Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Lamaran Part-1



Seminggu berlalu setelah tragedi penculikan Roma. Rasa trauma masih membekas dalam ingatan Roma, kadang membuatnya parno sendiri ketika ingin pulang dari rumah sakit. Sehingga sesibuk apapun Tommy dia akan selalu mengantar dan menjemput Roma ketika berangkat dan pulang kerja.


"Bang, mulai besok Abang ga usah antar jemput aku lagi ya–." pinta Roma saat Tommy menjemputnya pulang kerja.


"Loh, kenapa dek?" Tommy menautkan kedua alisnya. Ditatapnya gadis yang telah berhasil menjerat hatinya itu.


"Aku ga mau aja Abang itu kecapean Bang. Pagi-pagi harus ke apartemen dulu buat jemput aku, siangnya gitu juga jemput aku dari rumah sakit terus nganterin ke apartemen terus balik lagi ke kantor. Ntar lama-lama Abang tua-tua dijalan. Hehe–." Roma merasa geli sendiri saat membayangkan setiap perjalanan Tommy yang mengantar jemput dirinya, belum lagi kalau mereka terjebak macet waktu Tommy pasti lebih banyak terbuang dijalan.


"Cup–." Tommy mencium bibir kekasihnya itu. "Makanya kita nikah sekarang ya, biar kita tinggal serumah jadi bisa mengurangi tuanya Abang dijalan."


"Besok kan keluarga Abang mau datang melamar, Abang sabar ya. Menikah itu ga semudah membalikkan telapak tangan Bang, semuanya butuh persiapan. Harus cari gedung, catering, WO, gaun pengantin dan masih banyak lagi."


"Apa kamu lupa calon suamimu ini siapa?" ucap Tommy menyombongkan dirinya. "Kalau kamu lupa biar Abang ingetin, tapi–." Tommy menunjuk-nunjuk pipinya yang mengartikan meminta Roma untuk menciumnya lebih dulu.


"Iiih, maunya–." Roma mendorong lembut pipi Tommy yang tadi ditunjuknya.


"Emang ga boleh?"


"Ya ga gitu juga kali Bang–."


"Cup–." lagi-lagi Tommy mendaratkan ciumannya dibibir Roma. "Kalau gitu Abang aja yang cium."


"Iiih, itu curang namanya." Roma mengerucutkan bibirnya.


"Kamu ga usah mikirin WO dan segala macamnya. Kalau kamu udah bilang Iya aja, Abang bisa siapkan semuanya hari ini juga." ucap Tommy dengan penuh keyakinan.


"Gimana caranya?"


"Kamu bilang Iya dulu baru Abang wujudkan semua." Roma berpikir sejenak.


"Enggak deh, aku juga ga mau kalau pernikahan aku tuh kesannya buru-buru. Harus tentuin tanggal yang pas Bang, bukan hanya kesiapan kita aja Bang, tapi juga keluarga dekat kita juga harus menyesuaikan kapan waktu yang pas untuk keluarga kita bisa berkumpul dan datang ke acara pernikahan kita."


"Abang sih enak, cuma anak satu-satunya, nah aku? Keluarga ku harus menyesuaikan jadwal Abang-abang ku kapan waktunya mereka off atau libur."


"Aku ga mau dihari pernikahanku nanti, salah satu Abangku ga hadir. Aku pengen mereka menyaksikan pernikahan ku Bang." Airmata Roma menetes. Di keluarganya tinggal Roma yang belum menikah dan Roma juga anak perempuan satu-satunya. Itu yang akan membuat pernikahannya terasa spesial dibandingkan dengan pernikahan Abang-abangnya sebelumnya.


"Iya Abang tahu–, apapun nanti keputusannya, Abang ga mau kita bertunangan dulu, Abang mau langsung menikah saja. Atau acara lamaran besok sekalian acara pertunangan kita aja gimana?"


"Kok mendadak gini sih Bang? Keluarga ku kan tahunya abang cuma mau lamaran."


"Ya udah nanti kamu bilang sama orangtua kamu kalau besok sekaligus acara pertunangan kita."


"Tapi bagaimana persiapannya Bang? Abang ga usah aneh-aneh deh–." Roma tahu kalau mempersiapkan acara pertunangan itu hampir sama dengan acara pernikahan hanya saja tamunya terbatas dan kebanyakan hanya dihadiri oleh pihak keluarga saja.


"Kamu ga usah pikirkan itu. Kalau kamu setuju nanti Abang hubungi pihak WO untuk mendekorasi rumah kamu gimana?"


"Aku harus rundingkan dulu sama orangtuaku Bang–." Wah bisa kaget Bapak sama Mamak kalau acaranya mendadak begini? Pikir Roma.


"Ya sudah kamu telpon saja sekarang, atau kamu mau kita langsung ke rumah orangtua kamu aja, gimana?"


"Terserah mana baiknya aja deh Bang. Aku ngikut aja." jawab Roma pasrah, dirinya ingin menyerahkan semua keputusan kepada kedua orangtuanya.


