
Bara dan Tommy saling berpandangan, bingung dengan perubahan sikap Roma. Roma tiba-tiba histeris dan melihat Tommy seperti ia sedang berhalusinasi. Namun tiba-tiba Roma berteriak meminta suaminya itu untuk keluar.
"Keluar–, Aaaa.... bawa dia keluar Bang–." Roma terus saja histeris meminta Bara untuk membawa Tommy keluar. Bara bingung apa yang harus ia lakukan karena saat itu Tommy juga baru datang dan pasti ingin mendampingi Roma istrinya.
"Ada apa Pa?" Citra terbangun saat mendengar teriakkan Roma yang sampai ke kamarnya.
"Aku ga tahu, kamu temani Badi dulu." ucap Bara pada istrinya. Lalu meminta Tommy untuk keluar dari kamarnya. "Lae sebaiknya kita keluar dulu." Mau tidak mau Tommy pun mengikuti keinginan Roma.
"Sayang–." lirih Tommy saat Bara menarik tangannya.
"Keluar, Keluaaar–." teriak Roma.
"Eda, Eda tenang dulu Da." Citra memeluk Adik iparnya itu. "Eda kenapa? Dia Tommy suami Eda, dia baru datang Da–."
"Tolong jangan biarkan dia masuk Da–, aku ga mau dia melihatku lagi Da, aku ini udah kotor Da. Aku ga pantas untuk dia Da." lirih Roma dan terus menangis.
Deg.
Hati Tommy sakit mendengar perkataan istrinya itu. Dia dan Bara berdiri didepan pintu kamar Roma yang tertutup dan mereka pun dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang Roma bicarakan.
"Kamu tidak diapa-apain sama Robert Da, kenapa Eda bisa berpikiran kalau Eda ini kotor?" Citra ingin berkata seperti itu tapi enggan rasanya karena iparnya itu masih terus menangis dan histeris. Dia merasa akan percuma, karena apapun yang dikatakannya saat ini pasti Roma akan sulit untuk menerimanya.
"Kenapa Eda sampai berpikiran seperti itu Da?" Citra yang tak tahan melihat tangisan adik iparnya pun ikut menangis. Ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya Robert lakukan pada adik iparnya itu.
"Robert udah kurang ajar samaku Da– dia mau memperkosaku Da. Aku ini kotor Da, dan aku jijik sama diriku sendiri." Roma mengusap-usap tangannya dan kakinya dengan kasar.
"Eda, dia tidak melakukan itu padamu Da, karena tadi Amangbao langsung datang dan menghajar Robert Da." Citra tak sanggup untuk membiarkan Roma berpikiran kalau dia sudah diperkosa. Permasalah iparnya itu harus diluruskan. Itulah yang ada dalam benaknya.
"Tapi tetap saja aku ini kotor Da, dia menggesek-gesekkan itunya padaku Da, aku jijik Da. Aaaaaa.... Aaaaa." Roma terus mengusap-usap tangannya dengan kasar, lalu wajahnya dan menjambak rambutnya sendiri.
Citra semakin tak tahan melihat iparnya itu.
"Eda, Eda liat aku." Roma masih terus histeris. Citra menangkup wajah Roma setengah berteriak. "Badi liat aku–." Bentak Citra, karena Roma terus saja histeris, tapi setelah Citra membentaknya Roma terdiam seketika, karena baru kali ini Citra membentaknya.
"Kamu masih bersih, bajingan itu tidak sempat mengotori mu. Kamu harus tahu dan ingat suamimu sekarang disini sedang menunggumu. Kontrol emosimu Badi." Hati Roma berdesir, ia merasakan damai dihatinya setelah Citra menyebut nama yang biasa dipanggil ke empat Abangnya itu. Dirinya merasa seperti sedang dilindungi oleh ke empat Abangnya.
