
Suasana di pabrik tua itu pun sangat menegangkan. Ditambah dengan angin kencang dan langit mendung menandakan akan turun hujan. Suara petir menggelegar menambah suasana jadi semakin mencekam. Sudah lebih dari 3 jam mereka menunggu tapi Bos penculik itu belum juga mau mengakui siapa orang yang telah membantu Bella.
Tommy pun memutuskan untuk menghubungi seseorang kepercayaan.
"Hallo dokter Chris–, Aku ingin tahu bagaimana kondisi pasien atas nama Sulaiha?" Lalu Tommy menekan tombol speaker agar seisi ruangan itu dapat mendengarkan pembicaraannya dengan dokter Christofel Afandi yang tak lain adalah orang kepercayaannya untuk mengurus rumah sakitnya.
"Sebentar Tuan saya buka rekam medisnya dulu." suara dokter Chris terdengar dari seberang sana.
Mata Bos penculik itu tampak gusar tapi ia tetap memilih untuk diam. Dia hanya mengepalkan tangannya yang terikat dibalik pinggangnya.
"Saat ini kondisi pasien sudah mulai membaik Tuan, tapi memang masih butuh perawatan khusus. Sekarang pasiennya sudah di pindahkan keruangan perawatan biasa Tuan." jelas dokter Chris.
Bos penjahat itu terkejut mendengar kondisi Ibunya sudah mulai membaik karena sebelumnya pasien yang bernama Sulaiha itu dirawat diruang ICU dengan kondisi yang sudah tak sadarkan diri bisa dikatakan kalau Ibunya itu koma. Sulaiha bisa bertahan hanya dengan bantuan peralatan medis yang dipasang hampir diseluruh tubuhnya.
"Siapa nama walinya?" Tommy menatap tajam kearah bos penculik itu.
"Anaknya Tuan, namanya Tio Handoko."
"Terimakasih dokter Chris, tolong pantau terus perkembangan kesehatannya dengan baik. Lakukan apapun juga untuk menolongnya dan untuk semua tagihan biayanya tolong gratiskan." Tommy bukanlah pria yang tega menyakiti orang yang tak berdaya dan itu membuat pria yang bernama Tio itu sedikit tersentuh hatinya.
"Baik Tuan–."
Tommy memutuskan sambungan teleponnya.
"Apa dia menolong Ibuku? Bukannya membunuhnya tapi dia malah membiarkannya bahkan menggratiskan biayanya? Oh Tuhan apa yang sudah kulakukan padanya?" Batin sang Bos Penculik menyesali apa yang sudah dilakukannya. Tapi apa daya dirinya pun terpaksa melakukannya.
"Jadi namamu Tio Handoko?" Tommy menatap tajam bos dari penculik itu. "Fer–." Fernando yang namanya dipanggil pun langsung mengerti apa maksud Tommy.
"Dia memiliki adik yang bernama Sinta Handoko Tuan, saat ini sedang duduk dibangku SMA Tuan. Dan sekarang adiknya tinggal pesantren Tuan."
"Apa? Bagaimana dia bisa tahu adikku? Identitasnya saja sudah ku sembunyikan rapat-rapat." Tio memang sudah menyembunyikan identitas adiknya itu baik dari siapapun. Dia sengaja mengirimkan adiknya untuk sekolah di pesantren supaya adiknya itu aman dan tidak mengetahui pekerjaan kotornya.
"Bawa adiknya kehadapanku sekarang juga." perintah Tommy tegas.
"Jangan, jangan sentuh adikku. Jangan ganggu dia. Ku mohon Tuan, jangan ganggu adikku." Akhirnya Bos penculik yang bernama Tio itu pun membuka mulutnya.
"Kenapa kau takut?" Tommy mencengkram kuat dagu Tio. "Apa kau takut aku menyakiti adikmu?"
"Tolong jangan sentuh adikku. Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua. Kalau kalian ingin membalas perbuatanku bunuh saja aku." Tio memohon untuk tidak menyakiti adiknya. Airmatanya berlinang dan lolos dipipinya.
"Kalau kau takut adikmu akan terluka.Tapi kenapa kau tidak takut memasangkan bom ditubuh kekasihku? Hah?" Tommy menghempas dagu Tio dari cengkeramannya dengan kasar. Tommy semakin emosi karena melihat linangan airmata dari pria yang menculik Roma. Tak mempan baginya karena menurutnya itu hanya airmata palsu agar Tommy mengasihaninya.
"Bom? Apa maksud anda Tuan? Kami hanya menyekapnya saja dibangunan bekas kebakaran yang ada di perkampungan Tembok Bolong Tuan. Kami tidak memasangkan Bom ditubuhnya. Kami hanya diperintahkan untuk menculiknya dan meninggalkannya dibangunan itu." jelas Tio. Dirinya terkejut saat Tommy mengatakan ada Bom yang terpasang ditubuh Roma. Karena mereka hanya diperintahkan untuk menculiknya saja.
"Kalau bukan kalian lalu siapa yang memasang Bomnya? Siapa yang membantu Bella? CEPAT KATAKAN." gertak Tommy dengan emosi yang meledak-ledak. Sudah sulit untuknya mengontrol emosinya bila mengingat kejadian yang menimpa kekasihnya itu.
