
Hari Kelima di Korea
Tak ada hubungan yang sempurna tanpa terjadi masalah. Dalam pernikahan, suami atau istri pasti pernah melakukan kesalahan karena berbagai alasan. Mengulur waktu untuk meminta maaf dapat membuat pasangan suami istri terpisah lebih jauh. Oleh sebab itu Tommy tidak ingin menunggu terlalu lama untuk meminta maaf pada Roma meskipun itu berat.
Tommy meminta maaf dengan tulus dan itu akan dapat membantu membangun kembali kepercayaan di antara mereka, meningkatkan keterampilan komunikasi, dan memperkuat keintiman dalam pernikahan mereka sebagai suami-istri.
Sebelum meminta maaf, yang pertama kali harus Ia lakukan adalah mengakui kesalahannya. Tommy belajar untuk menerima kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.
Ia bersyukur karena memiliki istri yang berhati mulia bisa menerima kekurangannya dan juga memaafkan kesalahannya.
Sekarang mereka seperti pasangan yang paling bahagia didunia.
Tak terasa sudah lima hari lamanya mereka berada di negara ginseng itu. Sebagian tempat wisata sudah mereka kunjungi.
Mulai dari Istana Gyeongbokgung, Taman hiburan Everland, Seongsan Sunrise Peak yang merupakan objek wisata berbentuk mangkuk yang dikelilingi tebing curam dan lautan dan tempat-tempat menarik lainnya.
"Apa kamu senang Sayang?" tanya Tommy pada Roma yang sedari tadi tersenyum dengan senang.
"Tentu Mas, soalnya dulu waktu jalan-jalan kesini bareng sama Zia dan yang lainnya aku ga sempat jalani semuanya. Mau beli ini itu juga terbatas. Maklumlah masih anak kuliahan mana ada duit belanja lebih. Kalau sekarang mah semua mas yang bayarin. Aku tinggal ngikut aja." ujar Roma polos.
"Terus kamu mau kemana lagi?" Tommy mengecup kening Roma.
"Sebelum kita pulang, aku mau ke pulau Jeju Mas–."
"Oke ayo kita kemon kesana." Tommy sudah tahu keinginan istrinya itu. Sebelum mereka kembali ke Indonesia Roma ingin mengunjungi pulau Jeju dan Tommy sudah menyiapkan tiket keberangkatan mereka.
Perjalanan dari Seoul ke pulau Jeju memakan waktu 1 jam penerbangan menggunakan pesawat. Saat ini pasangan pengantin baru itu sedang di perjalanan menuju Bandara.
"Mas udah beli tiket?" tanya Roma merasa heran karena suaminya itu langsung mengajaknya ke Bandara tanpa persiapan apapun.
"Hemm." Dan Tommy hanya menganggukkan kepalanya.
"Tapi barang-barang kita mas? Terus baju ganti kita gimana?" Roma kembali teringat dengan barang-barang mereka yang masih tertinggal dihotel.
"Kamu ga perlu cemaskan itu. Kita bisa beli baju disana."
"Tapi mas–, kalau kita pulang lagi kesini kan repot mas!"
"Kamu ga usah pikirkan itu. Nanti Mas bisa suruh pegawai hotel untuk membawa barang-barang kita ke Jeju."
"Mas itu selalu merepotkan orang saja."
"Mereka juga bakalan senang melakukannya Sayang, karena selain mereka dapat tambahan gaji, mereka juga bisa sekalian refreshing ke Jeju kan?"
"Iya juga ya. Terserah mas ajalah–." ucap Roma pasrah dan mengikuti keputusan suaminya.
Tommy dan Roma pun sudah berada dipesawat menuju ke Pulau Jeju. Tak ada beban yang mereka pikirkan saat ini. Mereka hanya menikmati honeymoon mereka yang sempat kacau karena ulah Zia.
...💞💞💞💞...
Lima hari Sebelumnya di Indonesia
Setelah keberangkatan Roma dan Tommy ke Korea. Barman dan Bara langsung melacak keberadaan Robert. Togar meminta Barman dan Bara untuk membawa Robert kepadanya terlebih dahulu sebelum mereka menjebloskan Robert ke dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sementara Bany dan Banu tetap berada dirumah orangtuanya. Mereka berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Berta ibunya, mengingat betapa shock-nya Berta saat itu.
