
Tommy menangis histeris melihat puing-puing bangunan itu hancur berkeping-keping. Ingin rasanya dirinya berlari kedalam melihat apa yang terjadi pada kekasihnya. Namun kekuatannya saat itu tidak lebih kuat dari orang-orang yang menahannya.
"Tolong biarkan aku masuk–." teriakan Tommy tidak juga dihiraukan oleh para petugas dan juga Ken.
Setelah kobaran api berhasil di lumpuhkan, beberapa dari petugas itu masuk ke dalam untuk memastikan adanya korban atau tidak.
"Siaga satu, segera siapkan ambulance." suara Barman terdengar dari alat walkie talkie yang digunakan petugas TNI dan memerintah mereka untuk segera menyiapkan ambulance.
"Siaga satu Lapor, ambulance sudah standby Pak." jawab ketua pasukan siaga satu tersebut.
"Terimakasih." jawab Barman dari dalam.
Hati Tommy sedikit lega saat mendengar suara Barman tapi dia belum bisa tenang sebelum tahu bagaimana kondisi Roma kekasihnya.
Tak berselang lama Barman dan anggotanya yang lain keluar dari reruntuhan bangunan itu dengan Roma yang berada digendongannya.
Tommy berhasil lepas dari penjagaan para petugas tersebut. Entah dia yang bertambah kuat atau karena para petugas yang menjaganya itu sengaja melepaskannya.
Tommy mendekati Barman. "Apa yang terjadi? Kenapa dengan Roma? Apa Roma baik-baik saja?" tanya Tommy saat petugas ambulance membantu Barman menaikkan Roma ke brankar ambulance.
"Kau tenanglah. Badi tidak apa-apa. Dia hanya pingsan dan sedikit shock." nada suara Barman tak lagi seperti saat pertama kali mereka bertemu. Barman sudah lebih tenang karena sudah berhasil menyelamatkan adiknya.
Saat petugas ambulance itu akan menutup pintunya Tommy berkata. "Ijinkan aku ikut bersamanya." petugas ambulance itu melihat kearah Barman dan dijawab anggukan kepala oleh Barman.
"Terimakasih."
Tanpa menunggu lagi Tommy langsung masuk ke dalam ambulance dan menghubungi Ken untuk mengikutinya dan menyelidiki siapa dalang dibalik penculikan Roma.
...🔸🔸🔸...
Di salah satu hotel terdekat dari perkampungan itu.
"Hahaha–, mereka sudah mampus. Akhirnya kita berhasil menyingkirkan wanita itu."
Bella dan salah seorang pria yang membantunya saling bersulang wine merayakan kemenangan mereka.
Pria yang bersama Bella itu tampak begitu senang dengan keberhasilannya menyingkirkan salah satu penghalangnya.
"Apa kau tidak menyesal sudah membunuhnya?" Bella menatap pria itu. "Karena yang ku tahu kau itu sangat suka padanya."
Bella penasaran, melihat tak ada sedikitpun rasa penyesalan pada pria itu.
"Jangan suka menyimpulkan perasaan seseorang seenaknya. Kau juga belum terlalu mengenalku." sahutnya dengan seringai licik dibibirnya.
*
*
*
*
*
Rumah Sakit Citra Medistra
Saat diperjalanan menuju rumah sakit Roma sudah sadarkan diri. Ia senang melihat Tommy ada disampingnya mendampinginya baik-baik saja.
"Bang–." Roma membuka sungkup oksigen yang dipakainya.
"Kamu sudah sadar dek? Apa kamu terluka?" Tommy begitu khawatir pada Roma sampai-sampai sepanjang perjalanan tangan Roma tak lepas dari genggamannya.
"Aku baik-baik saja Bang–." ucapnya lirih.
"Kamu jangan banyak bicara dulu. Pakai kembali sungkup oksigennya." Tommy membantu Roma untuk memakai kembali sungkup oksigen yang sempat dilepas oleh Roma. "Kamu istirahatlah, Abang akan selalu menemanimu."
Sesampainya di rumah sakit Roma langsung diperiksa oleh dokter Jeffri. Setelah satu jam diobservasi sebenarnya Roma sudah diijinkan untuk pulang tapi Barman bersikeras agar Roma dirawat sehari saja guna untuk memulihkan kondisinya.
Bara yang sudah lebih dulu sampai dirumah sakit setelah mendapatkan kabar dari Barman sudah menyiapkan segala keperluan rawat inap adiknya itu.
