
Pesta kedua digelar setelah Ba'da Ashar. Roma terlihat Cantik dengan busana pengantin adat Batak Mandailing. Roma memakai Bulang yang merupakan salah satu ikon budaya Batak Tapanuli Selatan atau Mandailing.
Selain ulos, penampilan Roma tampak istimewa dengan bulang yang bertengger di atas kepalanya. Bulang adalah mahkota berbentuk tanduk bertingkat dan biasanya berlapis emas yang biasa dipakai pengantin etnis Mandailing dari Sumatera Utara.
Bulang ini melambangkan tugas atau tanggung jawab tidak ringan yang akan diemban seorang istri dalam kehidupan berumah tangga.
Sedangkan Tommy juga tampak gagah dengan mengenakan pakaian adat Mandailing dan tutup kepala yang memiliki nama ampu. Jika dahulu, ampu tersebut adalah penutup kepala yang secara khusus dikenakan oleh para raja. Sehingga bisa dikatakan apabila penggunaan dari ampu ini bisa memberikan nilai kebesaran bagi siapa saja yang menggunakannya. Warna hitam yang terdapat pada Ampu memiliki fungsi magis sedangkan warna emas menunjukkan simbol kebesaran.
"Berat ga dek?" Tommy sangat kagum melihat kecantikan Roma yang memakai bulang dikepalanya.
"Lumayan Bang, ini ga lama kan ya pakai baju ini?" Mereka berdua asyik bicara sendiri dibangku singgasananya.
"Kalau Abang lihat kamu, perasaan Abang jadi kepala Abang yang berat."
"Berapa jam nanti Roma pake beginian Bang?"
"Itu kan permintaan kamu dek, pake pakaian adat Mandailing."
"Iya sih, ga nyangka ternyata berat Bang. Gimana ya wanita-wanita jaman dulu waktu pakai bulang begini sampai berjam-jam. Aku pake yang palsu aja udah berat. Jaman dulu bulang ini terbuat dari emas Bang sekarang mah kebanyakan dari logam jadi beratnya ga seperti bulang jaman dulu."
"Ya udah kamu sabar aja. Sebelum magrib acaranya udah selesai. Tapi lanjut lagi nanti malam. Kalau boleh jujur Abang pengen udahan aja."
"Kok gitu sih Bang? Tapi kenapa juga undangannya sebanyak ini sampai 3 kali buat acaranya?"
"Acara sore ini kan permintaan Bapak sama Mamak dek. Kalau Abang maunya selesai ijab qobul langsung ke acara resepsi nanti malam."
Ketika sedang asyik ngobrol berdua tiba-tiba Ken datang membisikkan sesuatu pada Tommy.
"Apa bagaimana bisa?" Tommy tampak kaget.
"Ada apa Bang?" Roma penasaran ketika melihat ekspresi wajah Tommy yang berubah jadi panik.
"Lo tenang aja, semua udah beres. Syukurnya Fernando langsung mengenali wajah orang itu, meskipun dia memakai penyamarannya."
"Cepat lo urus dia jangan sampai dia buat keributan disini. Oya satu lagi jangan sampai Mami tahu, bisa shock nanti Mami kalau sampai tahu hal ini." Perintahnya pada Kendrick.
"Ada apa sih Bang?" Roma yang sudah penasaran dari tadi saat Ken membisikkan sesuatu ditelinga Tommy.
"Bella ada disini. Tadi dia menyamar dan syukurnya Fernando langsung mengenalinya."
"Kok bisa Bang? Bukannya Bella dipenjara Bang?"
"Sepertinya Om Smith membebaskannya dengan jaminan."
"Kok bisa sih Bang?" pertanyaan itu lagi yang diulang Roma.
"Entahlah, Kamu tenang saja dia tidak akan berani berbuat macam-macam disini karena saat ini Ken sedang menanganinya."
"Aku takut Bang, aku takut Bella tidak datang sendirian."
"Ada apa Badi?" Barman langsung menghampiri Roma diperlaminan ketika melihat ada yang tidak beres dari raut wajah adiknya itu.
"Bella ada disini Lae, tapi sudah ditahan oleh asisten ku Ken, hanya saja Roma takut kalau Bella datang tidak sendirian." sahut Tommy lalu menjelaskan kejadian yang didengarnya dari Kendrick.
"Kamu tenanglah Badi, Hotel ini sudah dijaga ketat oleh pasukan TNI dan Kepolisian. Nanti Abang akan selidiki bagaimana bisa dia lolos dari pengawasan keamanan disini."
"Dia menyamar lae." sahut Tommy lagi.
"Ya sudah kalian tenang saja. Biar kami yang menanganinya." ucap Barman lalu mengajak ketiga adik laki-lakinya untuk melakukan pengecekan CCTV hotel.
Acara sore dengan pakaian adat Mandailing pun selesai dan berjalan dengan lancar. Tinggal acara resepsi malam dan bisa dipastikan tamu undangan lebih banyak dari tamu-tamu sebelumnya.
