
Setelah Fernando keluar dari ruangannya Tommy langsung melancarkan aksinya untuk melahap habis istrinya itu. Rasa kesalnya yang mendengar Roma diantar oleh temannya yang berjenis kelamin laki-laki itu membuatnya begitu terbakar api cemburu.
Roma pun tak dapat mengelak lagi dari Tommy untuk tidak melakukan olahraga yang menguras tenaga tapi dapat membuatnya melambung tinggi ke nirwana.
Setelah dua jam lamanya mereka mengurung diri diruangan Tommy akhirnya Roma dan Tommy keluar dari ruangan itu. Wajah Roma merah merona tak dapat membayangkan bagaimana tanggapan dari para karyawan Tommy saat melihatnya keluar dari ruangan suaminya itu dengan pakaian yang berbeda dan rambut yang basah.
Untung saja dikantornya Tommy menyimpan dress wanita yang memang sengaja dibelinya untuk Roma tapi belum sempat diberikannya.
"Mas, aku malu sekali." bisik Roma sambil berjalan melewati depan meja sekretarisnya dan juga lorong kantornya.
"Kamu tak perlu malu. Mereka akan maklum karena kita adalah pasangan yang sudah menikah." ucap Tommy sambil mengusap punggung tangan Roma yang melingkar di lengannya. "Jangan menunduk tegakkan kepalamu, karena kamu adalah Nyonya pemilik perusahaan ini." Roma pun mengikuti apa yang dikatakan Tommy. Ia tak ingin merusak reputasi suaminya dengan sikapnya yang bisa saja membuat suaminya malu.
"Kita mau kemana mas?" Roma melihat Tommy membawanya tidak kearah rumahnya atau apartemen suaminya.
"Hari ini Papi sama Mami pulang dari Amerika jadi Mami minta kita bermalam dirumahnya." ucap Tommy sambil tetap fokus dengan jalanan yang ada didepannya.
"Ooo–." Roma hanya membulatkan bibirnya. "Tapi Mas, Mami sama Papi ga tau kan kalau aku hamp–." Mulut Roma sudah ditutup dengan jari telunjuk Tommy.
"Kamu ga perlu ingat-ingat itu lagi, Mas ga mau kamu menyebut nama pria itu lagi. Dan kalau masalah Mami sama Papi tahu atau tidak, Mas rasa Papi tahu tapi Papi bukan tipe orang yang akan menyalahkan sebelah pihak. Papi orangnya sangat bijaksana jadi kamu ga perlu khawatir." ucap Tommy.
"Tapi Mas, bagaimana Papi bisa tahu kalau aku–." lagi-lagi ucapan Roma terhenti karena Tommy langsung memotongnya.
"Ken, Papi tahu semua itu dari Ken. Selain orang kepercayaanku Ken juga adalah orang kepercayaan Papi. Ken sudah dianggap Papi seperti anak keduanya. Bahkan Papi juga menyerahkan 5 % sahamnya kepada Ken dan saat ini saham itu sudah berkembang ditangan Ken. Seandainya aku tidak bisa sembuh dan tidak memiliki keturunan mungkin Papi akan menyerahkan sebagian kekayaan pada Ken. Sisanya baru diserahkan kepada beberapa Panti Asuhan yang biasa Papi donaturkan." tutur Tommy.
Roma sangat terharu mendengar cerita tentang mertuanya itu. Ternyata Ayah mertuanya itu orang yang sangat dermawan dan suka membantu sesama umat manusia. Jarang-jarang ada orang kaya yang ingat untuk melihat kebawah, apalagi untuk menolong sesama. Sebagian orang yang baru miliki jabatan rendah saja kadang lupa untuk bersyukur.
Sementara ditempat lain Ken selalu saja bersin-bersin sudah seperti orang yang terkena flu saja. Mita sampai malu karena hampir disepanjang tayangnya film yang mereka tonton Ken tak pernah berhenti bersin.
"Kamu kenapa sih Ken? Dari tadi bersin mulu. Malu diliatin orang-orang disangkanya kamu kena virus lagi?" Mita memberikan tissu pada Ken.
