Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Pelengkap Keluarga



Roma sudah selesai mengganti pakaiannya ia akan bekerja hari ini. Tapi Roma jadi sedikit terlambat karena tadi suaminya kembali melanjutkan pergulatannya ketika mereka sedang mandi. Sebuah sentuhan yang tentunya sulit untuk ditolaknya. Roma pun menyempatkan untuk mengganti seprai tempat tidurnya karena ia merasa segan bila kamar tidurnya dibersihkan oleh pekerja rumah. Pasti bisa ketahuan sisa-sisa percintaan mereka tadi malam yang tertinggal diseprei itu.


"Sayang, tolong pakeiin dasi." pinta Tommy dengan manja, Roma hanya tersenyum melihat tingkah manja suaminya itu. Roma mendekati Tommy dan mulai memasang dasi suaminya. Tommy memeluk pinggang Roma sambil sesekali menggesek-gesekkan miliknya yang tepat berada diperut Roma. Sudah menjadi kesenangan Tommy untuk mengganggu Roma yang sudah membuatnya menjadi candu akan Roma.


"Mas, bisa diem ga?" Roma merasa geli dengan perlakuan Tommy yang menggesek-gesekkan peliharaannya itu. Tapi Tommy tidak menghiraukannya dirinya malah mencium kening Roma berkali-kali sampai Roma selesai memasang dasinya.


"Terimakasih ya sayang." ucapnya lalu mencium bibir Roma.


"Iya Mas–."


Keduanya keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Disana Roma melihat Indah sedang menata sarapan dimeja makan.


"Pagi Mami–." sapa Roma lalu mencium pipi Indah.


"Pagi juga sayang. Gimana tidur kamu? Nyenyak?"


"Iya Mi, makanya sampe telat bangunnya. Maaf ya Mi, Roma ga sempat bantu Mami siapin sarapan." lirih Roma. Ia sengaja berbohong pada mertuanya itu karena tidak mungkin ia mengatakan kalau suaminyalah yang membuatnya terlambat bangun. Tapi Indah tersenyum senang mendengar ucapan menantunya itu.


"Ga apa-apa sayang, lagian Mami juga hanya menata saja. Tadi yang masak semuanya juga Bi Asih." jelas Indah dan dibalas anggukan pelan oleh Roma.


"Mas mau minum kopi atau teh?" tanya Roma pada Tommy.


"Kopi aja, gulanya setengah sendok aja ya sayang."


"Iya Mas."


Indah lagi-lagi tersenyum melihat Roma yang melayani anaknya dengan baik.


"Pagi semua." sapa Prayoya yang baru bergabung dengan mereka.


"Pagi Pi–." jawab Roma dan Tommy bersamaan.


"Pagi juga sayang." Indah mencium punggung tangan suaminya dan dibalas Prayoga yang mencium kening Indah.


"Bahagianya jadi Mami? Mas Tommy bisa ga ya nanti kayak Papi, romantis sampe tua." Batin Roma yang melihat keharmonisan pasangan yang sudah tidak muda lagi itu.


"Udah ga usah diliatin gitu. Mami sama Papi itu memang sudah biasa begitu. Selalu mengumbar kemesraannya didepan orang lain." Ternyata Tommy memperhatikan Roma yang terus melihat kearah Maminya, Roma tersipu malu kerena ketahuan oleh suaminya yang sedang mencuri pandang kemesraan mertuanya.


"Emangnya siapa yang orang lain? Kalian itu anak Papi. Ngapain Papi harus malu didepan kalian." ucap Prayoga. Roma semakin tertunduk malu.


"Tapi biasa aja dong Pi–, kalau mau mesra-mesraan sama Mami dikamar aja ga usah dimeja makan begini, ganggu konsentrasi aku makan aja. Nanti kalau aku pengen kan, bisa ga jadi kerja bini aku nanti." balas Tommy dan Roma pun menghadiahkan sebuah cubitan dipaha Tommy karena ucapan Tommy yang tak berfilter itu.