"Sebaiknya kau pulanglah dulu. Kau juga harus istirahat." ucap Bara pada Tommy.
"Aku tidak apa-apa, Aku ingin tetap disini." Tommy menolak permintaan Bara itu.
"Kau pulanglah. Badi aman disini. Ku dengar kau juga baru pulang bersama Badi. Sebaiknya kau juga harus istirahat. Beberapa petugas dari kepolisian akan berjaga didepan kamar Badi. Jadi kau tidak perlu khawatir." Barman tahu kekhawatiran Tommy tapi ia juga tidak bisa membiarkan Tommy tetap berjaga disana.
"Baiklah, tapi tolong kabari aku kalau Roma sudah bangun. Dan maaf karena kesalahanku Roma jadi mengalami hal mengerikan ini."
"Itu bukan salahmu. Kembalilah besok lagi." sahut Bara.
Meskipun dengan berat hati akhirnya Tommy meninggalkan Rumah Sakit miliknya itu, tempat Roma dirawat. Sebenarnya bisa saja dia istirahat diruangan khusus miliknya tapi ia mengurungkan niatnya itu dan memilih untuk segera pulang.
Ken sudah menunggunya di parkiran, Tommy berpapasan pada Rendi dokter yang pernah datang ke apartemen Roma. Tatapannya begitu tajam saat melihat Tommy.
Tidak ada saling tegur sapa dari keduanya, mereka memilih untuk pura-pura tidak saling mengenal.
Ken dengan setia mendampingi Tommy, ia membukakan pintu mobil untuk sahabat sekaligus atasannya itu.
"Bagaimana apa udah lo selidiki siapa dalangnya?" tanya Tommy saat sudah berada di dalam mobil.
"Gue kan udah bilang ke lo, dan udah gue pastiin itu benar perbuatan Bella. Tapi lo nya aja ga percaya." sahut Ken sambil fokus dengan jalanan didepannya.
"Apa? Jadi itu benar-benar perbuatan Bella? Apa lo tahu dimana dia sekarang?"
"Fernando sudah melacak keberadaannya. Terakhir kali dia berada dihotel xxx. Hotel terdekat dengan lokasi kejadian itu. Dan anak buah kita sudah berhasil meringkus komplotan penculik itu."
"Bagus–, Dimana mereka sekarang?"
"Sudah dibawa ketempat persembunyian kita."
"Bawa gue kesana sekarang."
"Bawa gue sekarang–!!!" Bentak Tommy.
"Lo ngapa ngikut-ngikut Bara dan Barman? Gue udah kesel tadi disuruh istirahat sama kedua Abangnya si Roma. Lo juga nyuruh gue buat istirahat. Apa lo ga tahu gimana perasaan gue sekarang? Ini yang kedua kalinya Roma celaka gara-gara gue."
"Makanya jadi orang jangan kebanyakan musuh lo." cibir Ken yang kesal karena dibentak Tommy.
"Kutu kupret lo, emang gue yang minta gue punya musuh? Gue itu ga pernah menaruh dendam sama orang sebelum orang itu yang mulai."
"Iya-iya. Bawel lo ahk."
Ken tidak akan pernah menang melawan atasannya itu. Semua ucapannya sudah seperti hukum dan perintah yang harus ia turuti.
Ken memilih melajukan mobilnya menuju salah satu markas mereka yang ada di Bekasi. Sebuah pabrik tua yang sudah lama tidak beroperasi lagi.
"Bagaimana Fer, apa mereka sudah mengaku siapa yang menyuruh mereka?" tanya Ken begitu mereka sampai di pabrik tersebut.
"Belum Tuan." jawab Fernando. "Tapi sepertinya kita ke colongan Tuan." lalu Fernando membisikkan sesuatu pada Kendrick.
"Kecolongan apa maksudmu?" Tommy mendengar sekilas bisikan Fernando pada Ken.
"Tom, ternyata Sandy udah bebas satu bulan yang lalu. Ada yang menjamini dia bebas dari penjara."
"Shiittt–, siapa orangnya? Apa itu Bella?" Tommy menggertak meja yang ada didepannya. Dirinya tak menyangka kalau Sandy bisa bebas secepat itu.
Sandy dijatuhi hukuman 5 tahun penjara karena perbuatannya yang mencelakai Roma. Tommy menuntutnya dengan kasus percobaan pembunuhan.
