Thanks For Your Love

Thanks For Your Love
Cemburu Tanda Cinta



Karena kesibukannya bekerja diperusahaan Ken kehilangan banyak waktu untuk urusan pribadinya. Apalagi ditambah perintah Tommy yang harus mendeportasi Rendi keluar dari negaranya sendiri. Sungguh tragis, tapi tetap harus dijalankannya sesuai dengan perintah sahabat dan atasannya.


Flashback On


Rendi sudah terlihat sangat lemah. Selama 3 hari ia di sekap oleh Tommy dan selama itu pula Rendi tidak pernah menyentuh makanan yang disediakan anak buah Tommy untuknya. Sementara saat malam tiba ia harus melayani nafsu banci-banci yang dikirimkan padanya.


"Tolong, tolong lepaskan aku." rintih Rendy ketika melihat Ken berjalan masuk keruangan dimana dirinya disekap.


"Kau ingin bebas?" tanya Ken dengan menyunggingkan senyum dibibirnya.


"Iya, tolong lepaskan aku."


"Baiklah, aku akan membebaskanmu, tapi dengan syarat."


"Apapun syaratnya akan ku lakukan, yang penting bebaskan aku dari tempat ini." Rendi benar-benar memohon pada Ken. Tanpa berpikir panjang apa yang akan menjadi syarat yang diajukan padanya.


"Apa kau yakin?" tanya Ken lagi dengan seringai liciknya.


"Cepat katakan apa syaratnya?" Rendi benar-benar tidak sabar ingin segera bebas dari tempat itu. Ia sudah sangat lelah melayani banci-banci yang setiap malam menggerayanginya tubuhnya.


"Baiklah." Tommy berdiri dan mendekati Rendi. Lalu menyerahkan beberapa dokumen pada Rendi. "Baca, setelah itu tanda tangani." ucap Ken tegas.


Rendi pun membaca dokumen itu dengan teliti setelah satu ikatan tangannya dilepaskan oleh Ken dan mulai membaca dokumen itu dengan sangat teliti.


"Apa kau sudah gila? Syarat macam apa ini?" Rendi benar-benar tak percaya kalau Tommy akan memintanya untuk meninggalkan negaranya sendiri ditambah lagi ijin prakteknya dokter bedah yang disandang Rendi harus dicabut dan intinya ia tidak lagi bisa berprofesi sebagai dokter. Apa bila setelah menyetujuinya dan menandatangani tapi dikemudian hari Rendi melanggarnya maka ia harus menyerahkan hidupnya pada Tommy. Dan bila Rendi melarikan diri, Tommy tidak segan-segan akan membuatnya lebih parah dari apa yang didapatkannya sekarang ini. Bisa saja Tommy akan membunuhnya.


"Kalau kau setuju silahkan tanda tangani dan bila kau tidak setuju." Ken melihatnya dengan tatapan membunuh. "Kau bersiaplah setiap malam melayani banci-banci itu. Dan–." Ken sengaja menjeda ucapannya membuat Rendi penasaran dengan kelanjutan apa yang akan dikatakan Ken. "Dan malam ini bukan lagi 3 banci tapi 5 banci yang akan melayani mu. Dan kau tahu? itu akan bertambah setiap 3 malamnya." ucap Ken sengaja menakut-nakuti Rendi karena yang sebenarnya Tommy tidak ada memintanya untuk menambah banci lagi.


Tapi mendengar ucapan Ken membuat mata Rendi membulat sempurna, melayani 3 banci saja sudah membuatnya merasa jijik apalagi harus melayani 5 banci sekaligus.


"Ba-baiklah, aku setuju." Rendi terpaksa mengikuti syarat yang diberikan Tommy padanya karena ia sudah tidak tahan lagi harus berhubungan dengan banci-banci sialan itu.


"Bagus!" seru Ken.


"Aku akan membuatmu menyesal Tom. Kau harus membayar semua perbuatanmu padaku." geram Rendi dalam hati.


Rendi menandatangani syarat yang diajukan Tommy lalu memberikannya kembali pada Ken.


Ken yang menerima dokumen itu tersenyum sinis.


"Kau harus ingat. Jangan pernah bermimpi untuk membalas dendam pada Tommy. Karena nantinya kau sendiri yang akan menyesal karena telah memilih untuk berurusan dengan keluarga Prayoga." ucap Ken tegas memperingatkan Rendi.


"Aku tidak pernah takut." tantang Rendi dalam hati.


"Aku sudah menandatanganinya, sekarang cepat bebaskan aku." ucapnya setengah berteriak dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


"Sabar, kenapa harus buru-buru?" ucap Tommy dengan seringai liciknya.


"Aku sudah mengikuti semua keinginan kalian jadi sekarang tepati janji kalian untuk melepaskan ku." Rendi mulai kesal karena Ken tak juga melepaskannya.


"Aku akan menepati janjiku, tapi sebelumnya aku akan memberikan hadiah perpisahan untukmu." ucap Ken dengan seringai liciknya.