💖
💖
💖
💖
💖
Keamanan hotel pun semakin diperketat penjagaan oleh pihak kepolisian maupun TNI dan dibantu beberapa orang anak buah Tommy dan juga para security hotel.
Dikamar Roma sedang di make-up untuk pesta terakhir mereka, hanya riasan simpel diwajahnya tapi masih tetap terlihat cantik.
"Waah Roma lo cantik banget. Selamat yah!!!" seru Mitha dan Gina yang baru saja tiba. Mereka baru sempat hadir malam itu dan tidak dapat menyaksikan saat acara akad nikah sahabatnya itu karena Gina yang tinggal dibandung sementara Mitha baru selesai shif jaga pagi, siang tadi.
"Makasih ya, kalian udah dateng. Kirain kalian ga bisa datang." ucap Roma sambil mencium pipi kedua sahabatnya itu bergantian.
"Mana anak lo Gin?" tanya Zia yang sedang di make-up oleh salah satu asisten MUA.
"Ada sama laki gue dibawah." sahut Gina.
"Lo kapan nyusul Mit? Kirain lo duluan eh malah keduluan Roma." celetuk Rara yang tak tahu kalau sahabatnya itu sedang patah hati karena Robby kekasihnya ternyata lebih memilih wanita pilihan orangtuanya.
"Ssstttt–, Lo ketinggalan berita banget sih sejak jadi emak-emak." bisik Gina pada Rara. "Si Mitha gagal nikah sama cowoknya." gumam Gina pelan.
"Gue masih bisa denger Ginaaa–, ga usah pake acara bisik-bisik deh. Nih gue umumin yah. Sekarang gue JOMBLO, cowok gue Robby lebih memilih cewek pilihan nyokapnya dibandingin gue. Katanya gue dokter yang ga punya masa depan, sementara cewek pilihan nyokapnya itu seorang wanita karir alias bisnis woman. UDAH JELASSS????" ucap Gina sambil memberi tekanan disetiap kalimatnya.
"Sabar ya Mit, maaf loh gue beneran ga tahu." ujar Rara jujur karena dirinya memang tidak tahu kabar tentang sahabatnya itu.
"Mau gue comblangin sama asisten suami gue nggak?" usul Roma.
"Siapa?" tanya Zia, Rara dan Gina bersamaan.
"Kendrick–." ucap Roma dan disaat yang bersamaan pria itu datang bersama suaminya.
"Iya Nona ada apa?" Kendrick yang mendengar namanya disebut langsung bertanya kepada Roma. Sementara Gina dan Mitha terpaku dan terpana melihat ketampanan pria yang memanggil Roma dengan sebutan Nona itu. Sedangkan Zia dan Rara yang sudah sering bertemu dengan Kendrick menatapnya biasa saja.
"Baik–. Selamat ya Kak atas Pernikahannya." jawab Mitha sambil mengalihkan pandangannya kepada Roma.
"Selamat ya Kak, Semoga SAMAWA–." ucap Gina.
"Terimakasih."
"Oya Ken, Lo belum kenal kan sama Gina dan Mitha? Ini teman-temannya Zia dan juga Roma." ucap Tommy
Sebelum masuk ke dalam kamar, Tommy sempat mendengar pembicaraan istrinya dan juga teman-temannya, begitu juga dengan Kendrick. Tapi saat Roma menyebut nama pria yang akan dicomblangin kesahabatnya itu adalah dirinya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka sebelumnya.
"Gina–." ucap Gina sambil mengulurkan tangannya. "Cakep Rom–." gumamnya pelan tapi masih terdengar oleh mereka yang berada diruangan itu. Membuat yang empunya nama tersenyum manis.
"Ingat anak sama laki woi–." sindir Rara.
"Kendrick." jawab Ken sambil membalas uluran tangan Gina.
"Kendrick–." Kali ini Ken yang lebih dulu mengulurkan tangannya pada Mitha.
"Mitha." sahut Mitha sambil membalas uluran tangan Ken.
"SAH–." ucap Tommy membuat Roma dan teman-temannya langsung tertawa kecuali Kendrick dan Mitha yang saling celingukan.
"Apaan sih Lo Tom." ucap Kendrick sambil meninju lengan Tommy pelan. Tapi hanya dibalas senyum tawa oleh Tommy.
"Acaranya udah mau mulai dek, kita turun sekarang yuk. Para tamu undangan juga udah pada dateng." ajaknya pada Roma. Pandangannya tak pernah berpaling selalu menatap pada wajah cantik istrinya itu.
"Iya Bang, bentar ini tinggal dirapiin dikit lagi." Asisten MUA itupun dengan cepat memasang mahkota kecil di kepala Roma.
Roma terlihat cantik bak putri raja, begitu juga dengan Tommy yang gagah dengan setelan jas nya membuatnya terlihat begitu tampan. Siapa sangka kalau pria tampan itu adalah mantan seorang gay.
