Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Ledakan Bom



Barman melepaskan ikatan tali dari kaki dan tangan Roma. Dan saat yang bertepatan Tommy datang dan memintanya untuk pergi.


Barman langsung emosi, selain dia belum mengenal Tommy dia juga tidak mungkin meninggalkan Roma begitu saja.


"Kau siapa?"


Mendengar bentakan dari Barman membuat Tommy terkejut. Pasalnya Barman sedang memikirkan bagaimana caranya melepaskan bom rakitan itu dari tubuh adiknya. Dirinya fokus melihat beberapa kabel yang ada didalam tas pinggang yang dipakaikan ditubuh Roma.


"Dia Bang Tommy Bang." dengan isakkan tangisnya Roma mengenalkan kekasihnya itu kepada Abangnya Barman.


"Nanti saja berkenalannya, sekarang yang penting keselamatanmu dek. Kita hampir kehabisan waktu." Barman tidak melihat Tommy bahkan diapun tidak menghiraukan ucapan Roma. Yang di inginkannya hanyalah keselamatan adiknya.


Tak berselang lama pasukan penjinak bom dari kesatuannya sudah siap dengan peralatannya. Anggota handalannya memang selalu siap dengan situasi apapun. Segala peralatan apapun yang akan diperlukan mereka selalu siaga.


"Pak silahkan dipakai dulu rompi keselamatannya." salah seorang anggotanya menyerahkan rompi keselamatan lada Barman.


"Tidak perlu, kita sudah tidak ada waktu lagi. Lihat waktunya hanya tinggal 9 menit lagi." Barman memperlihatkan kepada anggota penjinak bom waktu yang terpasang dibom rakitan itu.


"Ini adalah jenis bom bunuh diri. Segera isolasi penduduk sekitar dengan radius 500 meter dari tempat ini. Dan bawa pria itu keluar dari sini." Barman memerintahkan anggotanya untuk mengamankan penduduk sekitar dan menyuruh Tommy untuk keluar dari tempat itu.


Saat petugas TNI itu ingin membawa Tomny keluar Tommy menolaknya. Ia bersikeras ingin mendampingi Roma.


"Ijinkan aku tetap disini Lae, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Roma sendirian."


Barman hanya melirik kepada anggotanya. Supaya tetap membawa Tommy keluar. Tapi Tommy tetap menolaknya.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, sebaiknya kau turuti saja, pergilah akan ku pastikan Badi selamat. Aku juga tidak bodoh ingin adikku celaka."


"Pergilah Bang–." pinta Roma dengan tatapannya yang lirih.


"Semua ini kesalahanku. Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dek?"


"Pak ini adalah tugas kami dan bapak harus percayakan hal ini kepada kami. TNI dan Kepolisian sudah bergabung untuk mengusut kasus ini. Jadi sebaiknya bapak ikut kami keluar dari tempat ini. Itu juga untuk mempermudah kami melakukan penyelamatan kekasih Bapak." Anggota Barman pun membawa Tommy menjauh dari tempat itu.


"Kau harus selamat dek, harus!!! Akan ku balas lebih kejam orang yang telah menyakitimu."


Tommy keluar dari bangunan yang bekas kebakaran itu. Dan berjalan menjauh dari tempat itu.


"Ken apa sudah lo selidiki siapa orang yang sudah melakukan ini pada Roma?" tanya Ken saat sudah sampai di mobilnya.


"Fernando dan beberapa anak buah kita yang lainnya sedang menyelidikinya Tom. Kamu tenanglah."


"Bagaimana gue bisa tenang? Roma sedang bertaruh nyawa di dalam sana?" Tommy sangat cemas ia mondar-mandir didepan mobilnya menunggu berita keselamatan Roma.


"Percayalah Pak Barman pasti bisa menolong Roma."


"Apa ada orang yang lo curigai?"


"Bella, gue curiga ini perbuatan Bella Tom." Ken sudah lama menyelidiki siapa Bella sebenarnya. Dia sudah mulai curiga kepada wanita itu semenjak wanita itu ngotot ingin berinvestasi di perusahaan Tommy. Tapi Tommy menolak kerjasama mereka, dan itu membuatnya sakit hati.


"Apa? Bella? Yang benar aja lo Ken." Tommy menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya itu. "Buat apa Bella melakukan ini? Apa untungnya buat dia?"


"Gue rasa dia suka sama lo Tom, makanya dia nyulik Roma dan ingin membunuh Roma supaya bisa memiliki lo seutuhnya." sahut Ken mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Gue rasa bukan, Bella tidak mungkin berani melakukan perbuatan keji seperti ini."


