Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Keluar–!



Rasa rindu dan bahagia yang dirasakan Tommy berubah menjadi amarah. Saat melihat ada seorang pria lain dikamar istrinya itu. Tanpa basa-basi Tommy langsung menarik pria itu dari atas tubuh istrinya.


"Buugghhh, Buuughhh–."


Tommy menghajar pria itu tanpa ampun setelah memastikan kalau pria itu adalah Robert Pariban Roma sendiri. Ia memukul wajah Robert hingga tubuh Robert terhempas ke meja rias Roma sehingga menimbulkan suara kegaduhan.


Robert terkejut mendapat pukulan yang tiba-tiba dari suami Paribannya itu pun. Ia mulai ketakutan tapi dirinya juga sempat melawan ketika Tommy terus saja menghajarnya.


"Dasar kurang ajar, bajingan–."


Tommy melihat Roma tak sadarkan diri ia langsung memeluk istrinya dalam pangkuannya.


"Sayang, Roma bangun Sayang–." Tommy menepuk-nepuk pipi Roma.


"Apa yang kau lakukan pada istriku brengsek–." teriak Tommy, airmatanya jatuh, hatinya sangat sakit melihat istrinya itu berbaring tak berdaya dan tak sadarkan diri.


Robert berlari ketakutan keluar dari kamar Roma sebelum orang-orang yang ada dirumahnya tahu dengan kelakuan bejatnya.


"Aaakkkhhh..." teriak Bi Sumi yang tubuhnya ditabrak Robert.


Tommy yang mendengar jeritan Bi Sumi langsung melihat kearah perempuan paruh baya itu.


"Bi tolong panggilkan dokter Bi–."


"Ba-baik Tuan. Nona Roma kenapa Tuan?" Bi Sumi kaget melihat Nona-nya itu terbaring tak sadarkan diri.


"Aku ga tahu Bi– tolong panggil yang lain juga ya Bi." Bi Sumi pun langsung keluar kamar dan ketika di pintu ia berpapasan dengan Bara.


"Ada apa Lae?" Bara yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Roma terkejut saat mendengar kegaduhan dari kamar adiknya itu dan semakin kaget lagi saat mendengar teriakkan Bi Sumi. Bara melihat kamar adiknya itu sedikit berantakan.


"Aku ga tahu Lae, Aku baru datang Lae. Tadi pas buka pintu terus masuk kulihat Robert menindih Roma Lae. Aku ga tahu apa yang coba dilakukannya pada Roma lae." Tommy terus meneteskan airmatanya sambil terus memeluk Roma.


"Apa?" Bara kaget dan langsung mengepalkan tangannya. "Terus mana Robert sekarang?"


"Aku ga tahu Lae, tadi dia lari keluar kamar."


Dan tiba-tiba saja terdengar suara mobil keluar dari halaman rumah itu.


"Kurang ajar kau Robert." geram Bara.


"Lae disini aja, tunggu si Badi sadar, kebetulan Namboru juga disini, jadi kita bisa bicarakan ini langsung." Bara melangkah keluar dari kamar Roma.


"Dek, Roma, Adisbaku bangun sayang–." Tommy menangis, seperti timbul penyesalan yang mendalam karena telah meninggalkan istrinya itu. Kalau saja ia terlambat datang entah apa yang terjadi pada istrinya itu.


Bara pun membangunkan semua keluarganya yang berada dirumah itu dan menceritakan apa yang baru saja terjadi pada adik perempuannya satu-satunya itu. Ketiga saudaranya yang lain pun sangat geram begitu juga dengan yang lainnya.


Tapi tidak dengan Ibunya Robert yang tak lain adalah adik kandung dari bapaknya itu. Wanita itu sangat ketakutan, ia tak sanggup menatap mata ito-nya langsung.


Setelah menunggu 30 menit dokter Jeffri dari Rumah Sakit Citra Medistra pun datang memeriksa keadaan Roma. Tommy sengaja meminta Bi Sumi untuk memanggilnya karena Tommy tidak ingin kalau istrinya itu diperiksa sembarang dokter.


Semua berkumpul dikamar Roma menunggu penjelasan dari dokter Jeffri.


"Bagaimana keadaannya Jef?" Tommy yang dari tadi menunggu Roma sudah tidak sabar ingin tahu kondisi Istrinya itu.


"Maafkan saya Tuan. Tapi sepertinya benar kalau dokter Uly baru saja mendapatkan pelecehan seksual Tuan. Terlihat dari tangannya yang tampak memar karena cengkraman yang sangat kuat. Dan di sekeliling mulut dokter Uly juga memar Tuan."


Berta yang mendengar penjelasan dokter Jeffri pun langsung lemas terduduk dilantai. Bagaimana mungkin berenya itu tega melecehkan putrinya sendiri.


"Mak–." Togar tahu istrinya itu sangat lemah jika menghadapi hal-hal yang seperti ini. Jantungnya tidak kuat. Belum lama ia mengetahui kalau menantunya itu gay dan sekarang timbul masalah lain putrinya dilecehkan oleh keponakannya sendiri. Betapa hancur hatinya sebagai seorang Ibu yang tidak bisa melindungi putrinya sendiri. "Bany, bawa Mamakmu istirahat turun ke kamar dan minta istrimu untuk menemaninya." perintah Togar.