Rendi bergedik ngeri saat melihat senyum licik Ken. Firasatnya mengatakan Ken tidak akan melepaskannya begitu saja.


Prok... Prok... Prokk....


Ken bertepuk tangan dan para bodyguard yang menjaga Rendi pun mengerti apa yang di inginkan oleh Tuannya itu.


Tak berselang lama 3 banci itu kembali masuk dan berada ditempat itu.


"Puaskan dia untuk yang terakhir kali." perintah Ken pada ketiga banci itu.


"APA YANG KAU LAKUKAN?" bentak Rendi, ia merasa bahwa Ken sudah menjebaknya.


"Tolong jangan lakukan itu. Ini tidak seperti apa yang sudah kita sepakati." lirih Rendi.


"Itu kesepakatanmu dengan Tommy tapi tidak denganku. Kau sudah berani menyakiti istri sahabatku jadi sebagai hadiahnya aku ingin kau melayani mereka kembali sebagai hadiah perpisahan dariku." ucap Ken. "Selamat menikmati." ejek Ken lalu keluar dari ruangan itu.


Para bodyguard itu dengan setianya menyaksikan percintaan antara Rendi dengan banci-banci itu.


"Jijik-jijik tapi On juga." ejek salah satu bodyguard yang menjaga Rendi.


▪️


▪️


▪️


▪️


▪️


Setelah menunggu 3 jam lebih akhirnya Rendi pingsan karena tak sanggup lagi melayani buasnya para banci itu. Tubuhnya terlalu lemah dan lelah karena ia sudah 3 hari tidak makan.


"Bius dia. Dan bangunkan dia ketika kalian sudah berada dalam pesawat." perintah Ken pada salah satu anak buahnya.


"Fer, karena ini tugas penting jadi gue minta Lo sendiri yang mengantarkan baj*ngan ini ke negara yang paling miskin didunia ini. Dan jangan lupa buat penjagaan ketat disana sehingga dia tidak mampu berpikir untuk balas dendam lagi pada Tommy." ucap Ken pada Fernando.


"Setelah semuanya beres, cepat lo balik lagi. Soalnya kerjaan kita numpuk banget." sambungnya lagi.


"Oke, siap."


"Beres itu. Lo tenang aja." ucap Fernando.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Fernando pada anak buahnya.


"Sudah Tuan." jawab anak buahnya.


"Ya sudah kita berangkat sekarang." ucap Fernando lalu dibalas anggukan kepala oleh anak buahnya.


"Jangan lupa setelah kalian sampai disana semua data Rendi harus kau lenyapkan. Dan paspor nya kau tahan saja. Supaya dia tidak bisa kemana-mana." perintah Ken lagi mengingatkan Fernando.


"Iya, bawel amat sih lo. Udah sana pulang lo. Kurang kencan Lo makanya uring-uringan terus." ejek Fernando. Ia tahu kalau sahabat sekaligus atasannya itu sudah lama tidak bertemu dengan sang kekasih.


"Tahu aja Lo, ya udah gue balik. Jangan lupa kabari gue kalau kalian udah sampe disana."


"Hmmm." sahut Fernando hanya dengan berdehem.


Flashback Off


Tanpa membuang-buang waktu lagi Ken langsung pulang ke apartemennya. Setelah membersihkan dirinya ia segera ingin menjemput Mita ke Rumah Sakit tempat Mita bekerja.


Sebelumnya Ken sudah menelpon Mita terlebih dulu, supaya ia tidak sia-sia sudah jauh-jauh datang tapi Mita tidak ada disana.


Setelah sampai di Rumah Sakit Ken langsung berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan istirahat para dokter.


Namun ketika sudah berada didepan ruangan itu netra Ken terfokus dengan apa yang dilihatnya. Ia melihat Mita seperti sedang berpelukan dengan seorang pria yang tidak ia kenal.


"Mita–." Suara Ken menggema memenuhi ruangan terbuka itu.


"Ken." Mita terkejut melihat Ken yang berdiri tidak jauh darinya.


Dengan cepat Mita langsung melepaskan pelukannya dari pria itu.


"Sudah lama datangnya?" tanya Mita dengan perasaan yang biasa saja. Ia tidak tahu kalau Ken sedang kesal padanya karena menyaksikan dirinya yang sedang berpelukan dengan pria lain. Sementara yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang dilihat oleh Ken.


"Baru." jawab Ken ketus.


Mita bingung kenapa Ken tiba-tiba ketus padanya. Mita melihat Ken yang menatap pria yang bersamanya tadi dengan tatapan tajam. Mita baru sadar kalau Ken sedang cemburu pada pria itu.


"Oh ya Ken. Kenalin ini dokter Andreas teman aku." ucap Mita mengenalkan dokter Andreas pada Ken. "Dan Ndre ini Ken." Mita tidak mengatakan kalau Ken adalah pacarnya dan itu membuat Ken semakin kesal.


