
Beberapa hari tak bertemu dengan Mita membuat Ken merasakan rindu yang teramat besar. Dan itu membuatnya sangat terbakar cemburu jika melihat Mita dekat dengan pria lain.
Ken sengaja membawa Mita ke Pantai untuk menenangkan hatinya. Ia tak ingin terlalu lama berselisih paham dengan Mita. Sinar matahari di pantai yang terasa hangat menyentuh kulit mereka.
Beberapa orang terlihat berjalan-jalan bersama keluarganya di pantai. Ada juga yang duduk-duduk bersama sanak saudara di tikar di bawah pepohonan. Di kejauhan, buih ombak terlihat berwarna putih sedang berkejar-kejaran mencapai bibir pantai. Di sudut lain, beberapa wisatawan berfoto di dekat perahu nelayan yang masih belum berlayar. Suasana di pantai ini sangat menyenangkan.
Mita dan Ken pun tak luput bermain dengan deburan ombak yang berkejar-kejaran membasahi kaki mereka.
"Apa kamu senang berada disini?" tanya Ken yang terus melihat senyum di bibir Mita yang tak pernah hilang.
"Hmmm, Iya." sahut Mita dengan cepat tanpa melihat Ken yang terus menatapnya.
"Sepertinya kamu udah lama ga liburan."
"Iya."
"Apa ini termasuk liburan untukmu?"
"Iya." sahut Mita lagi dengan cepat. Ken mengerutkan dahinya karena Mita hanya terus menjawab Iya saja. Tanpa berpikir terlebih dulu.
"Kamu menyukainya?"
"Iya." Ken memegang kepalanya yang tak pusing. Lalu terbit seringai licik dibibirnya. Mita masih sibuk bermain ombak.
"Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Ken, ia sengaja ingin menguji konsentrasi Mita.
"Iya." Jawab Mita cepat. Sementara Ken menghitung jarinya sampai Mita sadar apa yang baru saja ditanyakannya.
"Satu...dua...tiga...em–."
"Apa? barusan kamu tanya apa?" Ken hanya tersenyum melihat kebodohan Mita. "Kamu ngerjain aku ya?" ucap Mita sambil memukul lengan Ken. Sedangkan Ken hanya tertawa melihat keunikan gadis yang didepannya itu.
"Habis kalau ditanya kamu cuma jawab iya-iya terus." Ken memegang tangan Mita yang masih saja memukul lengannya. "Jadi kamu mau nikah sama aku?" tanya Ken sambil memainkan kedua alisnya.
"Ish, apaan sih." Mita cemberut lalu beranjak meninggalkan Ken. "Ngajak nikah kayak ngajak main pondok aja. Ga romantis banget." gumam Mita sambil terus berjalan menyusuri pantai tapi Mita tak sadar kalau Ken mengikutinya dari belakang dan mendengar semua yang dikatakannya.
"Jadi kamu maunya dilamar dengan cara romantis?" tanya Ken dari belakangnya dan membuat Mita menghentikan langkahnya lalu memutar badannya melihat Ken dengan tatapan tajam.
"Siapa yang bilang begitu?" Mita merasa sangat malu karena Ken ternyata mendengar ucapannya, dengan cepat Mita membalikkan badannya lalu kembali melangkah meninggalkan Ken. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan Ken sudah berhasil meraih tangannya dan merangkul pundaknya.
"Emang yang tadi belum romantis ya?" tanya Ken kembali menggoda Mita.
"Ya enggaklah–." sahut Mita cepat, ia mengira kalau kalau ia menjawab dalam hati eh ternyata ia benar-benar menjawabnya. Mendengar jawaban Mita membuat Ken tersenyum senang.
"Kamu mau lamaran yang seperti apa?"
Mita berjalan mendahului Ken lalu menatap Ken dengan tatapan bingung.
"Emang dia dengar apa, tadi gue ngomong enggak? Kan gue ngomongnya dalam hati?"
"Kok malah diam? Emang kamu mau lamaran yang seperti apa?" Ken mengulangi pertanyaannya karena melihat Mita hanya diam saja.
"Cewek itu pengen dilamar yang romantis lah–, diajak makan malam romantis terus dikasih bunga, dikasih cincin. Di pantai seperti ini juga boleh sih, tapi waktunya itu paling indah pas sunset terus ada cincin juga. Eh ini ngajak nikah kayak main-main, ga serius." Batin Mita, tapi jawaban dari bibirnya berlawanan dengan isi hatinya.
"Siapa juga yang mau dilamar?" sahut Mita lalu kembali berjalan.
"Jadi kamu ga mau saya lamar?"
