
Dengan cepat Tommy langsung membawa Roma keluar dari rumah sakitnya. Dia langsung meminta Ken dan Fernando untuk melacak keberadaan Rendi. Tidak ada lagi kata ampun baginya untuk Rendi karena Rendi telah berani mengusik istrinya.
"Cepat kalian temukan Rendi dan bawa dia ke markas. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Aku sudah tak ingin membiarkan polisi yang menanganinya." ucap Tommy lalu mematikan panggilannya pada Ken.
Lalu Tommy masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak ada obrolan diantara mereka, emosinya masih memenuhi hati dan pikirannya.
"Mas–." Roma melihat kemarahan Tommy dan berusaha untuk meredakan amarah suaminya. "Mas, aku sudah ga apa-apa. Mas ga perlu emosi begitu."
Tommy tiba-tiba menginjak rem mobilnya dan menepikan mobilnya.
"Kamu tahu sayang, kalau terjadi sesuatu padamu tadi. Aku–, aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Tommy memukul-mukul stir mobilnya.
"Mas–." Roma meraih tangan Tommy. "Aku ga apa-apa. Maafkan aku udah buat Mas khawatir." Airmata Roma pun lolos dari matanya. Ia sangat takut melihat Tommy yang begitu emosi.
"Aku akan memecat mereka semua yang tidak bisa mengenali Rendi." ucap Tommy tegas.
"Jangan Mas–."
"Kamu kenapa sih sayang?" Tommy menangkup wajah Roma dengan telapak tangannya. "Kamu tahu ga gara-gara kecerobohan mereka kamu hampir saja celaka." lalu Tommy menghapus airmata Roma dengan ibu jarinya.
"Tapi itu bukan kesalahan mereka Mas, Rendi melakukan penyamaran. Aku saja hampir tak mengenalinya Mas." Roma menggenggam tangan Tommy yang ada dipipinya. "Bukan aku ingin membela mereka Mas, tapi mereka juga butuh pekerjaan Mas, kalau mas memecat mereka semua, bagaimana mereka akan menghidupi keluarga mereka Mas. Sebagian dari mereka itu tidak seberuntung kita Mas, yang terlahir dari keluarga yang cukup. Apalagi diantara security itu ada istrinya yang tengah hamil tua. Apa mas tega memecat security itu? Lalu bagaimana dia akan menghidupi anak istrinya kalau Mas memecatnya." Roma tahu kelemahan suaminya itu adalah rasa ibanya pada orang lain. Meskipun ditengah-tengah emosi yang memuncak ia tahu kalau didalam lubuk hati suaminya masih tersimpan rasa kasih dan peduli dan saling tolong menolong.
"Hati kamu itu terbuat dari apa sih Sayang?" Tommy menatap manik mata istrinya itu. Ada keteduhan disana. Ia pun mengerti apa yang menjadi keinginan istrinya itu.
"Baiklah aku tidak akan memecat mereka tapi aku akan tetap menghukum mereka dengan memotong gaji mereka 20% lalu memberikannya kepada orang yang kurang beruntung." Roma lega mendengarnya. Setidaknya suaminya itu tidak jadi memecat mereka. Ia akan memberi pengertian pada rekan kerjanya agar mereka juga tidak menyalahkan tindakan suaminya itu.
"Terserah mas saja. Terimakasih ya Mas, karena mas tidak memecat mereka. Tapi kalo boleh jangan 20% ya Mas, 5% aja bagaimana?" Roma mencoba merayu suaminya.
"Tidak ada penawaran Sayang."
"Tapi Mas, kasihan mereka Mas–." lirih Roma.
Tommy menarik nafasnya dalam-dalam.
"Baiklah, aku akan memotongnya 10% dan tidak ada tawar menawar lagi." Tommy mengatakan itu tegas pada Roma.
"Terimakasih ya Mas." Roma memeluk lengan Tommy.
"Iya, tapi itu ga gratis. Nanti malam kamu harus lembur buat mas sampe berhenti marah dan kesal karena kesalahan mereka." Tommy memainkan alisnya menggoda Roma.
"Iish, apaan sih Mas?" Roma tahu maksud dari suaminya itu. Kata lembur menurut versi suaminya itu adalah bukanlah lembur dalam pekerjaan tapi dia yang harus berusaha memuaskan suaminya diranjang. "Pikiran mas itu ga jauh-jauh, pasti ujung-ujungnya mengarah kesana. Dasar mesum." gerutu Roma.
"Mesum sama istri sendiri boleh dong. Dari pada Mas mesum sama cewek lain. Kamu mau?" Tommy kembali menggoda Roma.