"Oke kita kerumah kamu sekarang." Tommy memutar balik arah mobilnya. Tujuannya sekarang berganti kerumah orangtua Roma.


Satu jam lamanya perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai ke rumah calon mertuanya itu.


Saat melihat kehadiran Tommy, Togar dan Berta istrinya merasa terkejut pasalnya yang mereka tahu keluarga Tommy akan datang saat acara lamarannya besok.


"Nak Tommy ada apa datang malam-malam begini? Bukannya acara lamaran besok ya?" tanya Berta saat Tommy mencium punggung tangannya.


"Iya Tante, rencananya memang begitu tapi ada sedikit hal yang mau saya bicarakan dengan Om dan Tante."


"Ya udah kita masuk dulu sembari menikmati kopi buatan si Roma." Togar memberi kode untuk anak gadisnya itu supaya masuk kedalam membuatkan kopi untuk mereka.


Roma yang sudah tahu maksud Bapaknya pun langsung masuk ke dapur membuatkan kopi sesuai perintah Togar.


"Ada apa nak? Apa ada yang penting?" Berta yang sudah tak sabar menunggu berita yang akan disampaikan calon menantunya itu.


"Begini Om, Tante–, rencananya kan besok saya dan keluarga akan datang melamar Roma, tapi kalau boleh saya meminta besok sekaligus acara pertunangan saja bagaimana Om, Tan?" Tommy menatap kedua calon mertuanya bergantian.


Kedua orangtua itu pun saling berpandangan.


"Kenapa mendadak begini nak Tommy? Tante belum ada persiapan apa-apa hanya persiapan untuk menyambut kedatangan keluarga nak Tommy saja." sahut Berta.


"Kalau Om dan Tante setuju malam ini juga saya akan datangkan pihak WO untuk mendekorasi rumah ini, atau Tante dan Om mau diadakan di hotel saja juga boleh." usul Tommy.


"Bagaimana Pak?" Berta bertanya pada suaminya yang juga terkejut dengan permintaan calon menantunya itu.


"Kalau kamu sendiri maunya gimana Boru?" Togar malah melempar pertanyaan itu kepada Roma putrinya yang baru muncul dengan nampan yang berisi kopi dan cemilan ditangannya.


"Kalau Roma ikut kata Bapak sama Mamak saja." sambil meletakkan kopi dan cemilannya. Lalu duduk disamping Tommy.


"Kalau begitu, supaya tidak merepotkan Om dan Tante sebaiknya kita adakan dihotel saja. Bagaimana?" usul Tommy karena melihat kedua calon mertuanya itu tampak bingung mengambil keputusan.


"Tapi saya maunya setelah lamaran langsung acara pernikahan saja Om, Tan–. Tidak perlu memalui proses pertunangan makanya kalau bisa lamaran dan pertunangannya disatukan saja acaranya."


"Tidak apa-apa nak Tommy. Besok tetap direncana awal saja, kalau masalah pernikahan kita bicarakan bersama keluarga yang kumpul besok." ucap Togar lalu mempersilahkan Tommy untuk meminum kopi buatan putrinya itu.


Roma sangat paham dengan sikap kedua orangtuanya, mereka tidak ingin merepotkan calon menantunya apalagi pihak dari keluarga besannya. Mereka sangat tahu niat baik Tommy hanya saja mereka juga ingin prinsip keluarga mereka dihargai.


Tommy pun tidak ingin memaksakan kehendaknya. Dia setuju dengan rencana awal mereka.


...💗💗💗...


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba dimana Tommy sedang bersiap-siap dengan keluarganya menuju kediaman Roma. Tak luput Zia, Zio dan pasangan serta anak-anak mereka juga turut menghadiri acara sakral lamaran Tommy. Siska pun ikut serta mendampingi mantan menantunya itu bersama Indah dan Pramudja serta beberapa kerabat lainnya yang turut mengantarkan Tommy untuk melamar gadis pujaan hatinya.


Sesampainya dikediaman keluarga Nasution itu mereka disambut dengan baik oleh seluruh keluarga Roma. Karena Roma adalah seorang gadis batak maka acara lamaran pun dilakukan secara adat batak sesuai dengan permintaan kedua orangtua Roma.


Tommy sudah mempelajari tata cara adat batak tersebut. Saat pertama kali mereka sampai acara pertama yang dilakukan adalah Mangaririt Boru yang mana artinya adalah Seorang lelaki harus menyampaikan keinginannya untuk menikahi gadis pilihannya kepada orangtuanya, maka orang tua disini wajib untuk menjajaki siapa perempuan itu. Apakah kalau saat mereka datang melamar akan diterima atau apakah pihak wanita sudah ada lelaki yang lain terlebih dahulu sebelum anak mereka melamar perempuan tersebut. Semua hal perlu diselidiki terlebih dahulu. Namun karena orangtua Tommy berasal dari suku jawa maka hal ini tentunya harus dilakukan oleh pihak yang lebih mengerti tentang adat itu. Maka dari itu Tommy meminta tolong kepada salah satu keluarga batak juga untuk menjadi wakilnya.


