Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Menyerah



Suasana diruangan itu semakin menegangkan. Baru saja Robert menyulut kemarahan Togar, kini ditambah lagi dengan kehadiran seseorang yang membuat Togar dan yang lainnya semakin emosi.


"Saya rasa Robert tidak perlu melakukan itu!!" tiba-tiba saja seseorang datang dan mengalihkan perhatian semua orang kepada orang yang ada diruangan itu.


Mendengar ucapan itu membuat Togar semakin geram dan marah.


Ternyata pria itu adalah Anton, Bapak Robert sendiri. Melihat suaminya mengatakan itu, Artanti langsung mendekatinya.


"Apa maksudmu Pak?"


"Bu, apa Ibu mau memenjarakan Robert begitu saja? Bapak tahu kalau Robert itu salah, tapi bagaimana mungkin Lae tega memasukkannya kedalam penjara?" Anton begitu emosi ketika Robert menelponnya dan menceritakan semua yang telah dilakukannya. Anton memang menyanyangkan perlakuan anaknya itu tapi dia juga tidak terima jika Robert sampai dipenjara.


"Pak, Ibu mohon jangan semakin memperburuk keadaan. Tadi ito sudah meminta Robert untuk menyerahkan dirinya supaya meringankan hukumannya dari pada nanti ito sendiri yang akan melaporkannya, Robert bisa dipenjara seumur hidup Pak–." Artanti tahu kalau suaminya itu sedang marah. Ia juga tidak bisa melakukan pembelaan karena semua itu adalah kesalahan anaknya sendiri.


Anton menatap lekat netra Artanti, seperti sedang mencari kebohongan dalam ucapan istrinya itu. Tapi dirinya menemukan kalau Artanti memang serius dengan ucapannya.


"Bu–, jadi Ibu setuju dengan apa yang diminta Lae? Apa Ibu ga memikirkan bagaimana nasib Robert selanjutnya setelah dia keluar dari penjara? Dia akan tercap sebagai mantan narapidana Bu–, semua orang akan takut kepadanya. Terus apa Ibu tidak berpikir apakah adalagi gadis yang mau diperistri olehnya jika gadis itu tahu kalau Robert mantan Napi? Pikir Bu, Ibu juga harus berpikir kesana." Emosi Anton meledak-ledak, ia marah-marah sambil menunjuk-nunjuk Artanti.


"Kenapa Amangboru yang jadi repot memikirkan itu semua? Seharusnya sebelum Robert bertindak dia sudah memikirkan itu semua? Kenapa sekarang jadi Amangboru yang memojokkan dan menyalahkan Namboru?" Bara tak terima melihat Namborunya itu dipojokkan oleh suaminya sendiri. Meskipun semua yang dikatakannya itu benar tapi itu bukanlah menjadi tanggung jawab Namborunya itu.


Togar memegang bahu Bara, ia tahu kalau anaknya itu sudah tersulut emosi, Togar yang sedari tadi mencoba untuk tenang akhirnya menanyakan keinginan Adik iparnya itu. "Jadi maumu sekarang apa Lae?"


Anton mengalihkan pandangannya dari Bara lalu menatap Togar.


"Ini semua bisa kita selesaikan secara kekeluargaan Lae, seperti yang Robert bilang kalau dia tidak sempat melakukannya pada Roma. Tapi kenapa tuntutan Lae terhadap Robert terlalu berlebihan?"


Togar pun tersulut emosi, sungguh iparnya itu sangat tidak berperasaan.


"Apa? Lae bilang aku berlebihan? Sekarang aku tanya sama Lae. Anakmu Lae bukan cuma si Robert ini, ada juga si Rini dan juga si Rani. Nah bagaimana perasaan Lae seandainya salah satu bereku itu mengalami hal yang sama seperti yang dilakukan Robert pada si Roma? Bagaimana jika yang melecehkan borumu itu adalah beremu sendiri Lae? Bagaimana?" Togar bertanya, membalikkan semua kejadian yang menimpa putrinya itu kepada adik iparnya. Anton terdiam, tapi bukan berarti dia setuju begitu saja kalau anaknya itu dipenjara.


Artanti mendekati Anton suaminya, lalu menggenggam tangan suaminya.


"Pak, Ibu tahu kalau permintaan ito itu berat tapi apa yang dikatakan ito juga ga salah Pak. Kita ga boleh membenarkan apa yang salah dan sebaliknya. Kita jelas-jelas tahu kalau anak kita memang bersalah dan biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya Pak–." Artanti berusaha membujuk suaminya.