"Aku tahu ini berat tapi cobalah untuk berpikir positif. Kamu jangan histeris seperti ini, ingat Inang yang sekarang sedang sakit karena memikirkan kamu." Citra berbicara pada Roma seperti berbicara pada temannya karena saat ini Roma butuh dukungan. Dia tak ingin menyandang status sebagai Edanya karena itu bisa membuat jarak diantara mereka.
"Kamu tahu? Semua orang sayang sama kamu. Kalau kamu terus seperti ini bagaimana nanti Inang? Bagaimana perasaan Amang kepada saudaranya sendiri. Adiknya sendiri. Bahkan Amang sudah meminta kepada Namboru supaya Robert menyerahkan dirinya ke kantor polisi."
"Bapak, Mamak–." Roma menangis sesenggukan mengingat bagaimana perasaan Orangtuanya sekarang.
"Maafkan aku Badi, mungkin kamu berpikir, ahk ngomong mah gampang tapi yang jalani kan aku, aku yang tahu bagaimana sakitnya perasaanku sekarang. Mungkin itu yang kamu pikirkan. Tapi kalau benar itu yang ada dalam pikiranmu sekarang, kamu salah. Bukan hanya kamu yang menderita tapi kita semua menderita, sakit mengingat perlakuan bejad si Robert si kurang ajar itu. Amang, Inang, semua Abang-abang mu dan terutama suamimu, sangat sakit melihatmu seperti ini." tutur Citra sambil menghapus airmata Roma yang masih terus menetes.
"Ayolah Badi, aku tau ini berat tapi cobalah untuk melupakan semuanya." Citra menggenggam tangan Roma dengan erat.
Roma terdiam, ia mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan kakak iparnya itu. Dan saat itu dia dapat merasakan bagaimana sakit hatinya Bapaknya. Disini yang sangat menderita adalah Bapaknya, bagaimana caranya Togar akan menghukum adik kandungnya sendiri. Bagaimana perasaan Bapaknya saat ini, pastilah lebih hancur dari perasaan Roma saat ini.
"Tolong tinggalkan kami inangbao." lirih Tommy. Ia memaksa untuk tetap masuk meskipun Bara terus melarangnya. Tommy siap menerima apapun yang akan terjadi jika Roma menolaknya lagi.
"Tapi–." Citra tak dapat berkata apa-apa, Tommy memang lebih pantas untuk berada disamping Roma saat ini.
"Aku mohon–." lirih Tommy memotong bantahan kakak iparnya itu.
Citra pun meninggalkan Roma yang duduk terdiam di tempat tidur.
"Dek–." Tommy duduk disampingnya.
"Keluarlah Bang–, aku mau sendiri." lirih Roma lalu memalingkan wajahnya tak ingin melihat Tommy suaminya.
Bukannya keluar Tommy malah mendekati Roma dan memeluknya. Tak ada penolakan dari istrinya itu tapi Roma juga tidak menerimanya. Dia terdiam seperti patung.
"Maafkan aku–, maafkan aku dek–." Tommy menangis. "Aku yang salah. Aku yang meninggalkanmu. Seandainya saja aku tetap bersamamu ini tidak akan terjadi padamu. Kalau ada yang ingin kamu salahkan, maka salahkanlah Aku suamimu ini, karena sudah tak becus menjagamu." Tommy melepaskan pelukannya lalu berlutut didepan Roma.
Tommy meraih tangan Roma dan menggenggamnya erat.
"Aku yang salah Sayang, aku mohon jangan menyalahkan dirimu sendiri." Roma masih saja diam.
"Aku mohon bicaralah Roma, aku akan menghapus semua kenangan buruk yang baru saja kamu alami." Tommy mencium punggung tangan Roma dan membuat tangan Roma menyentuh pipinya. Roma perlahan menatap suaminya itu.
"Katakan padaku Sayang, dimana dia menyentuhmu?"
"Mas Tommy–. Aaaaaa.... Aaaaaa." Roma turun dari tempat tidur dan memeluk Tommy yang berlutut dihadapannya itu.
