan kubuat kamu menyesal, Putri Ketujuh." Ucap Ling Yi dengan senyum manis.


Lalu, Ling Yi berjalan meninggalkan Ling Yuwen sendirian yang merenungi kesalahannya. Secara tidak langsung, tindakan Ling Yi ini membela Su Qionglin.


Hanya saja, Su Qionglin tidak pernah tahu apa yang dilakukan oleh Ling Yi di Istana pada saat ini.


Ling Yi menaiki kuda yang telah di siapkan oleh asistennya dan pergi meninggalkan Istana tanpa mengatakan pamit kepada Kaisar terlebih dahulu, lagipula siapa yang berani untuk mempermasalahkan hal kecil seperti ini padanya ?


Tiba tiba terjadi keributan yang sangat besar di Ibukota yang mengejutkan semua orang, itu hanya selang satu jam sejak kepergian Ling Yi dari Istana.


Su Qionglin sedang mandi dan berendam sebelum akhirnya dia mendengarkan dua pelayan di luar sedang berbincang satu sama lain.


"Apakah kamu tahu bahwa rumah bordil terbesar di Ibukota ini, Paviliun Meixiang telah hancur lebur ?" Tanya seorang pelayan.


"Ya, aku juga mendengarnya. Katanya ada api yang melalap Paviliun Meixiang sampai hancur. Untungnya tidak ada tamu sedikitpun, tapi para penghibur disana, semuanya mati. " Ucap pelayan yang lain.


"Apakah mungkin ini merupakan ulah seseorang ?" Tanya pelayan yang pertama.


"Bagaimana mungkin ulah seseorang ? Paviliun Meixiang adalah bisnis milik Putri Ketujuh, Ling Yuwen ! Siapa yang begitu berani untuk membuat kekacauan begitu terang terangan ? Disana adalah bisnis terbesarnya dan merupakan tempat dimana para simpanannya berada. " Ucap pelayan yang kedua berbisik.


Tapi, walaupun mereka berbisik, Su Qionglin masih bisa mendengar dengan samar samar. Su Qionglin tiba tiba berpikir bahwa ini benar benar kebetulan.


Fakta bahwa bisnis terbesar Ling Yuwen hancur dalam satu jam sejak kepulangannya membuat dia curiga, apakah ini ulah dari Ling Yi ?


Tidak mungkin ada orang lain yang lebih berani dari Ling Yi, hanya saja setelah dipikir pikir lagi maka itu tidak ada untungnya untuk Ling Yi.


Bukankah Ling Yi sangat memanjakan Ling Yuwen ? Bagaimana mungkin Ling Yi bisa melakukan hal kejam seperti ini kepada Ling Yuwen ?


...----------------...


Note : Nurut kalian siapa nih yang bakar Paviliun Meixiang ? Pastinya mudah ditebak dong, he he. Oh ya, kalau misalnya kalian ketemu orang kayak Ling Yi, kira kira bagusnya diapain nih ?