Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Menggumam bukan Membatin



Roma mengalah karena Tommy saat ini benar-benar sakit, rasa perih yang dirasakan di bagian perutnya masih terlihat jelas oleh Roma saat Tommy menahan sakitnya. Dengan telaten Roma akhirnya menyuapi Tommy seperti menyuapi anak kecil.


"Enak buburnya dek." Tommy benar-benar memuji masakan Roma.


"Kalau enak dihabiskan dong." Roma yang sedari tadi menyuapi Tommy melihat isi mangkuknya hanya habis setengah.


"Masih perih dek, ga bisa dipaksa langsung makan banyak." Roma saat tahu kalau sakit maag itu ga boleh dipaksa makan terlalu banyak namun lebih baik sedikit tapi sering di ulang.


"Ya udah, nih suapan terakhir abis ini minum obat ya."


Tommy menuruti perkataan Roma. Setelah menghabiskan makanan yang dimulutnya Tommy pun langsung meminum obat yang diberikan Roma.


"Mau kemana?" Tommy menarik tangan Roma yang ingin beranjak dari tempat tidur.


"Mau nyimpan ini dulu ke dapur Bang–." Roma menunjuk mangkuk dan gelas minum Tommy, kemudian Tommy melepaskan tangannya. "Abang istirahatlah, biar cepat pulih." Tommy hanya menganggukkan kepalanya.


Roma keluar kamar untuk menyimpan mangkuk bekas makan Tommy ke dapur. Roma juga baru sadar kalau dirinya juga belum makan saat mendengar cacing didalam perutnya protes minta di isi.


Roma mengupas buah apel dan melon lalu membawanya kembali ke kamar. Niatnya ingin makan buahnya bersama Tommy. Tapi ketika sampai dikamar ia melihat Tommy sudah tertidur.


Roma pun melangkah keluar kamar, pelan-pelan ia membuka pintu kamar agar tidak membangunkan Tommy.


Roma menikmati buah yang sudah di potong-potongnya sambil menonton drama Korea kesukaannya di TV yang ada diruang serbaguna di apartemennya. Karena apartemennya tidak terlalu besar kamarnya hanya ada dua namun yang bisa digunakan hanya satu yaitu kamarnya sendiri sedang kamarnya yang satu lagi dimanfaatkannya untuk ruang kerjanya dan menyimpan barang-barang kedokterannya.


Setelah selesai menonton Roma kembali ke kamarnya, ingin mengambil bantal dan selimut. Roma ingin tidur di sofa di ruangan serbaguna itu sambil menonton TV tepatnya TV yang akan menonton ia tidur.


Roma menyentuh kening Tommy dengan telapak tangannya memastikan demamnya sudah turun atau belum.


"Syukurlah demamnya sudah turun." gumam Roma pelan.


Dengan pelan Roma mengambil bantal yang ada diseberang Tommy, namun saat ingin turun dari tempat tidur ia terkejut saat Tommy tiba-tiba memeluknya.


Ternyata Tommy terbangun saat Roma menyentuh keningnya namun tetap memejamkan matanya sehingga Roma tidak tahu kalau Tommy sudah terbangun.


"Bang lepas ih." Bukannya melepaskan pelukannya Tommy malah menjatuhkan tubuh Roma disampingnya dengan lengannya dijadikan sebagai bantal menopang kepala Roma.


"Bang, lepas–." Roma menggeliat seperti cacing kepanasan. Roma ingin Tommy melepaskan pelukannya.


Tommy membuka matanya perlahan menatap wajah wanita yang ada dalam pelukannya itu. "Dek kalau kamu ga mau diam dan gerak terus kamu akan membangunkan yang seharusnya ga bangun."


Mendengar ucapan Tommy akhirnya Roma pun tidak bergerak lagi, ia tahu apa yang akan bangun yang dimaksud Tommy.


"Bang, lepas. Aku mau tidur."


"Ini kan udah tidur, tinggal pejamkan matamu aja." Tommy semakin mengeratkan pelukannya.


"Bang lepas, aku susah nafas nih." Tommy pun melonggarkan pelukannya tanpa melepasnya.


"Bang, aku mau tidur di sofa aja."


Tommy melihat tajam pada Roma.


"Kalau kamu memilih tidur disofa, sebaiknya Abang pulang–."


Roma terdiam, ia melirik jam dinding di kamarnya sudah jam 1 pagi. Tidak mungkin dirinya membiarkan kekasihnya itu pulang dalam kondisi yang seperti itu.


Tommy tahu apa yang menjadi kekhawatiran Roma. Ia mencium lembut kening kekasihnya itu.


"Abang ga akan melakukannya. Abang hanya ingin memelukmu seperti ini saja. Boleh kan?"


"Tetap aja Bang belum boleh–." Roma masih bersih keras menolak tidur bersama Tommy. "Tunggu sampe Abang halalin aku ya." ucapnya lirih.


Tommy kesal mendapatkan penolakan dari Roma. "Kalau gitu biar Abang yang tidur disofa."


