Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Maafkan Aku Harus Pergi



8 Jam Setelah Keberangkatan Zia kembali ke Indonesia bersama Mita, Ken dan Chandra suaminya.


Setelah kepergian Ken dan Fernando, Mita pun pamit untuk pulang lebih dulu dengan menggunakan mobil Ken yang terparkir di Basement 2B.


"Tunggu disini, aku ambil mobil dulu." ucap Chandra pada Zia Istrinya. Tapi Zia hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan suaminya itu.


Tak berselang lama Chandra sudah berada tepat didepannya. Dimasukkan kopernya ke dalam bagasi. Zia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya tanpa menunggu suaminya itu membukakan pintu untuknya.


Tak ada yang memulai untuk bicara, masing-masing terasa enggan untuk memulai pembicaraan diantara mereka.


Sampai akhirnya ponsel Zia berdering memecahkan keheningan mereka, dilihatnya nama Ibunya yang tertera disana. Lalu digesernya tombol hijau itu.


"Assalamualaikum Bun, gimana keadaan Chessy Bun?" tanya Zia begitu mengangkat teleponnya.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah Chessy demamnya udah turun. Sekarang juga udah bisa main sama mbak Sari." jawab Siska dari seberang telponnya.


Mbak Sari adalah babysiter yang membantu Zia untuk merawat putrinya.


"Ini Zia udah dijalan mau pulang Bun."


"Ya udah hati-hati ya. Ini Bunda juga lagi masak. Assalamualaikum." Siska tidak terkejut lagi saat mendengar putrinya itu sudah pulang. Karena sebelumnya Zia sudah memberitahu kepulangannya lebih dulu dari pada rombongan lainnya.


"Waalaikumsalam–." Zia pun memutuskan panggilan teleponnya.


"Udah gimana keadaan Chessy?" Chandra penasaran dengan keadaan putrinya itu.


"Baik–." sahut Zia malas.


"Sayang–."


Haitinya berdesir saat suaminya itu memanggilnya. Tapi Zia tidak menjawab panggilan suaminya itu. Ia memejamkan matanya menghindari percakapan dengan suaminya. Masih terasa sesak didadanya jika melihat kejadian saat semua orang menyudutkannya suaminya hanya diam saja. Malah tidak percaya kepadanya.


"Mas tahu kamu kecewa sama Mas, tapi sebesar apapun kecewamu sama mas, Mas lebih kecewa padamu Zia."


"Apa kamu ga pernah berpikir bagaimana penilaianku tentangmu dari sudut pandangku berfikir?" Chandra tahu kalau Zia tidak tidur, istrinya itu hanya ingin menghindarinya.


"Semua yang kamu lakukan itu memang tidak salah jika niatmu hanya ingin menolong Sandy. Tapi setidaknya hargai aku sebagai suami kamu? Apa kamu tidak percaya sama mas, sehingga kamu lebih memilih Bunda untuk tempatmu bercerita?"


"Mas ga menyalahkan kamu cerita ke Bunda dan Mas juga ga melarang kamu untuk curhat ke Bunda dan meminta pendapat Bunda, tapi setidaknya kamu harus kasih tahu mas apa yang sudah kamu lakukan selama ini pada Sandy."


"Apa kamu tidak melihat bagaimana aku tadi didepan semua orang?" Chandra meluapkan segala kekesalannya, ia ingin membuka sedikit pemikiran istrinya itu tentangnya.


"Aku terlihat suami yang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang istriku. Tidak tahu apa yang istriku lakukan selama ini."


"Aku ingin membantumu tadi, ketika semua orang menyudutkanmu. Tapi bagaimana caraku untuk membantumu? Sementara aku sendiri tak tahu apa yang sudah kamu perbuat selama ini?"


"Aku tahu kalau waktuku banyak terbuang diluar karena pekerjaanku, waktuku untuk mu dan untuk keluarga kita itu sangat sedikit."


"Tapi kalau memang kamu kecewa sama mas karena kamu pikir mas ga percaya sama kamu. Kamu salah, mas sangat percaya sama kamu Zia, tapi mas yang merasa kalau kamu yang ga percaya sama Mas." lirih Chandra.


