Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
PERTUNOR



Tommy masih terbaring lemah di Rumah Sakit. Sudah hampir sejam Tommy di observasi di ruangan UGD tersebut ia masih menunggu kedatangan Roma tapi Roma belum juga kembali. Sementara Bella masih setia menunggu Tommy disana.


"Bella, kenapa kamu belum pulang?" Tommy melihat Bella masih setia menunggunya.


"Kamu mengusir ku Tom?" Bella merasa kalau Tommy tidak suka dengan kehadirannya.


"No, but– aku takut kamu lelah. Dan bagaimana bisa kamu berada di mall itu?"


"Aku ingin bertemu denganmu tapi, Sekretaris mu bilang kamu membatalkan pertemuan kita."


"Apa Bella Klien yang maksa ingin ketemu denganku langsung?"


"Jadi kamu utusan dari PT Dirgantara?" tebak Tommy.


"Iya, kenapa? Kamu tidak suka?" Bella berjalan mendekati Tommy dan duduk ditepi tempat tidur.


"Bukan, bukannya aku tidak suka tapi yang ku tahu yang ingin bertemu denganku adalah CEO dari perusahaan itu dan setahuku perusahaan itu adalah milik Bambang Gantarama. Jangan bilang–" Tommy tidak meneruskan ucapannya. Iya tidak ingin salah dalam mengucapkan kata-katanya. Takut akan menjadi gosip atau berita yang tidak benar.


"Seperti yang kau duga. PT Dirgantara memang milik Bambang Gantarama tapi sebagian sahamnya sudah dijual dan dibeli oleh Daddyku. Dan kini akulah yang bertanggung jawab atas perusahaan itu. Dan aku ingin menawarkan kerjasama denganmu."


"Maaf aku sedang tidak ingin membahas pekerjaan sekarang." Mendengar ucapan Tommy tentu saja membuat Bella tersinggung, pasalnya sudah jauh-jauh hari dirinya membuat janji pada CEO PT. SP GROUP tersebut dan dengan mudahnya Tommy membatalkan janjinya begitu saja.


"Ken–." teriak Tommy, ia tahu kalau Kendrick pasti sedang menunggunya diluar. Dan begitu mendengar namanya dipanggil Ken pun langsung masuk. "Kau urus semua administrasi Rumah Sakit ini. Aku ingin pulang sekarang." perintahnya pada Ken, kemudian menatap pada Bella yang duduk ditepi tempat tidur.


"Baik Tuan–." Ken kembali menempatkan dirinya sebagai sekretaris Tommy.


"Dan untuk pertolonganmu aku ucapkan Terimakasih dan maafkan aku atas batalnya pertemuan kita. Nanti Ken yang akan menghubungi perusahaanmu dan mengatur ulang pertemuan kita. Sekali lagi aku minta maaf dan Terimakasih."


Tommy melepaskan paksa selang infus dari tangannya.


"Tom–, apa-apaan kamu?" Bella terkejut melihat Tommy melepaskan infusnya. Tapi Timmy tidak peduli. "Tommy–."


Bella berusaha mencegah Tommy pergi namun tangannya ditarik oleh Kendrick. Para perawat jaga juga sempat mencegahnya. Namun Jeffri meminta mereka untuk membiarkannya. Sepertinya Jeffri sudah tahu siapa Tommy sebenarnya.


"Lepaskan–." bentak Bella lalu menghempaskan tangannya dari genggaman Kendrick.


"Maaf Nona." Ken mint maaf sambil menundukkan kepalanya.


...🍥🍥🍥...


Tommy berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit, banyak mata yang melihatnya. Tapi Tommy tidak peduli, Ia terus berjalan menuju ruangan Roma. Rumah sakit itu berada dilokasi yang sama namun sengaja dibangun terpisah antara pasien berobat umum dengan pasien yang berobat ke psikiater semua Tommy lakukan demi kenyamanan pasien.


Tommy tidak menyadari kalau darahnya terus menetes dan berceceran disetiap lantai yang dilaluinya. Tujuannya hanya satu yaitu bertemu dengan kekasihnya. Dirinya tidak ingin menambahkan ke salah pahaman antara dirinya dan Roma.


Tommy melihat seorang perawat dan seorang pasien baru keluar dari ruangan Roma dan tanpa menunggu lagi Tommy langsung masuk ke ruangannya.


"Dewi, kamu bilang itu tadi pasien terakhir, aku udah capek pengen pulang." Roma memunggungi pintu masuk, ia melepas Snelli nya tanpa melihat siapa yang membuka pintu ruangannya.


"Dek–." Tommy memeluk Roma dari belakang, dan membuat jantung Roma hampir lepas dari tempatnya.


"Apa-apaan sih Bang, ini rumah sakit tolong jaga sikap Abang." ucap Roma setengah berteriak.