"Awas aja kalau mas sampe berani. Aku kebiri nanti anunya mas."
"Jangan dong yang, ntar ga ada lagi mainan kamu yang." Tommy menarik tangan Roma dan menuntunnya tepat diatas bagian miliknya.
"Idih, ogah–." Roma menarik tangannya dengan cepat. Ia dapat merasakan ketegangan disana.
Tommy melepaskan seatbelt-nya lalu meraih tubuh Roma yang membelakanginya.
"Jangan pernah kasih punggung sama aku, aku ga suka Yang–." Lalu Tommy ******* habis bibir Roma. Tommy mencium bibir Roma dengan rakusnya, tangannya mulai bergerilya diatas gundukan milik istrinya itu.
Roma mendesis menikmati setiap sentuhan Tommy.
"Eemm, Mas–, udah." Roma melepaskan pagutan Tommy dan mendorong Tommy agak menjauh darinya. "Malu, takut nanti diliat orang Mas." Tommy kesal karena adik kecilnya sudah terasa sesak dibawah sana.
"Kita ke hotel ya Sayang." ajak Tommy.
"Tapi aku laper mas–." Roma belum makan siang dan tujuan Tommy menjemputnya juga untuk makan siang bersama tapi karena insiden yang baru dialami Roma membuat Tommy lupa akan tujuannya.
"Ya sudah sekarang kita makan dulu. Kita langsung ke hotel pesan makan direstoran hotel aja ya sayang?" Roma hanya menganggukkan kepalanya. Ia tak mungkin menolak keinginan suaminya itu. Karena saat itu dirinya pun sudah terbuai oleh sentuhan suaminya dan ia juga menginginkannya.
Dengan cepat Tommy langsung kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Mencari hotel miliknya yang terdekat.
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
▪️
Ditempat lain diwaktu yang sama. Ken sedang merasa kesal karena mendapat tugas baru dari Tommy. Karena lagi-lagi Tommy merusak acara launch-nya dengan Mita, wanita yang telah berhasil menjerat hatinya.
Ken meraih tangan Mita, ia bingung harus bagaimana dengan gadis yang duduk didepannya itu. Karena mereka baru saja sampai direstoran itu tiba-tiba saja Tommy menelponnya dan memberikan tugas baru untuknya.
"Mit, maaf ya, aku ga bisa menemani kamu makan siang. Ada kerjaan yang sangat emergency. Aku harap kamu mengerti ya." Ken melepaskan tangan Mita lalu berdiri dari duduknya.
Tapi belum sempat Ken melangkahkan kakinya tiba-tiba ia mendengar Mita berbicara. "Kalau kamu pergi, kita PUTUS." ucap Mita tegas. Ken langsung membalikkan badannya dan melihat gadis yang duduk didepannya itu.
Sebenarnya Ken merasa senang mendengar ucapan Mita tapi ia juga merasa ada yang menggelitik perasaannya.
Memang benar belum ada kata sepakat untuk mereka pacaran tapi ia pikir dengan kebersamaan mereka selama ini, itu sudah mewakili sebuah ungkapan kata JADIAN, karena menurutnya pacaran orang dewasa itu kadang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata tapi hanya dengan perhatian dan kebersamaan mereka saja itu sudah dapat mewakili perasaan mereka. Tapi ternyata dirinya salah.
Mita kesal dan juga malu, dengan cepat ia berdiri dan mengambil tas yang ada disampingnya. Tanpa sepatah katapun ia ingin langsung pergi dari restoran itu. Tapi dengan cepat Ken menghentikan Mita.
"Hey, mau kemana?" Ken meraih tangan Mita dan memintanya untuk duduk kembali. Tanpa menjawab Mita pun kembali duduk karena ia tak mau menjadi pusat perhatian orang lain yang juga sedang makan siang disana. Ken berpindah duduk disampingnya.
"Maaf, aku ga bermaksud menyinggung perasaan kamu. Justru kalau kamu menganggap kedekatan kita ini sudah mewakili ungkapan perasaan kita untuk kita pacaran, aku setuju." ucap Ken dengan perasaan bahagia.
Mita melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ken.
"Sorry, yang tadi itu aku hanya bercanda." ucap Mita ketus. Ia sudah terlanjur sakit hati karena Ken menertawakannya tadi.
"Beiiib–, maaf." Ken kembali menggenggam tangan Mita.
Sebenarnya Mita merasa senang mendengar panggilan sayang Ken kepadanya. Tapi Mita menahannya tidak mau terlihat kalau ia senang dengan perlakuan Ken saat itu.
