
Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua keluarga baik dari pihak pengantin laki-laki maupun perempuan sangat sibuk mempersiapkan diri.
Sesuai dengan kesepakatan mereka Acara Pernikahan Tommy dan Roma akan dilangsungkan dengan Adat Jawa maka semua persiapannya dilakukan sesuai adat Jawa.
Tahap pertama yang dilakukan adalah Serah-serahan atau Lamaran dan berhubung acara seserahan dan lamaran sudah selesai maka akan dilangsungkan acara selanjutnya yang sebenarnya di adat jawa juga ada seserahan dan lamaran hanya beda bahasanya saja. Namun tatacaranya semua hampir sama.
Acara selanjutnya adalah Hiasan Pernikahan atau disebut dengan Pasang Blektepe Atau Tarup ini dilakukan sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi janur kuning sebagai Persiapan pernikahan yang terdiri dari berbagai macam tumbuhan dan daun-daunan. Namun karena pernikahan mereka dilangsungkan di Hotel milik Prayoga maka ballroom hotel itulah yang disulap oleh W.O menjadi konsep pernikahan adat Jawa.
Mereka menyediakan dua pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik.
Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat.
Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain.
Berbagai macam daun seperti daun beringin, daun mojo-koro, daun alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya.
Selanjutnya adalah acara Siraman dilakukan secara simbolis merupakan Persiapan pernikahan dan pembersihan diri lahir batin kedua calon mempelai yang dilakukan dirumah masing-masing. Juga merupakan media permohonan doa restu dari para pinisepuh.
Meskipun Roma adalah orang batak tapi karena ini adalah adat tradisi dari calon suaminya maka dia pun melakukannya dirumah dibantu oleh keluarga dari Tommy yang memang orang Jawa yang kali ini diwakilkan oleh Siska ibu dari sahabatnya Zia.
"Kamu terlihat cantik dek, jadi kelihatan seperti orang jawa beneran." ucap Tommy saat melakukan Video call sebelum acara siraman dimulai.
Roma memakai kain batik dengan hiasan bunga melati yang dirangkai seperti baju untuk menutupi bagian tubuh atasnya.
"Bang Tommy juga ganteng jadi kelihatan gagah." balas Roma memuji pasangannya yang memang tampan.
"Orang jawa itu dipanggil Mas dek, bukan Bang–!" seru Tommy sambil tersenyum menggoda Roma.
"Eee...eee, kalian itu yah masih ajah Video Call-an. Kalian itu masih dipingit jadi ga boleh saling ketemu dulu." Suara Indah terdengar memarahi Tommy putranya.
"Yaelah Mi, kan kami ga ketemu Mi." ucap Tommy kesal karena HPnya disita oleh Indah.
"VC-an itu sama aja Sayang kalian masih tatap muka. Intinya ga boleh ketemu dulu. Sabar napa, tinggal beberapa jam lagi loh. Masa ga bisa nahan sih." omel Indah lalu melihat Roma dari ponsel putranya itu. "Kamu cantik sayang. Tapi lanjut besok aja yah Sayang-sayangannya, besok dan seterusnya udah Sah dan boleh liat sepuasnya." mendengar penuturan dari calon mertuanya itu Roma hanya tertunduk malu.
"Iya Mami." jawabnya patuh.
"Semoga acara siramannya disana lancar ya sayang." ucap Indah lalu memutuskan panggilan Videonya.
Tommy memang terlihat kesal tapi semua yang dikatakan Maminya itu juga benar.
Acara Siraman dilakukan pertama kali oleh orangtua calon pengantin, dilanjutkan oleh para pinih sepuh, dan terakhir oleh ibu calon mempelai mempelai putri, menggunakan kendi yang kemudian dipecahkan ke lantai sembari mengucapkan, “Saiki wis pecah pamore” (“Sekarang sudah pecah pamornya”). Tentu saja awal Berta sangat kesulitan mengucapkannya tapi Siska mengajarinya dengan sabar dan telaten.
Setelah siraman acara selanjutnya adalah Paes Atau Ngerik upacara ini dilakukan, yakni sebagai lambang upaya memperindah diri secara lahir dan batin. ‘Paes’ artinya Rias baru pada tahap ngalub-alubi atau pendahuluan, untuk memudahkan paes selengkapnya pada saat akan dilaksanakan temu. Rambutnya lalu disisir dan digelung atau dibentuk konde. Setelah Pameas mengeringkan wajah dan leher sang pengantin, lalu ia mulai mendandani wajah sang pengantin.
