Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Perasaan Bersalah



Setiap pasangan pengantin baru yang melakukan perjalanan honeymoon pastilah mendambakan momen-momen bahagianya. Menikmati kebersamaan dengan pasangannya. Memadu cinta kasih setelah ikatan hubungan yang sah. Tapi berbeda yang dirasakan pengantin baru itu sekarang. Acara honeymoon yang berubah menjadi Famillymoon itu kacau berantakan karena tragedi yang tak pernah direncanakan dan diduga oleh seluruh mereka yang ikut dalam acara liburan keluarga itu.


Berta sangat terkejut begitu tahu kalau menantunya itu adalah mantan seorang gay. Bara dan semua saudara-saudaranya sengaja menyembunyikan identitas Tommy sebenarnya dari kedua orangtua mereka.


Togar juga merasakan hal yang sama tapi Togar bisa menerima alasan kenapa anak-anaknya itu menyembunyikannya. Mereka mengatakan awalnya mereka juga tidak menerima Tommy tapi karena mereka melihat kesungguhan Tommy dan Tommy juga mencintai saudaranya itu maka mereka bersedia merestui pernikahan adiknya itu.


Saat ini Barman dan ketiga saudaranya itu sedang membujuk Ibu mereka supaya tidak menyalahkan Roma ataupun Tommy.


Sementara pasangan pengantin baru itu sangat shock dengan kejadian yang mereka alami.


Roma melihat sepertinya suaminya itu sangat terpukul ketika mengetahui kalau Sandy datang menemui mereka untuk minta maaf bukan seperti yang ada dalam pikiran mereka selama ini.


"Mas, tidur dulu. Ini sudah malam." Roma mengajak Tommy masuk ke kamar. Setelah kepergian Zia yang membawa jenazah Sandy, mulai dari saat itu Tommy hanya diam. Tommy merasa sangat bersalah pada Sandy. Ia sengaja mengutus Ken untuk pulang ke Indonesia dan membereskan segala keperluan untuk pemakaman Sandy.


"Mas–." Roma menyentuh bahu Tommy. Pria itu sadar kalau saat ini ada wanita yang sangat dicintainya begitu mengkhawatirkannya.


"Iya, kamu tidur dulu ya. Sebentar lagi mas akan masuk." Ken menepuk-nepuk punggung tangan Roma.


"Mas, aku tahu mas merasa bersalah pada Sandy, tapi itu bukanlah kesalahan mas semata. Kalau memang dia berniat ingin minta maaf seharusnya dia ga perlu melakukan hal konyol dengan menodongkan senjata ke aku kan mas." Roma mencoba membuka pikiran suaminya itu agar dia tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu benar dek, tapi aku mengenal Sandy. Dia sengaja melakukan itu karena dia ingin aku merasa bersalah seumur hidupku dengan melihatnya mati didepan mataku sendiri. Itu keinginannya yang sebenarnya dek, dan kamu ga tahu itu. Bahkan Zia pun ga menyadari niat Sandy sebenarnya. Jika benar dia ingin sembuh tak seharusnya ia melakukan hal itu, sehingga membuat semua orang salah paham. Seharusnya dia berusaha mendapatkan kepercayaan ku lagi. Bukan dengan cara bunuh diri seperti ini. Itu tindakan bunuh diri yang sengaja menjebak orang lain untuk melakukannya." Ingin rasanya Tommy mengatakan itu pada istrinya tapi pastinya itu akan melukai Roma sehingga ia mengurungkan niatnya itu. Ia tidak ingin membuat wanita itu lebih khawatir lagi padanya.


"Iya sayang, aku tahu. Hanya saja aku ingin sendiri dulu. Kamu tidur duluan saja ya. Nanti mas nyusul. Mas hanya ingin menenangkan pikiran mas sebentar saja."


"Tapi mas–."


"Mas ga apa-apa Sayang, percayalah mas ga kenapa-napa."


Roma pun mengalah dan membiarkan suaminya itu sendiri dulu.


❣️


❣️


❣️


❣️


❣️


Sementara ditempat lain disebuah pesawat yang akan menuju ke Indonesia Zia masih merasa kecewa dengan suaminya itu lebih memilih duduk bersama dengan Mita sahabatnya.


Setelah Zia tertidur karena lelah menangis Ken mencolek tangan Mita, memintanya untuk pindah tempat duduk ke tempatnya karena Chandra ingin duduk bersama istrinya itu. Mita mengerti lalu pindah duduk disamping Ken.


"Maaf ya, liburannya jadi berantakan kayak gini." ucap Ken setelah Mita duduk disampingnya. Ia merasa sedikit bersalah pada gadis itu karena dirinyalah yang mengajak Mita untuk ikut ke acara honeymoon nya Tommy dan Roma.


"It's Oke, ga masalah." ucapnya sambil membuat simbol oke dengan jarinya sambil memejamkan kedua matanya sebentar dengan lembut. "Namanya juga musibah."


"Tapi boleh kan lain kali aku ajak kamu jalan. Sebagai ganti dari liburan yang gagal ini?"


"Hmmm, liat nanti deh. Aku juga ga bisa janji. Karena aku terikat kerja di Rumah Sakit."


"Kita atur jadwal kapan kamu off dong." Ken sudah sangat tertarik dengan wanita itu dan berusaha membujuknya untuk mau berlibur bersamanya.


"Liat nanti deh yah, soalnya ini aku udah minta cuti mendadak, ga mungkin aku bisa Off lagi dalam waktu dekat ini."


"Ya udah kalau gitu kita jalan setelah acara pemakaman Sandy beres gimana?" Ken sedikit memaksa karena dia belum sempat pedekate dengan gadis itu.