"Mas Tommy–, aku udah kotor Mas."
Tommy melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Roma.
"Tidak sayang, kamu tetap istriku yang suci. Cup." Tommy mencium bibir Roma.
"Yang baik. Cup."
"Yang Cantik. Cup."
"Kamu segalanya untukku. Cup." Tommy terus mengecup bibir Roma membuat istrinya itu semakin merasa bersalah.
"Katakan dimana dia menyentuhmu? Mas akan menghapus semua kenangan burukmu itu."
Perlahan Roma mengangkat tangannya yang masih terlihat memar dan menunjuk keningnya.
"Dia menyentuhmu disini?" Tanya Tommy dan Roma menganggukkan kepalanya.
Tommy langsung mencium kening Roma dengan lembut.
"Dimana lagi?"
Roma menunjuk pipinya, lalu Tommy mencium lembut pipi Roma. Kemudian ia menunjuk dadanya.
"Aaaaa... Aaaaaa." Roma kembali menangis tapi Tommy langsung mencium bibirnya dengan lembut. Kemudian tangannya mer*mas lembut bukit kembar istrinya itu.
Roma yang mendapatkan sentuhan lembut dari suaminya itupun mulai merasakan kenikmatan. Awalnya ia dihantui perasaan bersalah kini dia bisa menerima perlakuan suaminya itu.
"Maafkan aku sayang, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu lagi. Dan akan ku buat Paribanmu itu menerima ganjarannya karena sudah berani melecehkanmu."
Roma mendesah menikmati setiap sentuhan lembut Tommy. Bayangan tentang perlakuan kasar Robert padanya telah sirna diganti dengan kelembutan suaminya.
"Mas, aku kotor–." ucap Roma ketika Tommy ingin membuka penghalang pintu masuk tubuhnya itu.
"Sssuuttt, jangan berkata seperti itu. Mas udah bilang kalau kamu tetap istri Mas yang utuh dan suci." Tommy mencium kembali bibir Roma dan berhasil melepaskan kain penghalang pintu masuk milik istrinya.
Tommy melakukan penyatuannya dengan lembut. Ia ingin menghapus semua kenangan buruk dari pikiran Roma istrinya.
Disela-sela penyatuannya Tommy menangis, menyesali perbuatannya yang meninggal istrinya itu. Begitupun Roma juga menangis karena merasa tak pantas untuk Tommy suaminya. Meskipun setiap kenangan buruk akan sulit untuk dilupakan tapi ia akan berusaha untuk melupakannya.
Tommy melihat Roma tertidur pulas setelah melakukan pelepasannya. Tommy meraih ponselnya dan langsung menghubungi Ken.
"Halo, ada apa Lo nelpon gue subuh-subuh begini?" suara serak bangun tidur terdengar dari seberang sana. Ken melirik jam dindingnya masih menunjukkan pukul 3 pagi.
"Ken siapkan keberangkatan ke Korea sekarang."
"What? Now?"
"Ya, apa Lo tuli atau budek?"
"Kira-kira kali Lo kalau ngasih tugas." Gerutu Ken.
"Ken Lo mau gue pecat?"
"Issh, mentang-mentang Lo bos nya jadi suka-suka Lo aja merintahin gue." Ken masih kesal karena tidurnya di ganggu oleh Tommy.
"Eh, tunggu-tunggu. Lo bilang siapin penerbangan? Emang Lo udah balik? Kapan?"
"Banyak nanya Lo, gue potong ntar gaji Lo 30 %."
"Gue serius nih."
"Siapin sekarang. Gue langsung ke bandara sekarang."
"Ini kali yah yang orang-orang sering bilang. Sultan mah bebas–." Sindir Ken lalu Tommy langsung memutuskan panggilan teleponnya.
"Aku akan menepati janjiku Sayang, kita akan melakukan honeymoon kita yang sempat tertunda." gumam Tommy sambil mengecup bibir Roma.
Say hai dong dikolom komentar 😍