Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Kejutan



Seperti biasa Roma disibukkan dengan beberapa pasien yang sedang ditangannya. Ada yang sebagai pasien rawat inap ada juga yang hanya berobat jalan. Pasien rawat inap yang dirawat dirumah sakit tersebut umumnya adalah pasien dengan depresi ringan. Karena rumah sakit Citra Medistra bukanlah rumah sakit khusus penampung pasien ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).


"Dew, masih ada lagi pasien kita? Kalau tidak ada, kita istirahat makan siang aja." ucap Roma pada asistennya Dewi.


"Yang sudah mendaftar tinggal sisa 1 pasien lagi dok–." sahut Dewi.


"Ok kamu panggil sekarang, terus bilang sama bagian pendaftaran pasien saya cukup untuk hari ini ya."


"Baik dok–." Dewi keluar dari ruangan praktek Roma dan segera menyampaikan pesan dari Roma kebagian pendaftaran Rumah Sakit.


Tak berapa lama Dewi kembali masuk ke dalam ruangan Roma.


"Siapa pasiennya Dew?" tanya Roma tapi ia tidak melihat kearah pintu masuk karena masih membereskan beberapa Rekam Medis pasien.


"Dok-dokter–." suara Dewi terdengar bergetar ditelinga Roma.


"Kamu kenapa Dew?" tanya Roma kemudian mendongakkan kepalanya melihat kearah Dewi.


Betapa terkejutnya Roma melihat asistennya itu sedang ditodongkan sebuah pisau dilehernya.


"Rendi? Kamu apa-apaan?" Roma sangat ketakutan tapi ia berusaha membuat dirinya agar setenang mungkin.


Rendi tertawa kencang. "Aku kira kamu ga bisa mengenaliku Uly? Kamu suka kejutan dariku Uly? Kamu itu memang wanita idaman sekali. Mereka saja tidak ada yang bisa mengenali penyamaran ku, bagaimana mungkin kamu bisa mengenaliku kalau kita itu ga ada chemistry-nya. Kita itu jodoh Uly, tapi kenapa kamu lebih memilih laki-laki brengsek itu. Apakah karena dia lebih kaya dariku?" Rendi masih menodongkan pisau kepada Dewi dan Dewi sudah merasakan perih dilehernya karena mata pisau itu sudah melukai kulit lehernya. Roma melihat ada darah yang mengalir dari leher Dewi.


"Diam kamu–!!! seru Roma. "Bagaimana bisa kamu ada disini? Bukannya kamu seharusnya–." Roma tak meneruskan ucapannya karena Rendi langsung memotongnya.


"Dipenjara?" Rendi tersenyum sinis.


"Terus mau apa kamu kesini? Lepaskan Dewi, dia ga salah apa-apa. Kalau kamu dendam sama aku silahkan sakiti aku jangan kamu seperti pria pecundang yang beraninya hanya pada orang lemah." Kata-kata Roma berhasil memprovokasi Rendi.


"Keluarlah–!!!" Seru Rendi pada Dewi. "Aku hanya ingin bertemu dengan Uly, aku tidak akan menyakiti dokter kesayanganmu ini. Tapi ingat jangan pernah sesekali kamu mencoba menghubungi Polisi atau pria brengsek yang sudah merebut Uly dariku, atau aku akan membunuh dokter kesayanganmu ini." ucap Rendy lalu mendorong Dewi keluar dari ruangan Roma. Rendi segera mengunci ruangan Roma dan menutup tirai kecil pada kaca transparan yang ada dibagian pintu tersebut. Sehingga orang lain tak dapat melihat apa yang mereka lakukan didalam.


Tubuh Roma bergetar, ia sangat ketakutan. Ia kembali teringat saat dirinya berada dalam situasi yang hampir merenggut nyawanya. Saat sebuah bom dipasang ditubuhnya.


Rendi berjalan mendekatinya.