"Aaauuuw, Sakit sayang." protes Tommy sambil mengusap-usap pahanya yang dicubit Roma.


"Makanya sarapan aja, ga usah debat. Disini bukan forum debat, kalau mau debat di gedung DPR sana–." ucap Roma setengah berbisik pada Tommy yang duduk disampingnya.


"Udah-udah, cepat habiskan sarapan kalian." ucap Prayoga, lalu melepaskan pelukannya dari Indah istrinya. "Oya Boru–." Roma terkejut mendengar Prayoya memanggilnya Boru karena biasanya hanya Bapak dan mamaknya saja yang memanggilnya begitu. "Ga apa-apa kan Papi panggil kamu Boru, biar sama seperti bapak kamu manggil kamu. Kan sekarang kamu putri Papi juga." ucap Prayoga meminta ijin pada Roma terlebih dahulu untuk panggilannya itu. Karena Roma tampak terkejut dengan panggilannya.


"Iya Pi, ga apa-apa." sahutnya cepat. Justru Roma merasa senang dipanggil seperti itu.


"Papi udah siapin kamu supir jadi nanti kamu berangkat sama supir aja yah–." Prayoga menepati janjinya yang akan memberikan seorang supir kepada Roma.


"Iy–." belum sempat Roma menjawab Tommy sudah memotong ucapan Roma.


"Biar aku yang antar Pi, nanti kalau aku ga sempat jemput baru minta supir buat jemput Roma."


"Ya udah terserah kalian saja. Soalnya supir yang mau Papi pekerjakan untuk si Boru udah datang, tadi Bi Asih yang bilang kalau Pak Joni sudah didepan menunggu."


"Kenapa Pak Joni Pi? Dia kan supir kantor Pi?" tanya Tommy karena biasanya Pak Joni bekerja sebagai supir dikantornya. Bila ada karyawan yang akan meninjau lokasi ke lapangan, maka Pak Joni lah yang akan mengantar karyawan tersebut.


"Ya untuk sementara saja, sebelum nanti Papi temukan supir lain untuk si Boru." jelas Prayoga sambil menikmati sarapannya.


"Oo, kirain bakalan terus jadi supirnya Roma. Soalnya Pak Joni itu sudah hafal semua perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan kita Pi, kalau harus diganti kan ribet harus training lagi." Tommy kalau sudah merasa nyaman dengan karyawan-karyawan maka dia akan tetap mempertahankannya. Kadang memberikan mereka bonus jika pekerjaan mereka bagus. Tapi jika ada karyawan yang melamar bekerja ke Perusahaannya tetapi semasa magang atau training mereka bekerja tidak maksimal maka ia tidak akan mempekerjakan orang tersebut.


"Wah keren Papi, Tommy aja ga kepikiran buat cari supir cewek Pi."


"Supir cewek juga ga sembarangan cewek Tom, Papi cari yang bisa bela diri supaya dia bisa sekalian melindungi Boru Papi ini." ucap Prayoga sambil mengusap lembut rambut Roma. Tak terasa airmata Roma menetes, merasa terharu karena sampai seperhatian itu mertaunya padanya.


"Loh, kamu kok menangis Boru?" Prayoga melihat airmata Roma yang menetes dipipinya.


"Aku ga apa-apa Pi, aku cuma bersyukur saja memiliki Papi sama Mami yang begitu sayang dan perhatian sama aku Pi."


Indah langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Roma dengan penuh kasih sayang.


"Kami yang lebih bersyukur sayang. Karena kamu sudah mau menjadi menantu Mami, menerima segala kekurangan anak Mami. Kamu itu anugerah yang paling indah yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi keluarga kita." Indah mencium kening Roma dengan lembut lalu mengusap airmatanya.