Tahap selanjutnya setelah Paes adalah Dodol Dawet. Prosesi ini melambangkan agar dalam upacara pernikahan yang akan dilangsungkan, dikunjungi para tamu yang melimpah bagai cendol dawet yang laris terjual. Dalam upacara ini, ibu calon mempelai wanita bertindak sebagai penjual dawet, didampingi dan dipayungi oleh bapak calon mempelai wanita, sambil mengucapkan “Laris– laris. Jual dawet" ini dilakukan oleh Berta dan Togar dihalaman rumah dan disambut oleh tamu undangan mereka yang mayoritas adalah orang batak Mandailing.
Sebagian mereka merasakan prosesi ini sangat unik. Apalagi ini adalah pengalaman pertama Berta karena saat anaknya menikah dengan gadis Sunda tradisinya berbeda lagi meskipun ada mirip-miripnya.
Selanjutnya adalah upacara Midodareni yang berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik dewi Widodari. Pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh kerabat-kerabatnya yang perempuan. Karena Roma adalah anak perempuan satu-satunya maka saat ini yang menemaninya adalah para sepupunya dan juga Zia dan Rara.
"Gimana Rom rasanya jadi calon pengantin?" tanya Zia yang sudah lebih dulu menjalaninya. Tapi saat Zia menikah dengan Tommy dulu pernikahannya dilakukan secara pernikahan modern sama saat dirinya menikah lagi dengan Chandra pernikahannya juga tidak menggunakan adat Jawa, jadi dapat menyaksikan proses adat Jawa membuatnya sangat antusias saat mendapat kesempatan untuk mendampingi sahabatnya itu.
Tapi Rara sama dengan Roma, saat dirinya menikah dengan Zio kembarannya Zia mereka menggunakan upacara pernikahan adat Jawa.
"Deg degan Zi, aku takut Zia, Ra." tangan Roma terasa sangat dingin saat menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Hei, tangan lo dingin banget Rom. Kayak besok yang ngucap ijab kabul lo aja." ejek Roma. "Lagian apa sih yang lo takutkan? Lo itu releks aja. Pikirkan yang baik-baik saja. Kita doakan semoga acaranya besok lancar."
"Amin–." dijawab oleh Roma dan Zia.
"Berhubung ini udah malem, sebaiknya lo istirahat biar besok keliatan seger. Ga lucu kan kalau nanti pas acara lo punya mata panda?" goda Zia lalu dibalas anggukan oleh Roma.
"Thanks ya, kalau ga ada kalian gue ga tau harus gimana. Sumpah prosesnya banyak banget."
"Kan seimbang Rom, pas lamaran kemarin pakai adat Batak dan Nikahnya pake Adat Jawa jadi adil dan ga timpang." ucap Rara.
"Iya sih, tadinya pengennya yang simpel aja. Pake konsep pernikahan modern tapi Bapak bersikeras pake adat Batak, mungkin karena gue anak cewek satu-satunya kali ya."
"Mungkin–." jawab Rara dan Zia bersamaan.
"Ya udah lo istirahat ya. Kita keluar dulu." Zia mengajak Rara kakak iparnya itu untuk keluar dari kamar Roma.
Zia dan Rara keluar dari kamar Roma lalu menghampiri Bundanya Siska yang sedang asyik mengobrol dengan keluarga Roma.
"Roma udah tidur sayang?" tanya Siska saat melihat anak dan menantunya itu keluar dari kamar Roma.
"Kami udah suruh istirahat Bun." sahut Zia.
"Kalau begitu kami juga turut permisi dulu Pak Togar, Bu Berta besok hari H nya pasti lebih capek. Jadi sebaiknya Bapak sama Ibu juga istirahat." ujar Siska.
"Sama-sama Bu." ucap Siska sambil menyalami keluarga Roma untuk pamit pulang.
Togar dan Berta mengantarkan Siska dan yang lainnya ke halaman rumahnya.
...💗💗💗...
Tibalah saat yang dinantikan kedua keluarga itu. Dimana puncak dari semua tahapan proses yang sudah mereka jalani.
Pernikahan, merupakan upacara puncak yang dilakukan kedua calon mempelai.
Semua tamu undangan sudah hadir di Hotel keluarga Prayoga. Tommy sudah berada di salah satu suite room begitu juga dengan Roma. Semua keluarganya sudah berada di hotel setelah sholat subuh.
Tommy sudah lebih dulu turun ke ballroom hotel yang sudah disulap seperti konsep pernikahan adat Jawa. Tidak terkesan murah tapi sangat glamor.
Roma yang didampingi oleh Zia dan salah satu asisten MUA mengantarkan Roma duduk disisi Tommy. Wajah keduanya sangat bahagia.
"Akhirnya sebentar lagi dia akan menjadi suamiku, Imamku."