Suara ledakan Bom terdengar dari bangunan itu. Tommy sangat terkejut. Airmatanya menetes, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Ledakan bom itu memecahkan sisa-sisa bangunan yang terbakar itu. Menjadikan puing-puing reruntuhan batu dan beberapa bahan yang mudah terbakar kembali terbakar.


Pasukan Damkar yang sudah siap sedia segera memadamkan kobaran api dari bangunan itu sebelum merambat kemana-mana.


Tommy ingin masuk kedalam bangunan itu tapi tubuhnya ditahan oleh Ken dan beberapa pasukan TNl lainnya.


"Biarkan aku masuk. Tolong aku mau lihat apa yang terjadi di dalam. Tolong lepaskan aku." Tommy berteriak histeris, ia ingin masuk kedalam reruntuhan bangunan itu.


...♨️♨️♨️...


Sebelum Bom Meledak


Disalah satu hotel terdekat dari daerah perkampungan Tembok Bolong itu seorang wanita tampak gusar saat melihat beberapa anggota TNI dan kepolisian berhasil menemukan Roma. Mereka sudah memasang kamera tersembunyi untuk memantau keadaan Roma.


"Bagaimana ini? Bagaimana mungkin mereka bisa menemukan tempat itu?" seorang wanita itu berteriak kepada pria yang duduk didepannya dengan santai menikmati kopi dan rokoknya.


"Kau tenanglah Bella, meskipun mereka berhasil menyelamatkan perempuan itu tapi mereka tidak akan pernah tahu kalau itu adalah perbuatan kita."


Ya perempuan itu adalah Bella, dia yang sudah merencanakan penculikan Roma dan dibantu salah seorang Pria yang juga membenci Roma.


Setelah kesembuhannya Bella tidak bisa mencari pria yang benar-benar bisa menerimanya apa adanya. Entah siapa yang membocorkan data pribadinya itu sehingga siapapun pria yang mendekatinya pasti akhirnya akan tahu masa lalunya dan memutuskan hubungan dengannya karena merasa jijik dengan dirinya mantan seorang lesbian.


Dan dirinya teringat pada Tommy yang sudah tahu baik buruk dirinya. Dari situlah muncul niatnya untuk memiliki Tommy. Mulai mendekatinya dengan ingin menjadi investor diperusahaan Tommy. Tapi rencananya itu pun gagal karena penolakan dari Tommy.


"Kenapa kau bisa setenang dan seyakin itu?" Bella sangat marah karena rencananya untuk melenyapkan Roma gagal total.


"Kau lihat itu. Gadis itu sangat pintar." ucap pria itu sambil menunjukkan kelayar LCD yang tersambung dengan kamera tersembunyi yang sengaja mereka pasang untuk memantau keadaan Roma. "Ternyata dari tadi dia melakukan panggilan dengan orang lain. Sial." Umpat pria itu sambil melemparkan gelas kopi yang ditangannya kesembarang arah.


Wajah Bella dan pria itu merah padam saat melihat dan mendengar percakapan Roma dengan Barman.


"Apa kau tahu siapa yang menculikmu Badi?" Barman sengaja mengajak Roma bicara untuk menenangkan adiknya itu.


"Aku tidak tahu Bang, tadi tiba-tiba saja mobil kami dihadang oleh tiga mobil dan ternyata supir yang menjemput kami dibandara juga bagian dari kelompok mereka." sahut Roma sambil melihat Barman sibuk dengan kabel-kabel bom itu.


"Lalu bagaimana kau bisa menelpon Bara?"


"Tadi waktu Bang Tommy memukul supir gadungan itu aku langsung mengambil HPku dan menelpon Bang Bara. Aku menyembunyikan HPku disaku celanaku biar mereka ga tahu kalau aku menelpon Bang Bara."


"Kau adikku yang pintar."


"Kenapa anak buahmu bodoh begitu tidak memeriksa semua bagian tubuhnya." Bentak pria itu pada Bella.


"Mana ku tahu." Bentak Bella tak mau kalah dengan pria yang ada didepannya itu. "Sial, aku sudah membayar mereka mahal. Tapi kerjaan mereka ga beres begini."


"Lihatlah mereka sudah kehabisan waktu. Sebentar lagi mereka akan mati semuanya." ucap Pria itu lalu tertawa senang.


Jeng Jeng Jeng Again 😉


Ada yang bisa nebak siapa Pria yang bersama Bella? 🤔


Jangan Lupa Like dan Comentnya 😍