"Tapi sepertinya dia tidak sempat melakukan itu Tuan karena pasti dokter Uly berusaha terus melawan. Terlihat pakaian dokter Uly tidak ada yang lepas dari tubuhnya." jelas Jefri lagi.


"Tapi kenapa dia belum juga bangun Jef?" Tommy terus menggenggam tangan Roma.


"Dokter Uly mengalami shock Tuan, sebaiknya kita tunggu saja sampai dokter sadar. Dan jika dokter Uly sadar saya mohon jangan ada yang bertanya padanya atas kejadian yang menimpanya barusan. Biarkanlah dokter Uly berbicara sendiri tidak perlu dipaksa karena beliau adalah dokter psikiater jadi dia bisa mengobati rasa traumanya sendiri." jelas dokter Jeffri lagi.


"Baiklah dok, Terimakasih atas penjelasannya." ucap Barman.


"Sebaiknya kita bicarakan ini dibawah saja." ujar Barman meminta Bara, Togar dan juga namborunya untuk keluar dari kamar adiknya itu.


"Akan ku bunuh Robert sekarang juga–." tiba-tiba saja Bany keluar dari kamarnya dengan senjata ditangannya.


"Apa yang akan kau lakukan Bany?" teriak Barman. Sementara Artanti Namborunya terus saja menangis menyesali perbuatan putranya itu.


"Apa Abang tidak dengar penjelasan dokter tadi? Berani-beraninya si kurang ajar itu melecehkan si Badi."


"Kau tenang dulu Bany, lagi pula senjata itu bukan senjata mainan, bisa melanggar hukum kalau kau gunakan sembarangan. Apa kau mau lihat Abangmu ini yang diperjara karena tindakan bodohmu itu?" Barman tahu kalau senjata yang dipegang adiknya itu adalah senjata miliknya.


Bany pun terdiam, tak hanya dirinya saja yang emosi saat itu. Semua seisi rumah mereka juga emosi melihat kelakuan bejat sepupunya itu. Tapi mereka harus menghargai Togar Ayahnya karena bagaimanapun juga Robert itu adalah anak dari adik kandung Togar sendiri.


"Bagaimana pendapatmu Pak?" tanya Bara, ia tahu kenapa Abangnya itu mencegah Bany untuk bertindak karena ia tahu kalau Barman menunggu keputusan bapaknya.


"Maafkanlah kelakuan si Robert ito–. Aku mohon ito, sebenarnya aku juga bisa meminta banyak padamu ito, aku mohon maafkan lah dia ito–." Artanti berlutut di kaki Togar.


Barman dan ketiga saudaranya itu sebenarnya merasa iba pada Namborunya itu tapi mereka juga tidak bisa memaafkan perbuatan sepupunya itu.


"Kau tak perlu minta maaf ito, suruh saja si Robert menyerahkan dirinya maka dia akan ku maafkan." ucap Togar lalu pergi meninggalkan Artanti yang masih berlutut dilantai.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Tommy dengan setia memijat-mijat kaki istrinya itu, menyapukan minyak kayu putih dikeningnya lalu mendekatkan minyak kayu putih itu ke hidung istrinya itu, berharap Roma segera sadar karena ia sangat merindukan senyuman istrinya itu.


Setelah menunggu satu jam akhirnya Roma terbangun saat Tommy baru saja terlelap disampingnya sambil menunggu ia sadar.


"Mas Tommy– Aaaaaa.... aaaa."


Tiba-tiba saja Roma menangis histeris saat melihat Tommy berbaring disampingnya.


"Sayang, Sayang kamu kenapa? Syukurlah kamu udah sadar Sayang?" Tommy terbangun mendengar tangisan Roma. Dan disaat yang bersamaan Bara juga langsung masuk ke kamar adiknya itu.


"Badi, kau tidak apa-apa?" Bara ternyata menunggu Roma didepan pintu kamar adiknya, ia sangat khawatir dengan keadaan Roma. Bara terkejut mendengar teriakan tangisan Roma dari dalam kamar.


"Bang Bara, kenapa ada bayangan Mas Tommy disini? Aaaaaa.... aaa..." Roma merengek beranjak dari tempat tidur lalu memeluk Bara.


"Bayangan?" gumam Bara bingung.


"Sayang ini aku suamimu? Bukan bayangan?" Tommy berdiri ingin mendekati Roma tapi langkahnya terhenti saat kembali mendengar ucapan istrinya itu.


"Bang Bara banyangannya bisa ngomong?" rengek Roma lagi.


Bara hanya bisa mengeryitkan dahinya. Ia memegang bahu adiknya itu dan menatapnya lembut.


"Dia bukan bayangan Badi– tapi dia benar-benar suamimu." ucap Bara hati-hati, ia takut kalau adiknya itu kembali shock dengan apa yang baru dialaminya.


Roma terdiam sejenak, lalu mendekati Tommy yang berdiri menatapnya bingung.


"Kenapa Mas Tommy ada disini? KELUUAAARRR–." teriak Roma.


Bara dan Tommy pun saling berpandangan, bingung dengan perubahan sikap Roma.


Good Night Every Badeh–🤣


Abis baca, tinggalkan jejak, cuci tangan, berdoa terus Bobok yach 🤗