
Tommy sudah tak sabar ingin bertemu dengan Roma. Rasa bersalah telah meninggalkan istrinya itu ingin segera ia tebus dengan berjanji akan membahagiakan istrinya itu selamanya.
Flashback On
"Fer, apa tidak ada rumah sakit yang lebih baik dari Rumah Sakit ini?" tanya Tommy ketika mereka sudah berada didalam mobil.
"Ada apa Tuan?" Fernando dapat merasakan ada yang membuat Tuannya itu kurang nyaman dengan pelayanan dokter Sinta tadi.
"Aku hanya ingin membuat perbandingan saja. Tidak salah kalau kita melakukan second opinion kan Fer?"
"Baik Tuan–, akan saya cari tahu Tuan dan sepertinya memang ada." ucap Fernando yang langsung mencari apa yang diminta oleh Tuannya itu.
"Kita langsung kesana Fer, aku ga mau waktuku terbuang sia-sia disini."
"Baik Tuan–."
Saat itu juga Fernando langsung membawa Tommy ke salah satu Rumah Sakit ternama di sana. Ketika sampai di Rumah Sakit Tommy harus mengantri berjam-jam hingga akhirnya sudah hampir magrib barulah namanya dipanggil.
"Sile masok Tuan, ade yang bisa saye nak bantu?" tanya dokter Adam. Beliau tahu kalau Tommy berasal dari Indonesia setelah membaca data pribadinya sehingga dokter itu menyapanya dengan menggunakan bahasa melayu.
"Terimakasih dok–." Tommy dan Fernando langsung duduk didepan dokter tersebut.
Lalu Tommy pun menceritakan maksud dan tujuannya datang menemui dokter itu.
Dokter Adam tersenyum saat Tommy mengatakan kalau permeriksaannya akan lama seperti yang diceritakan dokter Sinta padanya.
"Macem ni Tuan. Sekarang ini kan petugas makmal eh maksud saye petugas laboratorium-nye lagi tak de, sudah balek jadi sebaeknye Tuan nih datang lagi esok untuk periksa darah."
"Kalau bisa esok datang lebih cepat siket." lanjutnya lagi. Tommy agak bingung mendengar ucapan dokter itu tapi masih dapat ia mengerti.
Petugas yang melakukan pemeriksaan HIV itu adalah petugas profesional dan shif jaganya hanya sampai jam 3 sore saja. Sehingga Tommy harus kembali lagi besok harinya.
"Jam berapa saya datang dok?"
"Begini saje, saye tahu Tuan ini datang dari jaoh. Jadi besok Tuan tak perlu daftar lagi tapi Tuan langsong temui sahaje Nurse Gita." Dokter Adam pun menunjuk perawat yang menjadi Asistennya itu. "Die akan mengantar Tuan untuk melakukan pemeriksaan darah. Selepas tuh kalau hasil pemeriksaannye dah keluar baru Tuan konsul balek sama saye." jelas dokter Adam lagi.
"Baiklah dok. Terimakasih."
"Same-same!!"
Tommy permisi keluar dari ruangan dokter Adam. Tommy adalah pasien terakhir dokter Adam, sebenarnya Adam sudah menolaknya tapi karena Nurse Gita mengatakan kalau pasiennya datang dari Indonesia akhirnya ia menerimanya.
Flashback Off
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Tommy pun mengikuti saran dokter Adam, begitu sampai dirumah sakit ia langsung menemui Nurse Gita dan langsung melakukan pemeriksaan darah untuk Tes PCR, ini digunakan untuk mendeteksi materi genetik (RNA atau DNA) HIV dalam darah. Hasil pemeriksaannya tak seperti yang dikatakan oleh dokter Sinta.
Tommy menunggu hasilnya hampir satu jam, mungkin karena pasien di rumah sakit itu sangat banyak sehingga membutuhkan waktu yang lama bagi petugas Laboratorium itu untuk menyelesaikannya.
Setelah hasil pemeriksaannya keluar ia pun di minta masuk keruangan dokter Adam.
"Bagaimana hasilnya dok?" Tommy sudah tak sabar ingin tahu hasil pemeriksaan darahnya.