Airmata Zia menetes, dirinya tak pernah berpikir kalau suaminya itu ternyata juga terluka karena tindakannya itu.


"Maafkan Zia Mas–." Lirihnya dalam hati. Tak mampu rasanya untuk mengatakannya.


Mata Zia tetap terpejam hingga akhirnya mereka sudah sampai dirumah.


"Turunlah, hapus airmata kamu kalau kamu tidak ingin Bunda berpikir kalau aku yang menyakitimu." Chanda membukakan pintu untuk istrinya. Lalu berjalan kedalam mencari putrinya tercinta.


"Chessy– Papa pulang sayang." ucapnya saat melihat putrinya itu sedang disuapi makan oleh mbak Sari.


"Papa–." Chessy berlari menghampirinya. Chandra langsung menggendong putri kecilnya itu.


"Sini mbak biar saya yang lanjutin suapi Chessy." ucapnya lalu mbak Sari pun memberikan piring makan putrinya.


Sementara Siska melihat putrinya itu sedang murung. Siska mendekati Zia putrinya.


"Kamu ada masalah apa? Suamimu marah karena kamu ga kasih tahu dia kalau kamu yang ingin menolong Sandy?" Siska sudah menebak apa yang terjadi pada rumah tangga putrinya itu.


"Maafkan Zia Bun, Zia yang salah." Zia berbaring dipangkuan Siska Ibunya. Siska pun membelai lembut rambut putrinya itu. "Mas Chandra kecewa sama Zia Bun. Tadinya Zia pikir Mas Chandra ga percaya sama Zia Bun. Tapi ternyata Zia yang salah Bun. Zia salah ga pernah cerita sama mas Chandra tentang Sandy Bun. Zia harus gimana Bun?" Zia menangis rasa bersalahnya kepada suaminya itu sangat besar.


"Kamu minta maaf saja dengan suamimu. Bunda tahu kalau Chandra itu anak yang baik dan sangat sayang sama kamu dan juga Chessy. Dari awal Bunda sudah ingatkan kamu untuk meminta pendapat suamimu dulu. Bunda kirain Chandra sudah tahu semuanya." Dari awal Siska sudah mengingatkan kepada putrinya itu untuk meminta pendapat suaminya dulu, ia tidak menyangka kalau putrinya itu belum memberitahu suaminya.


"Zia lupa Bun, apalagi setiap mas Chandra pulang kerja mas Chandra terlihat lelah, rasanya tak ingin menambah bebannya lagi Bun."


"Apa kamu sudah minta maaf pada suami kamu?" Zia menggelengkan kepalanya.


"Bangun dan minta maaf sana. Ga baik suami-istri itu lama-lama marahannya. Ibu akan bawa Chessy jalan-jalan sama mbak Sari." ucap Siska sambil membantu putrinya itu bangun dari pangkuannya.


"Sari–." panggil Siska.


"Iya Bu." sahutnya ketika sudah berada didekat Siska.


"Kamu siap-siap, kita bawa Chessy jalan-jalan."


Tanpa bertanya dan membantah Sari langsung mengerjakan perintah Ibu dari majikannya itu. Sementara Siska langsung mendatangi menantunya yang sedang bermain bersama cucunya.


"Iya Bun–." sahut Chandra sambil menyerahkan putrinya kepada Ibu mertuanya.


Siska dan Sari pun pergi membawa Chessy jalan-jalan ke taman bermain anak yang ada di dekat komplek perumahan mereka.


Setelah kepergian Ibu mertuanya itu Chandra melihat istrinya sedang menyiapkan makan siang.


"Kamu lagi apa Sayang?" Chandra mendekati Zia yang sedang menyendokkan nasi kedalam piring.


"Siapin makan Mas–, Bunda masaknya banyak. Mas mau lauk apa?"


"Ternyata dia ga mendiamkan aku lagi."


"Ikan aja." Zia mengambilkan lauk Ikan bakar kesukaan suaminya itu. Lalu meletakkannya didepan suaminya.


"Mas tangan–." ucap Zia sambil mengulurkan tangannya meminta tangan suaminya.


