
Mita hanya bisa menatap punggung Ken yang pergi meninggalkannya. Setelah membayar semua tagihan makanannya Mita memilih untuk langsung pulang ke rumah kontrakannya tentu saja diantar oleh supir yang sudah disiapkan Ken untuknya.
Sementara Ken dan Fernando segera menuju lokasi tempat persembunyian Rendi. Fernando yang notabenenya adalah seorang ahli IT maka sangat mudah baginya untuk menemukan keberadaan Rendi. Ken bersama dengan Fernando dan beberapa anak buahnya melakukan penyamaran untuk mengintai keberadaan Rendi.
Sesampainya dilokasi mereka menunggu sampai mereka memastikan bahwa mereka tidak salah melacak tempat. Seperti seorang intel mereka terus memantau Rendi dari jauh. Mereka melihat Rendi sedang berada disalah satu minimarket yang dengan tempat persembunyiannya.
Ken tidak ingin melakukan tindakan ceroboh bila mereka menangkap Rendi ditempat keramaian. Mereka terus mengikuti kemana Rendi pergi sampai akhirnya mereka melihat Ken memasuki sebuah apartemen. Dengan cepat Ken meminta anak buahnya untuk segera menangkap Rendi.
Dua anak buahnya berhasil menangkap Rendi sebelum Rendi berhasil masuk kedalam apartemennya.
Mulut Rendi dibekap dengan sebuah saputangan yang sudah diberi obat bius. Sehingga tidak ada perlawanan dari Rendi. Seorang lagi dengan cepat membawa kursi roda dan mendudukkan Rendi disana. Dipakaikannya masker dan topi supaya orang lain tidak menyadari kalau mereka sedang menculik Rendi. Tentu saja semua CCTV yang ada diapartemen itu telah diretas oleh Fernando terlebih dahulu, sehingga tidak ada tindakan mereka yang terekam CCTV saat membawa Rendi keluar dari apartemen itu.
"Cepat bawa dia ke markas." perintah Ken, setelah anak buahnya berhasil masukkan Rendi kedalam mobilnya dan memerintahkan Fernando untuk membawanya ke markas mereka.
Ken segera mengirimkan pesan pada Tommy.
"Misi selesai, sekarang sedang menuju markas." Isi pesan Ken.
Sementara ditempat lain Tommy masih berada disebuah hotel miliknya bersama dengan Roma. Ia terbangun saat mendengar notifikasi pesan dari handphonenya. Ia mengambil ponselnya dari atas nakas yang berada disebelah kanannya.
Tommy melepaskan pelukannya pada tubuh Roma yang masih polos. Ia berjalan menuju kamar mandi, ia menghubungi Ken dan sengaja menjauh dari Roma agar Roma tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Kau urus dia dulu. Setelah mengantar pulang, aku segera kesana." ucap Tommy dan setelah mendengar jawaban Ken, Tommy lalu mandi membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya.
Setelah selesai mandi Tommy melihat Roma masih tertidur pulas.
"Sayang, bangun dek." Tommy mencium kening Roma. Dan perlahan Roma membuka matanya. "Mau nginep disini aja atau kita pulang kerumah?"
"Kita pulang aja Mas, ga enak nanti Mami khawatir Mas." ucapnya tapi bukannya bangun ia malah memeluk pinggang Tommy yang duduk disisi tempat tidur dengan erat.
"Sayang ayo bangun." Tommy menyisihkan anak rambut Roma yang menutupi wajahnya.
"Bentar lagi mas, aku masih capek banget." ucapnya manja dan Tommy begitu senang mendengar Roma yang begitu manja padanya.
Tommy pun membiarkan Roma tidur beberapa menit lagi. Ia juga sebenarnya tidak tega mengajak istrinya itu pulang sekarang tapi berhubung karena ia harus segera menemui Ken, mau tidak mau Tommy harus membawa Roma pulang dan memastikan keselamatannya tetap aman.
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Disebuah bangunan tua yang berada jauh dari pemukiman penduduk. Rendi tersadar dan ia begitu terkejut saat mendapati dirinya tengah duduk terikat disebuah bangku.
"Siapa kalian? Mau apa kalian sebenarnya?" teriak Rendi sambil berusaha melepaskan ikatannya dari tubuhnya. Tapi sayang usahanya itu sia-sia karena anak buah Ken melilitkan tangannya dengan lakban dikedua sisi tangan bangku itu. Dan kakinya juga dililitkan lakban sehingga sulit baginya untuk melepaskan diri.
"Siapa kami kau tak perlu tau." ketus salah satu bodyguard yang bernama Towo.
"Brengsek–," umpat Rendi.
"Asal kamu tahu kamu telah salah memilih lawan bung." ucap Towo sambil mencengkram dagu Rendi lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Beri dia makan, jangan sampai dia mati kelaparan sebelum bos datang." perintah Towo pada salah satu temannya.
"Baiklah–." sahut Parto lalu memberikan nasi bungkus kepada Rendi.