Ken menerima tissu dari tangan Mita dengan perasaan bersalah karena dirinya juga tidak tahu apa penyebabnya dia sampai bersin-bersin seperti itu. Ken berharap ini adalah kencan romantisnya dengan Mita tapi sepertinya gagal karena dia terus saja bersin. Sehingga kesempatan nonton romantis yang ia rencanakan hancur berantakan.
"Ga tahu nih, hidung aku gatel banget kayak lagi ada yang ngomongin–." ucap Ken asal.
"Masih percaya aja sama hal yang begituan? Kamu ada alergi ga? Debu atau apa? Atau kamu alergi dingin? Karena didalam bioskop tadi kan dingin banget." Ken tampak berpikir, apa mungkin dirinya alergi dingin? Sementara dikantor saja ACnya juga lebih dingin. Apalagi Ken juga tidak bisa tidur kalau AC dalam kamarnya tidak dingin.
"Kalau masih bersin terus nanti kita singgah aja diapotik beli obat untuk kamu dulu." Ken tersenyum melihat Mita yang begitu perhatian padanya.
"Calon makmum gue, perhatian banget–. Ya Tuhan... Segerakanlah–." Doa Ken dalam hati.
Tiba-tiba saja langkah Mita terhenti dan pandangan matanya terus saja tertuju pada seseorang. Ken mengalihkan pandangannya kearah tempat Mita memandang tapi ia tidak melihat siapapun disana.
"Mit, kamu kenapa?" Ken membuyarkan lamunan Mita.
"Ahk ga apa-apa. Yuk kita pulang–." Mita kembali melangkahkan kakinya diikuti Ken yang berjalan disisinya.
MITA POV
Entah kenapa aku harus melihatnya. Sosok pria yang pernah mengisi hatiku. Memberi aku rasa bahagia. Meskipun aku sudah berpisah darinya tapi hatiku masih saja terluka bila melihatnya bersama wanita lain.
Aku tahu, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan,entah dengan cara apa tetapi yang ku tau itu sudah jalannya. Mengiklaskan bukanlah hal yang mudah bukan pula sekedar ucapan tanpa tindakan.
Mengiklaskan adalah titik akhir dari sebuah penantian dimana akan di iringi air mata tanpa henti.
Yah...mungkin itu bagiku, tetapi entah denganmu. Banyak hal yang menyakitkan dan mengecewakan tetapi untuk mengiklaskan rasanya tidak masuk ke dalam daftar hidupku.
Tetapi lagi dan lagi aku harus mengalah oleh takdir dan kenyataan. Kamu yang memilih pergi tapi aku harus "Mengiklaskan" sebuah kalimat sederhana tapi memiliki makna mendalam lantas aku pun kembali bertanya "haruskan itu terjadi?"
Dan detik berikutnya aku sadar bahwa ini adalah sebuah keharusan bukan pilihan. Aku tidak di hadapan oleh sebuah pilihan melainkan sebuah keharusan. Kamu dan aku mungkin di pertemukan oleh takdir tetapi tidak di haruskan untuk bersama karena pada kenyataannya jalan kita berbeda.
Pada waktu itu aku pernah kehilangan dan pada akhirnya mengiklaskan adalah jalan keluarnya.
Akan terlihat bodoh jika aku harus memaksakan kehendak yang pada kenyataannya sangat menyakiti aku, kamu dan bahkan dia wanita yang saat ini bersamamu. Karena pada kenyataannya kita hanya di pertemukan kemudian di pisahkan. Satu hal yang harus kita tau ini adalah jalan yang harus kita tempuh yang telah di susun secara rapih oleh sang pencipta.
Mengiklaskanmu bukan hal yang mudah namun itu mampu memberikan sedikit ketenangan dan seiring berjalannya waktu kamu dan aku akan baik-baik saja percayalah.
"Mit, kamu kenapa? dari tadi diam saja?" Aku baru sadar kalau saat ini disampingku ada pria yang begitu perhatian padaku. Ku seka airmataku yang hampir saja menetes.
"Aku ga apa-apa." Ku pasang senyum yang paling manis tapi dia mengerutkan dahinya.
"Tapi kenapa dari tadi kamu diam saja? apa ada yang salah?"
"Bener kok aku ga apa-apa. Oya kita jadi mampir ke apotik?" Aku sengaja mengalihkan pembicaraan kami. Tak ingin dia tahu apa yang kurasakan sekarang.