Tidak ada yang tahu tentang penyakit lamanya itu kecuali keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Malam resepsi pernikahan mereka pun selesai dan berjalan dengan lancar. Keduanya terlihat begitu lelah dan memilih untuk langsung beristirahat di kamar hotel mereka.
Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan bahwa lusa mereka akan mengadakan Famillymoon karena bukan hanya pasangan pengantin baru itu saja yang akan honeymoon tapi semua mereka keluarga besar Prayoga.
Membayangkannya saja membuat semua pasangan itu sangat antusias. Zia dengan Candra, Zio dengan Rara, Gina yang baru saja dikabari ternyata juga memilih untuk ikut bersama suaminya. Begitu juga dengan saudara-saudara Roma akan turut ikut bersama pasangannya. Semua yang memiliki anak tentu saja akan membawa anak mereka masing-masing. Begitu juga dengan Berta dan Togar yang tak ingin ketinggalan dengan pasangan-pasangan muda lainnya.
Mitha ingin sekali ikut, tapi karena diantara teman-temannya hanya dirinyalah yang belum menikah sehingga membuatnya minder dan mengurungkan niatnya untuk ikut. Namun pertanyaan tak terduga datang dari pria tampan itu.
"Mau kah kamu ikut sebagai pasangan ku?" tanya Kendrick pada Mitha dan wanita mana yang bisa menolak pesona pria tampan itu.
Dan dapat dipastikan kalau saat Famillymoonnya nanti itu akan menjadi kado terindah dihari pernikahannya.
"Mikirin apa sih dek, senyum-senyum sendiri gitu?" pertanyaan Tommy membuyarkan lamunan Roma dan hanya dibalas senyuman gelengan kepala oleh Roma.
Dipeluknya wanitanya itu lalu di ciumnya keningnya, lalu turun ke-kedua matanya, ke pipinya kemudian dibibirnya. Tommy mencium bibir Roma dengan lembut, Roma pun membalas ciuman suaminya itu, membuka mulutnya agar Tommy bisa memasukinya lebih dalam. Kedua lidah mereka saling beradu dan saling bertukar saliva mencari kenikmatan tersendiri. Tangan Tommy berpindah pada kedua bukit kenyal milik istrinya itu. Dan saat keduanya sedang berada dipuncak gairah tiba-tiba saja.
Ting Tong Ting Tong
Bunyi bell kamar hotel, ternyata mereka lupa menonaktifkan bunyi bell kamarnya.
"Siapa juga yang datang malam-malam begini. Mengganggu saja." gerutu Tommy.
"Di buka dulu mas– siapa tahu ada yang penting." ucap Roma malu.
"Apa dek? Mas? Ulangi lagi dek–." pinta Tommy manja sambil menggoda istrinya itu.
"Di buka dulu pintunya." Roma mendorong tubuh Tommy supaya turun dari tempat tidur. Ia sengaja tidak mengucapkan kata itu lagi. Karena baru sekali disebut suaminya itu sudah menggodanya sehingga membuatnya malu.
Tommy berjalan ke pintu dan ternyata pelayan Hotel datang untuk memberikan sebuah kado berbentuk kotak besar yang dititipkan tamu undangan mereka.
"Siapa mas?" Tommy kembali tersenyum saat mendengar Roma kembali memanggilnya dengan sebutan mas.
"Pelayan hotel, nganterin ini." Tommy menunjukkan kado yang ditangannya.
"Dari siapa mas? Perasaan semua kado udah dibawa pulang semua."
"Ga tahu, ga ada nama pengirimnya, tapi disini memang ada nama kita berdua."
"Dibuka dulu mas."
"Besok aja, aku lebih pengen buka punya kamu." goda Tommy.
"Iiih, penasaran tahu mas apa isinya?"
"Aku lebih penasaran sama punya kamu dek."
"Di buka mas, kalau ga mau sini aku yang buka." Roma pun mengambil kado yang sudah diletakkan Tommy diatas meja hias kamar hotel itu.
Dengan rasa penasaran Roma membuka bungkus kado itu, ternyata didalamnya masih ada kotak lainnya. Dibukannya lagi bungkus kado itu dan masih ada kotak lagi. Dan sudah kotak ke empat yang dibukanya. Saat membuka kota yang kelima yang besarnya seperti kotak sepatu Roma menjerit histeris saat melihat isi dalam kotak itu ternyata tikus mati yang berdarah-darah.
Roma ketakutan, Tommy langsung memeluknya kemudian dilihatnya sebuah kertas yang bertuliskan dengan noda darah.
"SELAMAT ATAS PERNIKAHAN MU. KU DOAKAN SEMOGA KALIAN TAK BAHAGIA. DAN TUNGGU PEMBALASANKU."
Dari orang yang sudah kau buat terluka.
"Shiiittt, siapa juga yang udah buat lelucon kayak gini?" gerutu Tommy.
"Itu bukan lelucon mas–, itu TEROR!!" ucap Roma ketakutan.
Njut Besok yach 😍
Author butuh Vote dan Coffee buat begadang😂