"Andreas–." pria itu mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namanya. Tapi Ken tidak menyambut uluran tangan Andreas ia malah membalikkan badannya dan beranjak meninggalkan Mita dengan pria yang telah membuatnya sakit hati.


"Jauh-jauh datang kesini cuma mau nyaksiin orang mesra-mesraan. Sial–." Gumam Ken kesal tapi masih dapat didengar Mita dan Andreas.


"Ndre aku pulang duluan ya. Maaf kalau sikapnya seperti itu. Aku harap kamu memakluminya." ucap Mita pada Andreas dan dibalas anggukan kepala dan acungan jempol oleh Andreas.


Ken masih dapat mendengar ucapan Mita pada pria itu, dan itu membuat hati Ken semakin panas.


"Ken–." panggil Mita sambil terus mengejar Ken lalu menyamakan langkahnya dengan Ken meskipun dia agak sedikit kesulitan karena langkah kaki Ken yang panjang.


"Ken, tunggu–." Mita menarik tangan Ken karena dia sudah kelelahan menyamakan langkahnya.


Mita berhasil menghentikan langkah Ken, ia mengatur nafasnya terlebih dahulu kemudian ditatapnya wajah Ken yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Maaf, aku bisa jelasin. Tapi yang kamu lihat tadi ga seperti apa yang kamu pikirkan." ucap Mita ketika nafasnya sudah mulai teratur.


"Emang apa yang aku pikirkan?" tanya Ken dingin. Mita menghela nafasnya dengan berat. Jujur saja ia tidak suka dengan situasi seperti ini. Apalagi melihat sikap Ken yang dingin padanya.


"Apapun itu. Tapi semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tadi terpleset dan hampir jatuh karena aku menginjak bekas tumpahan eskrim dilantai. Dan Andreas hanya menolongku agar aku tidak terjatuh kelantai. Dan–." Mita menjeda ucapannya menghirup udara supaya masuk ke paru-parunya. Karena dadanya mulai terasa sesak. "Dan terserah kamu mau percaya atau tidak." ucap Mita lalu pergi meninggalkan Ken. Ia hanya berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya dan Andreas.


Ia melangkah meninggalkan Ken, ia merasa sakit karena Ken tidak percaya padanya. Ia merasa hubungannya dengan Ken tidak akan berjalan lancar kalau belum apa-apa sudah dicurigai begitu. Mita memang sudah terlalu sering tersakiti oleh cinta, makanya dia belum bisa membuka sepenuh hatinya untuk kembali mengenal cinta.


Ken melihat Mita yang meninggalkannya dengan mata yang berkaca-kaca. Ada perasaan bersalah dihatinya karena ia sudah marah-marah tak jelas dan terlebih lagi ia tidak mendengarkan penjelasan Mita terlebih dulu.


Dengan cepat Ken mengejar Mita dan menarik tangannya, membawanya masuk kedalam mobilnya secara paksa.


"Lepas, aku mau turun. Cepat buka pintunya." Mita berusaha keluar dari mobil Ken, tapi usahanya itu sia-sia karena Ken seolah-olah menulikan telinganya.


Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli dengan Mita yang terus berusaha keluar dari mobilnya. Ken tak lagi memperdulikan rambu-rambu lalu lintas. Semua lampu merah diterobosnya tidak perduli kalau polisi akan menilangnya yang penting saat ini dia hanya ingin berdua dengan gadis yang duduk disampingnya dan menyelesaikan masalah mereka. Masalah yang sebenarnya dirinya sendiri yang membuatnya.


Sepanjang perjalanan Mita memejamkan matanya ia sangat takut dengan Ken yang mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan.


Mita membuka matanya perlahan ketika ia merasakan kalau mobil itu sudah berhenti dan mendengar pintu mobil sudah terbuka.


Mita melihat Ken sudah duduk di atas mesin mobilnya. Pandangan Mita beredar kesekelilingnya melihat kalau mereka sudah sampai disebuah pantai yang indah.


Terbit sebuah senyuman dibibirnya dengan cepat ia keluar dari mobil. Tapi senyuman itu seketika menghilang ketika matanya beradu pandang dengan Ken. Ia kembali teringat dengan perdebatan mereka yang tadi dan sikap Ken yang dingin padanya.


Mita melangkahkan kakinya ingin kembali ke kota.


"Mau kemana?" Ken menggenggam pergelangan tangan Mita lalu memeluk Kita dari belakang.


"Maaf, tadi aku ga dengar penjelasan mu dulu. Aku cemburu." ucap Ken lalu meletakkan kepalanya dibahu Mita. "Aku kesal karena melihat pria lain memelukmu."


"Tapi dia bukan memelukku, dia hanya menolongku." ucap Mita masih kesal. Ia ingin melepaskan pelukan Ken tapi apa daya tenaganya tak sebanding dengan tenaga Ken.


"Iya aku minta maaf karena aku cemburu."


Mita tak lagi memaksa untuk lepas dari pelukan Ken. Ia bahagia karena Ken jujur kalau dirinya cemburu padanya dan cemburu itu tandanya cinta."