"Ya udah kita makan dulu. Setalah ini aku benar-benar harus pergi. Maaf aku ga bisa mengantarmu pulang. Tapi nanti kamu diantar supirku ya."
Mita tidak menjawab, dalam hatinya ia sudah senang karena bisa menikmati makan siangnya bersama Ken, orang yang sudah mengisi hatinya belakang ini. Tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Ken.
Bukan dengan alasan Mita mengatakan hal itu, karena sudah beberapa kali saat mereka bersama, Ken selalu saja meninggalkannya sendirian berdalih dengan pekerjaannya yang emergency. Sebenarnya yang dokter itu Ken atau Mita? Tapi karena saat ini Ken mau menemaninya makan siang itu sudah cukup buatnya.
Ken memintanya untuk memesan makanan untuk mereka. Sementara Ken sibuk menghubungi Fernando.
"Fer ada tugas baru, cepat lacak keberadaannya. Dan dalam waktu 15 menit kamu harus sudah sampai di Restoran Xx. Jemput aku dan jangan lupa bawa supir untuk membawa mobilku." Setelah mendengar jawaban dari Fernando, Ken pun langsung mematikan ponselnya.
"Ada masalah apa dikantor?" tanya Mita penasaran karena melihat Ken yang begitu serius saat menelepon tadi.
"Hmm, ada masalah sedikit. Ada seorang karyawan yang menggelapkan uang Perusahaan dan sekarang mencoba melarikan diri ke luar negeri. Makanya aku minta Fernando untuk melacaknya." ucap Ken berbohong, ia tahu kalau Mita adalah sahabat Roma dan ia tak mau membuat Mita khawatir dengan Roma.
"Ini aku pesan ini buat kamu. Kamu suka kan?" Mita menyodorkan piring yang berisi Nasi dan daging sapi lada hitam paprika.
Ken pun menerima piring itu dari tangan Mita.
"Aku ga tahu kamu sukanya apa, jadi aku pesan aja yang menurut ku enak."
Raut wajah Ken berubah seketika.
"Tapi ini kebayakan Beib, apa semuanya bisa habis?" Ken melihat meja mereka yang dipenuhi beberapa jenis makanan yang dipesan Mita.
"Ya kalau ga habis bungkus aja, atau nanti ajak supir kamu makan sekalian." jawab Mita sekenanya.
"Beib, aku itu sedang buru-buru, ga mungkin nungguin sampe supir selesai makan juga." Ken benar-benar harus menyelesaikan tugas yang diberikan Tommy padanya.
"Ya udah ntar aku yang abisin."
"Kamu yakin bisa ngabisin semua ini?" Ken menatap manik mata Mita.
"Bisa. Udah buruan makan, katanya buru-buru."
Tapi Ken seperti tak percaya kalau ia melihat Mita menghabiskan semua makanan itu.
"Beib, ga usah dipaksa, nanti muntah loh." Ken melihat sepertinya Mita memaksa untuk menghabiskan semua makanannya.
"Aku kenyang banget... Tapi kalau ga dihabisin, mubajir lagi."
Mita terus mengunyah dan memaksa untuk menghabiskan makanannya.
"Beib, udah jangan dipaksa." Ken menghentikan Mita.
"Kamu ga marah kalau makanannya ga habis?"
"Justru aku akan marah kalau kamu sampai sakit perut karena kekenyangan."
"Sweet banget sih–." Batin Mita.
"Itu Fernando udah datang. Maaf ya Beib aku buru-buru banget." Ken berdiri dan langsung keluar menghampiri Fernando, tanpa menunggu jawaban Mita.
Mita hanya bisa bengong melihat kepergian Ken.
"Terus makanannya siapa yang bayar? Aku?" Gumam Mita kesal. Lalu menunduk kepalanya diatas meja.
"Beib–." Ternyata Ken kembali lagi masuk kedalam Restoran. Mita mengangkat kepalanya dan melihat pria itu tengah berdiri didepannya.
"Kamu pulang dengan supir ya. Dan kamu bayar makanannya dengan ini." Ken memberikan black cardnya pada Mita lalu mencium puncak kepala Mita dan pergi meninggalkan Mita dengan supir kantornya.
Mata Mita membulat sempurna. "Sepercaya itu Ken samaku? Sampai-sampai memberikan black cardnya padaku? Bisa lanjut shoping Limited Edition kalau begini." Mita tersenyum senang. Lalu keluar dari Restoran setelah membayar semua tagihannya.
I'm Sorry baru bisa Up.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian yach 😍🙏
(Maaf ya, auto bingung 🙄 kok ga lolos² review ya?) udah Up dari kemarin.