"Sabar ye–." Dokter Adam menerima hasil pemeriksaan laboratorium itu dari Nurse Gita.
"Disini nampak dari hasil tes HIV-nye tidak ditemukan antibodi, antigen, atau materi genetik HIV di dalam darah Tuan." ucap dokter Adam.
"Maksudnya dok?" Tommy tidak mengerti apa yang disampaikan dokter Adam.
"Hasilnye negatif Tuan, Tuan tidak mengidap penyakit HIV."
"Benarkah dok?" Darahnya berdesir, mata Tommy mulai berkaca-kaca. Betapa bahagianya ia mendengar hasil pemeriksaannya itu.
"Betollah, masa saye nak bohongkan Tuan–."
"Terimakasih ya dok–. Terimakasih." Tommy sangat bahagia dengan hasil yang diterimanya. Ia menjabat tangan dokter Adam dengan sangat erat.
"Tapi–."
"Tapi apa dok?" Tommy kembali memelas karena ada kata Tapi dalam ucapan dokter Adam dan tiba-tiba refleks melepaskan tangan dokter Adam. Dokter itu hanya tersenyum.
"Sebaiknya Tuan rutin lakukan pemeriksaan minimal 3 atau 6 bulan sekali. Karena seperti yang dikatekan oleh dokter Sinta itu benar. Mase inkubasi virus HIV dalam tubuh itu bisr terlihat dalam waktu 5-10 tahun. Tapi saye percaye Tuan ni sihat." tutur dokter Adam. Tommy pun tersenyum lega.
"Baik dok, saya akan rutin melakukan pemeriksaan ini. Sekali lagi saya ucapkan Terimakasih dok–."
"Same-same." dokter Adam pun tersenyum senang.
Rasanya beban berat yang dirasakannya sudah terangkat dari pundak Tommy. Sudah beberapa hari ini pikirannya kacau semenjak tahu Sandy mengidap penyakit itu.
"Fer, segera siapkan kepulangan kita Fer. Aku udah ga sabar ingin menemui istriku."
"Baik Tuan–."
Fernando langsung melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu. Ia langsung memesan tiket kepulangan mereka ke Indonesia.
Tommy dan Fernando sampai di Bandara Internasional Soekarno Hatta sudah dalam waktu magrib, perjalanan dari bandara ke apartemennya juga memakan waktu dua jam. Karena saat itu mereka terjebak macet.
"Sayang tunggu aku pulang."
Begitu sampai diparkiran apartemennya Tommy langsung berlari menuju unit miliknya. Tidak lagi menunggu Fernando yang akan memarkirkan mobilnya.
Begitu sampai di Apartemen dirinya hanya menemukan Bi Surti tidak ada Roma disana sampai akhirnya dia tahu kalau Roma pulang kerumah mertuanya.
Tanpa menunggu lagi Tommy langsung keluar dari Apartemennya.
"Tuan–." teriak Fernando saat melihat Tommy sudah memasuki lift untuk turun.
"Mau kemana lagi Tuan Tommy?" Fernando pun kembali ke basement Apartemen itu. Dan benar saja ia melihat Tommy sedang berdiri sambil memegang ponselnya yang akan menghubungi Fernando.
"Tuan–." Fernando terengah-engah berlari menghampiri Tommy.
"Fer, kunci mobil Fer?" Fernando pun menyerahkan kunci mobilnya tanpa bertanya lagi kemana Tuannya itu akan pergi.
Sepanjang perjalanan Tommy tersenyum senang. Ia tahu pasti ia akan mendapat amukan dari istrinya tapi ia tak perduli karena ia hanya ingin bertemu dengan istrinya itu dan dengan suka rela akan menerima hukuman dari istrinya itu.
Begitu sampai dirumah mertuanya Tommy merasa heran karena begitu banyak mobil yang terparkir disana tapi saat ia masuk kedalam rumah mertuanya itu semua tampak sepi karena yang membukakan pintu untuknya adalah Bi Sumi, salah satu ART yang bekerja di rumah mertuanya itu. Mungkin semua orang sudah pada tidur, pikirnya. Karena malam itu sudah hampir jam 12 malam.
