Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Lalai



Waktu tempuh dari Bandara Internasional Silangit ke Bandara Internasional Soekarno Hatta memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Dan selama dalam perjalanan Roma memilih untuk tidur. Dan selama itu pula Tommy selalu menggenggam erat tangan Roma, Tommy seperti orang yang tidak ingin berpisah dari Roma.


Sesampainya dibandara Soekarno Hatta Tommy langsung disambut oleh supirnya. Tapi Tommy merasa aneh saat melihat seorang pria memegang papan yang ada tulisan namanya karena supir yang menjemputnya saat itu bukanlah supir yang biasa bekerja untuknya.


"Bapak siapa? Kok saya sepertinya baru lihat bapak ya?" tanya Tommy pada pria yang menjemputnya itu.


"Iya Tuan saya baru bekerja di perusahaan Tuan beberapa hari yang lalu makanya saya belum mengenal Tuan dan begitupun Tuan belum mengenal saya." ucapnya Ramah. "Perkenalkan Tuan nama saya Budi Tuan." pria itupun mengulurkan tangannya.


"Baiklah saya Tommy, selamat bekerja ya. Dan sekarang kita langsung ke rumah Roma saja." Tommy membalas uluran tangan Pak Budi. Lalu Pak Budi membukakan pintu untuk Tommy dan Roma.


Seperti yang telah Tommy janjikan pada Bara, ia harus membawa Roma pulang kerumahnya. Namun saat diperjalanan menuju rumah Roma tiba-tiba saja saat di jalan Tol mereka dicegat 3 mobil yang memepet ke mobil mereka dari depan, kanan dan belakang sehingga membuat mereka tidak bisa lolos.


Ciiiiiiiiitttttttsssss (Anggap bunyi rem mendadak ya)


"Siapa mereka kenapa mereka menghadang kita?"


"Maaf Tuan saya tidak tahu." Pak Budi merasa bingung dan juga takut.


Tampak beberapa pria berbaju hitam dengan masker hitam diwajahnya keluar dari dalam mobilnya lalu mendekati mobil Tommy.


"Siapa mereka Bang? Aku takut." Roma memeluk tangan Tommy.


"Kamu tenanglah, Abang akan melindungimu." Tommy berusaha menenangkan Roma.


Dengan cepat Tommy mengambil ponselnya dan menghubungi Ken.


"Ken, lacak keberadaan kami sekarang. Kami sedang di cegat orang dijalan Tol." Haidar mengirim pesan pada Ken.


"Sial, dia menghubungi seseorang." Teriak Budi sambil merebut ponsel dari tangan Tommy saat melihat Tommy dari kaca spionnya.


"Kau–, bukan supir yang disuruh untuk menjemput ku?" Tommy berusaha menahan ponsel miliknya.


"Hahaha." pria yang menyamar sebagai supir itupun tertawa. "Tentu saja bukan. Kau itu begitu bodoh dan sangat mudah ditipu."


Buuugh.


Tommy emosi langsung meninju wajah supir gadungan itu, dan terjadilah baku hantam di dalam mobil. Saat Budi dan Tommy sibuk berdebat dan saling tinju. Secara diam-diam Roma mengambil ponselnya dan menekan angka 1, lalu menyimpan ponselnya disaku celananya. Itu adalah panggilan cepat untuk Bara.


Doorr.


Salah seorang pria yang berada diluar mobil melepaskan tembakannya ke udara. Karena Tommy terus saja menghajar supir yang telah membohonginya.


"Keluar–." teriak seorang pria sambil menodongkan senjatanya kearah Tommy dan Roma. Dengan terpaksa mereka keluar dari mobil.


Mau tidak mau Tommy dan Roma pun keluar dengan meletakkan tangan dibelakang kepala mereka.


"Siapa kalian? Dan apa mau kalian? Aku bisa membayar 3 kali lipat dari orang yang menyuruh kalian. Katakan siapa yang mengirim kalian kesini?" teriak Tommy.