"Kami sangat bersyukur Boru, karena kamu mampu membuat anak Papi sembuh dan Normal kembali. Itu hal yang luar biasa yang kamu berikan kepada kami. Apalah arti semua harta yang kumiliki kalau putraku satu-satunya tetap berada dijalan yang salah itu." Prayoga tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan Tommy.


"Udah dong, kenapa jadi melo gini? Masih pagi udah tangis-tangisan." ucap Tommy karena melihat airmata Indah juga menetes.


"Udah dong, sini Mas peluk–." ucap Tommy lalu menarik Roma dari pelukan Maminya.


"Cup-cup-cup–." ucap Tommy seperti mendiamkan anak kecil sambil menepuk-nepuk punggung Roma dan sesekali mengusapnya.


"Udah, ayo lanjut sarapannya." ucap Prayoga lalu kembali duduk bersama Indah dan berhadapan dengan anak dan menantunya.


Mereka pun menyantap sarapannya hinggga selesai.


Tommy mengantar Roma ke Rumah Sakit miliknya sebelum ia berangkat ke kantornya.


"Mas, aku langsung masuk yah. Ini udah telat 10 menit aku Mas–."


"Iya."


"Salim–." Roma meminta tangan Tommy untuk salim dan tak lupa Tommy mencium kening istrinya.


"Hati-hati kerjanya ya sayang."


"Iya, mas juga hati-hati dijalan. Ga usah ngebut-ngebut karena Mas kan Bosnya jadi bebas mau datang jam berapa aja."


"Bos sih Bos sayang tapi kalau disipilin tetap harus nomor 1, kalau Bos nya lelet nanti karyawannya juga lelet. Jadi sebagai Pimpinan Mas juga harus tunjukan kedisiplinan untuk karyawan Mas." jelas Tommy.


"Iya deh Bos, udah ya Bos, aku masuk dulu." Tommy pun mengangguk lalu Roma keluar dari mobilnya. Dilambaikan tangannya mengantarkan kepergian suaminya.


"Duh mesranya–." tiba-tiba terdengar suara Cinta dari belakangnya.


"Cinta, kamu–." Roma terdiam ia terperangah melihat penampilan Cinta yang cantik dengan pakaian seragam sekolahnya.


"Hari ini aku sudah mulai sekolah Kak, dan Ayah Chris yang akan mengantarku ke sekolah." ucap gadis itu. Airmata Roma menetes ia tak menyangka kalau Cinta akhirnya bisa sembuh dan normal kembali.


"Wah, selamat ya sayang, baik-baik belajarnya. Kamu harus terus menyesuaikan diri kamu sama lingkungan dan teman-teman kamu. Jangan pernah batasi diri kamu untuk berteman dengan siapa saja yang penting harus ingat jaga diri." pesan Roma lalu memeluknya.


"Iya Kak." jawabnya singkat.


Sekarang Cinta sudah menjadi anak angkat dokter Christofel dan tinggal bersamanya. Istri dokter Christofel sangat menyayangi Cinta karena mereka tidak mempunyai anak perempuan, dan kedua anak laki-lakinya tidak keberatan saat dokter Chris mengadopsinya. Dan tentu saja semua itu atas permintaan Tommy. Awalnya Tommy akan membiayai semua kebutuhan dan pendidikan Cinta tapi dokter Christofel menolaknya. Karena dokter Chris yang sudah mengadopsinya maka ia yang bertanggung jawab untuk kehidupan Cinta.


Cinta diadopsi atas persetujuan Ibunya dan tentunya Ibunya meminta uang yang tidak sedikit. Bukan kepada dokter Chris tapi kepada Tommy karena Timmy yang datang langsung menemuinya untuk meminta persetujuan darinya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya dokter Chris dari dalam mobilnya.


"Iya Ayah." Cinta masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangannya pada Roma sambil berkata "Cinta berangkat ya Kak."


"Iya sayang hati-hati." ucapnya lalu masuk kedalam rumah sakit setelah melihat mobil mereka yang sudah pergi jauh meninggalkannya.


Ku ingin jejakmu say 😍