
Ken Pov
Tommy itu sahabatku, aku bersyukur dia memilihku untuk menjadi sekretarisnya dan juga orang yang dipercayanya.
Sudah 2 minggu dia pergi honeymoon yang keduanya bersama Roma istrinya. Yang sebelumnya dia menghilang entah kemana selama 3 hari.
Semua tentang Tommy aku tahu hanya saja aku merasa sedikit dihianati atas kepergiannya tanpa memberitahuku.
Ya mungkin dia hanya menganggapku sebatas sahabat atau bawahan saja. Sementara aku? Aku menganggapnya lebih dari sahabat. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku. Namun, walaupun demikian aku tetap mempercayainya dan menganggapnya sebagai sahabat baikku. Mungkin tak semua tentangnya yang harus aku tahu.
Setelah dua minggu yang melelahkan terlewati akhirnya aku bisa cuti, yaa meskipun hanya dua hari.
Aku bisa menghabiskan waktuku untuk istirahat dirumah.
Tapi kesempatan itu tidak ku sia-siakan, aku ingin menemui gadis yang sudah mengusik hati dan pikiranku akhir-akhir ini.
Ku pakai kemeja polos berwarna navy dengan celana panjang semi Jeans. Tak lupa ku semprotkan parfum agar aku tercium harum dan maskulin. Aku ingin menemui Mita di kos-kosannya.
Sebelumnya aku sudah pernah datang ke kosannya. Waktu pulang dari Maldives dia ku paksa untuk membawa mobilku. Aku sengaja supaya aku tahu tempat tinggalnya.
Dan sekarang aku sudah berada didepan Kosannya lebih tepatnya rumah kontrakannya.
Namun aku mendengar ada suara seseorang didalam. Sepertinya Mita sedang kedatangan tamu. Tapi aku mendengar suara pria yang aku tidak tahu siapa.
"Aku mohon Mita maafkan aku, aku ingin kita lanjutkan rencana kita Mita, menikahlah denganku Mit–." Aku terkejut mendengarnya, pria itu memohon kepada Mita. Apakah dia pria yang sudah menyia-nyiakannya? Mantan tunangannya?
Aah, entahlah. Aku menahan diriku untuk tidak masuk ke dalam.
"Aku ga bisa Rob, kamu pulanglah–." ku dengar dengan jelas Mita menolaknya dan benar pria itu adalah Robby mantan tunangannya. Roma pernah cerita kalau Mita sudah pernah gagal untuk menikah dan itu yang membuatnya malas untuk mengenal pria lagi.
"Aku ga akan pulang sebelum kamu setuju untuk menikah denganku." Suara Robby meninggi dan aku semakin geram dibuatnya.
"Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Biarkan aku sendiri Rob, aku udah nyaman seperti ini. Semua pria itu sama. Brengsek semuanya." Mita suara tak kalah tinggi. Yang membuat hatiku pilu, mendengar ucapan Mita yang terakhir. Apakah Mita juga menilaiku sama seperti pria brengsek yang pernah dikenalnya?
"Mita aku minta maaf aku khilaf Mit–." Robby tetap berusaha memohon kepada Mita.
"Pulanglah Rob, sebelum aku panggil polisi untuk menyeretmu keluar dari rumahku." ucap Mita tegas. Ternyata dia gadis yang berpendirian teguh. Sekali A tetap A tidak akan pernah berubah menjadi Y atau Z.
"Mita aku sayang kamu."
"Aaaakkh lepas Rob, apa yang kau lakukan?" Entah apa yang terjadi didalam, aku terkejut mendengar teriakan Mita. Tanpa berpikir panjang aku langsung membuka pintu rumah Mita yang kebetulan memang tidak dikunci.
Kulihat pria itu memeluk Mita dan berusaha untuk mencium Mita.
Mita menolak dengan sekuat tenaganya mendorong wajah pria itu menjauh dari wajahnya.
Ku tarik kerah leher baju Ribby bagian belakang dan langsung ku layangkan tinjuku dua kali ke wajahnya.
Buuughhh.... buuughhh.
Pria itu tersungkur ke sofa yang ada diruangan itu.