"Tak pernah ku sangka kalau aku akan menikahi gadis ini. Wanita yang dulu begitu ku benci kini aku begitu mencintainya. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi makmum ku."
Begitulah arti tatapan keduanya yang saling memandang dan melemparkan senyuman termanis mereka.
"Bagaimana apakah sudah bisa kita mulai?" tanya Pak penghulu.
"Sudah Pak." sahut Togar. Ada rasa gugup dalam hatinya karena ini adalah pengalaman pertama dan terakhir untuknya menikahkan putrinya.
"Siap nak Tommy?" tanya Pak penghulu.
"Siap Pak." jawab Tommy mantap.
Pandangan Indah tak luput dari putranya dan calon menantunya itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Tergambar rasa bahagia yang tak dapat ia ungkapan.
Zia tahu kalau mantan Ibu mertuanya itu sangat bahagia. Genggaman tangannya tak lepas dari tangan Indah.
Togar mengulurkan tangannya dan disambut oleh Tommy.
"Bismillahirrahmanirrahim." Togar menarik nafasnya. "Saya nikahkan engkau ananda Tommy Sain Prayoga bin Prayoga Herlambang dengan Romauly Badia Nasution binti Togar Nasution dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 27 gram dibayar tunai." ucap Togar lalu mengeratkan genggamannya.
"Saya terima nikahnya Romauly Badia Nasution binti Togar Nasution dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas 27 gram dibayar tunai." dengan satu tarikan nafas Tommy menyebutkannya.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu kepada para saksi dari pengantin wanita maupun saksi dari pengantin pria
"SAH–." jawab saksi dan undangan yang turut menyaksikan acara sakral ijab kabul pernikanan Tommy dan Roma.
"Alhamdulillah–."
Tommy pun memasangkan cincin kawin mereka dijari manis Roma begitu juga dengan sebaliknya. Lalu Roma mencium tangan pria yang saat ini sudah sah menjadi suaminya itu disambut dengan Tommy mencium kening Roma.
"Hadirin yang berbahagia." suara pembawa acara kembali mengisi ruangan itu.
"Dengan selesainya pembacaan ijab qobul oleh mempelai pria di hadapan bapak penghulu. Disaksikan oleh kedua orang tua masing-masing. Dihadiri oleh sanak famili kerabat dekat dan jauh. Maka mulai detik ini, mempelai telah resmi menjadi sepasang suami istri sesuai dengan tuntunan ajaran Rasulullah saw. Dan saat ini akan kita saksikan kedua pasangan pengantin bersimpuh kepada kedua orang tua mereka untuk meminta restu dan doa yang tulus dari Ibu dan Ayahnya agar hidupnya di dunia ini senantiasa mendapat bimbingan dan inayah dari Allah Subhanahu Wataala. Amin..amain ya rabbal alamain."
Tangis haru kembali memenuhi ruangan itu dimana saat kedua pengantin meminta doa restu kepada kedua orangtua mereka. Togar dan Berta dengan berat hati mengantarkan putri kesayangan mereka kepada pria pilihannya yang dicintainya yang kini akan beralih tanggung jawab atas kehidupan putrinya itu.
Setelah rangkaian acara selesai Tommy dan Roma memilih untuk beristirahat dikamar. Karena pesta kedua mereka akan digelar jam 4 sore nanti dengan menggunakan pakaian adat Batak Mandailing itu. Lalu dilanjutkan dengan pesta terakhir pada jam 8 malam hingga selesai dengan pakaian pengantin modern.
"Sudah dong sayang, ini hari bahagia kita jangan nangis terus. Kita masih bisa bertemu Bapak sama Mamak lagi." Tommy memeluk dan menenangkan wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu. Sedari tadi setelah acara sungkeman kepada kedua orangtuanya Roma terus saja menangis.
"Iya Bang, tapi airmatanya ga mau berhenti nih."
"Setelah SAH kok kamu cengeng gini sih dek?" Tommy menggamit hidung Roma. "Sini Abang bantuin bukain baju kamu."
"Abang mau ngapain?" tanya Roma lalu menjauh selangkah dari Tommy sambil menyilangkan tangannya didadanya.
"Bantuin kamu ganti baju, emang ga gerah? Acaranya masih lama loh." Tommy mendekati Roma tapi Roma malah berlari ke kamar mandi.
"Aku bisa sendiri." teriaknya dari balik pintu kamar mandi.
Tommy tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Dirinya tahu kalau Roma pasti malu pada Tommy.
"Udah sah juga dek–, kenapa harus malu."
Akhirnya Selesai Juga Proses yang mendebarkan hati Tommy
Like Like Like Like Like Like Like Like Like And Like