
Su Qionglin dan Ling Yi bergegas untuk pergi ke kediaman Su, bagaimanapun pada hari ketiga maka pasangan suami istri yang baru menikah harus datang ke keluarga istri.
Ini adalah tradisi yang telah berjalan selama turun temurun di Dinasti Ling, hal ini bukanlah hal yang aneh.
Sementara keluarga pria wajib di datangi pada hari pertama, terutama ketiga itu adalah keluarga Kekaisaran yang menikah karena mereka harus menyerahkan bukti bahwa mereka telah menikah dan bersatu.
Seperti yang dilakukan oleh Ling Yi dengan menyerahkan kain berdarah itu untuk dipajang di Istana, hal ini berlaku untuk segala keluarga Kekaisaran yang inti dan pernikahan yang diatur oleh Kekaisaran.
Bagi seseorang yang berasal dari luar Dinasti Ling, maka tradisi ini akan terdengar asing dan tidak biasa.
Tapi, karena keduanya berasal dari Dinasti Ling maka biasa saja. Mereka bersiap dan kereta kuda juga sudah disiapkan, Su Qionglin dituntun oleh Ling Yi untuk naik ke atas kereta.
Mereka berjalan cukup lama dari Kediaman Ling ke Ke dimana Su, mungkin butuh waktu 15 menit, setelah sampai disana, tangga dipasang oleh kusir, barulah Ling Yi turun.
Setelah Ling Yi turun, Su Qionglin ikut turun dan tidak lama kemudian ada suara seruan dari dalam kediaman Su.
"Kakak ! Aku sudah sangat merindukanmu !" Seru Su Lian dari dalam dan memeluk Su Qionglin dengan erat.
"Aku juga merindukanmu, bagaimana dengan keadaan Nyonya Su, apakah baik baik saja ?" Tanya Su Qionglin.
"Ibu baik baik dana, dia menjalani hari hari seperti biasa dan mengelola keuangan dengan baik, hanya saja dia menambah beberapa urusan lain, mungkin untuk mengurangi waktu luangnya dan memikirkan Ayah. " Ucap Su Yun.
"Kalau begitu, maka itu lebih baik jika Nyonya Su tidak berlarut larut dalam kesedihan, hanya saja ada baiknya untuknya agar memberi istirahat pada diri sendiri, aku takut dia akan sakit. " Ucap Su Qionglin dengan khawatir.
Bagaimanapun, selama ini Nyonya Su tidak pernah memiliki niat jahat padanya, hanya merasa iri dan tidak senang.
Tapi, selain itu, Nyonya Su masihlah istri dan ibu yang baik bagi kedua Anaknya, pada saat ini dia sudah menjadi janda dan harus mengurus keseluruhan Kediaman Su serta kedua Putra putrinya, Su Qionglin tidak bisa tidak merasa kasihan padanya.
Pertama tama, mereka masuk dan mengobrol dengan Su Lian dan Su Yun sebelum akhirnya masuk ke bagian dalam untuk memberikan penghormatan kepada papan nama Jenderal Su.
Su Qionglin sendiri meminta Ling Yi untuk menunggunya karena dia ingin berbincang dengan Nyonya Su yang sejak tadi memilih untuk tidak memunculkan diri.
"Nyonya Su pada saat ini sedang sibuk dan tidak ingin menerima tamu. " Ucap pelayan pintu Nyonya Su menghentikan Su Qionglin.
"Aku tidak berniat menganggu dirinya, kamu tolong sampaikan pada Nyonya bahwa aku berterima kasih ke padanya karena telah merawat diriku selama ini, terlepas kebencian yang ada di antara kami, aku berharap bahwa dia hidup dengan baik supaya Kakak Yun dan Adik Lian bisa lebih kuat dan bahagia setelah ditinggalkan Ayah. " Ucap Su Qionglin sambil tersenyum tipis sebelum akhirnya pergi dari sana.
Pada akhirnya, Su Qionglin dicintai oleh Jenderal Su begitu banyak bukan tanpa alasan melainkan karena hatinya murni bagaikan kristal tanpa noda sedikitpun.