"Maaf Tuan kami benar-benar tidak tahu. Yang memerintahkan kami adalah Nona Bella dan kami tidak tahu siapa yang membantunya. Tapi–." Tio menghentikan ucapannya sambil mengingat-ingat apakah ada yang terlewatkan dari perjanjiannya dengan Bella.
"Tapi apa?" Tommy sudah merendahkan nada bicaranya. Menantikan cerita selanjutnya dari Tio.
"Tapi Nona Bella yang merekomendasikan rumah sakit Citra Medistra sebagai tempat untuk Ibuku dirawat dan saya juga tidak tahu kalau rumah sakit itu milik anda Tuan. Hanya saja Nona Bella mengatakan kalau temannya bekerja sebagai dokter disana akan membantu kesembuhan Ibu saya Tuan. Sekali lagi maafkan kami Tuan. Kami benar-benar tidak tahu tentang Bom yang Tuan bicarakan tadi." Tio sudah mengatakan apa yang diketahuinya dan komplotannya memang benar-benar tidak mengetahui tentang Bom yang dibicarakan Tommy.
"Apa? dokter? Barusan kau bilang Bella mempunyai teman dokter yang bekerja dirumah sakit milikku?" Tommy mulai merasa ada titik terang dari apa yang dicarinya.
"Iya Tuan, tapi saya tidak tahu siapa namanya Tuan."
"Fer–." Dengan cepat Fernando melacak siapa nama dokter yang pertama kali menangani Ibunya Tio.
"Dokter yang menanganinya pertama kali adalah dokter Jeffri dan yang membantu pembayaran administrasinya adalah dokter Rendi." ucap Fernando.
"Pantas saja tatapannya lain saat berpapasan denganku tadi." Batin Tommy.
"Ken, kita balik ke rumah sakit sekarang." Ken yang mendapat perintah merasa aneh kenapa mereka harus kembali kesana.
"Kenapa kita harus kembali kerumah sakit?" Ken menatap heran kepada sahabatnya itu.
"Rendi, aku melihat Rendi dirumah sakit tadi." Tommy mulai panik dan buru-buru keluar dari pabrik itu.
Ken menghubungi Polisi dan menyerahkan Tio dan yang lainnya kepada pihak yang berwajib itu. Kemudian Ken menjelaskan kepada Polisi yang menangani kasus itu siapa-siapa saja yang terlibat dalam kasus itu. Dan pihak dari kepolisian langsung bergegas menangkap Bella dan juga Rendi.
...❇️❇️❇️...
Ken melajukan mobilnya dengan hati-hati. Karena Hari sudah gelap, hujan pun turun dengan deras dan angin kencang membuat jarak pandang hanya berjarak 5 meter kedepan.
Tanpa menunggu lama Tommy langsung menghubungi Barman.
"Ada apa kamu menelponku?" Suara Barman terdengar seperti baru bangun tidur.
"Apa Roma baik-baik saja? Apa ada yang menjenguknya?"
"Tentu saja dia baik-baik saja. Dan beberapa teman sejawatnya sudah mengetahui apa yang terjadi padanya dan langsung menjenguknya."
"Tolong lae, jangan biarkan orang lain masuk ke kamarnya."
Barman mendengar ada kecemasan dari nada bicara suara Tommy.
"Kamu tenanglah, sebelum orang masuk kekamar Badi, mereka sudah melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Badi aman dan dia sedang istirahat sekarang."
"Aku sudah tahu siapa dalangnya Lae–." Tommy menjeda ucapannya lalu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Orang yang ingin mencelakai Roma."
"Apa? Siapa? Dan dari mana kamu tahu? Polisi saja belum menemukan siapa yang harus mereka curigai." Barman terdengar emosi saat Tommy mengatakan kalau dia sudah mengetahui siapa dalang penculikan adiknya.
"Justru itu sekarang polisi sudah menuju kesana membawa surat penangkapan dokter Rendi. Dia teman Roma Lae dan tolong jangan biarkan Rendi masuk ke kamar Roma."
"Apa kau sudah gila? Rendi itu adalah teman Roma dan aku mengenalnya tidak mungkin dia melakukan itu kepada Roma." Tommy dikejutkan karena Barman tidak percaya dengan apa yang baru dikatakannya.
"Pelaku penculiknya sudah ditangkap Lae. Sekarang polisi sudah membawa mereka untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut."
"Lalu siapa penculiknya?"
"Mereka hanya sekomplotan preman yang dimanfaatkan Bella untuk menculik Roma. Dan mereka mengatakan ada seorang dokter yang membantu Bella dan itu adalah Rendi."
"Tapi itu tidak mungkin. Rendi tadi datang dan terlihat panik saat mengetahui Badi diculik dan disekap."
"Terserah lae mau percaya atau tidak. Tapi saat ini kasusnya sudah saya laporkan ke polisi dan mereka akan menangkap Bella dan juga Rendi. Sudah ada bukti yang kuat bahwa Rendi terlibat dalam kasus ini."
"Ok baiklah. Nanti akan ku selidiki lebih lanjut. Kalau memang dia terbukti melakukannya akan ku pastikan dia membusuk dipenjara dan ijin prakteknya juga akan dicabut.
"Tolong untuk saat ini jangan biarkan siapapun masuk keruangan perawatan Roma."
"Oke baiklah."
Maaf Readers baru bisa Up 😔
Jangan Lupa Vote dan Like ya 🤗
Tengkyu 😍