Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Thanks For Your Love



Setelah berjam-jam lamanya dipesawat akhirnya mereka sampai ke Korea. Tommy langsung membawa Roma ke salah satu hotel miliknya yang ada di Korea.


"Mas kita ga ke hotel SP Group?" Tommy menatap heran pada Roma ia merasa tidak pernah cerita pada istrinya itu kalau ada hotel SP Group disana.


"Kamu tau dari mana dek, kalau disini ada hotel SP Group?" Sambil terus berjalan mengikuti petugas hotel yang membawa barang-barang mereka.


"Sewaktu masih kuliah di London dulu, Zia pernah bawa kami menginap di hotel itu Mas." jawab Roma jujur.


"Ooo–."


"Kok Oo doang mas–?" Pintu lift terbuka mereka telah sampai dilantai kamar tempat mereka akan menginap beberapa hari kedepan.


"Iya hotel itu sekarang milik Zia, sayang. Dan mas ga mau kita menginap disana. Kita menginap di sini aja, Namsan SP Hotel." sambil memberikan tip kepada pelayan itu. "Gamsahabnida" ucap pelayan itu. Tommy pun membalas dengan menundukkan sedikit kepalanya. Kemudian pelayan itu undur diri.


"Kenapa kita harus menginap dihotel ini Mas, kalau di hotel Zia kan bisa dapat diskon." Roma mengedarkan pandangannya melihat kesekeliling kamarnya.


"Diskon?" Tommy mengerutkan dahinya. "Disini kita gratis sayang."


"Kok bisa mas?" Roma tampak terkejut lalu berjalan mendekati suaminya.


"Karena hotel ini milik suamimu ini." Tommy memeluk Roma sambil menoel hidung Roma.


"Hah? Beneran mas? Bagus banget loh mas hotelnya. Ini beneran punya mas atau punya Papi?" Roma masih tidak percaya, ia sangat kagum dengan interior bangunan hotel itu apalagi hotel itu berada di Namsan yang juga dengan dengan Namsan tower.


"Punya mas sendiri, kalau punya Papi juga ada. Tapi di kota lain bukan disini." Roma mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kamu tau ga kenapa semua perusahaan Papi itu dikasih nama SP?" Roma menggeleng-gelengkan kepalanya. "SP itu singkatan nama suamimu ini sayang, SAIN PRAYOGA."


"Masa sih Mas?"


"Iya! Ga percaya?" Roma terdiam lalu duduk disebelah Tommy. Bersiap mendengarkan cerita suaminya itu. "Itu karena hanya aku pewaris tunggal dikeluarga Prayoga. Mas akan cerita semuanya, tapi janji ya kamu ga marah."


"Hmm–." Roma mengangguk cepat.


"Dulu aku dipaksa menikah oleh Papi, aku ga tahu kalau ternyata Papi sudah tahu tentang penyakitku. Sehingga Papi mengancam jika aku ga segera menikah maka seluruh harta kekayaan Prayoga akan di sumbangkan ke panti Asuhan." Tommy memeluk Roma kemudian melanjutkan ceritanya.


"Saat itu aku ga rela, karena saat itu aku juga sudah bekerja keras untuk memajukan perusahaan. Dan itu sebabnya aku menerima menikah dengan Zia. Untuk menutupi penyakitku yang dulu."


"Semoga itu kesalahanku yang pertama dan yang terakhir." jelas Tommy. Roma tidak lagi mempermasalahkan masa lalu suaminya itu karena sedikit banyaknya ia sudah tahu semua tentang masa lalu suaminya.


"Dan hotel itu adalah pemberian Papi untuk Zia sebagai rasa bersalahnya Papi karena telah menyetujui keinginan temannya itu untuk menikahkan putrinya denganku."


"Papi dan almarhum Ayahnya Zia itu bersahabat makanya setelah bercerai Mami tidak pernah putus silaturahmi karena Mami dan Papi sangat menyayangi Zia seperti anak kandungnya sendiri." Tommy sangat bersyukur bisa menjadikan Roma sebagai istrinya. Wanita yang bisa menerima kekurangannya dan sangat mencintainya.


Roma melepaskan pelukan Tommy dan menatap wajahnya.


"Terus boleh aku tahu selama beberapa hari ini mas pergi kemana?"


Deg.


Tommy lupa kalau dia belum menjelaskan apa-apa pada istrinya perihal kepergiaannya.


"Mas akan ceritakan tapi sebelumnya kita makan dulu yah. Mas lapar–." Tommy belum siap untuk menceritakan kepergiannya beberapa hari lalu.