"Bang–, abang itu masih sakit. Ga usah bandel bisa ga sih."


"Kamu ga usah bantah Abang bisa ga sih–." Tommy menirukan suara manja Roma.


"Ya udah, aku tidur disini tapi ga ada acara pelukan segala."


Tommy mengerutkan keningnya, melihat intens wajah kekasihnya yang masih berada dalam pelukannya itu.


Tommy melepaskan pelukannya. "Sekarang tidurlah." Roma tidur disebelah Tommy dengan meletakkan guling sebagai pembatasnya.


Tommy melihat Roma belum juga memejamkan matanya.


"Kenapa lagi? Kok belum tidur? Emang besok ga kerja?"


"Hmmm anu–" Roma terlihat ragu untuk mengatakan apa yang membuatnya risau.


"Anu apa? Anu Abang masih bobok jangan dibangunkan." Tommy tersenyum menggoda Roma dan seketika wajahnya merona merah.


"Iiih Abang apaan sih–."


"Tidurlah? Apa mau Abang peluk?"


"B-Bukan gitu. Aku ga bisa tidur kalau lampunya menyala."


Roma sudah terbiasa tidur dengan mematikan lampu. Ia akan kesusahan tidur kalau lampunya terang. Sementara Tommy tidak bisa tidur dengan ruangan gelap.


"Abang ga bisa tidur kalau gelap dek. Abang sesak nafas kalau tidur dalam ruangan gelap."


"Ya udah, biar aku tidur disofa aja ya Bang." pintanya lirih.


"Enggak, lagian kamu kenapa ga bisa tidur dengan lampu terang?"


"Dari kecil sama Bapak, kami dibiasakan tidur dengan lampu yang dimatikan. Kata Bapak biar mata kita tidak sakit kalau tiba-tiba terbangun tengah malam karena silau cahayanya. Saat bangun tidur mata kita juga akan lebih fresh, tidur terasa nyenyak. Jadi kebiasaan sampe sekarang aku ga bisa tidur kalau ga mati lampu."


"Ya udah nyalain lampu tidur aja ya."


"Tetep aja masih ada cahaya Bang."


"Abang ga bisa tidur kalau gelap Adeekk."


"Hmm, ya udah deh." Roma mengalah lalu menyalakan lampu tidur dan mematikan semua lampu yang menerangi kamarnya.


Roma tampak gelisah ia sudah sangat ngantuk tapi ia belum juga bisa tidur nyenyak. Karena kegelisahan Roma membuat Tommy juga tidak dapat tidur karena Roma yang terus-menerus bergerak.


Tommy menyingkirkan guling pembatas mereka tidur. Ia mengangkat kepala Roma dan membiarkan lengannya jadi bantal Roma.


"Sini Abang peluk. Kamu bisa membenamkan wajah kamu didada Abang, biar ga menyilaukan mata kamu cahayanya."


Roma tidak menjawab tapi dirinya juga tidak menolak. Tommy memeluk Roma mengelus lembut rambutnya.


"Ah kenapa nyaman sekali? Wangi badan Bang Tommy enak banget." gumam Roma disela ngantuknya. Tommy tersenyum ia dapat mendengar jelas gumaman Roma itu.


"Kalau kamu suka, kenapa tadi sok nolak?"


Roma bingung ia membuka matanya dan menatap pria yang sedang memeluknya itu.


"Apa? Apa Bang Tommy bisa baca pikiran ya? Kok jadi serem gini?"


"Kok Abang tahu apa yang aku pikirkan? Apa Abang bisa baca pikiran ya?"


"Abang ga bisa baca pikiran dan Abang ga punya ilmu semacam itu. Abang tuh dengar kamu bilang badan Abang wangi?"


"Hah? Abang dengar? Kan aku ngomong dalam hati?"


Roma tidak menyadari kalau dirinya menggumam bukan membatin.


"Kamu itu menggumam bukan membatin. Udah ah, katanya ngantuk. Buruan tidur sebelum nanti ada yang bangun." Tommy kembali memeluk erat tubuh Roma.


Tak selang berapa lama terdengar dengkuran halus dari Roma. Tommy melihat kekasihnya sudah tertidur pulas dalam pelukannya. Namun saat ini dirinyalah yang tidak bisa tidur karena sesuatu yang seharusnya tidur kini sudah terbangun dan meronta-ronta didalam sarungnya.


Tommy mengangkat dan meletakkan kepala Roma ke bantal. Juniornya meronta minta segera dikeluarkan. Setelah masa dinyatakan sembuh baru kali ini Tommy tidak bisa menahan hasratnya. Ia berlari ke kamar mandi dan bekerja sendiri untuk melepaskan pelepasannya.


"Aah, Kenapa jadi nyiksa banget ya. Aku ga tahan kalau ada dekat dengannya. Semoga Bara menepati janjinya."


Walaupun ini hari Libur, tapi Please disini Absennya jangan Libur ya 😍