Roma memegang tangan Tommy dan melepas paksa pelukan Tommy. Ia merasa ada yang aneh saat menyentuh punggung tangan Tommy lalu dilihatnya tangannya sudah berlumuran darah.


"Bang ini darah–." Roma melihat darah masih menetes dari tangan Tommy. Dengan cepat Roma membawa Tommy untuk duduk di tempat tidur periksa di ruangannya.


"Kenapa tangan Abang berdarah begini? Apa perawat disana tidak hati-hati melepaskan infusnya dan ini kenapa juga dibiarkan begini ga dikasih plester dulu." Roma terus saja menggerutu tapi tetap sambil membersihkan darah yang ditangan Tommy.


"Mereka ga salah, Abang yang melepasnya sendiri." ucap Tommy pelan.


"Apa? Abang udah gila ya? Gimana kalau darahnya ga berhenti ngalir–."


"Terus Abang pendarahan–."


"Terus Abang jadi lemas karena sudah kekurangan darah–."


"Terus gimana kalau Abang sampai pingsan lagi–."


"Terus–."


Tommy mencium bibir Roma untuk menghentikan ocehannya.


"Kamu berisik–."


"Abang ngapain cium-cium aku? Aku tuh lagi marah! Jadi ga usah Abang cium-cium."


"Dek–."


"Ga usah panggil dek dak dek–, aku lagi marah jadi ga usah ngomong."


"Iiiiih gemes banget deh gue kalau liat lo marah-marah gini dek. Pengen rasanya gue makan lo dek. Oh Tuhan kuatkanlah imanku ini." Batin Tommy.


Roma terus saja membersihkan tangan Tommy dan memberi plester pada bagian bekas infus dipunggung tangannya.


Tanpa mereka sadari Bella sedang memperhatikan mereka melalui kaca kecil di pintu ruangan Roma namun tidak dapat mendengar apapun yang mereka bicarakan. Bella mengepalkan tangannya merasa kesal dengan Tommy. Lalu pergi meninggalkan Rumah Sakit begitu saja.


"Abang tuh kenapa sampai ga makan? Udah tahu perutnya itu kwalitas KW-an bukan Ori atau Premium tapi masih suka telat makan." Tommy hanya diam dan tersenyum sambil memperhatikan Roma yang masih membersihkan sisa-sisa darah di telapak tangan Tommy.


"Kalau ditanya itu dijawab jangan diam aja, kayak orang ga punya mulut aja."


Tommy menghembuskan nafasnya dengan berat. "Tadi kan disuruh diam dek–. Salah mulu deh."


"Tapikan aku udah nanya?" Roma nyolot lagi.


"Kok ngegas mulu sih dek ngomongnya."


"Tau ahk–." Roma berjalan meletakkan alat-alatnya lalu mencuci tangannya.


"Udah dong dek marahnya–." Tommy kembali memeluk Roma dari belakang.


"Lepas Bang–."


"Abang akan lepasin kalau kamu udah ga marah lagi."


"Bang–, ini masih di Rumah Sakit."


"Ya udah ke hotel yuk–." Tommy memainkan mata dan alisnya.


"Bang Tommy–." Roma menepuk lengan Tommy.


Seketika mereka pun melupakan perselisihan mereka minggu lalu dan beberapa saat yang lalu.


"Pulang yuk–. Kamu udahan kan kerjanya?"


"Udah. Ini juga udah mau pulang. Capek banget aku." Roma mengambil tasnya.


"Tapi Ken udah balik, Abang ga ada mobil disini. Abang ke apartemen kamu aja ya."


"Ga ahk, aku mau ke rumah Bang Bara. Tadi Bang Bara nelpon. Aku diminta nemenin Eda disana karena Bang Bara lagi keluar kota."


"Bara lagi Bara lagi, Baru juga baikan, udah seminggu juga ga ketemu. Dia ga rindu apa ya?"


"Kamu ga kangen sama Abang dek?" Tommy memelaskan wajahnya.


"Ga tuh, Bang Tommy kan udah punya tunangan. Aku ga mau dibilang perusak hubungan orang lain apalagi sampai dibilang PERTUNOR." Roma berjalan keluar dari ruangannya dan diikuti Tommy dari belakang.


"PERTUNOR?" Tommy menautkan kedua alisnya.


"Perebut tunangan orang." jawab Roma ketus.


"Dek, Please." Tommy berhasil meraih tangan Roma. "Aku capek harus begini terus. Kamu ikut aku sekarang. Aku mau masalah kita kelar hari ini juga." tegas Tommy lalu membawa Roma ke parkiran.


"Kunci mobil–." Tommy meminta kunci mobil Roma lalu Roma pun memberikannya.


Yang Baca wajib Like ya 😍


Ga kapalan kok Jempolnya kalau cuma kasih Like di setiap episodenya 🤗