Kemudian seorang MC membacakan acara selanjutnya yaitu mempelai pihak laki-laki bersama keluarga datang dan memperkenalkan  secara langsung ke pihak boru (perempuan) dan menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang dan ini disebut dengan Padamos Hata.


Setelah memilih perwakilan masing-masing pihak yang nantinya akan saling menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan di ajukan.


“Apakah maksud dari keluarga abang datang kerumah kami?” tanya salah satu perwakilan dari pihak perempuan.


"Mengingat anak kami Tommy yang sudah besar badannya, sudah tamat sekolah, sudah ada pekerjaannya, dan saat ini dia bercita-cita untuk berumah tangga, dan kami ingin bertanya benar di rumah bapak ini ada seorang putri yang bernama Romauly yang merupakan putri bapak dan apakah sudah ada yang meminangnya?“ tanya pihak keluarga Tommy yang diwakilkan oleh keluarga batak lainnya yang lebih mengetahui adat batak tersebut.


“Benar, putri kami bernama Romauly dan sepengetahuan kami belum ada yang meminangnya.” jawab perwakilan dari pihak Roma.


“Baiklah–, jadi apakah kami dari pihak yang datang ini diperbolehkan untuk meneruskan maksud kami yaitu melamar putri Bapak Nasution?“ tanya perwakilan pihak Tommy.


“Karena putri kami Romauly belum ada yang melamar, maka tidak ada alasan kami untuk menolak niat baik dari pihak keluarga abang.“ jawab perwakilan dari pihak keluarga Roma.


Seharusnya setelah acara padamos hata selesai pihak laki-laki pulang kerumah dan akan kembali lagi sesuai waktu yang ditentukan, namun karena mengingat mereka sudah memiliki kata sepakat sebelumnya maka acara pun dilanjutkan dengan acara Patobang Hata (Melamar).


Dalam melamar ini pihak laki-laki harus membawa Salipi. Salipi diletakkan di dalam kantung berbentuk segi empat yang terbuat dari tikar anyaman pandan berwarna putih dan di kelilingnya dihiasi benang berwana-warni. Di dalamnya terdapat kapur sirih, pinang, gambir, tembakau, dan burangir (daun sirih). Tommy sudah diajari oleh Togar apa-apa saja yang harus dipersiapkan. Dan keluarga yang menjadi walinya pun sudah memberitahu kepada Indah dan Pram.


Indah sangat senang mempersiapkan segala sesuatunya dengan tulus. Dia merasa bahwa adat keluarga batak itu sangat unik.


Selanjutnya salipi tersebut di berikan kepada pihak perempuan yang diwakili oleh pihak Tommy tadi, lalu disertai dengan perkataan. “Apakah sudah boleh kami sampaikan hajat kami?”


"Silahkan sampaikan. Sirih kami terima.” kali ini yang menerima adalah pihak dari ahli baik atau penetua adat.


"Kami sudah menyampaikan maksud kedatangan kami tadi. Kira-kira putri Bapak, Romauly apakah di izinkan untuk jadi teman hidup anak kami Tommy?”


"Kami berbesar hati." jawab perwakilan pihak Roma. "Tapi mengingat disini ada uwaknya Roma, ada mora kami. Maka dari itu Mora kami lah yang tau dan menyambut hajat dari pada keluarga kami, dengan segala kerendahan hati maka acara ini pun kami serahkan ke pihak mora kami.” Perwakilan Roma itupun menyerahkan mikrofon kepada pihak Mora


“Assalamu’alaikum Wr.Wb, terima kasih kepada pihak keluarga perempuan telah memberi kepercayaan kepada saya sebagai mora dari keluarga ini. Sambutan anak boru ayah, sudah besar hati namun ayahnya menyerahkan kepada kami. Tentunya kami dari pihak mora ni mora ikut berbesar hati. Tapi begitulah indahnya budaya bukan semudah itu memetik kembang kami tanpa syarat adat. Jika setuju maka persyaratan yang akan kami sampaikan adalah sebagai berikut." Mora itupun membacakan persyaratan yang diminta oleh pihak perempuan. 


Persyaratan ini bisa juga di tentukan oleh kedua pihak



Perlengkapan Kamar


Seperangkat Pakaian


Seperangkat Alat Shalat


Pakaian (kain sarung paliket)


Emas sebesar kepala kuda (Jarang ada yang sanggup memenuhinya) Namun karena Tommy dan Roma sudah sepakat maka mereka menggantinya dengan satu set perhiasan emas lengkap.



...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Mora yaitu saudara laki-laki dari ibu atau mertua dari suhut serta seluruh keturunannya menurut garis laki-laki.


Panjang yach–


Untuk mengobati Rindu My Receh.


Sebelumnya ijinkan Author mengucapkan.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H


Mohon maaf Lahir dan Batin 🙏


Jangan Lupa tetep dukung Novel Author ini yach 🤗


Like, Coment dan Vote


Sertakan juga kembang²nya dan Coffee-nya 😊