"Banyak bacot Lo." Seorang dari kelompok mereka berhasil memukul bagian belakang kepala Tommy dan membuat Tommy jatuh pingsan.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" Bentak Roma pada orang itu. "Bang, Bang Tommy." Roma mengguncang tubuh Tommy namun Tommy sudah terkapar jatuh di aspal.


"Cepat bawa dia pergi!" Perintah salah satu dari mereka yang diakui sebagai bos mereka.


"Masukkan dia kedalam mobil dan segera tepikan mobilnya. Jangan biarkan dia terluka, bisa-bisa nanti kita tidak dapat bayaran." Perintahnya lagi. Lalu pria yang bernama Budi itupun menuruti perintah Bosnya memasukkan Tommy kedalam mobilnya.


...♣️♣️♣️...


Di tempat lain Bara yang mendapatkan telepon dari Roma begitu terkejut karena mendengar Roma berteriak ketakutan dan saat Tommy menghajar Budi didalam mobil. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi saat mendengar suara letusan senjata.


"Sial, sepertinya Badi diculik." Bara langsung menekan tombol merekam dari ponselnya. Lalu segera meminta bantuan dari teman kerjanya.


"Bagas tolong hubungi Abangku Barman, katakan padanya Badi diculik." Bara menulisnya disebuah kertas. Bagas ingin menjawab tapi mulutnya langsung dibekap oleh Bara dan memperlihatkan ponselnya.


"Bilang pada Bang Barman untuk melacak GPS ponselnya Badi." tulisnya lagi. Lalu dibalas anggukan kepala dari Bagas.


Dengan cepat Bagas langsung menghubungi Barman. Ia berjalan menjauh dari Bara agar suaranya tak terdengar di ponsel Roma yang masih direkam oleh Bara.


"Bang Barman, ini aku Bagas temannya Bara." ucapnya saat panggilannya sudah diangkat oleh Barman.


"Ada apa?"


"Bang, Badi diculik Bang."


"Apa? Bagaimana bisa Badi di culik?" Barman begitu terkejut mendengar adiknya diculik.


"Aku ga tahu cerita pastinya Bang, aku hanya disuruh oleh Bara untuk menghubungi Abang. Saat ini Bara sedang merekam pembicaraan orang yang menculik Badi Bang. Badi menelpon Bara Bang sebelum akhirnya penculik itu membawa Badi Bang. Tolong lacak keberadaan Badi Bang."


"Baiklah. Tolong telepon pihak kepolisian dan buatkan laporannya. Aku dan anggotaku akan segera menuju lokasi Badi."


"Baiklah Bang."


Setelah memutuskan telepon dari Barman, Bagas kembali menuju tempat Bara berada. Sebelumnya dia menelpon pihak kepolisian untuk datang ke kantor mereka dan mendengar langsung rekaman Bara.


Barman yang memang adalah seorang Perwira Tentara langsung mengerahkan anggotanya untuk melacak keberadaan Roma. Dan langsung menuju tempat kejadian perkara.


"Badi bertahanlah. Bang Barman akan segera datang menolongmu." Batin Bara.


"Sudah, dan pihak polisi juga akan segera datang."


"Tolong katakan pada atasan kita kalau adikku sedang diculik sehingga nanti ketika polisi datang dia tidak terkejut dan bertanya-tanya. Katakan juga pada yang lain agar tetap tenang."


"Baiklah."


...🍥🍥🍥...


Rekaman Roma diculik


"Lepas, lepaskan aku. Bang Tommy tolong aku. Bang Bara tolong aku." Roma berontak untuk untuk masuk ke mobil.


"Diam, kekasihmu itu sudah pingsan bagaimana caranya dia menolongmu. Hahaha." Pria yang menculik Roma itu menertawakan Tommy yang pingsan akibat pukulannya. Sebut saja namanya Penculik 1.


"Kau cantik dan sempurna wajar saja dia cemburu padamu." ucap seorang Penculik 2 yang duduk disebelah Roma.


"Cepat ikat mulut dan matanya." Perintah sang Bos Penculik.