"Bu–! Ibu itu, Ibu aku bukan sih? Kenapa Ibu malah mendukung Tulang untuk memenjarakan aku Bu?" Robert membentak Artanti.


Plak.


Sebuah tamparan mendarat dipipi Robert, bukan dari Artanti atau Togar, melainkan dari Anton sendiri. Anton tidak terima anaknya itu kurang ajar pada istrinya apalagi wanita itu adalah wanita yang sudah melahirkannya.


"Aku memang membelamu, tapi bukan berarti kau bisa membentak Ibumu." Robert sangat terkejut ketika Anton menamparnya karena seumur hidupnya Anton tidak pernah ringan tangan.


Robert sudah terlalu dimanja sejak kecil sehingga membuat ngelunjak dan tidak sopan terhadap orang yang lebih tua dari usianya.


"Maafkan aku Lae, aku tahu aku salah dan jika masalah ini tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan lagi, maka silahkan bawa dia ke jalur hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Anton sudah memutuskan untuk mengikuti keinginan Togar. Dia juga tidak mau merusak hubungan antara Kakak beradik itu.


"Bapak!!" Seru Robert, ia tak menyangka kalau Bapaknya juga tidak bersedia untuk menolongnya.


"Apa yang dikatakan Ibumu benar Robert, selama ini kau sudah terlalu dimanja. Segala permintaanmu selalu kami turuti. Sikapmu yang kurang ajar sama paribanmu sendiri, dan kau harus bertanggung jawab untuk itu. Dan jika alasanmu adalah karena kau mencintainya maka itu salah Robert, kau tidak benar-benar mencintai Roma paribanmu tapi kau hanya terobsesi padanya. Jika kau benar-benar mencintainya, kau akan menghargai pilihannya dan berlapang dada menerima keputusannya."


"Apa yang dikatakan Tulangmu juga benar, bagaimana perasaanmu kalau Itomu yang dilecehkan sama paribannya sendiri apa yang kamu akan lakukan? Hukum karma itu ada dan berlaku Robert. Mungkin saja bukan itomu yang mengalami nasib buruk seperti Roma rasakan sekarang, tapi mungkin saja anak-anak mu kelak yang akan menuai hasil kejahatan yang kau lakukan. Jadi renungilah kesalahanmu selama kau dipenjara dan bertobatlah Nak." tutur Anton.


"Aaah, aku ga mau Pak–!!!" seru Anton beranjak dari tempat duduknya.


"Kalau sampai jam 6 sore nanti aku belum mendengar laporan penyerahan dirimu. Maka jangan salahkan Tulang kalau kau akan menjadi buronan Robert." Langkah Robert pun terhenti ketika mendengar ucapan Togar.


"Robert, pikirkan itu nak, Ibu mohon serahkanlah dirimu ke polisi." Artanti mendekati Robert dan mengusap lembut lengan putranya itu. "Ibu mohon akuilah kesalahanmu nak–!"


Robert menghempaskan tangan Artanti lalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Nasution itu.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Robert mondar-mandir didepan kantor polisi. Ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 17.35 WIB. Robert sangat menyesali perbuatannya, entah apa yang merasukinya hingga dia tega melecehkan Roma.


"Apa benar aku hanya terobsesi padanya? Selama ini aku sudah memendam perasaanku padanya. Tapi kenapa dia malah memilih pria itu dan menikah dengannya. Maafkan aku Bu–." gumamnya pelan. Ia melangkah menjauh dari kantor polisi itu.


"Tapi aku juga ga ingin merusak hubungan Ibu dengan Tulang." gumamnya lagi lalu berbalik arah menuju kantor polisi.


"Terus bagaimana nasibku selanjutnya jika aku benar-benar dipenjara?" Robert terus bermonolog pada dirinya sendiri.


"Sudahlah, ini memang salahku dan aku harus bertanggung jawab." Robert memantapkan langkahnya. Ia memasuki kantor polisi dan menyerahkan dirinya.


Diseberang jalan didepan kantor polisi, Radit yang diminta mengawasi Robert pun langsung melaporkan pada Barman.


"Bang, Robert sudah menyerahkan dirinya."


"Terimakasih kamu pulanglah–." Barman memutuskan sambungan teleponnya.