Dengan perasaan yang gugup dan berdebar-debar Tommy menaiki anak tangga menuju kamar istrinya.
"Roma, Sayang–." Tommy membuka pintu kamar istrinya itu dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat seorang pria dikamar istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan dengan istriku–." teriak Tommy.
...☘️ ☘️ ☘️...
Romauly POV
Ini hari ketiga Mas Tommy ga ada kabar, aku sudah menghubungi semua orang kantornya. Ken, sekretarisnya bahkan Fernando yang memberitahu kalau suamiku ada pekerjaan diluar negeri pun sudah kutanyain tapi jawaban mereka tetap sama. Mereka tak tahu dinegara mana suamiku itu berada sekarang.
Ingin bertanya pada mertuaku yang saat ini berasa di Amerika tapi rasanya malu, takut mereka berpikiran, "Masa aku istrinya aku ga tahu dimana suamiku sendiri kan ga lucu."
Aku tak mungkin memberitahu pada keluarga ku kalau saat ini Mas Tommy pergi meninggalkanku.
Ku coba menelponnya bahkan setiap menit ku telpon terus. Bahkan saat bekerja pun rasanya jadi kurang fokus. Pikiran terus saja kepada Mas Tommy. Apa aku harus bertanya pada Zia? Tapi aku masih kecewa dengan sahabatku itu. Aku tahu niat sahabatku itu baik ingin membantu Sandy. Tapi kenapa momennya sangat tidak tepat. Kenapa dia harus memberitahu pada Sandy tempat dimana kami berbulan madu.
Apakah tidak ada waktu lain?
Tapi semuanya percuma dan semua sudah terjadi.
Aku merasa seperti wanita yang terabaikan sekarang, baru sebentar aku menikah tapi aku sudah ditinggalkan.
Apa yang harus ku lakukan jika nanti Mas Tommy kembali? Apa aku harus tersenyum menyambut kedatangannya? Ataukah aku harus marah karena dia pergi tanpa kabar? Sebenarnya aku ini dianggap apa sih sama Mas Tommy? Istri yang dia cintai atau hanya sebagai pelengkap statusnya saja? Sama seperti yang dia lakukannya pada Zia dulu?
Pikiranku kacau, untuk berpikiran positif pun aku tak mampu lagi.
Malam ini aku diminta untuk pulang kerumah, kata Bapak namboruku datang dari medan.
"Hmm pasti paribanku Robert juga sedang dirumah sekarang."
Terpaksa aku harus datang sendirian, entah apa tanggapan keluargaku nanti kalau aku hanya datang sendiri tanpa suamiku.
Dan benar saja, tatapan semua orang tertuju padaku saat aku memasuki rumahku. Kulihat semua sudah berkumpul bahkan Abang-abang ku juga sudah ada disana.
"Sendiri saja kau boru? Mana Hela?" Bapak yang akhirnya bertanya, mewakili mereka yang penasaran kenapa aku datang sendirian.
"Bang Tommy lagi ada kerjaan keluar negeri Pak." aku jujur karena memang Mas Tommy sedang bekerja keluar tapi tak ku panggil suamiku itu Mas karena pasti aku akan ditertawakan keluargaku. Apalagi saat ini ada Namboruku disana.
"Baru kami mau kenalan sama suamimu nang tak datang pula dia." sahut Namboruku sambil menyunggingkan senyumnya.
"Lain kali ya Namboru, kan masih banyak kesempatan yang lain. Ngomong-ngomong ada acara apa Namboru datang ke Jakarta?" Aku memilih duduk diantara Bapak dan Bang Bara.
"Cuma jalan-jalan saja. Ga ada kawan-kawan mu yang masih gadis yang bisa kau kenalkan sama paribanmu ini?" Namboru tampaknya sangat ingin kalau Robert segera menikah. Mata kami beradu, Robert memandangku lekat, seperti ada yang aneh dari caranya menatapku. Tapi aku menepis pikiran jelek itu, dan mencoba tetap tersenyum kepadanya. Apa itu hanya perasaanku saja. Ah, entahlah–.