"Kau buka ikatan tangannya satu saja. Dan awasi dia sampai dia selesai makan."
"Siap." sahutnya tegas.
"Jangan lupa ikat tangannya kembali setelah dia menghabiskan makanannya." usai memberikan perintahnya ia segera menemui Ken yang berada di ruangan istirahatnya.
Tok... tok... tok.
Towo mengetuk pintu ruangan Ken.
"Masuk." perintah Fernando. Towo pun membuka pintu dan dilihatnya Ken sedang tidur ditempat tidur yang ada diruangan itu sementara Fernando sibuk dengan pekerjaannya yang terbengkalai dikantor.
"Ada apa?" tanya Fernando saat melihat Towo berdiri didepannya.
"Tuan, apakah kita akan bermalam disini?" tanya Towo dengan sangat hati-hati.
"Sepertinya begitu, karena sampai sekarang Tuan Tommy belum juga datang." ucap Fernando tapi matanya tidak lepas dari laptop yang ada didepannya.
"Memangnya kenapa?" Fernando mengangkat kepalanya dan melihat ada kegelisahan pada Towo.
"Ibu saya sedang sakit Tuan dan saya sudah terlalu lama meninggalkannya, saya harus bergantian menjaga ibu saya dengan istri saya Tuan. Kasihan istri saya saat ini sedang hamil Tuan." ucap Towo jujur.
"Kita tunggu sebentar lagi, hmmm... 2 jam lagi. Kalau dalam waktu 2 jam lagi Tuan Tommy tidak datang, kamu boleh pulang duluan. Nanti saya akan mencari penggantimu untuk berjaga disini."
"Terimakasih Tuan. Terimakasih–." Towo merasa lega sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ia tahu kalau bekerja bersama Tommy tidak ada paksaan bagi mereka yang sedang dalam situasi yang kurang beruntung. Itu sebabnya banyak para bodyguard Tommy yang betah bekerja dengannya. Tentu saja Fernando mempertimbangkan keadaan Towo karena jika Towo mengatakan alasan itu pada Tommy maka Tommy pun akan melakukan hal yang sama.
"Apakah sandera baik-baik saja?"
"Baik, kau keluarlah, tetap awasi dia dengan baik."
"Baik Tuan." Towo pun keluar dari ruangan mereka.
"Apa Tommy belum datang?" tanya Ken tiba-tiba dan membuat Fernando terkejut.
"Tuan mengangetkan ku saja." Fernando mengelus dadanya yang hampir keluar dari tempatnya.
"Santuy cuy, cuma kita berdua disini jangan lo panggil gue dengan sebutan lo tadi." protes Ken, sambil melemparkan bantal kecil kearah Fernando dan dengan cepat Fernando menangkapnya.
"Iya Tuan Tommy belum datang."
"Shiit, ngapain aja sih dia lama banget. Udah ganggu kencan gue sekarang kita disuruh nunggu lama lagi. Lo telpon dia udah dimana sekarang. Kalau sampe dia ga datang gue tinggal pulang nih." gerutu Ken dan bersamaan dengan itu pintu terbuka.
"Apa lo mau pulang? Pulang sono? Abis itu besok ga usah masuk kantor lagi." seloroh Tommy tapi Ken yang mendengar ucapan Tommy terasa serius ditelinganya.
"Lo mecat gue?" Ken menaikkan suaranya.
"Iya kalau lo pulang sekarang."
"Sialan Lo, eh Nyet lo tahu ga lo udah buat kita nunggu berapa lama? 5 jam tahu?" protes Ken sambil menunjukkan tam tangannya pada Tommy.
"Terus kenapa?"
"Pake nanya lagi? Lo itu udah ganggu waktu lunch gue sama Mita. Lo minta gue cepet-cepet buat tangkep kecoa itu. Eh setelah misi beres lo dateng lama banget." kali ini Ken benar-benar kesal pada Tommy. Karena ia merasa Tommy tidak pernah menghargai pekerjaannya lagi.
Sementara Fernando hanya duduk ditempatnya mendengarkan perdebatan dua orang yang bersahabat itu.
"Iya deh, gue minta maaf. Sekarang dimana kecoanya?" tanya Tommy tapi Ken hanya diam saja.
"Diruangan tempat biasa Tuan." sahut Fernando.
"Ayo kita kesana." Tommy membalikkan badannya menuju pintu keluar dan disusul Fernando dibelakangnya. Dan dengan terpaksa Ken juga mengikuti mereka.
Tommy melihat Rendi duduk dengan tangan dan kaki yang terikat dibangku.
Ia mengangkat kepalanya begitu mendengar derap langkah kaki yang menuju kearahnya.
"Kau–." Rendi terkejut melihat Tommy yang kini berdiri tepat didepannya. "Jadi ini semua ulahmu? Hah, dasar pengecut–!!" Rendi menyunggingkan senyumnya terlihat begitu menyepelekan Tommy.
Tommy membungkukkan badan lalu mencengkram dagu Rendi.
