
Tommy menyantap spaghetti buatan Roma. Kalau dibandingkan dengan buatan chef restoran terkenal buatan Roma juga ga kalah enak.
"Abang ga punya tunangan dek–. Eeh, belum maksudnya. Cewek yang mau jadi tunangan Abang ngasih syarat susah banget sama Abang. Kalau dia mau, Abang maunya bawa dia kawin lari aja biar ga ribet." Tommy sengaja menyindir Roma.
"Ish Abang apaan sih?" Roma menepuk bahu Tommy. "Siapa juga yang mau diajak kawin lari sama Abang."
"Seandainya kamu tahu apa syarat yang diminta Abangmu Bara dek? Apa kamu masih mau berjuang untuk hubungan kita?"
Tommy sudah menghabiskan spaghetti bolognese buatan Roma. Matanya menatap sayu pada kekasihnya itu.
"Jadi kamu maunya gimana? Kalau seandainya Abang ga bisa dapat restu dari keluarga mu?"
"Ya Abang usaha dong, atau jangan-jangan Abang–."
"Ga usah pikir macem-macem." Tommy memotong ucapan Roma.
"Terus siapa cewek tadi? yang ngaku tunangan Abang itu. Ga mungkin dia berani ngaku tunangan Abang kalau Abang ga ada hubungan apa-apa dengannya." Pertanyaan yang sedari tadi menghantui hati dan pikirannya akhirnya lolos mulus dari mulut mungilnya.
"Ga usah ngegas gitu, Abang bisa jelasin semuanya."
Tommy menarik tangan Roma dan membawa Roma ke kamarnya.
"Ngapain Bang Tommy bawa aku ke kamar segala?"
"Ga usah mikir yang macem-macem. Abang cuma pengen istirahat aja, perut Abang sakit."
"Dih, Bang Tommy bisa baca pikiran apa ya?"
"Makanya utamakan kesehatan dari pada bekerja." Roma menyelimuti Tommy yang sudah berbaring ditempat tidurnya.
Tommy menepuk tempat tidurnya. Meminta Roma untuk berbaring disebelahnya.
"Aku duduk ajah–." Roma duduk di tepi tempat tidur. Tapi Tommy menarik tangannya hingga Roma menimpa dada bidangnya.
Wajah mereka begitu dekat hingga nafas mereka terasa saling beradu. Jangan tanya detak jantung keduanya berpacu dengan kencang.
"Bang Iman, tolong jagain aku. Jangan sampai hatiku lemah karena pesonanya." Batin Roma berkecamuk menahan godaan pesona dari Tommy.
"Bro Devil goda gue dong, ga apa-apa deh khilaf yang penting ga pisah darinya." Tommy malah minta supaya dirinya kemasukan setan.
Bro Devil : "Pesona Iman lebih kuat dari pesona gue, sorry Bro–, gue ga bisa."
Bang Iman : "Awas aja kalau lo man berani ngerusak dia, gue kawinin Lo berdua."
Author : "Itu sih emang maunya Tommy, Bang Imaaannn. Dasar Ogeb–."
Back to the cerita 😊
Roma tersadar dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Tommy. Ia kembali duduk dan bersandar di sandaran divan.
"Sini dong dek, Abang cuma pengen peluk doang."
"Belum sah Bang." Roma menolak dan melepaskan tangan Tommy dengan lembut.
Tommy pun mengalah kemudian ia bangun lalu duduk bersandar disamping Roma.
"Sekarang ceritakan siapa gadis itu?" Roma sudah tidak sabaran ingin mengetahui siapa sebenarnya gadis itu."
"Sebelumnya Abang mau kamu berjanji sama Abang. Setelah Abang ceritakan semuanya kamu jangan marah apalagi minta putus dari Abang."
Roma mengerutkan dahinya, ia bingung harus menjawab apa. Takut pada pilihan yang akan diambilnya.
"Oke, Abang akan terima apapun keputusan kamu. Asal jangan putus."
"Emang kapan sih Bang kita pacarannya?"
Deg.
"Maksud kamu apa sih dek?"
"Lah bener kan Bang, Abang ga ada loh nembak aku buat jadi pacar Abang?" Kalau di ingat-ingat Tommy memang tidak pernah meminta Roma untuk jadi pacarnya tapi memintanya untuk jadi istrinya. Hmm apa bedanya sih? Beda dong ya Pacar belum tentu jadi Istri 😊
"Jadi selama ini kamu anggapnya kita ini apa dek?" Tommy menahan rasa kesal dihatinya.
"Teman." jawabnya cepat.