"Sepertinya ga usah deh. Aku udah ga bersin lagi. Mungkin kamu benar aku hanya alergi debu. Bisa jadi bioskop tadi jarang dibersihin." ucapnya tapi sepertinya mengada-ngada saja karena tidak mungkin bioskop itu tak bersih karena pastinya akan ada pihak cleaning servis yang akan membersihkan tempat itu setiap harinya.
Dia tiba-tiba saja menepikan mobilnya dibahu jalan.
"Mit, katakan. Kamu kenapa?" ternyata dia melihatku yang tak dapat lagi membendung air mataku. Ken memegang bahuku dan membelai lembut rambutku.
"Maafkan aku Ken, aku ga bisa cerita sekarang. Aku juga ga mau melukai perasaanmu. Saat ini aku belum bisa menata hatiku kembali Ken. Sangat sulit untukku memulai suatu hubungan kembali. Sangat sulit untukku percaya dengan apa yang namanya Cinta? Cinta sudah banyak melukaiku Ken. Tolong berikan aku waktu untuk mengobati luka hatiku."
Aku terus saja menangis dan itu membuat Ken semakin bingung.
Tok...tok...tok.. suara ketukan kaca pintu mobil dari luar.
Ken melihat seseorang berseragam polisi berdiri disamping pintu mobil. Ken menurunkan kaca mobilnya.
"Selamat malam pak?" ucap polisi itu sambil memberi hormat pada Ken.
"Malam pak." sahutnya.
"Silahkan tunjukan KTP dan surat-surat mobilnya pak?"
"Sebentar pak." Ken membuka dompetnya dan menyerahkan KTP dan SIMnya kemudia membuka dasboard mobilnya mengambil kelengkapan surat-surat mobilnya.
Polisi itu memeriksa dengan teliti kelengkapan surat-surat mobil Ken. Mungkin saja polisi itu takut kalau mobil Ken adalah mobil curian.
"Maaf pak, apakah bapak tahu kalau tidak boleh berhenti dibahu jalan Pak? Jika bapak ingin istirahat bapak bisa mencarai rest area pak."
"Maaf pak, tadi istri saya tiba-tiba mual pak jadi saya terpaksa berhenti sebentar pak." Aku sangat terkejut mendengar Ken memberikan alasan yang sembarangan kepada polisi itu.
"Ooh, lagi hamil muda ya." Pak Polisi yang sebelumnya terlihat sangar tiba-tiba saja berubah menjadi melankolis dan percaya saja dengan apa yang dikatakan Ken padanya. "Kalau sudah tidak mual lagi sebaiknya silahkan Bapak lanjutan perjalanan Bapak." ucap polisi itu lagi setelah menyerahkan KTP, SIM dan surat-surat mobil Ken.
Ken pun langsung menjalankan mobilnya dengan senyum dibibirnya. Sangat manis aku melihatnya.
"Kamu apa-apaan sih? Kok ngaku-ngakuin aku ini istri kamu? Terus bilang aku lagi hamil segala?" Dia hanya cengengesan, aku yang tadinya menangis karena sakit hati sudah lupa karena tingkah konyolnya barusan.
"Salah polisi itu sendiri percaya sama omonganku. Lagian dia ga benar-benar kali periksa KTP aku. Disana kan jelas tertulis BELUM KAWIN." Dia sengaja menekan kalimat belum kawin dan entah apa maksud dan tujuannya. "Aku juga serius dengan ucapanku sama pak polisi tadi berharap Kamu itu mau jadi istriku dan cepat mengandung anakku."
"Ngawur kamu." Aku memukul bahunya pelan.
"Emang kamu ga mau jadi Nyonya Ivander?" Aku mengerutkan dahiku.
"Siapa Ivander?" tanyaku polos karena tidak tahu siapa pria bernama Ivander.
"Aku–, namaku Kendrick Ivander." ucapnya. Aku begitu malu karena jujur saja, selama ini aku belum tahu siapa nama lengkapnya.
Maaf ya sayong baru bisa Up sekarang 🙏
Selama ini Author pura-pura Lupa untuk Update.
Karena dunia kepura-puraan Author sedang seeboookkk sangat 😍
Semoga Kalian ga pura-pura lupa untuk tetap tinggalkan jejak Kalian yach 🤗