Roma menganggukkan kepalanya kemudian mereka bersiap untuk makan malam direstoran hotel itu.


*


*


*


*


*


*


Setelah selesai makan malam Roma baru teringat kalau dia belum membeli pembalut untuknya.


"Mas, aku lupa belum beli pembalut temenin aku dulu yah cari pembalut." pinta Roma sambil merapikan bajunya.


"Oke." Mereka memilih berjalan kaki, karena mini market yang akan mereka tuju ada diseberang hotel. Tommy terus menggenggam tangan Roma, ia tidak ingin terpisah dengan istrinya.


Saat memasuki mini market, Roma membeli beberapa keperluannya sementara Tommy mengikutinya dari belakang sambil mendorong keranjang belanja. Tommy pun ingat kalau dia belum mencari tahu apa itu pembalut. Tommy membuka aplikasi yang serba tahu itu lalu mengetiknya dikolom pencarian.


"Pembalut wanita adalah sebuah perangkat yang digunakan oleh wanita di saat menstruasi, ini berfungsi untuk menyerap darah dari v*g*na supaya tidak meleleh ke mana-mana." tanpa sadar Tommy membaca pelan arti dari pembalut itu, ia pun melihat bagaimana contoh prosesnya melalui aplikasi YouTube.


"Mas, apaan sih malu tahu. Bacanya jangan keras-keras." protes Roma sambil menutup mulut suaminya.


"Mereka juga ga ngerti sayang apa yang aku baca." Tommy melanjutkan membaca artikel itu. "Sayang ternyata banyak juga wanita yang menderita karena menstruasi ya? Mas baca ini ada yang sakit pinggang lah, senggugutan sampe nungging-nungging, nyeri dibagian perut lah. Kamu gitu juga ga Sayang?" Roma hanya tersenyum melihat raut wajah Tommy yang khawatir akan dirinya.


"Aku ga apa-apa Mas, cuma memang kadang sering ga mood aja, mau tiba-tiba bawaannya bete. Terus kalau masalah sakit pinggang atau sakit perut sih ga pernah, tapi seringnya sakit di bagian dada pas menjelang datang bulan saja." jelas Roma.


"Itu bahaya ga?"


"Itu normal, sebagian wanita memang mengalami hal itu tapi kebanyakan juga enggak. Tapi ada juga yang mengalami seperti yang mas baca tadi."


"Kamu kalau sakit bilang ya Sayang, jangan ditahan sendiri. Mentang-mentang kamu dokter jangan diobatin sendiri. Kamu harus bilang sama aku." Raut wajahnya masih sama terlihat sangat khawatir.


"Iya suamiku–." Roma menangkup wajah Tommy. "Aku udah belanjanya, sekarang tinggal bayar Mas–."


"Iya, yuk–!" Tommy mendorong keranjang belanjaannya ke tempat kasir.


Setelah membayar total belanjaannya, mereka kembali ke hotel.


"Mas sini aku bantuin bawa sebagian." Roma ingin mengambil satu kantong kecil dari tangan Tommy, tapi Tommy tidak membiarkannya.


"Ga usah biar mas aja, nanti kamu capek."


"Kan ga berat yang ini mas–." Roma melihat bungkusan yang tidak terlalu besar.


Setelah sampai di kamar hotel, Roma langsung mandi karena sudah merasa tak nyaman dibagian sensitifnya itu.


Tommy pun memberitahu pada mertuanya kalau mereka sudah sampai di Korea dengan selamat. Setelah menelpon mertuanya Tommy juga menghubungi Orangtuanya dan juga Ken, memberitahu kalau dirinya belum tahu kapan akan pulang tapi jika ada meeting mendadak ia akan mengikutinya virtual saja.


"Mas, aku udah siap nih. Mas gantian gih mandi–, bathtub nya udah aku isi air hangat." Roma keluar hanya menggunakan jubah mandi, dirinya lupa untuk membawa pakaian gantinya membuat Tommy dengan susah payah menelan salivanya.


"Terimakasih ya Sayang, tapi jangan pancing-pancing mas dengan hanya berpakaian begini dong, nanti mas bisa ga tahan." ucapnya lalu mencium puncak kepala istrinya itu. Kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi mereka memilih untuk istirahat sebelum besok mulai melakukan perjalanan keliling Korea.


"Oya mas, tadi mas belum cerita kemana mas pergi beberapa hari yang lalu." Roma yang berada dalam pelukan suaminya itu pun teringat pada janji Tommy yang akan memberitahukan kemana perginya suaminya itu beberapa hari lalu.


"Apa Roma bisa menerimanya kalau aku cerita sekarang?"