"Kalian mau apa? Lepaskan aku." teriak Roma namun percuma karena mulutnya sudah ditutup dengan lakban dan matanya ditutup dengan kain hitam.


"Kalian hati-hati, yang ku tahu dia itu seorang dokter. Dia pasti banyak koneksinya." ucap penculik 3.


"Kenapa? Kau takut?" tanya Penculik 1 yang meremehkan temannya itu.


"Kenapa juga dia harus cemburu dengan seorang gadis. Aneh." ucap penculik 2 tanpa menghiraukan ucapan teman-temannya.


"Apanya yang aneh. Mungkin saja dia itu suka dengan pria tadi dan tidak suka dengan hubungan mereka." jawab Penculik 1


"Kalian bisa diam tidak?" Bentak sang Bos Penculik. "Kalian itu bisa saja keceplosan membeberkan data pribadi klien kita. Apa kalian mau penculikan kalian terbongkar?"


"Sorry Bos." ucap ketiganya serentak.


Tak ada lagi pembicaraan yang penting dari mereka. Hanya terdengar suara mobil yang sedang mengebut dengan kecepatan tinggi.


*


*


*


*


Perusahaan PT. SP GROUP


Ken sedang memimpin rapat menggantikan Tommy, tersentak berdiri tiba-tiba dari bangkunya membuat para peserta rapat langsung gusar dan bertanya-tanya ada apa? Ken terkejut saat membaca pesan dari Tommy.


"Sinta tolong lanjutkan rapatnya." perintahnya pada Sekretarisnya. "Maaf saya tinggal sebentar." ucapnya pada peserta rapat yang sebagian besar adalah pemegang saham diperusahaan itu. Lalu keluar dari ruang rapat.


Ken langsung menghubungi Pak Yanto yang ditugaskannya untuk menjemput Tommy dibandara.


"Pak, apa Bapak sudah bersama Tommy?"


"Maaf Tuan, saya tidak melihat Tuan Tommy. Saya sudah menunggu disini dari dua jam yang lalu Tuan. Dan saya sudah menanyakan kepada petugas bandara kalau pesawat dari Silangit sudah mendarat sekitar satu jam yang lalu Tuan."


"Sial." umpat Ken. "Bapak segera pulang dan langsung menuju rumah Nona Roma, karena sepertinya Tommy diculik."


"Apa Tuan? Tuan Tommy diculik?" Pak Yanto tampak terkejut.


"Bagaimana ini, bagaimana mungkin Tuan Tommy bisa diculik? Bagaimana kalau aku dipecat karena lalai dalam tugas menjemput Tuan Tommy. Mana istriku lagi hamil tua. Oh Gusti cobaan apa lagi ini?" gumamnya dalam hati.


"Pak–, Pak Yanto? Apa Bapak masih dengar saya?" tanya Ken karena tidak mendengarkan suara Pak Yanto.


"Iya Tuan saya dengar. Saya akan segera pulang Tuan. Dan mencari keberadaan Tuan Tommy. Tapi bagaimana bisa Tuan Tommy diculik Tuan?" Pak Yanto merasa bingung karena dirinya sudah standby dari satu jam sebelum pesawat yang ditumpangi Tommy itu mendarat.


"Sepertinya ada yang pura-pura sebagai supir baru yang menjemput mereka Pak." Ken menerka yang terjadi pada Atasan yang sekaligus sahabatnya itu.


"Ya Allah Gusti. Kok ada orang sejahat itu ya? Ya sudah, saya segera mencari Tuan Tommy dulu Tuan."


"Baiklah–, hati-hati Pak. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya."


"Baik Tuan."


Setelah memutuskan panggilan teleponnya Ken langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Tommy dan melacak GPS handphone Tommy.


"Kenapa aku bisa lalai dan kecolongan begini? Batin Pak Yanto


Maaf ya untuk penggemar TFYL Author ga bisa Up setiap Hari


Karena Author di tuntut untuk pura-pura Sibuk.


Jangan Lupa Like ya 🤗 Terimakasih.


Selamat menunaikan Ibadah Puasa My Receh 😍