"Lebih pengecut siapa, datang dengan melakukan penyamaran dan menyandera seorang wanita? Cih, kau tak ubahnya sama seperti banci."
"Kau mau apa?" tanya Rendi ketus.
"Aku tidak akan menyiksamu atau melukaimu sama sekali. Tapi aku akan membuatmu mati secara perlahan. Dan sebelum itu aku sudah menyiapkan hadiah untukmu." ucap Tommy dengan seringai liciknya.
"Ken, apa kau sudah menyiapkan apa yang ku minta?"
"Sudah." sahut Ken, sebenarnya ia bingung dengan permintaan Tommy padanya.
Ken meminta Towo untuk membawa apa yang diminta Tommy padanya. Dan tak lama kemudian tiga orang masuk kedalam ruangan itu dengan menggunakan pakaian yang begitu sexy.
Semua mata para bodyguard itu langsung terbelalak melihat gadis-gadis cantik yang ada didepan mereka. Bukan hanya para bodyguard itu Rendi dan Fernando pun sangat tertarik dengan kecantikan gadis-gadis itu.
"Bagaimana kau suka dengan hadiahku?" ucap Tommy tapi Rendi tidak menjawabnya ia masih tetap menatap 3 orang gadis yang berada didepannya. "Mereka akan menemanimu selama kau berada disini. Anggap saja ini hotel untukmu. Dan lihatlah disana sudah ada ranjang disediakan untuk tempat kalian bercinta." ucap Tommy dan beberapa bodyguardnya bersama dengan Fernando dan Rendi dengan susah payah menelan salivanya. Berbeda dengan Ken dan Towo yang hanya tersenyum licik melihat kearah Rendi.
"Kalian jangan iri." ucap Tommy pada anak buahnya karena ia melihat kalau anak buahnya juga sepertinya tertarik dengan gadis-gadis itu. "Karena mereka adalah hadiah untuk Rendi, kecuali kalau kalian suka dengan batangan juga maka kalian boleh bergabung dengan Rendi." Dan seketika itu juga para bodyguard, Fernando dan Rendi langsung mual dan bahkan ada yang sampai muntah.
"Hahahhaa...." Tommy dan Ken tertawa terbahak-bahak melihat Fernando yang juga ikut mual. Ternyata Fernando tidak tahu kalau gadis-gadis yang sempat dikaguminya itu ternyata seorang banci.
"Maksud mu apa?" Rendi yang sudah sadar sangat terkejut dan marah. Ia tak menyangka kalau hadiah yang diberikan Tommy padanya adalah banci.
Tommy tidak menjawab ia malah menatap 3 orang yang menjadi hadiah untuk Rendi.
"Kalian tau apa tugas kalian?" tanya Tommy dan ketiganya menggelengkan kepalanya.
"Kalian harus melayani Rendi, dan buat dia sampai mecapai pelepasannya 10 kali setiap malam dan itu tidak dari kalian bertiga langsung tapi masing-masing dari kalian harus membuatnya mencapai pelepasannya 10 kali. Dan jika kalian berhasil membuatnya mencapai pelepasannya 10 kali maka masing-masing dari kalian akan mendapatkan 100 juta untuk tiap malamnya." mendengar nominal yang begitu besar tentu saja membuat ketiganya begitu bersemangat tapi tentu saja menjadi mimpi buruk bagi Rendi.
"Apa-apaan kau Tommy. Lepaskan aku!!!" teriaknya sambil berusaha melepaskan dirinya, tapi sekuat apapun ia berusaha semua akan sia-sia karena ikatannya begitu rekat.
"Ingat malam ini berarti harus 30 kali." ucap Tommy lalu keluar dari ruangan itu namun langkahnya terhenti dan ia kembali mengingatkan pada anak buahnya dan juga para banci itu.
"Lepaskan ikatannya dari bangku itu dan ikat dia diranjang. Selanjutnya terserah kalian mau berbuat apa. Ingat semua itu terekam dalam CCTV itu dan kalian tidak boleh curang dalam menghitung pelepasannya."
"Baiklah Tuan. Tentu saja kami tidak ingin gagal dalam mendapatkan 100 juta dalam semalam. Selama ini untuk mendapatkan uang 1 juta saja sulit untuk kami. Ini sudah didepan mata ya ga mungkinlah kami sia-siakan." ucap salah satu banci itu sambil memasang senyum terindahnya melihat Rendi yang mulai keringat dingin.
"Ken minta bodyguard lain untuk berganti berjaga dengan mereka." perintah Tommy dan langsung dikerjakan Tommy.
"Fer, kamu awasi mereka, aku dan Ken akan pulang. Dan jangan lupa kamu buat absen mereka yang berjaga disini karena aku akan memberikan bonus untuk mereka." perintahnya lagi.
"Baik Tuan."
Lalu Tommy dan Ken meninggalkan markas mereka. Tommy ingin membuat Rendi mati secara perlahan karena akan melayani se x mereka setiap malamnya.