"Lebih baik cari sendiri lah Namboru, teman-temanku juga kebanyakan sudah menikah." Aku sengaja menjawab seperti itu karena aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi paribanku itu.
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Setelah makan malam selesai aku memilih untuk langsung masuk ke kamarku. Malas rasanya ikutan ngobrol bersama mereka. Karena pastinya obrolannya pasti tentang hal-hal yang tidak ku mengerti. Dikamar aku membaringkan tubuhku yang lelah seharian bekerja sambil terus mencoba menelpon Mas Tommy tapi telponnya tak juga bisa dihubungi.
Aku tak tahu kapan aku terlelap sampai aku terbangun ketika mendengar ada suara ketukan dipintu kamarku.
"Siapa sih udah malam juga–." Aku kesal karena pusing rasanya bila terbangun tiba-tiba.
Aku berjalan kearah pintu dan membukanya meskipun matanya masih sangat ngantuk. Dan aku terkejut ketika melihat Robert berdiri didepan kamarku.
"Ada apa Ban?" tanyaku karena tatapan Robert sangat terlihat aneh.
"Boleh ngobrol sebentar didalam? Ada yang mau aku tanyakan sama kamu Rom." Aku bingung ga pernah-pernahnya pariban ku ini berani ngobrol berdua aja denganku. Karena yang aku tahu dia orangnya sangat pemalu.
"Disini aja–." jawabku, masih memegang pintu kamar ku agar dia tidak masuk.
Tapi tiba-tiba saja dia mendorongku sambil membekap mulutku. Aku ketakutan dan tak bisa berbuat apa-apa. Secepat kilat dia terus mendorongku hingga aku terjatuh ditempat tidur.
"Jangan teriak, aku hanya ingin bicara padamu." Dia kini berada diatas tubuhku, mengurungku didalam kunkungannya tangan kanannya menahan kedua tanganku diatas kepalaku dan tangan kirinya membekap mulutku.
"Eemm... Eemm..." Aku berusaha melepaskan tangannya dari mulutku tapi badanku masih lemas karena baru bangun tidur, rasanya otot-otot ku dan tubuhku belum sadar sepenuhnya.
"Kamu tenanglah Roma, kau tahu sudah lama aku menginginkanmu." Dia terus saja bicara sambil menggesek-gesekkan miliknya diatas ************ ku. Aku jijik, ingin aku teriak tapi aku tak mampu.
Aku hanya berharap seseorang datang menolongku.
"Mas Tommy tolong aku." yang ada dalam pikiran ku saat ini hanya suamiku.
"Eemm... Eemm..."
"Kau diamlah–." Robert membentakku, aku sangat terkejut. "Kau rasakan saja ini." Robert terus saja menggesek-gesekkan miliknya itu. "Roma aku mencintaimu, andai saja kau mau menikah denganku, aku akan sangat bahagia dan kita bisa menikmatinya sekarang. Kau jangan bergerak terus." Robert mulai menciumi wajahku. Mulutku masih dibekap olehnya, sulit untukku teriak. Tubuhnya terasa berat berada diatasku. Kini kepalanya sudah berada diatas dadaku. Aku menangis, aku sudah seperti perempuan hina dibuat Robert.
"Mas Tommy tolong aku–." aku menangis aku berharap saat ini Mas Tommy datang menolongku.
"Bapak–, Mak–"
"Bang Baraa–."
"Bang Barman–."
"Hei sayang kenapa kau menangis? Ini akan sangat nikmat Iban, berhentilah menangis dan nikmati saja." Dia terus saja menggesek-gesekkan miliknya. Aku ingin berteriak tapi tangannya sangat kuat membekap mulutku.
Kepalaku terasa pusing, nafasku mulai sesak menahan tubuhnya yang berat. Kemudian aku mendengar suara pintu kamar dibuka.
"Roma, Sayang–." suaranya terdengar samar ditelingaku, aku tak tahu siapa yang datang kekamarku. Dalam hati aku hanya bersyukur, "Terimakasih sudah datang menyelamatkanku." Dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Author Sengaja Up Panjang Karena kemarin Author sibuk sampe lupa Update
Maaf ya. Author kasih Votenya dong 😍🤗