Barman meminta salah satu detektif kenalannya untuk melacak keberadaan Robert melalui GPS ponselnya. Dan tentu saja itu sangat mudah baginya.
"Bang, sepertinya saat ini Robert berada di club malam." lapor Radit sang detektif dari seberang telponnya.
"Di club? Ini kan masih pagi bagaimana mungkin dia berada disana?" Barman terkejut, Bara yang mendengarnya pun langsung mengarahkan mobilnya menuju club yang dimaksud oleh Radit.
"Sepertinya dia tidak pulang Bang, dan salah satu pelayan Bar disana adalah temannya, makanya dia bisa menginap di club itu." jelas Radit.
"Kirim alamatnya sekarang." Barman menutup telponnya dan tak berselang lama sebuah pesan masuk ke ponselnya. Barman langsung membuka isi pesan tersebut dan membaca alamat yang tertera disana.
Tanpa mengulur waktu lagi, Bara langsung tancap gas menuju lokasi club malam itu. Dan benar saja, sesampainya disana tanpa basa-basi Barman langsung menerobos masuk, karena tidak ada penjagaan disana saat siang hari.
Robert tertidur disofa yang berada di club itu dengan nyenyak sehingga ia tak sadar kalau saat ini Bara dan Barman sedang berdiri dihadapannya.
"Bangun kau bangsatt!!" Tanpa basa-basi Barman menarik kerah baju Robert. Robert sangat terkejut ketika ia membuka mata ia melihat Barman sedang mencengkram bajunya.
"Lae, Lae maafkan aku." Seolah Barman sudah tuli ia tak perduli dengan permohonan Robert. Barman terus menarik kerah baju Robert dan membawanya keluar dari club itu.
"Jangan ikut campur–!!!" seru Bara pada pria yang ingin menolong Robert dan Bara yakin kalau pria itu adalah teman Robert.
Pria itupun tak berani berkutik dan membiarkan Robert dibawa oleh Barman dan Bara.
Bara segera masuk ke mobil dimana Barman duduk dibangku penumpang bersama Robert.
"Lae, maafkan aku Lae–." Robert terus saja memohon.
Robert terus memutar otaknya mencari cara untuk bebas dari kedua sepupunya itu tapi sepertinya otaknya buntu, tak ada jalan keliar yang ia temukan untuk bisa melarikan diri, karena saat ini Barman mengikat tangannya dengan Cable Ties Double Head yang biasa polisi gunakan untuk memborgol penjahat.
Sejam diperjalanan akhirnya mereka sampai dirumah. Sebelumnya Bara sudah memberi tahu pada Citra istrinya untuk membawa Ibunya keluar dulu. Karena ia takut kalau darah tinggi Ibunya itu akan kambuh bila melihat Robert.
"Ayo cepat–." Bara mencengkram kerah baju, menariknya keluar dari dalam mobil, setelah Barman melepaskan ikatan ditangannya.
Barman mengikuti dari belakang menjaga agar Robert tidak kabur.
Sesampainya di rumah, Bany dan Banu sudah tak sabar menyambut kedatangan Robert.
Buuughhh.
Bany langsung melayangkan bogemnya pada Robert.
"Hentikan Bany–!" teriak Barman, saat Bany ingin melayangkan tinjunya kembali.
"Kenapa Bang? Bajingan ini udah berani melecehkan Badi Bang, dia pantas untuk mendapatkannya." Bany sangat emosi begitu juga dengan Banu yang terlihat ingin menghajar Robert juga.
"Kalau ingin menurutkan kehendak hati, sudah dari tadi dia ku bunuh Bany–." ucap tegas Barman. "Tapi Bapak meminta kita untuk membawanya. Jadi biarkan Bapak yang memberi keputusan."
Bany dan Banu pun diam, mereka tidak berani untuk membantah Abang tertuanya itu.