"Ka-kamu mau apa Ren?" suara Roma bergetar.


"Kamu ga perlu takut Uly? Aku datang karena aku merindukanmu." ucapnya sambil terus berjalan kearah Roma yang duduk dibalik meja kerjanya.


"Aku ingin kita kembali seperti dulu Ly, kita dekat dan saling tolong menolong." Rendi kini duduk diatas meja kerja Roma dan Roma duduk tepat berada didepannya.


"Bagaimana bisa kamu bicara seenteng itu Ren? Kamu ingin kita seperti dulu lagi?" Rendi menganggukkan kepalanya. "Tapi kamu melupakan satu hal, yang membuat hubungan persahabatan kita rusak itu adalah kamu sendiri Ren, kamu sudah berani mencoba untuk membunuhku." Emosi Roma terpancing saat Rendi memintanya untuk kembali bersahabat seperti dulu.


"Mas Tommy, aku takut. Tolong aku Mas–." lirih Roma dalam hatinya. Berharap suaminya datang dan menolongnya.


"Ssstttt, sekarang situasinya bukan untuk berdebat Uly. Aku tidak menanyakan pendapat mu. Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu. Aku bahagia, apalagi saat kita sama-sama menolong Cinta dulu." Rendi kembali bernostalgia ke masa-masa saat Roma meminta bantuannya untuk menjahit luka Cinta ketika Cinta histeris dulu dan melukai dirinya sendiri. "Oya, aku dengar gadis kecil itu sudah sembuh berkat kamu Uly, selamat ya." ucap Rendi tulus sambil mengulurkan tangannya.


Tapi Roma tidak menyambut uluran tangan Rendi dan itu membuat Rendi semakin kesal. Ia menarik tangannya kembali lalu mengepalkannya sambil tersenyum menatap tangannya yang ditolak Roma.


"Bahkan untuk berjabat tangan denganku saja kamu tidak mau lagi Ly–." lirihnya.


Roma ka peduli dengan apa yang dikatakan Rendi, ia membuang pandangannya tak ingin menatap pria yang duduk didepannya itu.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Sementara diwaktu yang sama saat Dewi sudah keluar dari Ruangan Roma, ia berlari ke stand perawat dan betapa terkejutnya teman-temannya melihatnya keluar dari ruangan Roma dengan wajah yang ketakutan dan nafas yang terengah-engah.


"Ada apa Dew? Kenapa dengan leher kamu." tanya Lulu kepala perawat rumah sakit itu yang kebetulan sedang melakukan briefing kepada perawat-perawat yang lain.


"Dokter Uly dalam bahaya Kak–." ucap Dewi sambil menekan lehernya yang terasa perih. Airmatanya yang sedari tadi ia tahan kini sudah lolos membanjiri pipinya.


Para perawat memang memanggil Kakak kepada Lulu untuk menghormatinya sebagai senior mereka dan itu karena Lulu tidak suka dipanggil Ibu atau Suster.


"Maksud kamu apa Dew? Bagaimana bisa dokter Uly dalam bahaya?"


"Dokter Rendi ada di dalam kak, tadi dia nodong aku dengan pisau makanya leher aku berdarah." jelas Dewi.


"Astaghfirullah–." ucap beberapa perawat yang ada disana.


"Dokter Rendi menyamar sebagai pasiennya dokter Uly, makanya aku ga kenalin dia bahkan petugas pendaftaran pun ga kenal dengannya." jelas Dewi lagi.


"Lalu bagaimana dengan dokter Uly, Dew?" tanya Lulu yang mulai panik.


"Aku ga tahu Kak." lirihnya, Dewi hanya bisa menangis menyesali karena tidak bisa menolong Roma. Dan ia juga merasa bersalah karena tidak mengenali Rendi. Kalau saja dirinya bisa peka dan mengenali Rendi mungkin saat ini Roma akan baik-baik saja.