"Kamu tidak apa-apa Mit?" Kulihat wajahnya penuh ketakutan, baju dibagian bahunya robek memperlihatkan kulitnya yang putih mulus. Dia masih ketakutan.
"Kurang ajar, siapa Lo?" suara bentakan Robby membuatku ingin menghajar pria itu lagi. Tapi Mita mencegahnya. Ia menahanku dengan memegang lenganku.
"Sekarang pergilah sebelum Lo, gue buat babak belur." ancamku tapi dia menyunggingkan senyumnya.
"Apa hak Lo ngusir gue. Emang Lo siapanya pelacur ini?" Aku terkejut mendengar ucapan terakhir pria itu. Lelaki mana yang mampu berucap kasar pada orang yang dicintainya. Bahkan sampai menghina wanita itu sendiri. Ternyata pria ini benar-benar pria brengsek, jika memang dia mencintai Mita seharusnya dia tidak menghina Mita serendah itu.
"Gue calon suaminya. Emang Lo mau apa?"
"Dasar jalang, Lo bilang kalau Lo ga mau nikah sama gue karena Lo udah nyaman hidup sendiri. Ini buktinya apa Mit?" Lagi-lagi pria itu mengeraskan suaranya.
"Heh, bisa diem ga Lo?" Aku sudah tidak tahan lagi mendengar pria itu selalu menghina Mita. Kulepaskan pegangan tangan Mita. "Sekarang keluar Lo–." ku tarik paksa pria itu agar keluar dari rumah Mita.
Awalnya Robby melawan tapi kekuatannya tak sebanding dengan ke kuatanku yang memang ahli bela diri.
Ku tutup pintu rumah Mita dan ku kunci supaya pria itu tidak bisa masuk jika dia nekad untuk kembali.
Mita duduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya, airmatanya terus menetes. Entah sejak kapan airmatanya sudah membasahi pipinya itu.
"Mit–." Aku berjongkok didepannya.
"Pulanglah Ken, aku ingin sendiri." Aku menghela nafasku dengan berat.
"Maaf tapi aku ga bisa–." ku pegang bahunya bermaksud membantunya untuk berdiri tapi tanganku ditepis olehnya.
"Pergilah Ken–, aku ini bukan wanita baik seperti yang kamu kenal. Kamu juga tak perlu mengaku sebagai calon suamiku kepada Robby, Ia juga tak akan berani datang lagi. Jadi ku mohon pergilah–." Mita bersikeras menyuruhku untuk pergi.
"Aku ga bisa Mita, aku ga bisa meninggalkanmu dalam kondisi begini? Siapa bilang aku hanya mengaku-ngaku? Aku serius ingin menikah denganmu Mita–." aku jujur dengan perasaanku tapi sepertinya Mita tak percaya itu.
"Apa kamu ga dengar apa yang dikatakan Robby tadi? Aku ini pelacur, aku ini seorang jalang apa kamu tahu itu? Apa kamu bisa menerimaku yang seorang jalang ini? Apa kamu bisa?" Wanita lemah itu merendahkan dirinya sendiri, jujur hatiku sakit ketika mendengar kalau dia berkata dirinya itu jalang. Tapi aku tidak melihat dia seperti itu. Aku terdiam lidahku rasanya keluh tak mampu untuk berkata apapun.
"Ga bisa kan?" sentaknya lagi.
Entah apa yang ada dalam pikiranku tanpa berpikir panjang aku langsung menciumnya. Dia berusaha menolakku tapi aku terus saja melum*at bibirnya. Kulihat dia hampir kehabisan nafas. Ku lepaskan pagutanku membiarkan dia bernafas. Dan setelah nafasnya kembali netral.
Plaaakkk.
Sebuah tamparan mendarat keras dipipiku.
"Dasar laki-laki brengsek, semua laki-laki itu sama. Semuanya brengsek–." wajahnya memerah, matanya terlihat begitu berapi-api. Dia memukul dadaku terus menerus dan tetap ku biarkan hingga akhirnya pukulannya melemah dan dia kembali menangis.
"Kamu tahu jawabanku Mit, Aku ga bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."
