Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Salah Lagi



Sudah lebih dari 30 menit Tommy berada di dalam ruangan kerja Bara. Dan entah sudah berapa kali Roma mondar mandir di depan ruangan itu. Leon dan Lea melihat aneh pada Bou (Namboru) mereka.


"Bou ngapain mondar-mandir di depan ruangan Papa?" Leon yang sudah berumur 7 Tahun sudah jelas bicaranya dibandingkan Lea.


"Ssssttttt–." Bukan menjawab pertanyaan Leon, Roma malah memintanya untuk diam.


"Bou, Om danteng pacalnya Bou ya?" Kini Lea yang ikut mengusiknya.


"Eh bocil tau apa tentang pacaran? Siapa yang bilang Om ganteng itu pacar Bou?" Roma kini duduk diantara kedua keponakannya itu.


"Mamah." jawab Lea cepat. "Om danteng na baik Bou, Lea dibeliin es klim." Semua anak memang akan bilang orang dewasa itu baik kalau mereka menuruti apa maunya anak kecil.


"Lea suka sama Om nya?"


"Suta"


"Kalau Leon suka ga sama Om Tommy?" Roma beralih kepada keponakannya yang tampak sibuk dengan mainan robotnya.


Belum sempat Leon menjawab pertanyaan Bou-nya itu tiba-tiba Lea langsung protes "Om danteng Bou bukan Om tomi. Hmm emmm itupun tak tau." Lea cemberut sambil melipat kedua tangannya didada mengikuti gaya bicara kartun kesukaannya Upin dan Ipin.


"Iya Lea cantik, Om ganteng itu namanya Om Tommy."


"Oo–." Lea membulatkan bibirnya. "Dadi namana Om tomi?"


"Iya sayang."


"Leon suka ga, sama Om Tommy?" Roma mengulangi pertanyaannya pada Leon.


"Leon ga suka Laki-laki Bou, Leon sukanya sama Marsya." Leon menyebutkan salah satu teman sekolahnya yang juga menjadi teman sebangkunya.


"Hahaha–." Roma tertawa mendengar jawaban dari keponakannya itu.


"Siapa Marsya da?" Roma penasaran langsung bertanya pada Edanya yang baru datang dari dapur dan duduk bergabung dengan mereka.


"Itu anaknya Ibu Maya, teman satu sekolahnya."


"Oo–." Roma mengacak-acak rambut Leon. "Masih kecil udah tau suka sama lawan jenisnya."


"Anak jaman Now da. Maklum aja. Biasanya mereka juga suka berantem." Citra mengingat saat dirinya di panggil guru kelas Leon saat Leon merobek buku gambar Marsya. Sebenarnya salah Marsya karena asyik mengusik Leon yang sedang mewarnai buku gambarnya.


"Kapan rencana pestanya da?" tanya Citra menyadarkan Roma yang asyik menatap pintu ruangan kerja suaminya.


"Masih nunggu restu Eda." jawab Roma lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Eda sih dibuat ribet, Orang Amang sama Inang aja udah setuju. Kenapa harus dibuat susah dengan minta restu sama Ito-itonya segala."


"Ya kan aku maunya semua orang bisa menerimanya dengan baik Eda."


"Kalau itu udah menjadi pilihan Eda pastinya semua Ito Eda akan mendukung Eda."


"Masalahnya dia itu duda Eda."


"Emang kenapa dengan duda? Semua orang punya masa lalu da. Sekuat apapun Eda atau Tommy untuk menghindarinya kalau Tuhan sudah mentakdirkan jodoh Eda itu Dia mau gimana lagi? Siapapun ga akan ada yang bisa melawan takdir."


"Masalahnya alasan kenapa bercerai dengan istri se–."


"Aku udah tahu da." Citra memotong ucapan Roma. "Papanya Leon udah cerita. Kalau menurut Eda dia udah sembuh apalagi yang Eda takutkan?"


"Bukan dia da yang aku takutkan, tapi aku takut kalau Papa sama Mama tahu alasannya pasti mereka juga ga akan merestui hubungan kami da. Makanya aku cuma cerita sama Bang Bara."


"Seharusnya Eda ga perlu cerita dengan Papanya Leon juga. Kalau sebenarnya Eda sudah yakin, nanti pasti akan terbukti dia sanggup ga menafkahi nafsu Eda." Citra sengaja menggoda Roma.


"Eda apaan sih."


"Dih, udah dewasa juga. Apalagi dokter pasti biasalah dengan omongan vulgar seperti itu."


"Tapikan ada Leon sama Lea Eda."


"Mama pulgal itu apa?" tanya Lea.


"Tuh kan baru aja diomongin udah nyamber aja nih bocil."


"Pulgal itu cama cepelti agal-agal ya mah?"


"Iya sayang pulgal itu temennya puding." jawab Citra asal dengan menirukan bahasa anaknya Lea.


"Eda harus jelasin yang bener loh da, Lea itu ingatannya kuat. Nanti kalau sampe besar dia ingat vulgar itu temannya agar-agar kan bahaya. Haha."


"Bou bobok cini ya? dak ucah puyang." pinta Lea manja.


"Ga bisa sayang, Bou harus pulang. Besok kan Bou harus kerja."


"Om danteng–." teriak Lea sambil berlari ke arah Tommy yang baru saja keluar dari ruangan kerja Bara.