Bara menarik Robert kedepan Togar yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Mintalah pengampunan sama Bapak–." Bara mendorong Robert hingga terjatuh tepat di kaki Togar.
"Tulang, maafkan aku Tulang–." Robert memeluk kaki Togar. "Aku tidak bermaksud melukai Roma Tulang, aku begitu mencintainya Tulang. Aku tak mungkin melukainya."
"Ito, maafkanlah Robert ito–." Mendengar suara anaknya dipukul oleh Bany Artanti pun langsung keluar dari kamar dan menemui Togar saudaranya. Artanti terkejut melihat Robert sudah bersimpuh di kaki Togar.
"Ito sudah tahu apa yang menjadi keputusan ku To, aku minta maaf kalau ini membuatmu marah dan kesal. Tapi sebagai wanita tentunya ito paham dan mengerti apa yang dirasakan Roma sekarang."
Hati Artanti sangat terluka memdengar ucapan Togar saudaranya.
"Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran Ito, supaya dia tidak melakukan kesalahannya lagi." sambung Togar.
"Dan kau Robert, sebaiknya kau serahkan dirimu ke polisi, buatlah pengakuan mu sendiri sehingga kau bisa mendapat keringanan hukuman. Bila sampai aku yang membuat laporan maka akan ku pastikan kau membusuk seumur hidupmu dipenjara." ucap Togar dengan tegas. Mata Robert langsung terbelalak mendengar ucapan Togar. Ia tak menyangka kalau Togar yang dikenalnya berhati lembut ternyata akan sangat bringas bila sudah marah.
"Tulang, aku mohon maafkan aku Tulang–." Robert menarik kaki Togar yang beranjak dari tempat duduknya. Tak ingin menjawab ucapan Keponakannya itu Togar memilih menarik kakinya dari tangan Robert dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Tapi baru melangkah dua langkah, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Robert.
"Aku kan tidak sempat melakukannya Tulang–, tapi kenapa Tulang tega sampai menyuruhku untuk menyerahkan diri?" Entah mendapatkan keberanian dari mana Robert mengatakan hal itu.
Emosi Togar yang ditahannya sejak kemarin pun meledak. Ia mengepalkan genggamannya.
"Apa kau bilang? Tidak sepat kau bilang?" Togar berjalan mendekati Robert dan langsung menarik bajunya.
Buuughhh.... Buuuughh.
Togar melayangkan tinjunya di perut Robert dua kali.
"Kurang ajar? Laki-laki ga punya otak! Pecundang–."
"Bapak, Bapak tahan Pak!" Barman menahan Togar saat Togar ingin memukul Robert lagi. Sementara Bara dan Banu langsung menjauhkan Robert dari Togar.
"Ito, tolong maafkan Robert To–." Dengan linangan air mata Artanti kembali memohon kepada Togar.
"Diam kau!!" sentak Togar pada Artanti adiknya.
Artanti pun terkejut, seumur hidupnya ia tak pernah dibentak oleh Abangnya itu. Artanti menangis tak dapat lagi ia membela anaknya ataupun mendapatkan pengampunan dari saudaranya itu.
"Bawa dia pergi dari hadapanku!" perintah Togar pada Bara.
"Ku tunggu 24 jam dari sekarang, kalau kau tidak menyerahkan dirimu. Jangan harap ada pengampunan lagi dariku. Akan ku sewa pengacara untuk membuatmu busuk dipenjara." tegas Togar.
"Robert, Robert serahkan saja dirimu nak, jangan kau lawan lagi Tulangmu. Mamak mohon nak, akuilah kesalahanmu." Artanti meminta kepada Robert untuk menuruti keinginan saudaranya itu.
"Saya rasa Robert tidak perlu melakukan itu!!" tiba-tiba saja seseorang datang dan mengalihkan perhatian semua orang kepada orang itu.
Mendengar ucapan itu membuat Togar semakin geram dan marah.
Maaf ya Bunda, Teteh, Sis, Eda, dan semuanya.
Maafkan keterlambatan Author untuk Up 🙏
Semoga Kalian tetap suka dan stay di Novel akoh 😍
Jangan Lupa tinggalkan jejak Kalian yach 🤗