"Aku sudah ga apa-apa, aku baik-baik saja. Sekarang pulanglah." Dia menolakku lagi untuk tetap berada disisinya. Tapi aku tak ingin menjawabnya lagi. Aku duduk disampingnya. Dia masih memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana.
"Aku ini bukan wanita baik seperti yang kamu kira Ken. Aku ini seorang jalang." kembali lagi dia mengucapkan kata-kata itu.
"Semua orang punya masa lalu Mit, dan aku tak pernah menanyakan tentang kesucianmu. Jujur sejak pertama aku melihatmu aku sudah tertarik padamu. Kamu selalu muncul dalam pikiranku Mit, aku ga bisa melupakanmu." Dia mengangkat wajahnya lalu melihat pada mataku seolah mencari kebohongan dari setiap kata yang ku ucapkan.
Mita menarik nafasnya. "Masih banyak wanita yang lebih baik dari aku Ken. Yang lebih pantas untuk kamu jadikan istri."
Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku. "Tapi aku maunya kamu Mit–."
"Kita belum saling mengenal Ken, kamu belum tahu siapa aku sebenarnya." lirihnya lalu melepaskan tanganku dari wajahnya. Tapi aku kembali menangkup wajahnya.
"Aku sudah cukup mengenalmu, mungkin dari segi sikap dan egomu aku belum tahu karaktermu seperti apa, tapi sedikit banyaknya tentang pribadimu aku tahu. Kamu anak satu-satunya yang terlahir dari keluarga broken home. Mama dan Papa mu bercerai saat kamu SMP, Kamu tinggal dengan Ibumu dan kamu memiliki Ayah tiri tapi Ibumu tak percaya kalau Ayah tirimu pernah hampir melecehkanmu sehingga kamu harus memilih tinggal dengan Nenekmu." Mata Mita terbelalak mendengar ceritaku. Dia seperti tak percaya kalau aku sudah tahu tentangnya.
"Tapi Nenekmu meninggal saat kamu sudah memasuki kuliah kedokteran, tapi beruntungnya kamu bisa kuliah kedokteran karena prestasimu. Kamu mendapatkan beasiswa dan disupport oleh teman-teman mu seperti Zia, Rara dan Gina."
"Tapi akhirnya kamu berpikir kalau kamu hidup bagaikan sebatang kara. Kamu memiliki trauma pada laki-laki dan menganggap semua laki-laki itu sama. Seperti yang dilakukan Ayahmu yang berselingkuh dari Ibumu, lalu Ayah tirimu pun melecehkanmu bahkan setelah kamu pacaran semua pacar-pacarmu ujung-ujungnya berselingkuh juga dari kamu. Mungkin karena profesimu yang seorang dokter, yang waktunya banyak abis terkuras dengan pekerjaanmu dirumah sakit. Akhirnya kamu tidak memiliki waktu untuk pasanganmu dan membuat mereka selingkuh darimu." Matanya kembali berkaca-kaca, dia terdiam seolah membenarkan semua apa yang aku ucapkan.
"Bagaimana kamu bisa tahu semua tentangku?" Mita menatapku lekat, lalu ku pegang bahunya.
"Kecil bagiku untuk mencari data pribadi seseorang. Dan aku tahu kamu sengaja mengatakan kalau kamu itu jalang hanya untuk menghindar dariku bukan?"
"Kenapa kamu berpikir seperti itu Ken? Aku ini tak sebaik yang kamu kira–. Aku tak suci lagi Ken." ucapnya lirih tapi entah kenapa aku tak percaya dengan ucapannya. Aku hanya menyunggingkan senyumku mendengarkan dia berkata seperti itu.
"Entahlah, aku tidak tahu karena aku belum pernah tidur denganmu. Dan aku juga tidak tahu bagaimana membedakan rasanya yang perawan dengan yang tidak perawan lagi karena aku juga belum pernah berhubungan intim dengan seorang wanita." Kulirik dia mengulum senyumnya tapi saat aku melihatnya ia kembali menunjukkan wajah sedihnya.