Tommy menggendong Lea dan berjalan menuju ruang keluarga tempat Roma dan Citra duduk.


"Ngomongin apa sih Bang kok lama?" Tommy baru saja duduk lamhsunh disambar pertanyaan dari Roma. Roma sudah tidak sabar mendengar cerita Tommy dengan Bara di dalam.


"Kamu nginep atau pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan Roma, Tommy malah bertanya.


"Aku pulang aja Bang."


"Ya udah, aku pamit sama Bang Bara dulu."


Roma beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ruangan kerja Bara. Setelah Tommy keluar dari ruangan itu Bara belum juga keluar.


"Jangan terlalu dianggap serius omongan Papanya Leon, kalau kamu sudah yakin dengan pilihanmu. Berjuanglah, dia itu hanya terlalu sayang dengan Badi, dia tidak ingin Badi terluka sama seperti istrimu sebelumnya." tutur Citra. "Maaf, kurasa kamu sudah tahu apa alasannya Papa Leon tidak menyukaimu. Kalau memang kamu benar-benar mencintai Badi, tunjukkanlah padanya kalau kamu pantas untuk adiknya itu. Maklumlah Badi itu anak perempuan satu-satunya dan Bodyguardnya ada 4 loh." Citra mencoba menenangkan hati Tommy.


"Terimakasih Kak."


"Sama-sama, sering-seringlah main kesini sama Badi."


"Akan ku usahain Kak, kalau ga sibuk."


Sementara diruangan kerja Bara, Roma sibuk merayu Abangnya untuk cerita alasannya memanggil Tommy kerumahnya.


"Bang, apa sih yang Abang omongin sama Bang Tommy?"


"Kamu mau pulang atau nginep disini?"


"Pulang–." jawab Roma ketus.


Roma keluar dari ruangan Bara. Lalu berjalan ke ruang keluarga tempat Tommy dan Citra duduk.


"Eda aku pulang–." Roma menyambar tasnya yang ada diatas meja tanpa melihat kearah Tommy. Lalu keluar begitu saja tanpa menunggu dan mengajak Tommy untuk pulang.


"Kenapa lagi dia?" Batin Tommy.


"Kak, kami pulang dulu." Tommy menyerahkan Lea yang duduk dipangkuannya.


"Lea Om pulang dulu ya."


"Iya Om, ati-ati ya. talo Bou na nambek tium aja Om pipi na. Soal na kalau Mamah nambek Papah tuka tium-tium Mamah."


"Sssttt– Lea ngomong apa sih." Citra merasa malu ia menutup mulut Lea dengan telapak tangannya.


Tommy tersenyum mendengar celotehan Lea. "Aku pulang ya Kak."


"Iya hati-hati."


Tommy berjalan keluar rumah melihat supirnya sudah menunggunya didepan gerbang rumah dan melihat Roma sudah duduk dimobil di bangku penumpang disebelah kemudi. Artinya dia meminta Tommy untuk mengantarnya pulang.


Roma melihat Tommy keluar gerbang, dirinya berpikir kalau Tommy marah padanya dan tidak mau mengantarnya pulang.


"Pak, saya antar Roma ke Apartemennya dulu, Bapak ikuti saya dari belakang ya." Tommy menghampiri supir yang sudah menunggunya.


"Baik Tuan."


Tommy kembali masuk sambil membuka gerbang rumah Bara. Dan berjalan mendekati mobil Roma. Tapi ia terkejut saat melihat mobil Roma sudah menyala dan melihat Roma duduk dibangku kemudi.


Tok...Tok...Tok...


Tommy mengetuk jendela pintu mobil Roma. Lalu Roma menurunkan kacanya.


"Bukannya Abang mau pulang sendiri?" tanya Roma ketus tanpa membuka pintu mobilnya.


"Kamu kenapa sih dek?"


"Ga kenapa-napa, udah pulang sana."


"Abang mau antar kamu pulang dulu."


"Bukannya abang keluar mau cari taksi?


"Turun dulu."


"Enggak–."


"Dek, ini masih didepan rumah Abang kamu loh ga malu diliatin mereka kita ribut disini?"


Roma terdiam ia sadar kalau Citra masih berdiri di teras rumah. Roma turun dari mobilnya lalu berjalan mengitari mobil dan duduk disebelah Tommy yang sudah lebih dulu duduk dibangku kemudinya.


Tommy membunyikan klaksonnya sekali, seperti memberitahu kalau mereka permisi pulang.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Tommy merasa lelah bila harus bertengkar dengan Roma lagi. Baru saja mereka baikan sekarang harus bertengkar lagi hanya karena kesalah pahaman. Tommy ga tahan kalau harus bertengkar terus dengan Roma.


"Abang tadi keluar gerbang bukan mau cari taksi atau mau pulang duluan. Tapi karena tadi Abang lihat supir Abang udah nunggu di depan gerbang. Jadi Abang memintanya untuk pulang dulu. Sebelum ikut kamu ke rumah Bang Bara, aku suruh Ken untuk dijemput supir dirumah Bang Bara. Karena Abang pikir kamu akan nginap di rumahnya."


"Aduh salah lagi." Batin Roma


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


• Bou panggilan untuk saudara perempuan Ayah kita yang belum menikah.


• Amang panggilan untuk Ayah atau Ayah Mertua.


• Inang panggilan untuk Ibu atau Ibu Mertua.


Happy Weekend 😍