"Dari teman langsung jadi Istri Bang. Hehe ngarep deh gue."
"Ya udah deh, kalau kamu cuma anggap Abang teman, ngapain juga Abang repot-repot jelasin siapa Bella."
"Oh jadi namanya Bella." gumam Roma tapi masih terdengar oleh Tommy.
"Kamu sebenarnya anggap hubungan kita ini apa sih dek?" Tommy menatap tajam mata Roma.
"Teman–."
"DEEKKK!" Tommy menaikkan suaranya.
"Iya-iya. Abang itu bukan pacar tapi calon Imam aku. Puas–."
Tommy tersenyum lalu mencium bibir Roma dengan lembut. Hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Roma yang mengatakan dirinya sebagai Calon Imamnya.
"Sekarang jelasin siapa Bella?"
"Oke, tapi janji setelah Abang jelasin semuanya kamu jangan marah ya."
"Tergantung–."
"Dek–." Tommy memasang puppy eyes nya.
"Iya-iya, aku ga janji." goda Roma.
"Dek–."
"Udah cerita aja napa–."
"Hmmm, dia itu Brianna Arabella Smith, anak dari pengusaha terkenal Ricardo Smith dan dia juga pasien dokter Michael." Tommy menarik nafasnya lalu melanjutkan ceritanya. "Dia sama seperti ku."
"Maksudnya?" Roma menautkan kedua alisnya, dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud Tommy.
"Dia pasien dokter Michael sama sepertiku dia juga memiliki kelainan seksual. Dia penyuka sesama jenis. Dan dia juga ingin berubah dan ingin sembuh. Itulah sebab dan alasan kenapa aku tidak mau menjadikanmu sebagai objek untuk kesembuhan ku, karena aku tidak mau merusakmu dek. Terapi yang kujalani tidak semudah yang orang lain bayangkan. Aku menjalani terapi bagaimana supaya hormon seksual ku itu menjadi normal. Dari berbagai macam obat p*rangsang yang sangat membuatku mual, dipaksa untuk menonton video p*rno yang membuatku sangat jijik. Bahkan kejutan listrik yang sangat menyakitkan sudah kujalani. Semuanya itu aku lakuin hanya untuk bisa bersamamu dek. Tapi semuanya percuma Abang belum juga sembuh. Sampai akhirnya Bella datang pada dokter Michael dan meminta dokter Michael untuk menyembuhkannya. Karena semua terapi yang Abang jalani gagal akhirnya dokter Michael membuat kesepakatan bersama yang akan menguntungkan bagi kesembuhan kami berdua. Dari situ kami membuat kesepakatan demi kesembuhan bersama, kami harus rela bersentuhan fisik. Bella yang juga ingin sembuh dari penyuka sesama jenis. Dia lesbian dari sejak dia SMP. Dan kami menjadi partner untuk kesembuhan kami bersama. Dan berbagai terapi kami jalani hingga akhirnya rasa ketertarikan dengan lawan jenis itu ada. Dari proses pendekatan, ciuman, r*nsangan kami lakukan namun untuk berhubungan **** hanya itu yang ga mampu Abang lakukan dan Bella memilih orang lain untuk melakukan **** dengannya. Abang ga bisa horny bersamanya. Namun karena dia sudah sembuh akhirnya kesepakatan kami berakhir. Abang baru sadar saat pertama kali Abang menciummu disitu Abang horny dan secara tidak langsung Abang sudah sembuh. Karena Abang langsung kembali konsultasi dengan dokter Michael dan menceritakan semuanya dan dokter Michael mengatakan kamulah obat untuk kesembuhan Abang. Bila bersamamu dan hanya bersamamu saja Abang merasakan gejolak itu. Hasrat ingin menyentuhmu dan memilikimu seutuhnya." Tommy menceritakan kisah singkat perjuangannya untuk sembuh.
Roma menangis ia tidak tahu perjuangan Tommy untuk sembuh sangat menyakitkan. Rasa kesal dan cemburu pasti ada saat membayangkan Tommy berduaan dengan Bella dan saling bersentuhan dengan wanita lain selain dirinya dan itu membuatnya sakit hati, namun bila itu adalah satu-satunya terapi yang bisa dilakukan untuk kesembuhannya maka Roma akan memakluminya.
"Kamu kenapa menangis dek? Kamu marah sama Abang?" Tommy menghapus airmatanya.
"Halalkan aku secepatnya Bang–." Tommy tersenyum dan menghujani wajah Roma dengan ciuman.
Hari Senin waktunya Vote ya 🤗
Plis... Pliss... Pliiiissss 🙏😍