Chandra tahu kebiasaan istrinya itu kalau bersalah pasti akan minta maaf padanya dengan cara mencium tangannya. Ia pun mengulurkan tangannya.


"Maafin Zia ya Mas." ucapnya sambil mencium punggung tangan suaminya itu. "Zia yang salah karena selama ini ga berterus terang sama Mas. Maafin Zia karena Zia bukan istri yang baik buat Mas–." Airmatanya membasahi punggung tangan Chandra.


"Huuss–, kamu bilang apa sih sayang." Chandra memegang bahu istrinya yang bersimpuh dikakinya dan mendudukkannya di kursi disebelah tempat duduknya. "Mas itu udah maafin kamu, jauh sebelum kamu minta maaf sama mas. Mas memang kecewa sama kamu, tapi itu sudah berlalu. Apa yang sudah terjadi pada kita jadikan itu pengalaman dan jangan di ulang lagi ya sayang." Chandra menghapus airmata Zia lalu mengecup kening Zia.


"Sudah sekarang kita makan ya. Kebetulan Mas udah laper banget."


Mereka pun melanjutkan makan siangnya dengan perasaan lega karena sudah saling memaafkan.


💗


💗


💗


💗


💗


Keesokan Harinya


Tommy sudah bangun tidur dan sudah bersiap-siap berangkat ke kantornya. Sementara Roma masih tidur pulas, ia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin menghindari istrinya itu.


"Sayang, maafkan aku. Mas melakukan ini untuk kebaikan kamu. Mas harus pergi sekarang." Tommy mencium kening istrinya itu lalu pergi ke kantornya tanpa menunggu Roma bangun terlebih dulu.


Tommy sudah menghubungi Fernando dan meminta Fernando untuk memesan tiket keberangkatan ke Singapura. Tommy juga meminta kepada Fernando untuk merahasiakan alasan kepergiannya dari siapapun termasuk Orangtuanya dan juga Ken.


"Ken, gue ingin lo gantiin gue dikantor selama gue ga ada." ucapnya pada sahabat sekaligus orang kepercayaannya itu.


"Emang lo mau kemana?"


"Gue ada urusan mendadak keluar negeri." Ken menatap Tommy penuh curiga.


"Urusan apa?" Ken semakin curiga karena tidak biasanya Tommy merahasiakan keberangkatannya darinya.


"Nanti kalau urusan gue udah beres gue akan kabari Lo. Urusan Mami sama Papi nanti gue yang langsung bilang ke mereka. Kebetulan setelah dari Maldives Mami sama Papi langsung ke Amerika karena Papi ada urusan di perusahaan yang disana." ucapnya lagi.


"Lo ga lagi berantem sama bini Lo kan Tom?" Ken mencoba menebak apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Enak aja Lo ngatain gue berantem. Gue itu baik-baik aja sama Roma. Tapi selama gue ga ada tolong jagain dia untuk gue ya."


"Emang lo mau pergi berapa lama?"


"Kalau urusannya cepat mungkin sekitar semingguan. Tapi kalau urusannya lambat gue belum bisa pastiin berapa lama nanti gue disana."


"Sebenarnya Lo ada masalah apa sih?"


"Sejak kapan sih Lo jadi kepoan gini?"


"Gue ga kepo, tapi heran aja kenapa lo tiba-tiba pergi mendadak gini."


"Udah ya ntar gue telat."


Ken tidak tahu kalau Tommy berangkat bersama Fernando karena yang dia tahu Fernando tiba-tiba mengambil cuti karena ada keluarganya yang meninggal dunia.


Fernando sudah menunggu Tommy dibandara dan sudah menyiapkan semua keperluan mereka selama tinggal di Singapura.


"Maafkan aku harus pergi tanpa pamit dulu. Maafkan aku, mungkin ini yang terakhir kali aku pergi tanpa ijin darimu. Aku bukan menghindari masalah tapi kau ingin membereskannya. Tunggulah aku sedikit lebih lama." Lirih Tommy dalam hati ketika pesawat yang ditumpanginya sudah lepas landas.


Like Like Like dan Share ke teman, tante, om, kakak tetangga dll.


Ajakin buat baca Novel Author yach 😍


Terimakasih 🙏