"Rasanya ga etis kalau kita liburan sementara orang lain sedang berduka." tolaknya halus padahal Mita juga ingin liburan tapi belum terbayar rasa lelahnya saat naik pesawat ke Maldives, kini dia harus kembali naik pesawat lagi pulang ke Indonesia.


"Tapi kita kan ga kenal dengan Sandy."


"Tetep aja, aku merasa ga nyaman. Karena kejadiannya juga tepat di depan mataku." Ken terdiam, ia tak mungkin memaksa gadis itu lagi.


Ditengah perjalanan Zia terbangun dan melihat dirinya sudah berada dalam pelukan suaminya. Zia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Chandra tapi saat itu Chandra tidak benar-benar tidur sehingga dia mengeratkan pelukannya.


Zia kembali menangis, ia masih sakit hati dengan suaminya itu. Entah kenapa ketidakpercayaan Chandra kepada dirinya sungguh melukai perasaannya.


Chandra mengalah dan melepaskan pelukannya. Dan sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Sampai akhirnya tiba dibandara Zia sudah ditunggu oleh pengacara dan juga keluarga Sandy.


Ibunya sangat terpukul mendengar berita kematian putranya itu. Entah apa yang akan keluarga Sandy lakukan pada keluarga mantan suaminya itu. Ia juga bingung apa yang harus ia lalukan kalau seandainya keluarga Sandy menuntut dan memintanya sebagai saksi.


Tentu saja itu akan menambah kekecewaan keluarganya padanya. Terutama Indah pasti akan tambah kecewa kepadanya.


"Terimakasih ya nak, karena sudah membawa jenazah putra saya pulang." ucap seorang wanita paruh baya yang bernama Dewi yang tak lain adalah ibunya Sandy.


"Iya Bu sama-sama. Maafkan saya tidak bisa ikut mengantarkan jenazah almarhum sampai ketempat peristirahatannya yang terakhir, karena saat ini anak saya sedang sakit Bu dan saya harus melihat anak saya."


Mendengar ucapan istrinya itu Chandra kembali terkejut. Ia tak tahu kalau putri kecilnya sedang sakit. Tanpa meminta penjelasan dari istrinya Chandra langsung menelpon ibu mertuanya. Awalnya Chandra mengira kalau istrinya itu hanya membuat alasan saja karena tidak ingin mengantarkan Sandy ke Sukabumi ke tanah kelahirannya. Tapi ternyata putrinya Chessy memang lagi sakit, sudah dari sejak kemarin Chessy demam.


"Ken, sorry sepertinya gue ga bisa ikut Lo ke Sukabumi." ucap Chandra.


"Ga apa-apa Chan, udah ada Fernando yang nemenin gue." ucap Ken ketika melihat Fernando sedang berjalan kearahnya.


"Sebaiknya kamu juga pulang saja, nanti aku telpon lagi kalau udah pulang dari Sukabumi." ucap Ken pada Mita dan dibalas anggukan kepala oleh Mita.


"Maaf ya ga bisa ngantar kamu sampai kerumah. Tapi kamu bawa saja mobil aku, ada di Basement 2B." Ken menyerahkan kunci mobilnya pada Mita.


"Ga usah aku naik taksi aja."


"Bawa saja. Sudah ya, kami jalan dulu." Ken berjalan bersama Fernando mengikuti mobil Ambulance yang akan membawa jenazah Sandy sampai kerumah duka.


Sementara Mita lebih dulu pamit kepada sahabatnya itu. Dan mencari mobil Ken ke tempat parkiran.


"Kenapa kamu ga bilang kalau Chessy sakit Zia? Apa sebesar itu kemarahanmu padaku sampai kamu mengabaikanku begini? Bahkan anak kita sakit pun kamu ga kasih tahu aku Zia?" Chandra ingin sekali bertanya begitu kepada istrinya tapi ia menahannya, ia tahu kalau istrinya itu sedang marah akan susah untuk membujuknya.


🔶


🔶


🔶


🔶


🔶


Di Maldives disebuah bungalow yang sangat besar dan indah Roma terbangun dari tidurnya ketika sang mentari menyentuh kulit wajahnya.


Ahh, ternyata matahari sudah tinggi diufuk timur. Roma menepuk-nepuk tempat tidur disebelahnya ia merasakan kalau Tommy tidak ada disampingnya.


Roma bangun dan mencari suaminya itu kesekitar bungalow dan ternyata suaminya itu sedang menikmati secangkir kopi dan sepiring cookies.


"Kamu udah bangun sayang?" Tommy melihat wajah cemas dari raut wajah istrinya itu.


"Mas udah lama bangunnya?" Dirinya tidak menjawab pertanyaan suaminya malah bertanya kepada suaminya itu.


"Hmmm–." Tommy berdehem sambil menyeruput kopi yang ditangannya.


"Yang lain udah pada sarapan kali ya Mas?" Roma melihat jam didinding sudah menunjukkan waktu pukul sepuluh pagi waktu di Maldives.


"Sepertinya begitu. Kamu cepat mandi dan siap-siap yah. Siang ini kita pulang duluan. Honeymoonnya, kita jadwal ulang saja yah." ucap Tommy sambil mengusap rambut Roma pelan lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.


"Kenapa sepertinya sikap kamu berubah Mas? Apa karena perasaan besalahmu pada Sandy?"


Kok Gantung Thor???


Sabar Sayang Sabar–


Lanjut besok yach!!! Author tunggu Like dan Comentnya serta kembang-kembangnya


Sebagai ganti Karangan bunga untuk Sandy 😭