
Roma tidak sadar ketika dirinya dibawa terbang ke korea oleh suaminya. Setelah melakukan percintaan mereka Tommy langsung menemui Bara yang masih terjaga diruang tengah. Tommy meminta ijin pada Bara untuk membawa istrinya honeymoon kembali sekaligus ingin menghilangkan trauma yang baru saja Roma alami.
Bara pun membangunkan Togar, dan menceritakan keinginan Tommy dan meminta ijin pada mertuanya itu.
Ia akan membawa Roma pergi dan akan kembali bila masalah keluarga mereka sudah selesai. Karena Tommy tidak ingin Roma terlibat dalam masalah itu, yang pasti akan mengingatkan Roma terus pada kejadian buruk itu.
"Pergilah, sekarang Roma adalah hak dan tanggung jawabmu. Jaga dia baik-baik dan jangan sampai dia terluka. Sekali saja aku tahu Roma meneteskan airmata karnamu aku tidak akan memaafkan mu." Ucapan Togar seperti ultimatum baginya. Namun ia juga sudah berjanji akan selalu membahagiakan istrinya itu.
"Terimakasih Amang, aku akan membawanya sekarang."
"Sekarang? Bukannya Badi masih tidur?" Bara mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti jalan pikiran iparnya itu. Tapi ia juga tidak melarang dan selalu mendukung apapun yang membuat Roma bahagia.
Saat ini mereka sudah berada didalam pesawat pribadi milik Prayoga Papinya. Roma menggeliat ia terbangun dan melihat kesekitarnya seperti ada yang berbeda dari ditempat tidurnya.
Ruangan itu tak seluas kamar miliknya tapi fasilitas dikamar itu lebih mewah dibandingkan yang ada dikamarnya.
Ia melihat Tommy terbaring pulas disampingnya. Jelas saja karena Tommy belum ada istirahat karena dari Singapura langsung menemui istrinya dan ternyata istrinya itu sedang menghadapi musibah dan dia baru istirahat setelah berada dalam pesawat.
Roma melihat tubuhnya sudah menggunakan dress yang cantik sementara seingatnya dirinya baru selesai bertempur dengan suaminya.
Roma bergerak ingin turun dari tempat tidur tapi tiba-tiba tangan Tommy melingkar dipinggangnya.
"Mau kemana?"
"Mas aku mau pipis, tapi kita ini dimana Mas?"
"Kita dipesawat Sayang, dan toiletnya ada disana–." Tommy menunjukkan sebuah ruangan yang ada disudut kamar itu.
"Apa Mas? Kita dipesawat? Kita mau kemana Mas? Terus gimana kerjaan aku?" Begitu banyak pertanyaan Roma, membuat Tommy bingung harus menjawab yang mana terlebih dulu.
"Kita mau honeymoon Sayang–." ucap Tommy dengan suara khas bangun tidur. "Kalau masalah kerjaan kamu ga usah khawatir." Ternyata Roma belum mengetahui kalau pemilik rumah sakit tempatnya bekerja itu adalah suaminya sendiri.
"Ga usah khawatir gimana Mas?" Lalu Roma teringat kalau dulu Tommy pernah langsung meminta ijin pada direktur Rumah Sakit.
"Kamu tenang aja, kalau masalah kerjaan mu mereka ga akan ada yang berani mecat kamu. Kalau pun Kamu ga kerja mas masih mampu belanjain kebutuhan kamu."
"Sombong banget suamiku ini."
"Mas lepas dulu–." Roma mengangkat tangan Tommy yang masih melingkar diperutnya, setelah berhasil melepaskan tangan suaminya itu kemudian dia berjalan menuju kamar .
"Maaaass–." teriakan Roma mengejutkan Tommy dengan separuh sadar ia langsung beranjak dan setengah berlari melihat Roma yang sedang berada dikamar mandi.
"Ada apa Sayang?" Tommy langsung membuka pintu kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci oleh Roma. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan istrinya. Tommy melihat Roma terduduk diatas closed dengan wajah yang bingung dan cemberut.
"Mas ada tamu." rengek Roma, wajah istrinya itu terlihat sedih. Tommy mengeryitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dimaksud istrinya.
"Mana ada tamu yang datang–, Kita kan masih dipesawat Sayang." Tommy mendekati Roma dan mengusap punggung. "Udah, ga usah mikirin apa-apa dulu. Cuma ada kita berdua disini–." Tommy mengira kalau istrinya itu masih terbawa traumanya malam tadi.
"Tamu bulanan aku yang datang mas." lirihnya sambil melihat wajah suaminya yang masih bingung.
"Tamu bulanan kamu? Siapa sayang?" Tommy penasaran, suaranya sedikit meninggi ia berpikir tamu bulanan Roma itu adalah pria lain.
"Iiih Mas ini lola banget sih–, Aku lagi datang bulan Mas, Haid, kalau bahasa lainnya menstruasi, Ngerti ga?" Roma melipat tangannya didadanya dan memalingkan wajahnya dari suaminya.
"Hehe, Maaf Sayang Mas ga nyambung." Tommy mencium puncak kepala Roma lalu menangkup wajahnya dan menatap matanya. "Terus masalahnya apa?"
"Mas, aku ga bawa pembalut. Terus ngapain juga honeymoon? Toh nanti mas puasa, ga bisa ngapa-ngapain aku."
"What? Puasa Sayang?" Tommy baru sadar dan baru tahu kalau saat menstruasi itu dirinya harus puasa. Maklumlah yah selama ini dia kan Gay, jadi kurang paham masalah begituan. Padahal dulu jaman-jaman SMA pasti belajar masalah reproduksi. Dirinya sampai lupa karena keseringan berhubungan dengan bisnis.
"Ya iyalah–, masa Ya iya dong?" ejek Roma.