"Mas akan cerita sama kamu. Tapi sebelumnya mas ingin minta maaf sama kamu." Roma mengernyitkan dahinya.


"Kenapa mas minta maaf mas?" menatap Tommy dengan penuh tanda tanya.


"Karena setelah mas cerita pasti kamu akan kecewa sama mas. Hanya saja apapun nanti keputusan mu, mas mohon jangan tinggalkan mas ya?" pinta Tommy lirih.


"Mas Tommy mau cerita apa sih? Kenapa dia sampai berkata seperti itu? Apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Mas Tommy?"


Tommy bangun lalu duduk bersandar ditempat tidur, dan Roma pun ikut bersandar.


"Kamu tahu? Aku merasa aku adalah pria yang paling beruntung bisa mencintai dan dicintai sama kamu."


"Mas bersyukur bisa memilikimu yang bisa menerima segala kekurangan ku."


"Mungkin jika Mas ceritakan ini kamu akan kembali kecewa denganku."


Roma meraih tangan Tommy dan menggenggamnya.


"Kenapa mas berkata seperti itu? Mas belum cerita dan bagaimana mungkin mas bisa menyimpulkan kalau aku akan terluka sementara aku belum tahu apa yang ingin mas ceritakan."


"Sandy terkena HIV." Refleks Roma melepaskan genggaman tangannya, Tommy tersenyum getir.


Tommy menghela nafasnya dengan berat. Ia tahu akan berat bagi Roma untuk menerima kenyataan ini.


"Dan itu salah satu alasannya kenapa dia ingin mati didepanku. Dia ingin mengakhiri penderitaannya sebelum penyakit itu menggerogoti tubuhnya."


Tommy melihat ada kegelisahan dimata Roma.


"Mas udah melakukan kesalahan dan banyak dosa dimasa lalu, itulah sebabnya Mas pergi meninggalkan mu."


"Aku merasa sangat bersalah padamu dek–, aku merasa aku ini terlalu hina untuk wanita sebaik kamu. Dimalam pertama kita sampai ke Indonesia aku mengurung diri di ruang kerjaku bukan karena aku menangisi kematian Sandy. Tapi aku takut, aku takut akan menyakitimu. Aku takut penyakit itu juga ada ditubuhku. Malam itu aku benar-benar menyesal sudah menggaulimu." tutur Tommy airmatanya pun tak dapat dibendungnya lagi.


"Tapi tadi malam Mas juga melakukannya–." reaksi yang sudah Tommy prediksi. Pasti ada penolakan dari istrinya itu. Airmata Roma sudah membasahi pipinya.


"Sayang–, aku mohon dengarkan aku dulu." Tommy menghapus airmatanya dan airmata istrinya.


"Justru, karena aku tidak ingin melukaimu aku meninggalkanmu. Aku pergi ke Singapura untuk melakukan pemeriksaan kesehatan disana Sayang. Dirumah sakit tempat Sandy berobat."


"Saat itu pikiranku kacau, aku ingin cerita padamu tapi aku takut reaksimu akan seperti ini."


"Aku sudah melakukan pemeriksaan dan hasilnya negatif. Dokter Adam mengatakan kalau hasilnya negatif aku tidak menderita HIV sayang."


"Maafkan aku–." Tommy memeluk Roma tidak ada penolakan dari istrinya itu.


"Kenapa mas menanggungnya sendirian, Kenapa Mas tidak cerita dari awal Mas? Apa Mas tidak sepercaya itu samaku?"


"Kenapa mas tidak cerita dari awal? Aku bisa menemanimu berobat Mas? Apa Mas masih ga percaya kalau istrimu ini juga dokter?"


"Bukan, bukan begitu sayang. Aku hanya terlalu bersalah padamu. Dan itu yang membuat aku tak sanggup untuk bercerita padamu."


Roma menangkup wajah Tommy.


Cup.


Roma mencium bibir Tommy.


"Terimakasih karena sudah mencintaiku."


Cup.


"Terimakasih karena bersedia menjadikanku istrimu."


Cup.


"Terimakasih karena sudah menerima segala kekuranganku."


Cup.


"Terimakasih karena sudah jujur padaku."


Cup.


"Terimakasih atas pengakuanmu."


"Sayang udah dong, kamu tuh udah membangunkan yang seharusnya tertidur nyenyak."


"Hehehe–. Maaf!"


Cup.


"Aku yang seharusnya minta maaf dan berterimakasih padamu. Thanks For Your Love." Tommy memeluk lalu mencium bibir Roma dengan lembut.


Hooaaammmm Author ngantuk butuh Kopi dong!!"