"Bukan Tuan, dia seorang pria tapi identitasnya dirahasiakan dan kami belum bisa melacak siapa orang itu." ujar Fernando.
"Lalu dimana Sandy sekarang? Apa Sandy yang membantu Bella untuk melakukan penculikan Roma?" Tommy mengepalkan tangannya geram. Tak menyangka kalau Bella bisa berbuat sejahat itu padanya.
"Sepertinya orang lain Tuan, karena saat ini Sandy sedang berada di Singapura Tuan."
"Apa kau yakin Fer?"
"Iya Tuan. Tapi mereka juga bersikeras tidak mau memberitahu siapa yang membantu Bella."
"Dimana mereka sekarang?"
"Ada didalam Tuan." Fernando membawa mereka ke gudang bawah tanah yang ada dipabrik itu.
Fernando berjalan mendahului Tommy dan Ken lalu membuka pintu gudang tersebut. Tommy geram saat melihat supir gadungan yang menculiknya itu sudah terikat dan berlutut dengan wajah yang babak belur.
"Apa kau sudah menyelidiki siapa keluarga mereka?"
"Sudah Tuan, supir itu mempunyai seorang istri dan anak perempuan satu-satunya dan saat ini sedang menemani cucunya bermain di mall." ucap Fernando.
"Kau dengar itu?" Tommy mencengkram kuat dagu supir gadungan itu. "Sebaiknya kau katakan siapa orang yang membantu Bella?"
Supir itu tidak menjawab, dia malah melirik orang yang berlutut disebelahnya yang tak lain adalah bos komplotan itu.
"Bos–." lirihnya.
"Kau diamlah, mereka tidak akan berani menyakiti keluarga mu." Bentak sang bos penculik itu.
Buuuughh.
Ken melayangkan tinjunya pada pria yang mereka akui sebagai bos mereka itu. Ken melirik kearah Fernando.
Fernando yang mendapat lirikan dari Ken pun langsung mengerti apa yang dimaksud Tuannya itu.
"Dia belum menikah Tuan tapi dia memiliki seorang Ibu yang saat ini sedang terbaring dirawat dirumah sakit. Ibunya membutuhkan perawatan khusus yang harus cuci darah setiap seminggu sekali. Dan–." Fernando menjeda ucapannya.
"Dan apa?" bentak Ken tidak sabar mendengar kelanjutan cerita Fernando.
"Ibunya dirawat di rumah sakit Citra Medistra Tuan." lanjut Fernando.
"Apa? Citra Medistra?" Tommy tampak terkejut. Karena Rumah Sakit itu adalah Rumah Sakit miliknya yang dibangun dengan hasil keringatnya sendiri.
"Siapa nama Ibunya? Jika dia tidak juga mengaku siapa orang yang menolongnya segera hentikan semua pengobatannya."
Fernando memberikan data tentang Ibu dari Bos komplotan itu kepada Tommy.
Bos komplotan itu tak bergeming sedikitpun. Ia masih tetap dengan pendiriannya dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Apa kau juga tidak mau mengaku siapa orang yang menyuruh mu?" Bentak Ken sambil mencengkram kerah baju yang dikenakan Bos penculik itu.
"Lakukan apapun yang kalian mau. Tapi jangan harap kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan." ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.
"Apa kau tidak tahu kalau pemilik rumah sakit itu adalah Orang yang berdiri didepanmu sekarang, yang kekasihnya baru saja kau culik? Sekali saja dia melakukan panggilan telepon maka Ibumu tidak akan selamat." gertak Ken lagi. Tapi tetap penjahat itu tidak bergeming.
"Silahkan lakukan itu. Toh, Ibuku juga tidak bisa tertolong lagi."
"Kurang ajar–. Dasar kau anak durhaka."
Buugghhh.... Buugghhh....
Ken tersulut emosi dan menghajar wajah pria itu bertubi-tubi.
"Sepertinya kau sedang mengujiku." ucap Tommy dengan menyunggingkan sudut bibirnya.
Tommy merogoh kantongnya dan mengambil ponselnya menelpon orang kepercayaannya.
"Hallo dokter Chris–, Aku ingin tahu bagaimana kondisi pasien atas nama Sulaiha?" Tommy menekan tombol speaker agar seisi ruangan itu dapat mendengarkan pembicaraannya dengan dokter Christofel.
Jeng Jeng Jeng
Akankah Tommy membunuhnya?
Like en Coment Pliiiisss 🤗