"Aku juga tahu kalau diam-diam kamu masuk ke kamarku saat kita berada di Maldives. Kamu tidur disampingku dan mengambil beberapa foto kita. Awalnya aku tidak tahu akan kamu buat apa foto itu sampai akhirnya aku mendengar sendiri tadi pria itu mengatakan kalau kamu–." aku menjeda ucapanku. "Maaf, pelacur." lanjutku dan dia kembali terkejut dengan analisaku.
"Apa? Jadi kamu tahu kalau aku mengambil foto-foto mu? Terus kenapa kamu diam saja."
"Aku memang sengaja membiarkannya karena saat itu aku pura-pura tidur. Aku penasaran akan jadi apa nantinya foto-foto itu dan ternyata foto-foto itu kamu gunakan untuk menghindar dari pria tadi itu. Analisaku benarkan?" tanyaku dengan senyum yang menggoda.
"Sok teu kamu–." ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana?" Aku menahan tangannya.
"Ganti baju, ikut?" tantangnya.
"Boleh, siapa takut–."
"Iiih, enak aja. Tunggu disini–." dia mendudukkanku di sofa yang ada diruang tamu. Lalu berjalan ke kamarnya.
Aku menunggunya tapi hasratku untuk buang air tiba-tiba muncul aku berjalan ke depan kamarnya mengetuk pintunya beberapa kali tapi tak ada jawaban darinya aku ingin menanyakan dimana toiletnya. Aku mencoba mencari sendiri tapi tidak kutemukan padahal rumahnya itu sangat minimalis.
Aku kembali ke depan kamarnya, karena tidak ada jawaban darinya aku langsung membuka pintu kamarnya.
"Mit, to–." aku terdiam saat melihat tubuh mulusnya aku hampir lupa bernafas. Dia hanya menggunakan bra dan CD saja. Tangannya terangkat keatas ingin memasukkan dressnya.
"Aaaaaahhhkkkk–." Teriakannya menyadarkan ku dan langsung ku tutup kembali pintu kamarnya.
"Ken–, kamu apa-apaan sih." omelnya saat ia sudah selesai mengenakan pakaiannya.
"Maaf Mit, aku ga sengaja aku mau nanya toilet dimana? Soalnya aku cari-cari ga nemu."
"Tuh–, toilet didepan mata begini masa ga liat. Alesan aja kamu tuh." Dia masih saja mengomel. Kesal karena aku melihatnya saat berganti pakaian tadi.
"Siapa yang sangka kalau ini toilet. Orang pasti berpikiran kalau ini kamar tidur Mit–." protesku karena pintu kamar mandinya itu dipasang gorden tali blink-blink.
"Hehe, Biar unik aja, kan ga pernah-pernahnya orang buat gorden di depan pintu toilet." Dia pun tersenyum.
"Kalau begitu kamu buat dong tulisan di pintunya TEMPAT BUANG HAJAT." ucapku sedikit kesal, karena sudah menahan panggilan alam itu lebih lama. Lalu aku masuk kedalam dan menyelesaikan panggilan ku.
"Huuu, enak aja." masih terdengar jelas saat dia menggerutu diluar.
Setelah dari kamar mandi aku kembali menemuinya yang saat itu kulihat sedang sibuk didapur.
"Kamu ngapain?"
"Buat Kopi." jawabnya sambil menyalakan kompor untuk memasak air. "Eh iya, mau kopi apa teh?" tanyanya lagi.
"Susu–." jawabku langsung.
Dia bingung mungkin ga punya stok susu dirumahnya.
"Bentar aku beli ke warung dulu. Mau susu apa?" Dia mematikan kompornya bersiap untuk pergi ke warung.
"SGM–."
"Iiih, kayak anak kecil aja minum susu SGM, aku beli susu ultra milk atau frisian flag aja yah. Mau rasa coklat atau vanilla?"
"Aku mau SGM, Susu Gantung Mu–!" spontan dia menyilangkan tangannya didepan dadanya. Wajahnya bersemu memerah.
"Iiih dasar mesum–." dia memukul lenganku.
"Hahaha–." aku senang menggodanya. Dia juga sudah tersenyum lagi setelah tadi dia menangis karena perlakuan kasar mantan tunangannya.
Vote dong Plisss–
Udah panjang kan yaach 😍