"Kita telpon polisi saja." saran salah satu perawat yang bernama Budi.


"Kenapa Dewi?" tanya Lulu dan Budi bersamaan.


"Tadi dokter Rendi bilang, kalau kita berani menghubungi polisi atau suami dokter Uly, dia ga akan segan-segan untuk membunuh dokter Uly Kak–. Hiks. Hiks..." lirih Dewi sambil terus saja menangis. Ia sudah mulai sesenggukan karena terus merasa bersalah.


"Siapa yang mengatakan tidak boleh menghubungiku?" Semua perawat terkejut dan melihat kearah sumber suara Tommy yang datang dari belakang dan tiba-tiba sudah berada diantara mereka.


Entah sejak kapan Tommy datang dan berdiri disana. Dan entah sudah berapa banyak pembicaraan mereka yang ia dengar mereka tak tahu. Tapi mereka bersyukur karena Tommy datang disaat yang tepat.


Tommy sengaja datang kerumah sakit untuk menjemput Roma untuk makan siang bersamanya. Tapi belum sampai dia diruangan Roma tiba-tiba ia melihat perawat-perawat sedang ramai berkumpul. Awalnya ia mengira kalau perawat-perawat itu sedang bergibah dan ia bermaksud untuk menegurnya. Tapi betapa terkejutnya Tommy saat mendengar kalau istrinya dalam bahaya.


"Maaf Tuan, maafkan saya. Karena kelalaian saya dokter Uly jadi dalam bahaya." ucap Dewi.


"APA MAKSUDMU?" suara Tommy meninggi seolah tak peduli lagi kalau saat itu dirinya sedang berada dirumah sakit. Beberapa pasien yang berada didekat stand perawat itu sempat melihat kearahnya.


"Dokter Uly di dalam dengan dokter Rendy Tuan, tadi Dewi ditodong pisau dilehernya jadi dia tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu dokter Uly." jelas Lulu yang mengambil alih untuk menjelaskan situasi yang sedang dihadapi Roma. Lulu tak mau kalau Dewi jadi pelampiasan amukan Tommy.


Beberapa security yang bertugas langsung datang ke bagian perawatan psikiater.


"Apa saja kerja kalian? Kenapa kalian tidak bisa mengenali seorang penjahat?" Tommy kembali marah pada security tang bekerja dirumah sakitnya itu.


"Maafkan kami Tuan, kami tidak mengenali orang itu Tuan. Kami mengira dia hanya pasien yang ingin berobat Tuan." Sahut salah satu security.


Tak ingin membuang waktu lebih lama Tommy langsung berjalan mendekati ruangan Roma. Tommy menarik nafasnya dan membuangnya perlahan, begitu dilakukannya berulang-ulang sampai ia merasa tenang.


"Dek–, sayang. Kamu didalam ya? Mas datang jemput kamu buat makan siang bareng." ucap Tommy seolah-olah ia tidak tahu yang terjadi dengan Roma, hanya itu ide yang terpikir olehnya. Karena Tommy tidak ingin Roma terlalu lama bersama Rendi dan pastinya itu akan semakin membuat Roma ketakutan didalam sana.


Sementara situasi didalam sangat menegangkan. Rendi begitu terkejut saat mendengar suara Tommy. Ia segera turun dari tempat duduknya dan menodongkan pisau ke depan Roma.


"Shitt, ternyata Dewi berani membohongiku." ucap Rendi.


"Bukan Dewi yang salah, kamu ga dengar barusan Mas Tommy bilang dia datang mau menjemputku makan siang bareng?" tegas Roma, ia tak mau kalau Rendi sampai dendam pada Dewi dan membalas perbuatan Dewi. Roma yakin kalau saat ini Tommy datang dengan sendirinya tanpa ditelpon oleh Dewi karena Dewi sendiri pasti tidak tahu nomor ponsel orang sepenting Tommy.