"Enggak." sahutnya cepat. "Enggak salah lagi. Aku mau." lagi-lagi bibir dan hatinya tak sejalan.
"Ya udah kalau gitu aku mau lamar Chessy aja."
"Hahaha..." Mita tertawa lepas. Ia merasa aneh karena Ken ingin melamar Chessy anak Zia yang masih berumur 3 tahun.
"Kenapa kamu tertawa?" Ken senang bisa melihat Mita tertawa lepas.
"Kamu ada-ada, Chessy aja usianya belum genap 3 tahun kamu udah mau lamar dia. Ntar Chessy udah besar kamu udah kakek-kakek. Haha." Mita kembali tertawa sampai-sampai ia merasa perutnya sakit karena tertawa terbahak-bahak.
"Abis mau gimana lagi, Anty Mitanya ga mau aku diajak nikah." ucap Ken sambil memanyunkan bibirnya.
"Uluh...uluhh... si O-om ngambek." Mita mencubit kedua pipi Ken.
"Sakit tahu Mit." Ken mengusap pipinya yang dicubit Mita.
"Cengeng, dicubit pelan aja, udah kesakitan. Kayak banci aja." celutuk Mita asal.
"Kamu bilang apa tadi." Ken menarik lengan Mita dengan kuat sambil menatap Mita dengan tajam.
Mita terkejut karena Ken menggenggam lengannya dengan kuat, bukan menggenggam tapi sudah lebih kearah mencengkram. Mita meringis kesakitan, ia tak tahu kalau bercandaannya bisa membuat Ken marah.
"Sorry aku cuma bercanda." ucap Mita. Tapi Ken belum melepaskan tangannya ia tak sadar kalau cengkramannya itu sangat kuat. "Lepas Ken, sakit–." rintih Mita.
"Aku ga suka candaanmu." Ken menghempaskan tangan Mita lalu pergi meninggalkan Mita.
"Segitu marahnya kah dia?" gumam Mita sambil mengusap lengannya yang dicengkram Ken.
Mita tak mengejar Ken, ia hanya melihat punggung Ken yang sudah menjauh darinya. Mita memilih untuk sendiri menyusuri pantai. Seandainya Ken pergi meninggalkannya ia pun tak perduli. Ia kembali memikirkan kata-katanya yang sudah membuat Ken tersinggung. Menurutnya semua ucapannya hanya biasa saja. Ia tidak tahu kalau kata banci yang diucapnya Mita sudah melukai hatinya.
Teriknya matahari sudah berganti senja. Sudah hampir 3 jam Mita duduk sendiri di tepi pantai disebuah kursi pantai yang ada ditempat itu. Perutnya sudah sangat lapar, sedari tadi ia sudah menahan rasa laparnya. Ingin rasanya ia memesan makanan yang ada direstoran yang tidak jauh dari pantai tempatnya duduk. Tapi ia baru sadar kalau tas dan ponselnya berada dalam mobil Ken, ia tak memiliki uang sepeserpun ditangannya. Ia berpikir kalau Ken sudah pergi meninggalkannya.
Mita duduk memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya diatas lututnya. Ia menangis bukan karena rasa laparnya tapi karena ia bingung bagaimana ia harus pulang.
"Mau sampai kapan kamu duduk disitu?"
Mita sangat mengenali suara itu. Ia tak langsung mengangkat kepalanya. Ia masih tak percaya kalau Ken yang bertanya kepadanya.
"Mita–, kamu dengar aku ga?" tanya Ken suara yang tengah menahan emosi.
"ENGGAK!!!" seru Mita tanpa mengangkat kepalanya. Sebenarnya ia sangat malu untuk mengangkat kepalanya karena ia tak mau Ken sampai tahu kalau ia sedang menangis.
Mita memiliki mata yang sensitif, sedikit saja ia menangis maka matanya akan terlihat bengkak.
Ken terkejut mendengar teriakkan Mita.
"Mita, kamu kenapa?" Ken mendekati Mita dan duduk disisinya. Seketika hatinya luluh begitu mendengar suara teriakan Mita tapi seperti bergetar.
"Mit–." Ken memegang bahu Mita tapi Mita masih enggan untuk menatap Ken.
"Mita, kamu kenapa?"
"Kamu yang kenapa?" Mita menghempaskan tangan Ken dari bahunya.
"Apa maksud kamu?" Ken seperti orang yang sudah lupa dengan apa yang terjadi diantara mereka sebelumnya.
Mita mengangkat kepalanya dan menatap Ken dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu disini? Kenapa kamu balik lagi? Kenapa kamu ga pergi ninggalin aku aja, Hah?" Ken terkejut melihat Mita yang marah dengan deretan pertanyaan yang membuatnya bingung. Karena sedari tadi ia menunggu Mita dimobil tapi Mita tak kunjung datang sehingga ia mencari Mita kembali. Ken tahu kalau Mita menangis karena ia dapat melihat mata Mita yang sangat bengkak.