Dia benar benar pemberani dan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan.
Di dunia ini, ada berapa banyak orang yang begitu sadar diri seperti dirinya ? Dihitung hitung, paling hanya 1 di antara 1000 atau mungkin 1 di antara 1 juta.
Takut bahwa kehidupan ini akan mengecewakannya, sama seperti dia takut untuk membayangkan bahwa Ling Yi benar benar mencintainya.
Apa. yang layak dari dirinya untuk dicintai oleh Ling Yi yang sempurna ? Su Qionglin menanyakan hal ini kepada dirinya sendiri berulang kali, hanya saja tidak tahu jawabannya sendiri.
Su Qionglin tiba tiba merasa bahwa dadanya terlalu sesak dan sakit, jadi dia mencengkram nya , tapi sakit itu tidak tertahankan.
Benar benar sakit dan membuatnya kehabisan nafas, dia merasa sesak dan sakit sebelum akhirnya merosot ke tanah.
Pelayan pelayan Kediaman Su yang berada di sekitar sana langsung panik dan khawatir, sementara Ling Yi yang mendengarkan kabar ini masih tenang.
Ling Yi tidak berkedip ketika mendengarkan kabar ini dan bangkit dengan tidak terburu buru sementara kedua saudara Su sudah berlari untuk melihat kondisi Su Qionglin.
Dengan tindakannya ini, kata kata cintanya tadi benar benar meragukan.. Hanya saja, Ling Yi adalah orang yang tidak bisa ditebak dengan mudah.
Apa yang dikatakan dan dipikirkan serta dirasakan olehnya selalu tidak sama, hatinya mengatakan untuk tidak melakukan tapi pikirannya mengatakan untuk melakukan.
Pada akhirnya, Ling Yi tiba di sebuah kamar dan ternyata itu adalah kamar Jenderal Su, dia melihat lihat sekitar dan melihat bahwa tempat ini di rawat dengan baik, ada beberapa lukisan dan puisi.
Ada banyak sekali senjata yang terpajang disini, Ling Yi berkeliling ke kamar Su Bei tanpa rasa kecanggungan sedikitpun karena memasuki kamar orang lain.
Tiba tiba ada orang yang datang, membuat Ling Yi langsung waspada, ternyata itu adalah Pelayan kediaman Su.
"Jenderal Ling !" Seru pelayan itu dengan terkejut dan berlutut di hadapannya.
"Tidak perlu begitu sungkan, aku telah tersesat dan ingin mencari kamar istriku, tapi siapa yang menyangka bahwa justru aku memasuki kamar Jenderal Su dengan tidak sopan seperti ini. " Ucap Ling Yi dengan senyum ramahnya yang menghanyutkan.
"Kalau begitu maka aku bisa mengantar Jenderal Ling untuk menuju Kamar Nona Kedua, dia pada saat ini sedang di periksa oleh Tabib Kediaman Su, Lin Qi Qi . " Ucap pelayan itu.
"Oh, apakah Tabib Lin ini sudah bekerja cukup lama di kediaman Su ?" Tanya Ling Yi.
"Sudah sangat lama, hampir 20 tahun, sejak Nyonya menikah dengan Tuan, Nyonya merekomendasikan orang yang sudah pernah membantunya mengobati flu berat miliknya. " Ucap pelayan itu menceritakan kejadian ini.
"Sangat lama, dia pastilah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik." Ucap Ling Yi.
Pelayan itu tidak memberikan tanggapan dan mengantar Ling Yi sampai ke depan pintu kamar Su Qionglin, dia membuka pintu dengan paksa dan menunjukkan ekspresi dingin.
Tabib yang ada di dalam ruangan itu langsung menatapnya dengan ngeri dan langsung waspada, Ling Yi menarik pedangnya dengan ekspresi kejam di wajahnya.
Tabib Lin itu langsung ingin melarikan diri tapi tidak bisa karena telah ditahan oleh Ling Yi terlebih dahulu.