"Udah jangan banyak bicara, jawab dulu pertanyaan suami tercintamu itu. Minta dia supaya tidak berbuat nekad yang bisa mencelakai dirimu." ucap Rendi sambil menekan pisau di leher Roma.


"Mas–, sebentar lagi aku keluar." terdengar suara Roma dari dalam sedikit bergetar. "Pasienku tinggal satu lagi. Mas tunggu sebentar ya." Roma menjawab setenang mungkin. Ia tidak mau Tommy khawatir dengannya.


"Iya, jangan lama ya Sayang, Mas udah laper banget nih." semua perawat menyaksikan ketenangan Tommy saat berbicara dengan Roma. Mereka juga merasa lega bisa mendengar suara Roma. Sepertinya Rendi memang menepati janjinya untuk tidak menyakiti Roma.


Rendi membawa Roma untuk berjalan mendekati jendela sambil terus menodongkan pisau dileher Roma.


Di bukanya jendela ruangan Roma yang tidak terpasang tralis besi dan dari jendela itu langsung terhubung ke taman Rumah sakit.


"Aku akan kembali lagi, tunggu aku–." ucap Rendi sambil mencium kepala Roma lalu melompat dari jendela untuk melarikan diri.


Roma terduduk di lantai, kakinya bergetar hebat sehingga ia tidak bisa untuk melangkah berjalan.


"Mas, dia udah pergi Mas–." teriak Roma dari dalam.


Dengan cepat Dewi langsung mengambil kunci ruangan Roma dan membukanya.


Begitu pintu terbuka Tommy langsung masuk dan memeluk Roma yang masih terduduk dilantai.


"Segera hubungi polisi dan tangkap penjahat itu." Teriak Tommy lalu salah satu security langsung menghubungi pihak kepolisian.


"Percuma Mas, Rendi sudah dibebaskan." lirih Roma.


"Apa maksud kamu sayang?"


"Rendi sudah bebas dengan jaminan Mas. Dia bilang negara ini negara yang masih dipenuhi dengan korupsi dan nepotisme. Hukum di negara ini bisa dibeli dengan mudah, semua uang yang berbicara. Begitu katanya Mas." lirih Roma, dan beberapa diantara mereka membenarkan apa yang dikatakan Roma.


"Sudah, urusan Rendi biar pihak polisi yang menangani. Tapi apakah Rendi melukaimu?"


"Tidak Mas–. Dia memang menodongkan pisau padaku. Tapi aku ga apa-apa Mas." Roma memperlihatkan lehernya yang ditodong oleh Rendi.


"Ayo berdiri dulu. Kita langsung pulang saja. Aku ga mau kamu kenapa-napa lagi."


"Tapi Mas–." Roma merasa tidak enak kalau dia langsung pulang begitu saja karena jam kerjanya belum selesai.


"Ga ada bantahan sayang." ucap Tommy dengan penuh penekanan.


"Dewi, kamu ga apa-apa?" tanya Roma melihat luka Dewi yang belum sempat diobati.


"Saya ga apa-apa dok–." lirih Dewi sambil menghapus airmatanya. Ia sangat bersyukur karena Roma baik-baik saja.


"Obati luka kamu, dan maaf kalau saya ga bisa membantumu tadi." Roma menggenggam tangan Dewi.


"Saya yang seharusnya minta maaf dok, karena saya telah gagal mengenali dokter Rendi." lirihnya lagi, airmatanya kembali menetes.


"Sudahlah, Obati lukamu. Saya mau pulang dulu." Roma menepuk bahu Dewi pelan. "Kamu pun sebaiknya pulang dan istirahat. Kamu juga pasti shock dengan kejutan sialan dari Rendi." lanjutnya lagi.


"Ayo kita pulang–." Tommy menggandeng tangan Roma, lalu Roma mengikuti Tommy untuk pulang kerumah.


Done Up, Mana jejakmu Say 😍