"Kamu ngomong apa sih Mit? Dari tadi aku nungguin kamu dimobil, kamu nya ga datang-datang."
"Gimana aku mau datang kalau kamu aja marah samaku?" nada suara Mita masih saja tinggi. Ia masih kesal dengan Ken.
"Aku marah?" Ken terlihat bingung.
"IYA, tadikan kamu ga suka dengan candaan aku. Dan kamu marah kan gara-gara itu?" Mita membuang pandangannya ke arah lain. Ia tak mau menatap Ken lama-lama.
Ken menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar.
"Aku memang ga suka sama candaan kamu tadi tapi aku ga marah sama kamu Mit. Aku hanya sedikit kesal saja. Karena ucapanmu yang mengatakan aku seperti banci. Jujur aku ga suka kalau ada yang bilang aku banci. Kata banci itu seperti trauma untukku. Saat dulu aku masih kecil aku sering di-bully teman-teman ku dan mengatai aku banci hanya karena aku menolak saat mereka suruh merokok. Saat itu aku masih duduk dibangku SMP dan aku ga mau merusak masa depanku hanya karena menuruti kemauan mereka." jelas Ken. Ia kembali teringat akan masa kecilnya yang kelam. Mendengar itu semua membuat Mita jadi merasa bersalah.
"Kamu tahu Mit, sejak saat itu hampir setiap hari aku di-bully dan mereka selalu mengejekku dengan kata itu. Makanya aku sangat sensitif mendengar kata itu."
"Kenapa kamu ga minta pindah sekolah aja?" akhirnya Mita mengeluarkan suaranya dan bertanya pada Ken. Ia merasa kasihan dan juga bersalah pada pria yang duduk disampingnya itu.
"Aku sudah meminta pada orangtuaku. Tapi mereka tidak mau karena sekolah itu adalah sekolah internasional dan hanya orang-orang berkelas yang bisa masuk sekolah itu, aku tidak berani mengatakan kepada orangtuaku kalau aku di-bully disekolah. Aku hanya mengatakan kalau aku tidak bisa menerima pelajaran disana."
"Maaf–." terucap dari bibir Mita dan hampir tidak terdengar oleh Ken.
"Untuk apa kamu minta maaf?" tanya Ken bingung.
"Maaf karena tadi aku mengira kamu udah pergi ninggalin aku. Dan maaf atas candaanku tadi, aku ga bermaksud untuk menyinggung perasaanmu."
"Sudahlah, aku juga minta maaf. Aku juga salah karena meninggalkan mu. Aku tak tahu kalau sikapku tadi sudah membuatmu sakit hati dan marah. Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Maaf karena sudah membuatmu menangis."
Mita hanya diam dan tertunduk malu, ia tidak sanggup untuk menatap Ken langsung.
"Sekarang kita pulang atau masih mau disini?" tanya Ken sambil menangkup wajah Mita.
"Aku lapar." lirihnya lalu menundukkan kepalanya karena malu.
"Maaf–."
"Hmmm." Mita hanya berdehem dan masih tertunduk malu.
"Mau makan dimana?"
"Disana–." Mita menunjuk sebuah Restoran yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Ya sudah, ayo." Ken mengulurkan tangannya ingin membantu Mita berdiri.
"Tapi aku malu." lirihnya.
"Malu? Kenapa harus malu?" tanya Ken bingung.
"Mataku bengkak begini, nanti orang pikir kita baru berantem."
"Kan emang bener–." goda Ken.
"Ish–."
"Udah yok, ga usah mikirin kata orang. Ntar kamu ga kenyang loh."
"Aku pinjem topinya." ucap Mita, ia melihat Ken memakai topi.
Saat ingin mencari Mita Ken memang memakai topinya karena saat itu matahari masih sangat terik.
"Oh, ini–." Ken menyerahkan topi miliknya pada Mita.
"Hmmm, wangi banget." gumam Mita lalu memakai topi milik Ken dan Ken masih dapat mendengar ucapan Mita.
lalu mereka pun berjalan menuju Restoran untuk mengisi perut mereka yang sudah lama meronta-ronta minta di isi.
Mita pun senang karena Ken tidak benar-benar meninggalkannya. Ia tak pernah berpikir kalau mereka akan berselisih paham hanya gara-gara kata Banci.
Semoga Kalian tetap terhibur. Meskipun Author ilang timbul Up nya 😁
Jangan lupa tetap tinggalkan jejak kalian ya say 😍