"Berapa lama puasanya Sayang?"
"Paling cepat 5 hari kalo enggak, ya semingguan gitulah."
Tommy mengerutkan dahinya tak terbayangkan bagaimana dia akan menahan hasratnya selama itu.
"Ga bisa dipercepat Sayang? Dua hari aja puasanya?"
"Iiih, mas aneh deh. Itu normalnya cewek kalau datang bulan Mas."
Haidar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Antara paham atau tidak.
"Terus aku harus pake apa Mas? Mendaratnya berapa jam lagi Mas?" Roma teringat pasti suaminya tidak menyiapkan pembalut dikopernya.
"Masih 3 jam-an lagi Sayang. Emang kenapa?"
"Iiih Mas ini kok ga ngerti-ngerti sih? Tadi kan aku udah bilang aku ga ada pembalut. Aku harus gimana ini Mas?"
"Jangan bilang kalau Mas ga tahu apa itu pembalut?" Roma mehembuskan nafasnya kasar, setelah melihat suaminya itu menganggukkan kepalanya.
"Ampun deh Mas, pembalut aja mas ga tahu."
"Beneran dek, Mas ga tahu apa itu pembalut. Emang, pembalut itu apaan?" tanya Tommy dengan wajah polosnya.
"Sejenis makanan ringan–." sahut Roma kesal lalu keluar dari kamar mandi berjalan ke kamar minimalis pesawat itu. Mengambil tissue sebagai cadangan darurat sebelum menggantinya dengan pembalut. Kemudian mencari koper pakaiannya, tapi ia tidak menemukan dimana kopernya itu disimpan suaminya.
"Maaaassss–." teriakan Roma menyadarkan Tommy yang masih berpikir keras mencari arti apa itu pembalut. Dirinya ingin segera Googling, tapi apa daya diatas angkasa itu mana ada sinyal.
"Iya Sayang–." sahutnya lalu melihat Roma yang sedang bingung mencari sesuatu.
"Kamu cari apa Sayang?"
"Koper kita dimana Mas?"
"Koper? Untuk apa Roma cari koper? Apa makanan pembalutnya ada di koper?"
"Mas–, Koper kita mana? Ditanya kok malah bengong sih Mas?" gerutu Roma yang melihat Tommy hanya berdiam diri saja.
"Ada di bagasi di kabin Sayang–." Tommy dengan sabar melayani istrinya itu.
"Ambilin dong Mas, ga mungkin kan aku keluar dengan pakaian tembus darah begini." Roma menunjuk dressnya yang sudah terkena noda darah menstruasinya.
Tommy pun segera keluar dan menemui Dian salah satu pramugari khusus pesawat pribadi PT. SP Group.
"Dian tolong ambilkan koper saya." pintanya pada Dian yang sedang duduk sambil membaca buku novel.
"Baik Tuan–." Dian membuka bagasi dan mengambil koper yang diminta Tommy.
"Dian, kamu tahu tidak apa itu pembalut?"
Gadis itu terkejut mendengar pertanyaan Tuannya itu.
"Apa Nona sedang datang bulan ya? Makanya Tuan Tommy kebingungan begitu?" Pikir Dian
"Maaf Tuan, saya malu untuk menjelaskannya, sebaiknya setelah mendarat Tuan Googling saja. Dan jika Nona butuh pembalut saya punya Tuan. Sebentar saya ambilkan." Tommy tersenyum lega begitu mendengar kalau Dian memiliki makanan ringan itu.
Dian kembali dan memberikan dua lembar pembalut pada Tommy.
"Ini Tuan, silahkan Tuan berikan pada Nona."
Tommy mengernyitkan dahinya dan membolak-balik pembalut yang diberikan Dian padanya.
"Ini bisa dimakan Dian?"
"Tuan Tommy benar-benar ga tahu apa itu pembalut? Siapa juga sih yang iseng bilang pembalut itu bisa dimakan?" Dian menahan tawanya melihat kepolosan Pimpinan PT SP GROUP itu.
"Tuan, itu bukan untuk dimakan dan itu juga bukan makanan. Sebaiknya Tuan berikan saja pada Nona, nanti Nona kelamaan menunggu Tuan."
"Hah, kamu benar Dian, Terimakasih yah."
Tommy membawa kopernya menuju kamarnya.
"Kok lama banget sih Mas?" tanya Roma begitu melihat Tommy membuka pintu.
"Iya tadi cari Dian dulu."
"Dian? Siapa Dian mas?" Roma meninggikan suaranya, Ia tak menyangka suaminya itu akan mencari wanita lain.
"Jangan marah dan salah paham dulu sayang–." Tommy memeluk Roma. "Dian itu salah satu Pramugari di perusahaan Papi. Terus dia berikan ini." Tommy pun menyerahkan pembalut yang diberikan Dian pada Roma. "Kata Dian ini bukan makanan ringan sayang." Tommy melonggarkan pelukannya lalu melihat wajah cantik istrinya.
"Emang bukan. Siapa yang bilang ini makanan ringan?"
"Bini gue amnesia kali ya? Jelas-jelas tadi dia yang bilang kalau pembalut itu sejenis makanan ringan."
"Kan tadi kamu yang bilang Sayang?"
"Itu karena aku kesel sama Mas Tommy, masa pembalut aja ga tau."
"Lah, akukan beneran ga tahu Sayang–, tadi nanya Dian dia bilang dia ga enak buat jelasinnya. Dia nyuruh aku Googling. Emang apaan sih pembalut itu sayang?"
"Bener kata Dian, nanti Mas Tommy googling ajah." Roma berlalu ke kamar mandi untuk memakai pembalutnya.
Next Besok yach 😍
Tinggalkan Jejakmu sebagai Penyemangat ku 🤗